An Exciting Experience with ‘Menujuh’

Sebenarnya saya berniat untuk tidak akan pernah memberi rating kepada karya-karya saya sendiri. Penilaian adalah sepenuhnya hak pembaca, begitu prinsip saya. Meski demikian, khusus buku ‘Menujuh’ ini, ada enam penulis selain saya yang menampilkan cerita dan gaya menulis masing-masing, sehingga saya merasa perlu memberi penilaian pribadi juga.

‘Menujuh’ bukan hanya tentang menulis. Buku ini terlahir dari sebuah proses kreatif yang dikawal secara bersama-sama oleh ketujuh penulis. Dari pemilihan konsep penulisan, pemberian nama judul, pemilihan ilustrator, sampai pemilihan konsep promosi adalah hasil musyawarah bersama. Terlibat menjadi seperdelapan bagian buku ini (tujuh penulis plus Lala Bohang sebagai ilustrator) merupakan pengalaman yang menyenangkan dan tak terlupakan!

Konsep awal membuat suatu kumpulan cerita dilemparkan pertama kali oleh Dilla (Maradilla Syachridar) melalui sebuah celetukan iseng di pertemuan pada suatu sore hari di kota Bandung. Saya langsung menyambut baik usulan tersebut, yang langsung dilontarkan lagi oleh Dilla kepada Theo (Theoresia Rumthe alias Perempuan Sore) dan Dea (Salamatahari). Ide pun lalu dimatangkan di Warung Ngebul milik Valiant Budi (Vabyo), yang pada akhirnya diajak pula on board. Pada akhirnya, kami pun menentukan bahwa penulis yang terlibat harus genap tujuh orang… eh ganjil maksudnya. Setelah itu, kami tinggal mencari dua penulis lagi untuk mengisi slot tersisa.

Dilla (lagi-lagi), mengusulkan agar kedua slot penulis itu diisi oleh pribadi-pribadi nyentrik dengan gaya tulisan unik. Akhirnya diajaklah Iru Irawan dan Aan Syafrani, dua orang teman baik yang langsung menyambut baik ajakan tersebut.

Lalu, akhirnya setelah melewati brainstorming dan diskusi kreatif yang berlangsung mulus tanpa pro dan kontra, akhirnya dipilihlah benang merah yang akan mengikat ketujuh konsep cerita yang berbeda-beda: yaitu nama-nama hari!

Senin: Aan Syafrani

Saya pribadi merasa cerita Aan sebagai pembuka memberi sesuatu yang fresh. Ceritanya yang kocak dan ‘anak-muda-banget’ menunjukkan potensinya yang selama ini terasah sebagai editor (sekaligus scout) naskah-naskah komedi. Meskipun mengaku baru pertama kali menulis naskah fiksi, namun Aan patut memperoleh apresiasi tinggi atas kedua cerpennya: ‘Seninku Selingkuh’ dan ‘Seninmu Kuselingi’.

Selasa: Theoresia Rumthe

Theo adalah figur yang menarik. Terkenal sebagai penyiar radio di Bandung, Theo punya sisi lain di dunia internet. Blognya, http://perempuansore.blogspot.com, memiliki banyak penggemar setia di mana-mana. Di buku ‘Menujuh’ ini, kami semua memercayai Theo sebagai pimpinan project, yang sekaligus unjuk gigi dengan dua cerpennya, ‘Hari Ketika Hujan Mati’ dan ‘Sebelum Hari Ketika Hujan Mati’.

Rabu: Iru Irawan

Saya sudah mengenal Iru sejak SD, dan selama ini ia dikenal sebagai pemain keyboard band indie Hollywood Nobody dan tukang bermain kata-kata yang kadang melankolis di Twitter. Ternyata Iru jago juga merangkai cerita di ‘Haru Biru Kelabu’ dan ‘Baru Hari Rabu’.

Kamis: Valiant Budi

Selama ini saya mengagumi Vabyo sebagai pembuat cerita dengan alur misterius. Ketika mengajaknya bergabung ke project ini, kami sempat mengira ia akan menolak karena saat itu ia lagi sibuk-sibuknya mempromosikan Warung Ngebul-nya dan buku nonfiksi kerennya, ‘Kedai 1001 Mimpi’. Namun, ternyata ia kembali menghipnotis kita di dua cerita unik, ‘Kamis, Puk-Puk’ dan ‘Simak! Kup-Kup’.

Jumat: Mahir Pradana

Ada gap waktu yang cukup lama bagi saya untuk menyelesaikan kedua cerita di sini. ‘Follow Friday’ saya selesaikan di pertengahan 2011, sebelum berangkat ke Swiss untuk kuliah. Cerita kedua, ‘Moonliner’, saya selesaikan di Swiss setelah memperoleh ilham pada saat pelaksanaan karnaval Fasnacht, Maret 2012. Semoga kalian suka.

Sabtu: Sundea (Salamatahari)

‘Ke Mana Sabtu Pergi?’ dan ‘Ke Sana Sabtu Pergi’ adalah dua cerita yang memang ‘Dea banget’. Sebelumnya, saya mengenalnya lewat tulisan-tulisannya yang unik dan enjoyable di http://www.salamatahari.com . Cara menulis Dea yang ‘one of a kind‘ memberi warna tersendiri di buku rangkaian kisah tujuh hari ini.

Minggu: Maradilla Syachridar

Hari terakhir adalah harinya Dilla, teman sekaligus juga penulis muda yang (lagi-lagi) saya kagumi. Saya sempat mengira ia akan bermain-main dengan genre yang cukup absurd, seperti yang ia tunjukkan di novel-novelnya terdahulu. Ternyata, Dilla muncul dengan sentuhan manis di dua cerita bertema ‘battle of sexes‘, ‘Solo Stranger’ dan ‘Solo Stalker’.

Last but not least, lima bintang saya berikan bukan hanya karena saya ikut terlibat, melainkan karena proses penyusunan buku ini merupakan salah satu pengalaman tak terlupakan dalam hidup saya. 🙂

p.s: Menujuh sudah bisa didapatkan di toko-toko buku terdekat di kota Anda 🙂

MP

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s