Movies vs Novels: The Change of Mindset

Mungkin ini perdebatan klasik yang akan selalu ada. Kebanyakan pembaca setia novel akan kecewa setelah melihat novel kesayangannya diangkat ke layar lebar. Pasti ada saja yang tidak sesuai dengan imajinasi si pembaca.

Saya punya teman fanatik Harry Potter yang protes ketika film pertamanya dirilis pertama kali di tahun 2001 lalu. Ia protes karena sosok Harry yang diperankan oleh Daniel Radcliffe memiliki perbedaan mendasar dengan Harry di buku, yaitu: warna matanya! OMG, when she was saying that, I rolled my eyes.

Tapi iya sih, saya sempat membaca beberapa jilid Harry Potter, meskipun nggak pernah menjadi seorang fan apalagi loyalis J.K. Rowling. Dua adegan yang paling berkesan ketika membaca kisah sekolah penyihir itu malah tidak membekas sama sekali ketika diangkat menjadi film. Adegan favorit saya adalah ketika si kembar pemberontak Fred dan George Weasley kabur dari sekolah Hogwarts dengan sebuah farewell yang fenomenal. Di film, adegan tersebut hanya selewat saja. Momen lain yang menurut saya perlu dramatisasi lebih dalam adalah ketika kepala sekolah bijak nan simpatik Albus Dumbledore diceritakan terbunuh. Di pikiran saya, jika filmnya keluar, adegan ini minimal harus sama mengharukannya ketika saya menonton Lord of the Rings jilid I, yaitu ketika sosok penyihir Gandalf jatuh ke jurang bersama monster api. Adegan itu sangat mengharukan, sehingga membuat mata saya agak basah. Eh ternyata Gandalf saat itu toh belum mati. Makanya, kematian Dumbledore di film ke-6 Harry Potter yang flat dan tidak berasa, membuat saya jengkel.

*by the way, maaf ya, kalo sampai sekarang saya banyak menebar spoiler tentang siapa yang mati, siapa yang tidak. Jika ada yang terganggu, yaa, salah kalian sendiri sih, hari gini belum nonton se-populer Harry Potter dan Lord of the Rings. HAHAHA.*

awesome-book-book-vs-movie-harry-potter-judge-Favim.com-145650_large

Nah, kembali ke pembahasan tadi. Tapi, jika begini adanya, film yang diangkat dari novel tidak akan berpeluang besar memuaskan pembacanya, dong? Jika ditelaah, saya pikir memang masuk akal jika sebagian besar film dari novel akan mengecewakan. Bayangkan saja, bagaimana cara mengadaptasi novel setebal 400-500 halaman ke durasi film hanya 2 atau  jam? Pastilah ada adegan-adegan yang dianggap tidak mendukung jalannnya film sehingga tidak perlu diadaptasi ke film. Namun, bagi yang namanya pembaca fanatik, justru adegan-adegan dan detil-detil kecil itulah yang membuat kita terhubung secara lebih emosional dengan cerita, kan?

Baiklah.

Kalau begitu, coba kita lihat kasus-kasus lain. Ada beberapa film yang sebenarnya diadaptasi dari novel, tapi justru tidak pernah dibanding-bandingkan dengan bukunya, yang notabene terbit sebelum filmnya rilis. Psycho arahan Alfred Hitchcock yang fenomenal itu jarang dibandingkan dengan novelnya yang dikarang oleh Robert Bloch. Bahkan, zaman sekarang, jika kita membahas judul ‘Psycho‘, orang-orang lebih familier dengan nama Hitchcock sebagai sutradara daripada Bloch yang justru merupakan pencetus idenya.

Kenapa bisa demikian? Kalau menurut film Hitchcock (2012) yang diarahkan oleh sutradara Sacha Gervasi, pada saat memutuskan untuk membuat adaptasi filmnya di tahun 1959 lalu, Sir Alfred Hitchcock memborong semua buku Psycho dari pasaran agar pembaca tidak mengetahui ending ceritanya terlebih dulu.

Nah, sekarang, kita tahu kata kuncinya: ekspektasi!

Novel, adalah kunci ekspektasi kita dalam menilai suatu film. Makanya, sering tidak adil bagi film karena pasti akan dibanding-bandingkan dengan novel, padahal novel lebih bisa bercerita lebih detil dan mempermainkan imajinasi pembaca.

*sebelum lanjut, orang-orang yang hanya suka nonton film dan tidak suka membaca novel, tidak perlu mengikuti tulisan ini sampai habis, lho. Karena tulisan ini toh tidak melibatkan kepentingan kalian.*

Makanya, beberapa tahun terakhir, saya mengembangkan sebuah mindset baru. Malah bisa dibilang suatu gerakan baru, yaitu: Dahulukan Menonton Film Sebelum Membaca Novelnya! Saya sebut ‘gerakan’ karena saya berhasil mempengaruhi beberapa teman dalam mengikuti langkah saya ini, hehehe.

Kiat ini cukup berhasil. Saya tidak lagi judgmental dalam menilai suatu film yang diadaptasi dari novel, karena saya masuk ke dalam ruangan bioskop tanpa ada ekspektasi apa pun. Akhirnya, saya lebih bisa menikmati film tersebut, terlepas dari konsensus kritik yang menilai film tersebut bagus atau jelek. Terhitung dalam beberapa tahun terakhir, saya sangat menikmati Hugo (diadaptasi dari novel grafis The Adventure of Hugo Cabret), Warm Bodies (judul sama), The Hunger Games (judul sama), The Hobbit 1 dan 2 (judul sama, film ke-2 diberi judul Desolation of Smaug), dan favorit saya dalam 2 tahun terakhir: Extremely Loud and Incredibly Close. Judul terakhir malah membuat saya kepengen banget membaca novelnya, dan memang tidak mengecewakan. Extremely Loud pun menjadi salah satu novel favorit saya, padahal saya terlebih dulu dipuaskan oleh filmnya.

Untuk menambah panjang daftar, saya terpikat oleh The Perks of Being A Wallflower, yang film maupun bukunya dibuat oleh orang yang sama, yaitu Stephen Chbosky. Lalu ada Let The Right One In (versi aslinya yang buatan Swedia ya, bukan Let Me In buatan Hollywood) dan The Help. Terakhir, saya terpuaskan oleh karya-karya anak bangsa, yaitu 5 cm (saya tidak menyukai novelnya, jadi saya tidak selesai membacanya. Tapi saya terhibur banget oleh filmnya!), Negeri 5 Menara, dan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck.

Untuk yang masuk kategori mengecewakan, saya punya daftar Jack Reacher, Perahu Kertas dan The Mortal Instruments: City of Bones. Nah, bagusnya, dengan pembalikan mindset seperti ini, kita akan dapat keuntungan. Di mindset sebelumnya, jika novelnya mengecewakan, besar kemungkinan kita tidak akan mau nonton filmnya. Namun jika filmnya mengecewakan, selalu terbuka kesempatan untuk kita membaca bukunya. Apalagi jika filmnya sangat memuaskan, besar kemungkinan bukunya akan meningkatkan kepuasan kita dengan menyelami setiap detil cerita yang terlewat oleh filmnya.

Perubahan mindset ini cukup membantu saya meninggalkan debat klasik yang cenderung membosankan bahwa ‘mana yang lebih baik, novelnya atau bukunya?’ Terserah kalian mau mengikuti kiat saya ini atau tidak. 🙂

Selamat menonton dan membaca!

MP

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s