Football Traveling (2): ‘Home & Away’, Santiago Bernabeu

Dengan terbitnya buku ‘Home & Away’, petualangan saya di Eropa menonton pertandingan-pertandingan sepak bola pun akhirnya berwujud sebuah kumpulan catatan perjalanan. Sebagai pengikut setia Liga Spanyol, sejak kecil saya bermimpi suatu saat nanti saya akan bisa bertualang di negeri matador untuk menyaksikan langsung klub-klub La Liga Primera berlaga di stadion mereka. Mimpi itu baru akhirnya kesampaian dua tahun lalu, tepatnya di bulan April 2012. Saat itu, saya dan seorang teman nekat bertualang di tiga kota Spanyol selama sepuluh hari untuk merasakan langsung atmosfer La Liga.

Sekalian nostalgia, saya akan menuliskan pengalaman tersebut secara berseri di blog ini. Cerita lengkapnya bisa dibaca di ‘Home & Away’ terbitan GagasMedia.

cropped-title-image-mp2.jpg

Awalnya, saya yang kuliah di Swiss dan teman saya yang saat itu kuliah di Italia bernama Rusmin (di Twitter dia beredar dengan akun @mrusmin) menghabiskan hampir seharian menjelajah kota Madrid. Setelah sempat keluar masuk metro (kereta bawah tanah) dan bertanya ke sana ke mari untuk mencari-cari informasi tentang lokasi stadion Santiago Bernabeu, akhirnya kami pun sampai. Kami akhirnya tiba di salah satu ‘tanah suci’ sepakbola dunia itu.

Bangunan Stadion Santiago Bernabeu berdiri gagah di tengah-tengah distrik Chamartin, sebuah wilayah ramai pusat kota Madrid. Di luarnya, beberapa bendera kuning-merah yang melambangkan federasi Spanyol berkibar-kibar ditiup angin musim semi. Stadion itu memang merupakan stadion kebanggaan Spanyol. Nama stadion sendiri diambil dari nama mantan pemain Real Madrid yang juga pernah menjabat menjadi presiden klub, Santiago Bernabeu Yeste. Stadion ini memiliki muatan sejarah yang panjang, salah satunya menjadi penyelenggara pertandingan final Piala Dunia 1982.

Di saat kami berjalan ke ticket box, antrian sudah mengular. Terlihat lebih banyak wisatawan yang mengantri di depan ticket box itu. Bisa dipahami, karena penduduk asli Madrid pasti sudah memiliki tiket terusan atau melakukan online booking. Setelah berhasil melewati antrian dan memperoleh tiket pertandingan sekaligus tiket tur ke museum Real Madrid dan stadion Santiago Bernabeu, akhirnya kami masuk juga ke dalam museum.

20 Euro adalah jumlah yang kami keluarkan untuk tiket museum klub terbesar di dunia tersebut. Kami penasaran, seberapa jauh Real Madrid menyaingi Barcelona dalam urusan sport-tourism mereka. Dengan jumlah uang tersebut, pengunjung bisa masuk mengagumi kemegahan konstruksi dan fasilitas stadion, bahkan duduk-duduk di bangku cadangan pemain. Selain itu, daya tarik utama tentunya El Museo del Madrid (Museum Real Madrid). Museum ini memang merupakan tempat yang wajib dikunjungi oleh penggila sepakbola. Apalagi kalau bukan karena alasan sejarah panjang klub sepakbola nomor satu Spanyol tersebut, ditambah lagi mereka merupakan salah satu klub sepakbola tersukses di dunia dari sisi prestasi maupun finansial.

nllssbm4

Great view!

Selama berpuluh-puluh tahun, Real Madrid memenangi trofi demi trofi bergengsi dan menguasai dunia dengan para jugador zaman dulu mereka, seperti Alfredo di Stefano dan Ferenc Puskas. Isi lemari Real Madrid sudah penuh sesak dengan gelar juara domestik plus 5 trofi Piala Champions yang mereka dominasi dari tahun 1956 sampai 1960.

Maka, jika berkeliling di dalam museum Real Madrid, yang terlihat adalah parade kesuksesan selama berabad-abad. Piala dari tahun 1950-an sampai abad ke-21 menghiasi seluruh ruangan.

Real Madrid juga selalu menjadi salah satu pelaku utama gemerlapnya panggung sepakbola Eropa zaman modern dengan gelimang harta dan pemain-pemain kelas dunia yang seolah sangat gampangnya mereka gaet. Stadion Santiago Bernabeu selalu dipenuhi pemain-pemain sekaliber Ronaldo Luis Nazario da Lima, Luis Figo, Zinedine Zidane, David Beckham, Ruud Van Nistelrooy, hingga nama-nama beken masa kini seperti Cristiano Ronaldo, Kaka dan Mesut Ozil.

