Football Traveling (3): Stade de Suisse (Bern)

Terlepas dari statusnya sebagai ibu kota, Bern sebenarnya tidak lebih dari sebuah kota kecil yang sederhana. Populasinya hanya 134.000 jiwa. Dibandingkan dengan dua kota besar tetangganya, yaitu Zürich dan Basel, wajah Bern sangat berbeda. Basel dan Zürich dipenuhi gedung-gedung beton dan jalan-jalan lebar, sedangkan Bern masih menjaga sebagian besar bangunan tuanya. Andai bukan dengan tujuan untuk kuliah di Universität Bern, saya tidak pernah membayangkan suatu hari akan tinggal di kota itu.

Kota Bern memiliki klub sepak bola bernama Young Boys (YB). Klub ini tidak terlalu terkenal memang, terutama jika dibandingkan klub raksasa Swiss, FC Basel. YB juga sudah lama tidak juara Liga Swiss, terakhir mereka menjadi juara pada tahun 1986.

Maka, saya tidak terlalu berharap banyak bisa dibuat terkesan oleh stadionnya, Stade de Suisse. Namun, ketika saya tiba di stadion tersebut, saya dibuat terperangah.

Stadion yang dulu bernama Wankdorf Stadium itu tidak terlalu besar. Kapasitasnya bahkan tidak sampai setengah Gelora Bung Karno (Senayan) di Kota Jakarta. Stade de Suisse hanya berkapasitas sekitar 35.000 penonton.

 

Namun, jangan tanya kelengkapan fasilitasnya karena stadion itu memang bintang lima. Tribun-tribun penontonnya fully-seated, tanpa tribun berdiri. Kadang-kadang, beberapa kelompok ultras (fans garis keras) lebih memilih untuk berdiri, agar lebih leluasa bernyanyi-nyanyi sambil menari-nari memberi dukungan. Maka di beberapa bagian tribun, tempat duduknya bisa dibongkar-pasang untuk memfasilitasi penonton yang ingin berdiri. Terdapat sebuah layar besar di atas lapangan untuk memutar replay dan kejadian-kejadian penting sepanjang pertandingan.

Stade de Suisse punya sejarah yang cukup panjang. Pada penyelenggaraan Piala Dunia 1954 ketika Swiss menjadi tuan rumah, stadion itu menjadi tempat diselenggarakannya pertandingan final yang mempertemukan Jerman Barat dan Hungaria. Kala itu, stadion Wankdorf masih bisa dijejali sekitar 60.000 penonton yang menjadi saksi keperkasaan Jerman Barat mengalahkan Hungaria dengan skor 3-2. Namun, melalui renovasi (atau lebih tepatnya pembangunan kembali karena Stadion Wankdorf diratakan dengan tanah sebelum dibangun kembali) yang dilakukan pada 2007, kapasitasnya diturunkan menjadi 35.000, dengan perbaikan fasilitas menjadi jauh lebih baik.

Hasil renovasi itu terlihat di sana-sini. Di setiap sudut tribun terdapat family corner, tempat para penonton bisa dengan bebas membawa anak-istri mereka ke stadion. Khusus family corner ini, peraturan dilarang merokok diterapkan untuk memberi kesan ramah keluarga. Selain family corner, ada juga sektor khusus untuk penonton penyandang disabilitas yang datang dengan kursi roda.

Lalu, seperti yang diutarakan si Ibu Pemandu, stadion itu memang terhubung dengan sebuah shopping mall!

Wow, saya benar-benar terkesima. Baru kali itu saya melihat sebuah stadion yang terhubung langsung dengan pusat perbelanjaan. Terutama jika terbiasa melihat stadion-stadion di Indonesia yang jorok dan tidak terawat.

Sesuai dengan warna kebesaran Young Boys, tim sepak bola yang menjadi kebanggaan masyarakat Bern, bangku-bangku penonton dicat dengan warna kuning dan hitam. Saya dibuat terpesona melihat fasilitas stadion yang mewah dan lengkap. Bahkan toiletnya pun sebersih hotel bintang lima.

***

Sambil berkeliling di shopping mall, maksud saya, stadion kebanggaan Kota Bern itu, saya mengingat-ingat beberapa fakta tentang sepak bola Swiss. Negara ini sebenarnya bukanlah negara dengan sejarah sepak bola yang mentereng. Meskipun terkenal sebagai rumah organisasi sepak bola internasional (FIFA), negara ini tidak punya prestasi sepak bola yang bisa dibanggakan.

Euforia terheboh yang pernah mereka alami hanyalah ketika menjadi salah satu host Piala Eropa 2008 bersama Austria. Atau mungkin penggemar sepak bola mengingat kejutan yang mereka buat saat mengalahkan Spanyol pada Piala Dunia 2010. Toh, itu cuma kejutan kecil yang seperti angin lalu saja. Setelah itu, Spanyol melenggang mulus hingga akhirnya menjadi juara, sedangkan Swiss harus terhenti di babak penyisihan. Mereka malah gagal masuk putaran final Piala Eropa 2012.

