Luciano dan Hotelnya

Saya pernah nulis artikel tentang mantan pemain sepak bola Indonesia, Luciano Leandro, yang menjalankan bisnis hotel di Rio de Janeiro, Brazil. Ini dia artikelnya:

Ada yang pernah membaca novel sejarah-romantis karangan penulis terkenal asal Turki bernama Orhan Pamuk? Judulnya adalah The Museum of Innocence. Novel ini merupakan salah satu cerita fiksi favorit saya.

Berlatar belakang Turki di pertengahan abad ke-20, alkisah seorang lelaki bernama Kemal terlibat cinta terlarang dengan seorang gadis remaja bernama Fusun. Berbagai konflik sosial di Turki kala itu membuat cinta mereka akhirnya kandas, terutama karena Kemal harus menikah dengan wanita lain. Pada akhirnya, Kemal tidak pernah bisa melepaskan semua kenangan tentang Fusun dari hidupnya.

Maka, semua obsesi terhadap Fusun dituangkan Kemal ke sebuah bangunan yang dibuatnya khusus untuk mengenang wanita itu. Bangunan tersebut diisinya dengan segala pernak-pernik yang berhubungan dengan diri wanita yang sangat dicintainya itu. Dari pakaian Fusun, hingga detil-detil kecil seperti puntung-puntung rokok yang pernah diisap gadis itu dikumpulkan dan diawetkannya. Semua diarsipkan secara rapi dalam bangunan yang disebutnya ‘Museum of Innocence’.

Menariknya, bangunan ‘Museum of Innocence’ sendiri ternyata benar-benar ada di kehidupan nyata. Seperti halnya cerita di novelnya, bangunan ini benar-benar berlokasi di sebuah sudut kota Istanbul yang kumuh. Rakyat Turki sendiri menganggap bahwa Masumiyet Muzesi alias ‘Museum of Innocence’ sebenarnya merupakan pengejawantahan obsesi sebenarnya dari sang penulis, Orhan Pamuk, terhadap seorang wanita yang menjadi cinta terlarangnya. Apakah sosok Fusun benar ada atau tidak, hanya Tuhan dan penulis peraih Nobel Prize di bidang sastra itu yang tahu.

Nah, siapa yang menyangka bahwa suatu cerita dari dunia sepak bola ternyata benar-benar terjadi, dan mirip dengan Museum of Innocence. Cerita yang satu ini sebenarnya cerita lama, dan bukan lagi berita aneh bagi para penggila sepak bola nasional. Terutama para supporter fanatik PSM Makassar.

Ini tentang Luciano Leandro. Pemain asing asal Brasil yang sangat populer di akhir 1990-an dan awal 2000-an. Playmaker jenius ini menjadi kesayangan publik Makassar ketika menjadi runner-up Liga Indonesia ke-2 di tahun 1996. Saat itu ia bahu-membahu dengan rekan senegaranya yang sekarang jadi pelatih handal di Persipura, Jacksen F. Tiago.

Bersama PSM, Luciano mempersembahkan begitu banyak bagi tim Juku Eja. Luci, panggilan akrabnya, juga pernah memperkuat PSM di ajang Piala Champions Asia. Suporter PSM tidak akan pernah lupa akan penampilan uniknya dengan kuncir yang khas. Etos kerja dan tingkah lakunya yang selalu positif pun membuatnya menjadi pujaan suporter.

Luci akhirnya pindah ke Persija Jakarta, tapi ternyata cintanya pada kota Makassar sangat membekas. Atmosfer Stadion Mattoanging tidak pernah dilupakannya. Keramahan para penduduk kota Makassar juga selalu membuatnya merasa seperti di rumah sendiri. Apalagi, Makassar adalah kota tempat cintanya dengan istrinya, Denise, tumbuh dan berkembang. Hubungan keduanya pun menghasilkan seorang putri bernama Yasmin, yang juga lahir di ibukota Sulawesi Selatan tersebut.