Maka, meskipun bukan fans Madrid, namun penggila bola seperti saya dan Rusmin terpesona melihat ‘peninggalan-peninggalan’ beberapa pemain dunia yang masih tersimpan di rak-rak museum Real Madrid.

nllssbm2

Ini foto dua tahun lalu, jadi banyak di antara pemain-pemain di galeri itu yang sudah pindah

Yang unik dari museum Real Madrid adalah mereka membuat museum mereka seperti rumah bagi para pemain yang pernah menghiasi sejarah mereka. Jangan heran jika Anda bisa melihat sepatu-sepatu lama milik Cristiano Ronaldo atau KTP zaman remaja Raul Gonzalez!

***

Matchday: Real Madrid vs Sporting Gijon

Pertandingan dimulai pukul 21:00, namun sejak sore, ribuan pengunjung sudah berbondong-bondong datang ke stadion. Kapasitas stadion yang sekitar 85-ribu itu memang selalu terisi penuh. Terlihat jalan di depan stadion diblokir. Mobil-mobil polisi berjaga di sana-sini. Setiap ada ‘Real Madrid Day’, seluruh daerah di sekitar kawasan stadion Santiago Bernabeu memang seolah berubah menjadi Ka’bah. Lautan manusia menyemut dan mengerubungi stadion bersejarah itu.

Rusmin dan saya masuk ke stadion. Tiket kami seharga 39 Euro itu di-scan oleh sebuah mesin elektronik di pintu masuk. Setelah itu, beberapa petugas memeriksa tas kami masing-masing. Meskipun tergolong salah satu stadion paling aman di dunia, para panitia pertandingan pasti tak mau ambil risiko jika misalnya ada penonton yang cari gara-gara dengan membawa senjata tajam ke dalam stadion. Bahkan, botol minuman plastik pun dicekal. Botol air mineral yang saya beli harus saya relakan untuk dibuang ke tong sampah. Padahal isinya masih penuh. Kirain cuma di Indonesia botol minuman plastik dilarang masuk karena takut dipakai menimpuk pemain.

Namun, begitu kami baru selesai menaiki tangga untuk naik ke bagian stadion yang lebih tinggi, saya bisa melihat alasan mengapa penonton dilarang membawa minuman dari luar. Ternyata banyak stan makanan dan minuman yang memanfaatkan ruangan-ruangan di dalam stadion. Segala macam makanan bisa ditemui di situ, seperti hot dog, sandwich, kebab, sampai patatas fritas (french fries), termasuk pula berbagai macam minuman ringan. Setiap jeda pertandingan, penonton bisa membeli makanan dan minuman di stan-stan tersebut, tak usah keluar stadion lagi. Jadi, jika semua penonoton membawa minuman mereka sendiri, para penjual ini akan rugi.

Rusmin dan saya akhirnya menemukan tempat duduk kami sebuah tribun yang terletak di belakang gawang. Memang itulah tiket yang paling murah, padahal harganya yang 39 Euro cukup terbilang mencekik. Kocek mahasiswa kami memang belum sanggup membeli tiket tribun yang di tengah, apalagi tribun VIP yang harganya bisa mencapai 300 Euro.

Kemegahan di Santiago Bernabeu sudah terlihat sebelum pertandingan dimulai, penyelenggara pertandingan Real Madrid terlebih dahulu memainkan mars resmi klub yang berjudul ‘Hala Madrid’. Lagu yang dinyanyikan seorang penyanyi tenor laksana Pavarotti itu ternyata diperlakukan seperti lagu kebangsaan jika tim nasional sebuah negara akan bertanding. Hampir seluruh penonton akan berdiri dan mendengarkan dengan khidmat. Mereka sangat menghargai lagu mars yang telah berusia beberapa dekade tersebut. Lagu itu tentunya menjadi teman setia dalam berpuluh-puluh tahun sejarah besar Real Madrid.

Saya memandang ke atas. Seluruh bagian stadion Bernabeu tertutup atap. Saat itu adalah bulan April, yang masih termasuk musim semi. Musim semi di Spanyol berarti curah hujan termasuk tinggi. Maka, udara pun masih tergolong bikin kulit menggigil. Namun, semua itu teratasi oleh fasilitas kelas wahid Stadion Santiago Bernabeu. Semua tribun di stadion kebanggaan Madrid ini tertutup oleh atap dan dilengkapi dengan fasilitas penghangat ruangan.

