Dirgahayu Indonesia ke-68

17 Agustus 2013. Untuk pertama kalinya saya terlibat lagi menjadi panitia pelaksana upacara bendera untuk peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia. Terakhir kali saya mengurus upacara bendera adalah lebih dari sepuluh tahun yang lalu, ketika saya masih duduk di bangku SMA.

Tahun ini, upacara bendera terasa spesial bagi saya karena tidak sedang berada di Indonesia, melainkan di Bern. Sebenarnya, tahun lalu saya juga sudah berada di ibukota Swiss ini. Namun, tahun lalu saya tidak terlibat menjadi panitia upacara karena sebagian besar musim panas saya habiskan di Turki untuk sebuah program volunteer. Alhasil, saat itu saya hanya menjadi peserta upacara biasa. Tahun 2007 lalu, sewaktu menjalani program exchange di Australia, saya juga melaksanakan upacara bendera tapi waktu itu pelaksanaannya sangat mendadak sehingga hanya terlaksana ala kadarnya.

Maka, upacara tahun 2013 inilah yang cukup berkesan bagi saya di usia kepala 20. Usia yang bagi banyak orang sudah cukup mikir secara mendalam akan arti kemerdekaan. Ehem, bagi kebanyakan orang, terutama di social media seperti Facebook dan Twitter, banyak juga di usia segitu yang menyikapi peringatan hari kemerdekaan dengan nyinyiran sinis dan sarkasme yang sebenarnya tidak perlu.

Namun, saya cukup terbantu untuk menyikapi kemerdekaan tahun ini dengan perspektif multi-dimensi. Terutama karena saya dan beberapa teman saya sesama pelajar di Swiss, dimintai tolong oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Bern untuk menjadi panitia pelaksana upacara bendera.

Jadi, begini ceritanya.

Pada awalnya, lima orang pelajar cowok, yaitu saya, Bram, David, dan dua pelajar cewek bernama Aliyya dan Regina, ditunjuk menjadi pasukan pengibar bendera (paskibra). Untuk komposisi paskibra ini, hanya dibutuhkan empat orang, dan keempat teman saya itu sudah berpengalaman menjadi paskibra sebelumnya, baik di Bern tahun-tahun sebelumnya maupun pengalaman di sekolah mereka di Indonesia. Karena saya satu-satunya yang tidak punya pengalaman menjadi paskibra, maka saya harus puas menjadi ajudan pembina upacara (itu lho, petugas yang berdiri di samping pembina untuk menyerahkan teks Pancasila).

Kami pun menjalani empat minggu latihan sejak Juli. Ehm, well, keempat teman saya sih, yang latihan baris-berbaris dan menaikkan bendera. Saya cuma mendampingi mereka di setiap sesi latihan saya, mengingat posisi saya sebagai ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI Swiss). Setelah siap, pada hari H, upacara pun dilangsungkan. Kami berlima pun dipersiapkan dengan seragam putih-putih lengkap dengan peci seperti di Istana Negara. Perasaan deg-degan pun menghinggapi kami, karena selalu ada kekuatiran manusiawi jika bendera terbalik atau kesalahan langkah pada saat baris-berbaris. Selain itu, upacara bendera yang dilangsungkan sejak pukul 9 pagi di Wisma Duta (kediaman Duta Besar RI di Bern) dihadiri kurang lebih dua ratus masyarakat.

Di sinilah saya mendapatkan banyak kontemplasi baru tentang makna Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Yang pertama adalah ketika sebelum upacara dimulai, seorang pria yang sudah berusia tua tetapi berpenampilan masih tegap dan sehat menghampiri saya. Kami pun mengobrol beberapa lama. Si Bapak ternyata seorang pebisnis yang sudah sejak tahun 1960-an tinggal di Swiss. Saya pun memperkenalkan diri sebagai pelajar yang baru dua tahun menetap di Negara konfederasi itu. Ketika mengetahui asal saya dari Makassar, bapak itu menjadi antusias ternyata beliau berasal dari Manado. Setelah mengobrol beberapa saat, Si Bapak (yang saya lupa namanya itu) mengungkapkan bahwa meskipun tinggal di kota Fribourg (sekitar 40 menit perjalanan menggunakan mobil dari Bern), ia tidak pernah melewatkan sekali pun upacara bendera di KBRI. Satu kali pun. Selama hampir lima puluh tahun.

