GOOD MINDS THINK ALIKE

Ini postingan lama yang sudah lebih dulu dimuat di blog saya yang lama. Tapi saya rasa menarik dan relevan bagi siapapun yang suka menulis. Check it out!

On July 9th, 2011, I was invited to a writing workshop at CLC, Bandung as a speaker. Although it was a small group of people, but everyone was active and ecstatic. Then we tried something new and different. We wrote things in our minds in a small piece of paper then we handed the paper to the friends next to us. They went around in circle until became several flash-fiction stories.

The results? They were awesome!

Siapa yang mengira dari pikiran yang berbeda-beda, ternyata bisa terbentuk cerita-cerita menarik. Padahal, satu orang hanya kebagian menulis tidak lebih dari satu kalimat. Meskipun hasilnya berupa bentuk prosa singkat yang lebih menyerupai flash-fiction, tapi ini merupakan hal baru yang menarik bagi saya. Berikut ini tiga di antaranya:

1.

Pagi ini, aku bangun tidur dan melihat dunia terasa lebih indah. Tidak seperti pagi dulu yang membuat enggan terbangun dan merasa. Pagi ini, semua terasa berbeda—benarkah ini masih pagi? Saat kuraih jam weker dari tempat tidurku, tampak jarum jam menunjukkan pukul tujuh.  Kucubit lenganku sendiri dan sakit sekali rasanya. Bergegeas aku ke kamar mandi, tapi—betulkah ini masih pagi? Satu yang kupahami, pagi selalu menyisakan rindu. Rindu pada aroma kopi dan nafasmu, serta matahari di dahimu. Serta, rindu pada jati diriku yang sesungguhnya.

2.

Saya adalah seorang penyanyi mimpi, berlayar ke Samudera Hindia. Berlayar dengan hanya berbekal sekantung harapan dan pria berkumis tebal. Awalnya, kumulai mimpiku dengan menjadi seorang pengamen waria jalanan. Ini mungkin bukanlah suatu profesi impian, tapi bukankah Iwan Fals juga dulunya seorang pengamen? Ah, saya tidak tahu karena saya tidak mengenal dia. Kunci G akan membuka laguku hari ini, yang kumainkan dengan berputar-putar seperti benang kusut. Ternyata, kunci G terlalu sulit. Akhirnya kuurungkan niat menjadi pengamen profesional yang memainkan not lagu. Kupilih sebuah bas betot untuk menjadi sahabat karibku. Akhirnya, sekarang aku terkenal sebagai seorang ahli pembetot bas dari Samudera Hindia.

3.

Aku adalah talenta. Dunia sangat bersyukur aku hadir di dalamnya. Kecuali ibuku. Kurasa baginya, aku adalah kutukan. Kata Tuhan, aku anugerah, tetapi ibuku menganggapku sampah. Makanya, sehari-hari aku bergaul dengan sampah masyarakat lainnya. Kami semua seperti sampah non-organik yang tak bisa hilang begitu saja, meski orang-orang membuang kami secara sembarangan. Kami adalah sampah yang tidak berbau busuk dan tidak berlendir. Kuharap ada orang yang bisa mendaur ulang diri kami agar kami bisa dipergunakan untuk kehidupan.

Writing is awesome! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s