Namun, bukan berarti atmosfer sepak bola negara itu sama sekali sepi. Swiss punya liga sepak bola reguler yang tidak terlalu buruk. Swiss Super League bergulir setiap tahun dan diikuti oleh 10 klub profesional. Klub langganan juara mereka, FC Basel, adalah peserta tetap Liga Champions Eropa. Pada 2011 lalu mereka malah sempat menyingkirkan Manchester United dari persaingan.

Kota Bern sendiri merupakan rumah bagi klub sepak bola terbaik ketiga di Swiss dengan pendukung yang cukup fanatik. Klub bernama BSC Young Boys inilah yang bermukim di Stade de Suisse, salah satu stadion termegah di Eropa yang merupakan langganan pertandingan kelas dunia.

Belakangan, baru saya peroleh informasi tambahan bahwa stadion kebanggaan Bern ini dibangun pada 1925. Saya sedikit terkejut karena mengira fasilitas ini dibangun oleh Swiss demi mempersiapkan diri menjadi tuan rumah Piala Dunia tahun 1954. Ternyata tidak, mereka sudah 30 tahun sebelumnya lebih siap.

Saya mungkin telah terbiasa dengan pemikiran kita di Indonesia bahwa suatu fasilitas olahraga baru akan dibuat atau diperbagus pada saat ada event terdekat yang akan diselenggarakan. Stadion Senayan alias Gelora Bung Karno dibangun sebagai persiapan tuan rumah Asian Games 1962. Stadion Jakabaring di Palembang dipersiapkan menjadi venue Pekan Olahraga Nasional (PON) tahun 2004, dan banyak lagi stadion yang dibangun atas alasan yang sama. Kesannya, jika tidak ada event olahraga, mustahil untuk mengharapkan dana pemerintah untuk membangun fasilitas. Lihat saja provinsi kelahiran saya, Sulawesi Selatan, yang masih setia dengan Stadion , bekas tuan rumah PON 1957, yang sudah bobrok minta ampun. Ironis, karena Makassar yang merupakan salah satu kota metropolitan Indonesia tidak pernah punya lagi stadion berkelas nasional, apalagi internasional. Satu-satunya harapan adalah menunggu kebagian jatah tuan rumah PON untuk bisa mengemis dana pemerintah.

Di Swiss, ternyata tidak seperti itu. Stadion Wankdorf yang kemudian berubah nama menjadi Stade de Suisse adalah perwujudan mimpi sederhana para pencinta sepak bola di Kota Bern, dengan harapan bahwa pada suatu hari, sepak bola kelas dunia akan dilangsungkan di kota kecil mereka. Pertandingan internasional pertama yang mereka langsungkan pun sangat sederhana, hanya mengundang tetangga perbatasan mereka, Austria. Pertandingan persahabatan itu dilangsungkan pada 8 November 1925 dan dimenangkan tuan rumah Swiss dengan skor 2-0.

Selama kurang lebih tiga puluh tahun, stadion itu hanya dipakai sebagai tuan rumah pertandingan-pertandingan kelas lokal, atau kasarnya, kelas kampung. Selama tiga dekade itu pula, hanya sesekali Wankdorf menjadi tuan rumah pertandingan bergengsi. Namun, masyarakat Bern tetap merawat stadion kesayangan mereka itu dengan baik, layaknya orangtua yang percaya buah hatinya akan melakukan sesuatu yang besar bagi dunia suatu hari nanti.

Harapan masyarakat Bern pun terwujud ketika stadion mereka dipercaya menjadi tuan rumah Piala Dunia 1954. Sekitar enam puluh ribu penggila bola dari seluruh dunia berkunjung ke Bern untuk menyaksikan dua tim terbaik dunia kala itu bertarung di pertandingan puncak. Bern pun menjadi saksi kemenangan Jerman Barat atas Hungaria dengan skor 3-2, yang dikenang dunia sebagai salah satu pertandingan final terbaik sepanjang masa.

Sampai sekarang pun, setelah menjadi tuan rumah turnamen besar Piala Eropa 2008, stadion kebanggaan Bern ini masih terawat baik. Meski kapasitasnya tidak melebihi 35.000, fasilitasnya dikenal sebagai salah satu yang terbaik di Eropa. Di usianya yang menginjak 90 tahun lebih, Stade de Suisse masih bersolek layaknya seorang gadis muda yang elok. Rasanya, inilah bedanya dengan stadion-stadion di Indonesia. Kita di Indonesia seringkali hanya bisa membangun fasilitas, tapi setelah itu lupa bahwa fasilitas tersebut harus dirawat.

(cerita selengkapnya bisa dibaca di buku Home & Away, terbitan GagasMedia )

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s