‘Karena upacara bendera itu sakral. Setiap kali mendengar lagu Indonesia Raya dilantunkan, di telinga saya rasanya masih terdengar suara Pak Sukarno membacakan teks proklamasi. Saat itu adalah salah satu saat terindah di hidup saya,’ kata bapak itu mengenang. Kedua matanya pun menerawang. Bisa dipastikan, proyektor di dalam otaknya sedang memutar gambar-gambar Bung Karno.

Setelah itu, upacara pun dilangsungkan. Bapak tadi ikut bergabung dengan barisan masyarakat yang menjadi peserta upacara. Saya mengambil posisi di atas panggung, tepat di samping Pak Djoko Susilo, Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Swiss dan Liechtenstein. Prosesi pun berjalan lancar (Alhamdulillah). Keempat teman paskibra saya berhasil mengibarkan bendera dengan mulus. Nah, tepat pada saat mereka sedang baris-berbaris untuk kembali ke posisi semula, kedua mata saya menangkap sebuah pemandangan haru.

Di suatu sudut lapangan, dua orang wanita berusia sekitar empat puluhan – lima puluhan tahun sedang berpelukan. Satu orang berdiri dan satu orang lagi duduk di kursi. Bahkan dari sudut kacamata saya, terlihat jelas mereka menitikkan air mata. Saya mengenal keduanya. Yang berdiri adalah Ibu Fifi, ibunda dari salah satu anak perempuan yang menjadi pengibar bendera, yaitu Aliyya. Ibu Fifi sudah lebih sepuluh tahun tinggal di Swiss karena ikut suaminya yang bertugas di negara penghasil coklat ini. Anaknya, Aliyya, tahun ini masuk gymnasium (sekelas SMA kalo di Swiss). Saya cukup akrab dengan keluarga Ibu Fifi, dan sering berkunjung ke apartemen mereka. Meskipun sudah lebih satu decade tinggal di Eropa, tapi kebiasaan mereka masih ‘Indonesia banget’, mulai dari rutinitas membuat empek-empek hingga mengikuti perkembangan gossip dan sinetron Indonesia. Aliyya, meskipun sudah ber-mother tongue bahasa Schwizerduutch (Swiss-German), tapi kemampuan bahasa Indonesia-nya nyaris tanpa cela, tanpa ternoda aksen ala Cinta Laura. Padahal sejak bangku sekolah dasar, ia sudah dibawa ayah-ibunya ke Swiss. Seringkai Aliyya mengungkapkan kepada saya betapa ia pengen ngerasain memakai pakaian putih abu-abu ala siswa-siswi SMA yang sering dilihatnya di sinetron-sinetron pujaannya. Maka, menjadi paskibra di acara 17an adalah perwujudan terdekat dari impian itu.

Satu wanita lagi yang menangis terharu adalah Ibu Dewi, wanita yang sudah hampir tujuh belas tahun tinggal di negaranya Roger Federer ini. Ibu Dewi adalah ibunya Regina, salah satu anggota paskibra yang lain. Regina berusia yang sama dengan Aliyya, tapi kedua gadis ini cukup berbeda satu sama lain. Tidak seperti Aliyya, Regina tidak memiliki pengalaman bersekolah di Indonesia karena lahir dan dibesarkan di Swiss. Alhasil, kemampuan bahasa Indonesia-nya masih patah-patah. Sudah hampir setahun terakhir, keluarga Regina dirundung kesedihan. Ibu Dewi didiagnosa menderita kanker sehingga harus menjalani kemoterapi secara rutin. Inilah penyebabnya mengapa beliau tidak bisa mengikuti jalannya upacara sambil berdiri sehingga butuh sebuah kursi untuk menopang tubuhnya. Meski demikian, Ibu Dewi bersikukuh untuk menghadiri upacara bendera di Wisma Duta Bern untuk menyaksikan langsung performa anak gadisnya. Anak gadis yang memiliki kebanggaan besar di dalam hatinya untuk mengusung bendera suci merah putih, walaupun hanya memiliki sepersekian persen keterikatan dengan negara tempat asal ayah-ibunya.

