Hari Ketika PSM Pulang ke Rumah

6 April 2015. Ruangan kantor saya masih penuh orang, tapi saya memberanikan diri mengakses sebuah situs streaming di laptop. Sial, saya lupa membawa headset! Volume saya setel pelan agar tidak mengganggu rekan-rekan kerja saya, tapi saya usahakan masih terdengar agar suasana stadion Mattoanging tetap terasa.

Hari itu adalah pertandingan pertama PSM Makassar di Stadion Mattoanging. Pertandingan ini terasa spesial karena ini pertama kalinya PSM kembali bermain di stadion bersejarah tersebut, setelah selama satu musim dipaksa bermain di Surabaya. Meski terganggu dengan streaming yang terputus-putus, suasana Senin hari di Mattoanging yang memerah terasa sampai ke ruangan kerja saya di Bandung.

Ah, saya sangat merindukan stadion kuno itu, seperti halnya saya merindukan nenek saya yang sudah renta, saat ini beliau tinggal di Palopo.

Selama 2×45 menit saya menahan jeritan di setiap peluang emas, maupun sorakan girang setiap kali tim ‘Juku Eja’ mencetak gol. Setelah peluit panjang dibunyikan, saya akhirnya tak peduli. Saya mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi ke udara, sangat puas dengan pertandingan pertama PSM yang tampil tanpa cela. Syamsul Chaeruddin dan kawan-kawan menaklukkan rival seberang selat, Persiba Balikpapan, dengan skor 4-0.

photo by @thyo_flair

photo by @thyo_flair

Tak ada hari Senin yang lebih menyenangkan selain menyaksikan tim sepak bola kesayangan kita menang meyakinkan.

 ***

Saya pertama kali menonton langsung PSM di stadion Mattoanging, Makassar, pada Liga Indonesia ke-2. Pengalaman itu langsung mengubah hidup saya, yang pada saat itu masih duduk di bangku sekolah dasar. Bukan hanya keperkasaan PSM di liga pada saat itu yang membuat hati saya senang berada di stadion, melainkan juga suasana di tribun yang membuat saya senantiasa berada di tengah ribuan orang dengan kebanggaan yang sama. Saya ingat jelas, Luciano Leandro, Jacksen Tiago, Ansar Abdullah dan kawan-kawan menyapu bersih semua pertandingan kandang dengan rekor seratus persen kemenangan. Tim-tim wilayah timur seperti Barito Putra, Persipura dan Persebaya semuanya dibuat bertekuk lutut di stadion kebanggaan kota Makassar, tidak jarang dengan skor telak.

Ketika disokong dana berlimpah di musim kompetisi 1999-2000, trofi Liga Indonesia yang diidam-idamkan warga Makassar dan Sulawesi Selatan akhirnya dapat diraih. Skuat PSM saat itu juga bagaikan Fantasy Football-nya Liga Indonesia saat itu, dengan kurniawan Dwi Julianto di lini depan, Carlos de Mello sebagai playmaker dan masih banyak pemain bintang lain. Keberhasilan menjadi juara diikuti dengan kehormatan menjadi tuan rumah perempat final Piala Champions Asia. Saat itu, Stadion Mattoanging bersolek menyambut ketiga tamu yang merupakan raksasa Asia, yaitu Shandong Luneng (China), Suwon Samsung (Korea Selatan) dan Jubilo Iwata (Jepang).

Saat itu, meski Mattoanging adalah tempat yang menyenangkan. Meski berupa bangunan tua, renovasi menjelang kompetisi antarklub Asia tersebut memperbarui tembok-tembok stadion dengan cat baru, rumput yang terawat dan beberapa tambahan seperti kanopi di bench pemain dan lorong masuk pemain. Ditambah dengan keberhasilan Juku Eja menjadi runner-up selama 3 kali setelah juara di tahun 2000 itu, awal dekade 2000 benar-benar menjadi saat-saat indah untuk menjadi seorang pecinta PSM.

 ***

Setelah lulus SMA, saya merantau ke Bandung untuk kuliah. Seperti lazimnya mahasiswa rantau, kerinduan akan rumah sering menyiksa. Selain orangtua, sanak saudara dan teman-teman, saya juga merindukan suasana keramaian Mattoanging. Kerumunan berbaju merah yang memadati stadion sejak sore, Rano ‘sang maskot’ dengan aksi-aksi teatrikalnya sebelum pertandingan, para penjual kacang, jalangkote dan songkolo yang membantu kami mengatasi lapar sepanjang jam pertandingan, semua itu tidak saya dapatkan selama kurang lebih tujuh tahun. Maklum, semasa kuliah saya hanya pulang ke Makassar paling hanya setahun sekali, itu pun di bulan puasa menjelang lebaran. Nah, di hari-hari seperti itu, biasanya kompetisi sudah libur.

