My Fav TV Serials

Saya menyadari sesuatu akhir-akhir ini. Ternyata untuk urusan nonton serial TV, selera saya berbeda dengan orang-orang kebanyakan!

Bukannya sok anti-mainstream, tapi lihat saja fakta berikut ini. Beberapa serial TV terkenal yang digemari orang-orang kebanyakan gagal memuaskan saya. Mencoba mengikuti 2 episode, saya menyerah dan memutuskan tidak akan lanjut menonton Breaking Bad. Untuk Game of Thrones lebih bagus, saya bertahan 4 episode sampai akhirnya tidak melanjutkannya. Entah, apakah yang mengganggu saya adalah mindset tidak ingin ikut selera kebanyakan, atau memang alur cerita serial-serial itu yang gagal memikat saya.

Padahal, kedua serial itu adalah serial-serial dengan rating tertinggi di imdb.com, plus berbagai penghargaan untuk tayangan layar kaca di Amerika Serikat sana. Serial dengan rating tinggi yang cukup membuat saya betah menyaksikan sampai akhir season 3 hanyalah Sherlock (versi BBC), itu pun saya nggak ngefans-ngefans amat. Lagipula, adaptasi Sherlock Holmes ke zaman modern ini hanya terdiri dari (total) 9 episode, dengan rincian 3 episode tiap season. Makanya saya nggak kewalahan mengikutinya.

Saya juga malas mengikuti serial-serial sitcom seperti How I Met Your Mother, The Big Bang Theory, Friends, dan lain-lain. Minat saya masih di action, thriller atau petualangan. Beberapa yang sempat saya ikuti semasa kuliah adalah Prison Break, Lost, Heroes, Smallville, Alias, The Walking Dead, Arrow, Sons of Anarchy, dan Bates Motel. Namun, tidak satu pun yang membuat saya menjadi fan fanatik serial-serial tersebut.

Top 4 serial yang saya gemari dan tidak boleh saya lewatkan adalah:

  1. 24

Sejak zaman kuliah, saya sudah mengikuti sepak terjang agen anti-teroris yang akhirnya menjadi anti-pemerintah, Jack Bauer (Kiefer Sutherland). Sekarang, 24 sudah memasuki season ke-9, dan seting yang tadinya di Amerika Serikat kini pindah ke London (khusus season 9, 24: Live Another Day). Saya ngefans banget dengan serial action ini karena selain adegan-adegan actionnya yang tidak pernah setengah-setengah (malah tergolong sangat spektakuler untuk ukuran tayangan TV), konsep real-time-nya (satu adegan disamakan dengan satu jam di dalam episodenya) juga menambah ketegangan.

Screen_Shot_2014-02-02_at_9.44.38_PM_large_verge_super_wide

  1. The Following

Banyak kritikus di luar sana yang mencibir serial ini karena dianggap mengada-ada dan mengagung-agungkan kekerasan. Namun, meski dipenuhi adegan pembunuhan yang terkadang sangat gory dan sadis, anehnya The Following (dan juga 24) masih menjaga kesopanan dalam dialog. Kata-kata sumpah serapah yang explicitly rude seperti the F-word tidak akan pernah didengar. Adegan-adegan dewasa dan display aurat juga cukup dijaga untuk dipertontonkan. Bandingkan dengan Breaking Bad yang penuh sumpah serapah dan Game of Thrones yang sudah seperti film semi itu.

Anyway, saya jatuh cinta pada The Following karena faktor Kevin Williamson sebagai kreatornya. Saya menyukai konsep brilian untuk film thriller yang diciptakannya di trilogy Scream, yang akhirnya dilanjutkannya di The Following. Di serial yang menampilkan actor super-cool Kevin Bacon sebagai peran utamanya ini, Williamson mulai dengan konsep sederhana tapi cukup wicked, yaitu pembunuh berantai yang membuat komunitas cult yang mengajarkan pembunuhan. Season 1 serial ini membawa banyak referensi dari puisi-puisi dark karya Edward Allan Poe sebagai referensi. Bring it on!

The-Following-11

  1. Elementary

Ketika masyarakat dunia tergila-gila dengan adaptasi Sherlock yang diperankan secara sempurna oleh duet Inggris, Benedict Cumberbatch dan Martin Sheen, saya justru menemukan keasikan di adaptasi Amerika sang detektif ternama. Elementary adalah kisah Sherlock Holmes yang berseting di New York, dengan actor Trainspotting, Jonny Lee Miller sebagai Holmes. Uniknya, karakter sidekick John Watson dijadikan wanita dengan Lucy Liu sebagai pemerannya.

Saya mengakui, Elementary kurang megah dan terlihat kurang ‘mahal’ dibandingkan Sherlock. Namun, saya menyukai kesederhanaan kisah-kisah yang diusungnya di tiap episode. Dua season pertama yang masing-masing terdiri dari 24 episode semuanya menampilkan kisah-kisah kriminal (umumnya pembunuhan) yang menantang kecerdasan Sherlock Holmes untuk memecahkan. Di sinilah bagian yang saya suka, menebak-nebak pelaku kejahatan, alibi palsu yang dipakai sebagai kedok dan modus kejahatan yang seringkali realistis dan menantang intelegensi. Rasanya seperti kembali ke masa kecil dan membaca komik Detektif Conan.

Jonny+Lee+Miller+Lucy+Liu+Films+Jonny+Lee+j7F2FV0SgXzl

  1. American Horror Story

Ada sesuatu yang special di antara saya dan horor-horor Amerika. Yes, memang benar, kisah horor Amerika tidak seram, dibandingkan kisah-kisah hantu yang lebih dekat dengan kultur kita seperti Jepang atau Thailand. Namun, saya suka penggambaran horor Amerika yang seringkali dihubungkan dengan logika atau ilmu pengetahuan, seperti yang tergambar dalam film-film layar lebar Insidious 1&2, The Sixth Sense, The Conjuring, atau Sinister.

American Horror Story sendiri sebenarnya tak lebih dari melodrama yang menggunakan seting dan plot horor. Bagusnya, ceritanya akan berbeda setiap season. Season 1 (Murder House) bercerita tentang sebuah keluarga disfungsi yang baru pindah ke sebuah rumah berhantu. Favorit saya adalah season 2 (Asylum) yang berseting di sebuah rumah sakit jiwa, dan memadukan semua elemen horor klasik, dari UFO, exorcism (pengusiran setan), rumah sakit jiwa berhantu dan pembunuh berantai. Season 3 (Coven) adalah season yang paling saya tidak suka, karena pemilihan plot yang usang dan tidak menarik (seputar sekolah sihir).

Meski demikian, para creator serial ini (yang juga menggagas serial Glee, would you believe it?) telah menjanjikan season 4 yang akan lebih ‘menggigit’. That’s why I cannot wait!

tkdesigning-AmericanHorrorStory1

Advertisements

One thought on “My Fav TV Serials

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s