1185662_10151868220709612_225077260_n

Paskibra PPI Swiss

Maka, melihat kedua wanita itu menangis terharu, hati saya ikut terenyuh. Saya hanya bisa membayangkan sebagian kecil dari kebanggaan mereka sebagai ibu-ibu perkasa yang membesarkan anak-anak gadis mereka di negara yang sama sekali asing. Pada saat itu, dari atas panggung, saya seperti melihat ibu pertiwi sedang menjelma menjadi wujud dua wanita Indonesia dalam diri Ibu Fifi dan Ibu Dewi.

Yang terakhir, ketika prosesi upacara bendera telah selesai, Bapak Dubes memberi tambahan sambutan  untuk masyarakat Swiss yang datang khusus untuk mengikuti upacara bendera di pagi hari musim panas yang cerah itu. Mewakili KBRI, beliau juga memberi beberapa penghargaan kepada beberapa pihak yang dianggap berjasa dalam menyebarkan kebudayaan Indonesia di Swiss. Di sinilah saya takjub ketika melihat beberapa orang maupun komunitas yang saya tidak pernah terpikirkan ada sebelumnya.

Dimulai dari komunitas-komunitas bernama ‘1,2,3 Musique’ yang mengkhususkan diri sebagai pusat pelatihan alat musik gamelan, ‘Grup Angklung Padasuka’ yang berfokus ke alat musik angklung, dan Pencak SIlat Verband yang merupakan perguruan bela diri Pencak Silat yang berlokasi di Swiss. Semua komunitas tersebut dijalankan dan diurus oleh orang-orang asli Swiss, dilandasi atas kecintaan mereka terhadap kekayaan budaya negara kita. Lalu yang kembali membuat saya merinding adalah ketika seorang pria yang sudah tua renta, diberi penghargaan khusus oleh Pak Dubes. Saking rentanya, pria tua tersebut hanya bisa bergerak menggunakan kursi roda yang bisa digerakkan secara elektronik.

Setelah bertanya ke seorang staf KBRI kenalan saya, beliau ternyata bernama Bapak Haka Tahir. Beliau adalah pria berusia 95 tahun yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mengembangkan Pencak Silat. Pasca Perang Dunia ke-2, beliau pindah ke Swiss demi menyebarluaskan ilmu bela diri tradisional nusantara ini. Selama lebih dari enam puluh tahun petualangan di negeri yang terletak di pegunungan Alpen ini, lebih dari sepuluh perguruan telah didirikan serta ratusan orang telah menjadi anak didik beliau.

Di abad ke-21, sosok itu memang telah menyerahkan kendali fisiknya ke kursi roda elektronik yang membawanya ke mana-mana. Namun, terlihat jelas dari sorot matanya, beliau adalah pribadi luar biasa yang masih memiliki semangat hidup dan kecintaan yang sangat besar kepada tanah air. Ini terlihat dari kesediaan beliau menghadiri upacara bendera dengan mengenakan batik dan peci hitam khas Indonesia.

1081306_10153122582705596_1190321003_n

Sehabis upacara, barulah pesta rakyat Indonesia-Swiss dimulai!

Saya menulis pengalaman upacara bendera saya di Bern, Swiss, pada 17 Agustus 2013 ini atas dua alasan. Yang pertama karena saya merasakan semacam euforia di dalam diri saya, karena sudah bertahun-tahun tidak mengikuti langsung upacara bendera peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia. Yang kedua, bisa dibilang sebagai semacam counter atas pesimisme dan negativisme yang akhir-akhir ini merajalela di rekan-rekan sebaya saya, terutama yang atas pengamatan saya banyak menyebar di Facebook dan Twitter. Ironis saja rasanya jika melihat banyak anak muda Indonesia menanggapi peringatan Hari Kemerdekaan kita dengan sinis, sedangkan ribuan kilometer di Eropa sana, ribuan masyarakat Indonesia yang sedang kangen-kangennya pada kampung halaman mereka, justru sampai harus menempuh jarak jauh demi menghadiri upacara bendera.

Banyak yang menggugat makna kemerdekaan, tanpa mengingat sudah banyak perubahan ke arah positif yang lebih layak kita hargai. Toh, Indonesia tidak akan maju jika generasi mudanya dipenuhi negativisme. Indonesia adalah negara yang dibentuk dan digerakkan oleh kebanggaan dan perjuangan.

Dirgahayu Indonesia ke-68!

Proud to be Indonesian!

MP

*foto-foto: Budiman Wiriakusumah & Etty Muller

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s