Ketika pada akhirnya saya memperoleh kesempatan lagi untuk menonton PSM langsung di Mattoanging di awal 2011, keadaan telah banyak berubah. Juku Eja saat itu sedang membelot ke IPL, sebuah liga breakaway yang kurang diminati penonton. Jika ingatan saya merekam sekitar 30.000 orang selalu memadati stadion setiap PSM bermain di kandang, saat itu mungkin hanya setengahnya yang menonton Andi Oddang dan kawan-kawan meladeni Persebaya (1927). PSM sukses memenangi pertandingan dengan skor telak 4-0, tapi tetap terasa ada yang kurang. Ya, hampir sepertiga stadion yang tidak terisi menjadi cerminan nyata antusiasme terhadap PSM makin berkurang.

Namun, tidak ada yang lebih menyedihkan dari vonis PSSI yang melarang PSM bermain di Mattoanging selama tahun 2014. Perjuangan demi kembali ke Indonesia Super League (ISL) yang dilakukan susah payah beberapa bulan sebelumnya langsung terasa hambar. Mereka harus bermain di Stadion Gelora Bung Tomo, di kota Surabaya. Meminjam istilah karakter Zainudin di cerita ‘Tenggelamnya Kapal Van der Wijk’, selama setahun PSM berada dalam keadaan ‘teroesir’.

Maka, sebenarnya bukan kemenangan besar PSM atas Persiba yang membuat hati saya cerah hari ini. Bukan, mabuk kemenangan hari ini bisa berubah menjadi tangis, bahkan caci-maki akibat kekalahan di kemudian hari. Kurang lebih dua dekade mengikuti perkembangan PSM membuat saya tahu banyak tentang hal itu. Di sepak bola Indonesia, toh apa pun bisa terjadi. Juara kompetisi tahun ini, tahun depan bisa saja terdegradasi, bubar atau bahkan ditinggal penonton. Yang membuat saya bahagia adalah Stadion Mattoanging (kini bernama resmi Stadion Andi Mattalatta) sudah kembali memerah. Tribun penonton sudah penuh dengan generasi muda sampai tua yang kembali mendukung PSM.

Setelah siaran streaming itu berakhir, saya langsung mengecek kalender dan jadwal kompetisi Liga Indonesia. Saya harus menyiapkan cuti untuk bisa menonton langsung di tengah puluhan ribu penonton yang memadati Mattoanging.

Seperti dulu lagi.

Selamat pulang ke rumah, PSM!

Dari salah satu fan setiamu.

1014194_704146462935863_24298023_n

Beberapa tulisan saya lainnya tentang PSM:

PSM ketika bermain di IPL / LPI

Hotel Makassar, penghormatan Luciano Leandro terhadap PSM

Mantan pelatih teladan PSM, Petar Segrt

Mantan striker PSM yang saat ini bermain di Persib Bandung, Ilija Spasojevic

Advertisements

3 thoughts on “Hari Ketika PSM Pulang ke Rumah

  1. Saya ngebacanya sama seperti situasi sayasekarang , ke cintaan dengan jadi anak rantau yg jauh dari rumah , bukan hanya kangen rumah keluarga, tapu PSM sama mattoanging, setiap nonton psm dari tv atau streaming berusaha gedein suara nya biar berasa stadion, kalo di stadion baru masuk masuk terus liat hijau nya rumput stadion mattonging di temani lagu psm yg art2 tonic pasti merinding dengernya, dari masa kecil sampe skrang pasti di usahain nonton psm, taapu apa daya sekarang jadi anak rantau hanya bisa berdoa tanpa mendampingi psm secara langsung, di musim ini (ligakopi) psm secara keselurhan udah bagus ditangan RRA dan dari di pegang RRA psm bisa naik ke papan atas dari sempat berada di papan bawah di paruh musim, semoga musim depan (isl) kita bisa juara , gunung tinggi ku daki lautan ku sebrangi hanya untuk mendung mu psm doa tiada henti apapun yg kau raih akan tetap mendung mu psm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s