2014 Upcoming Project (2)

Saya punya sebuah naskah lain yang rencananya akan terbit juga di tahun 2014, yaitu sebuah naskah non-fiksi tentang perjalanan saya ber-football traveling di Eropa dalam periode 2011-2013 lalu. Berikut ini cuplikannya:

2012-04-09 13.07.21

Saya tinggal di sebuah student house (asrama mahasiswa) yang dipenuhi sekelompok mahasiswa Eropa yang gila sepakbola. Gedung asrama itu disebut Studenthouse Tscharnergut, sesuai dengan nama jalan bangunan itu berada.

Bangunan Tscharnergut tersebut adalah sebuah bangunan berlantai 19. Kamar saya terletak di lantai dua belas. Tetangga di samping kamar saya adalah seorang mahasiswa teologi asal Romania bernama Csongor Kelemen, biasa dipanggil Chongi.

Menariknya, meskipun kuliah di bidang teologi, Chongi justru termasuk salah seorang yang menge-Tuhan-kan sepakbola. Pada awalnya, begitu mendengar penghuni sebelah kamar saya adalah mahasiswa teologi alias calon pendeta, saya mengira dia adalah seseorang yang super-serius dan tertutup. Ternyata saya salah.

Chongi punya karakter periang dan sangat ramah. Setiap kali ada acara kumpul-kumpul seperti barbeque, tur atau acara-acara get together lainnya, Chongi pasti tidak pernah ketinggalan. Namun, lain cerita jika weekend datang. Biasanya, pada Jumat malam atau Sabtu malam, Chongi akan mengurung diri di kamarnya. Dia akan khusyuk duduk di depan computer untuk menonton tayangan streaming Liga Sepakbola Romania untuk menyaksikan klub kesayangannya bertanding.

Klub kesayangan Chongi bernama CFR Cluj. Klub tersebut merupakan kebanggaan kota Cluj, kampung halaman sekaligus kota kelahirannya.

***

Pada suatu hari, saya dan Chongi sedang mengobrol santai di dalam kamarnya. Kami bertukar cerita tentang kampung halaman kami masing-masing. Saya baru saja selesai bercerita padanya tentang kota-kota di Indonesia.

‘Ceritakan padaku tentang Cluj,’ pinta saya. Mata pria berambut pirang itu langsung menerawang ke beberapa tahun ke belakang.

‘Cluj-Napoca adalah nama lengkap kota itu, tapi kamu bisa menyebutnya Cluj. Kota itu merupakan salah satu kota terpenting di Transylvania.’

‘Daerah asal para vampir?’ aku melontarkan komentar bercanda.

‘Yeah, vampires.’ Chongi tertawa mendengarnya. Kemudian ia melanjutkan, ‘Meski demikian, kota itu tidak sebesar Bucharest.’

‘Bucharest,’ saya mengangguk pertanda saya paham kota itu merupakan ibukota Rumania. Banyak orang yang tertukar menyebut nama kota itu dengan Budapest, ibukota Hungaria.

‘Chongi mengangguk. Pada akhir 80-an, sewaktu saya masih kecil, saya ingat, kota kami sangat miskin. Mungkin kamu juga tahu, saat itu Romania masih berada di bawah kendali komunis.’

‘Oh ya, I see…’ benak saya mulai membuka-buka lagi pengetahuan sejarah yang saya pelajari di SMA.

‘Selain pengaruh Uni Sovyet, di Rumania sendiri ada Nicolae Ceauşescu, sang pemimpin diktator. Pokoknya kehidupan kami sempat berada di masa-masa sulit. Ditambah lagi dengan Revolusi Romania, hidup semakin susah saja.’

Saya tidak mengatakan apa-apa. Sulit memang membayangkan kehidupan yang tidak pernah saya jalani.

‘Di bawah kendali komunis, kamu bisa bayangkan. Tidak ada hiburan. Tidak ada kehidupan modern seperti sekarang. Bioskop dilarang memainkan film-film seru buatan Amerika. Konser-konser musik pun terbatas. Maka, satu-satunya hiburan masyarakat Cluj hanyalah sepakbola. Jadi bisa dibilang CFR Cluj adalah satu-satunya grup entertainer di kota kami saat itu.’

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa fungsi stadion pun menjelma menjadi ‘agora’, yaitu ruang berkumpul bagi publik dalam mitologi Yunani. ‘Setelah rezim komunis runtuh, barulah kehidupan di Romania perlahan bangkit. Termasuk di Cluj. Akhirnya sekarang kami bisa menikmati kehidupan normal.’