Setelah memutuskan untuk gantung sepatu dan pulang ke kampung halamannya di Brasil, Luci memanfaatkan hasil tabungannya dari bermain sepak bola dengan membuka bisnis berupa sebuah hotel. Uniknya, hotel yang terletak di bilangan Araujo Macae, Rio de Janeiro tersebut diberinya nama ‘Hotel Makassar’.

Dari hasil wawancaranya dengan beberapa media ketika datang kembali ke Indonesia beberapa tahun lalu, Luci mengaku bahwa hotel yang dibangunnya pada tahun 2004 itu memang merupakan semacam memento untuk mengingatkannya pada kehidupan menyenangkan yang dialaminya semasa bermain di Indonesia. Menurut penuturan pria itu, hotel tersebut didesainnya lengkap dengan segala sesuatu berbau Makassar. Tidak hanya nama hotel, nama-nama ruangan dan kamar pun memakai istilah-istilah khas Sulawesi. Di restorannya juga tersedia beberapa hidangan khas Makassar. Tidak lupa sebuah peta Makassar terpajang di pintu masuk agar tamu langsung mengetahui asal-usul nama hotel yang sama sekali tidak berbau Brasil.

Inside Hotel Makassar
Lalu, seperti halnya Orhan Pamuk dan karakter Kemal di cerita Museum of Innocence, Luciano Leandro memajang kenangan-kenangan masa lalunya di hotel tersebut. Berbagai foto lama dari masa kejayaannya di Liga Indonesia terpajang rapi di dalam ruangan-ruangan hotel. Luci pastinya selalu ingin mengenang bahwa meskipun terpisah jauh oleh samudera, namun negara yang awalnya sama sekali asing baginya itu akhirnya menjadi rumah kedua yang berkesan baginya.

Di negara itu juga, ia pernah dicintai oleh masyarakat berkat sepak bola. Sebagai balasan untuk menunjukkan rasa cinta, Hotel Makassar akhirnya menjadi ‘Museum of Innocence’-nya terhadap negara bernama Indonesia tersebut.

Kisah Luciano Leandro ini sebagai pengingat bahwa sepak bola negara kita pernah menjadi surga bagi para pemain asing. Saatnya kita bersatu untuk mengembalikan kejayaan itu.

Artikel itu dimuat di http://www.footballfandom.net pada tahun 2013. Setahun kemudian, tanpa saya duga, saya menemukan nama Luciano di Facebook. Saya sempat ragu apakah pemilik akun merupakan Luciano asli, tapi akhirnya saya semakin yakin karena foto-fotonya kebanyakan foto-foto di Brazil. Sebuah album foto juga memperlihatkan situasi Hotel Makassar miliknya.

Maka, saya memberanikan diri memposting link artikel saya dan menulis pesan kepadanya. Saya mencoba mempergunakan bahasa Portugis yang saya peroleh dari Google Translate, isinya begini:

‘Luciano, silakan baca artikel saya tentang hotel kamu di salah satu website di Indonesia. Semoga sukses selalu!’

Beberapa jam kemudian, Luciano membalas dengan bahasa Indonesia:

‘Mahir, saya sudah membacanya. Beberapa rekan di Indonesia memberi linknya kepada saya. Terima kasih telah menulis tentang hotel saya. Sukses juga buat kamu.’

Membaca pesan itu membuat hati saya hangat. Tujuh belas tahun lalu, saya adalah seorang anak kecil yang menyaksikan aksi Luciano di lapangan dengan mata berbinar-binar.

P.S: Jika berkunjung ke Rio de Janeiro, warga Indonesia gratis menginap di Hotel Makassar milik Luciano.

Advertisements

2 thoughts on “Luciano dan Hotelnya

  1. This long-haired Brazilian is the second Ramang for Makassar’s football lovers. Luci showed everything that a real footballer has – skill, speed, fighting spirit, attitude and professionalism. Super Luci….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s