Oleh-Oleh dari Budapest

How’s life?

Kalau pertanyaan itu diajukan kepada saya, tentu saja saya akan menjawab ‘life’s good’. Yah, dengan kuliah saya di Swiss yang memasuki tahun ke-dua, tentunya tidak semua berjalan baik-baik saja. Namun, jawaban ‘life’s good’ adalah jawaban terbaik yang bisa saya berikan, daripada harus bercerita panjang lebar tentang stress pasca ujian dan tidak enaknya menanti kepastian kapan lulus.

Maka, saya mau bercerita sedikit tentang travelling terakhir saya. Pada akhir Mei lalu, saya mengambil one week breakaway pasca ujian dan di tengah-tengah master thesis yang menunggu untuk diselesaikan. Kota tujuan saya adalah Budapest, ibukota Hungaria.

Jujur, sebelum ke sana, saya tidak tahu banyak tentang Budapest. Saya hanya dengar cerita beberapa teman yang berasal dari Hungaria, atau teman-teman Indonesia yang pernah berkunjung ke kota tersebut. Secara umum, saya hanya tahu bahwa Budapest berasal dari nama ‘Buda’ dan ‘Pest’. Keduanya merupakan daerah yang dipisahkan oleh Sungai Donau (Danube). Sungai ini merupakan salah satu yang terbesar di Eropa, juga mengalir melewati beberapa Negara, antara lain, Austria, Jerman, Republik Ceko dan Slovakia.

Setelah sight-seeing mengunjungi berbagai landmark terkenal seperti Charles Bridge yang melintasi Sungai Donau dan menghubungkan Buda dan pest, atau hiking ke atas bukit Cittadella dan menikmati makanan khas Hungaria di pasar tradisional mereka, hati saya tertambat pada satu karakteristik Budapest. Kota ini terkenal dengan toko-toko buku bekasnya, yang dikenal dengan istilah ‘antikuarium’.

Pada awalnya, saya hanya iseng berkunjung ke salah satu antikuarium terbesar yang saya lewati. Beberapa review di website traveller membuat saya penasaran bagaimana masyarakat Budapest mengatur toko-toko buku bekas mereka. Dalam hati saya, ‘ah, paling sama saja dengan Kwitang dulu atau Palasari di Bandung’. Ternyata saya salah. Antikuarium di Budapest terkenal dengan penataan ruangan yang rapi dan buku-buku yang meskipun tua, namun terawat baik.

Yang paling membuat saya tercengang adalah… harganya! Sebagian besar buku yang terjual tentu saja buku-buku dalam bahasa Magyar (bahasa Hungaria), tapi ternyata banyak juga buku dalam bahasa Inggris. Sebagai pecinta novel, saya langsung mengincar beberapa judul yang menarik perhatian saya. Namun ketika iseng menanyakan harga, saya dibuat kaget bukan kepalang.

Bukan karena mahal, melainkan karena… murahnya yang keterlaluan! Bayangkan, novel Night Train to Lisbon yang merupakan salah satu novel popular di Eropa, dijual dengan harga 1000 Forint saja (jika dikonversi ke Euro, sekitar 3 Euro). Murah banget! Padahal, novel tersebut baru saja diterbitkan ulang untuk menyambut perilisan film adaptasinya yang dibintangi Jeremy Irons.

Mendengar betapa murahnya harga tersebut, naluri shopping saya terpancing. Total, enam buah novel menarik perhatian saya. Pada akhirnya, saya merogoh kocek untuk membawa pulang keenam buku yang masih dalam kondisi terawat. Keenam novel itu adalah:

ImageDan siapa yang menyangka jumlah uang yang saya habiskan hanya 6.600 Forint alias sekitar 22 Euro saja! Jumlah segitu biasanya hanya bisa membeli maksimal dua buah novel berbahasa Inggris di toko-toko buku biasa.

Kini, setiap saya menghabiskan waktu membaca buku-buku tersebut, saya akan teringat pesona antikuarium Budapest dengan rak-raknya yang penuh dengan ide-ide para penulis zaman dulu, dan telah tertuang dalam bentuk ribuan buku.

MP

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s