‘Dan selama ini CFR tetap menjadi kebanggaan masyarakat kalian?’

Exactly,’ mata Chongi berkilat-kilat. Sepertinya dia excited karena aku menangkap arah ceritanya. ‘Bayangkan, di akhir 80-an, CFR hanyalah klub kecil yang hampir bangkrut. Sekarang, mereka sudah berkompetisi di Liga Champions Eropa!’

Cerita pun berlanjut. Klub asal kota kelahirannya itu kini merupakan contender serius dalam pengejaran gelar juara Liga Romania setiap tahun. Maka, di mata Chongi dan ribuan penduduk kota Cluj lainnya, CFR Cluj bukan sekadar klub sepakbola, melainkan simbol perjuangan rakyat Romania dari keterpurukan di bawah paham komunisme menjadi salah satu kota berpengaruh di Eropa.

Setiap kali membicarakan tentang sepakbola dengan pria ini, saya memang pasti menghabiskan waktu paling sedikit tiga puluh menit.

‘Jadi, kamu nggak pernah melewatkan sekali pun pertandingan CFR Cluj?’

Chongi tertawa. ‘Yah, nggak juga sih. Kecuali kalau ada acara penting. Tapi, sebisa mungkin kalau CFR main, saya pasti nonton. Rumah saya di Cluj tepat di belakang stadion CFR. Jadi, setiap mereka main pasti saya nonton.’

Saya memandangi poster-poster dan syal CFR Cluj yang memenuhi dinding kamar pria Romania itu. CFR Cluj nampaknya memang sudah menjadi darah-dagingnya.

‘Lagipula saya dan ayah saya tiap awal musim kompetisi dimulai pasti membeli tiket terusan. Kalau nggak dipake nonton langsung di stadion, mubazir kan? Makanya nonton langsung CFR Cluj menjadi prioritas di jadwal mingguan saya.’

‘Kalau begitu pasti kamu kangen rumah,’ aku menimpali. ‘Di sini kamu nggak bisa ngerasain langsung suasana stadion tiap CFR main.’

‘Untungnya ada teknologi,’ Chongi menepuk-nepuk laptopnya. Dia memang selalu mengikuti sepak terjang CFR lewat streaming internet. ‘Jadi, kamu tahu kapan sebaiknya kamu tidak mengganggu saya. Yaitu setiap kali CFR bertanding.’

Kami berdua tertawa.

‘Jadi CFR sudah menjadi tempat ibadah kedua bagimu setelah gereja?’ saya menggodanya. Tak disangka, raut wajah Chongi kembali berubah serius.

Homo pedifollium.’

‘Apa?’

‘Saya mendengar istilah itu disebutkan oleh dosen teologi saya. Istilah itu sebenarnya buatannya sendiri, berasal dari bahasa latin, seperti homo sapiens atau homo economicus. Saya dan teman-teman sering membahas hal ini. Bahwa banyak golongan manusia yang menuhankan sepakbola. Homo adalah manusia, dan pedifollium adalah sepakbola.’

‘Oh,’ aku mengangguk tanda mengerti. ‘Homo pedifollium.’

Kali ini Chongi tersenyum. ‘Ya. Istilah itu awalnya hanya sebagai ucapan iseng, lama kelamaan istilah iseng itu jadi familiar di Eropa sini untuk menyebut para fans sepakbola. Bagi kami di kota Cluj, semuanya masuk akal karena kami sempat melihat pengaruh langsung sepakbola terhadap masyarakat kami. Akibat pengaruh rezim komunis, sempat banyak rakyat kami yang tidak percaya Tuhan. Mereka hanya mempercayai kekuatan magis para seniman sepakbola yang bisa memberi mereka kegembiraan walaupun sesaat.’

Saya tercenung. Saya langsung jadi teringat beberapa golongan di Argentina yang sampai membangun gereja untuk memuja Diego Maradona, legenda sepakbola mereka.

Chongi benar. Sepakbola selalu memiliki sentuhan ajaib yang membawa kegembiraan ke masyarakat.

Okay then,’ saya bangkit dari kursi saya karena harus mengerjakan tugas.  ‘Terima kasih atas cerita menarik tentang CFR Cluj ya.’

No problem,’ balas Chongi. ‘Lain kali mungkin kamu yang harus bercerita kepada saya tentang Gonzales.’

Saya hanya tertawa mendengarnya.

***

43dff5a3e3af91335caf51008a7a5373

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s