Sampai sekarang, saya tidak pernah lupa akan fasilitas bintang lima stadion ini. Bisa dibilang, Santiago Bernabeu adalah salah satu stadion paling megah yang pernah saya kunjungi.

***

Real Madrid yang merupakan salah satu klub terhebat dunia dengan salah Cristiano Ronaldo sebagai pemain andalannya terlalu tangguh bagi lawannya, tim liliput bernama Sporting Gijon.

Gijon sempat mengejutkan di babak pertama dengan mencetak gol lewat penalti. Namun, kelas Madrid masih jauh di atas mereka. Keunggulan kualitas pemain membuat Real Madrid menang 3-1. Saat itu, Madrid yang ketinggalam lebih dulu lewat gol pinalti akhirnya membalas dengan gol-gol ketiga penyerang andalan mereka, Gonzalo Higuain, Cristiano Ronaldo dan Karim Benzema. Seluruh penonton di Santiago Bernabeu (95% di antaranya merupakan pendukung Madrid dan 5% turis seperti kami berdua) pun membubarkan diri dengan perasaan senang.

Saya dan Rusmin tidak butuh waktu lama untuk menemukan cara untuk pulang. Yang mengesankan dari Santiago Bernabeu adalah lokasinya yang berada tepat di pusat kota Madrid, tapi tidak sesemrawut Stadion Utama Senayan yang berada di Jakarta. Kita pasti tahu persis, jika ada pertandingan sepakbola berlangsung di Jakarta, maka neraka adalah sebutan yang tepat bagi para pengendara kendaraan bermotor. Mereka akan terjebak kemacetan Senayan yang butuh waktu berjam-jam untuk diatasi, belum lagi potensi kerusuhan oleh suporter.

Di Madrid, semua berlangsung lancar. Tepat di pintu keluar stadion Santiago Bernabeu, terdapat stasiun metro (kereta bawah tanah), sehingga masyarakat bisa langsung mempergunakan transportasi umum tanpa terjebak macet.

*pernah dimuat di website www.bolatotal.com pada bulan Juli 2013*

nllssbm1

kapan lagi bisa selonjoran di bench pemain Real Madrid?

Advertisements

4 thoughts on “Football Traveling (2): ‘Home & Away’, Santiago Bernabeu

  1. Saya kemarin habis beli buku Home Away, sekedar untuk koleksi aja. Saya bukan penikmat sepak bola #halaMadrid, dan santiago bernabeu menyimpan kesan kelam bagi saya pribadi. Saya sampai detik ini masih berpikir keras, bagaimana Indonesia bisa maju Sepak Bola-nya ya? sedangkan cabang olah raga lain (baca: bulu tangkis), begitu penuh prestasi.Namun perhatian media kurang sekali mebahas cabang olah raga selain Sepak Bola.

    Dan banyak sekali WNI yang menDEWAkan klub sepak bola dari benua biru, dan kerap di jadikan ajang taruhan. Kalau di Swiss, sepak bola tidak populer kan? dan bagaimana generasi muda menikmati olah raga. Makasi Kak Mahir Pradana

    • terima kasih ya, udah baca. tentang bagaimana kiranya sepak bola Indonesia nanti akan maju, kita cukup perlu optimis aja 🙂 Korea Utara aja bisa masuk Piala Dunia, kenapa kita tidak? Hehehe. dimulai di situ aja dulu kali, ya.

      kalo di Swiss, sepak bola adalah olahraga terpopuler ke-3 setelah hoki es dan tenis. stadion di sana sering sepi, kok. bagusnya mereka nggak pernah nunggak gaji pemain dan sponsor tetap setia. anak-anak mudanya sih jarang juga yang nonton langsung di stadion, kecuali mereka yang gabung fans club

  2. Salken mas mahir 😀 . Saya kemaren sudah beli bukunya yang Home & Away , emang ceritanya penasaran klo ada buku2 soal traveling apa lagi bisa sampe berkunjung ke Stadion2 terkenal di Eropa. Saya juga penggemar sepak bola 😀 . Tapi sayang yang menurut saya kurang dari buku Home & Away gambar2 yang di cetak di buku bukan yang berwarna jadi kurang jelas :(.

    Ditunggu buku2 football treveling berikutnya mas 😀

  3. Salken mas mahir 😀 . Saya kemaren sudah beli bukunya yang Home & Away , emang ceritanya penasaran klo ada buku2 soal traveling apa lagi bisa sampe berkunjung ke Stadion2 terkenal di Eropa. Saya juga penggemar sepak bola 😀 . Tapi sayang yang menurut saya kurang dari buku Home & Away gambar2 yang di cetak di buku bukan yang berwarna jadi kurang jelas :(.

    Ditunggu buku2 football treveling berikutnya mas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s