Up Close and Personal dengan Ilija Spasojevic: Mimpi-Mimpi yang Terwujud di Indonesia (Repost)

Salah satu momen tak terlupakan selama saya nge-blog adalah ketika saya meng-interview salah seorang pemain asing yang mencari nafkah di Liga Indonesia, yaitu Ilija Spasojevic. Wawancara di tahun 2013 itu akhirnya membuat saya dan Spaso, panggilan akrabnya, bersahabat hingga kini. Hasilnya berupa tulisan yang sempat di-publish oleh salah satu website sepak bola Indonesia. Lucunya, tulisan ini sempat di-copy paste oleh orang lain dan menjadi viral di dunia maya, terutama di kalangan para penggemar sepak bola.

Untuk mengabadikan tulisan tersebut, juga sebagai ucapan selamat untuk Spaso yang kembali bersinar di klub barunya, Persib Bandung, saya sengaja publish lagi hasil wawancara tersebut. Ini dia:

Penampilannya tampan dan necis. Sekilas mirip vokalis band Maroon 5, Adam Levine. Siapa yang menyangka Ilija Spasojevic adalah striker ganas di lapangan hijau?

Pemain berusia 25 tahun ini sudah memperkuat Bali De Vata (setengah musim) dan PSM Makassar selama satu musim Liga Prima Indonesia (LPI). Memasuki musim keduanya, pemain yang akrab disapa Spaso ini sudah merasa kerasan bagaikan di rumah sendiri.
Sepuluh gol di musim pertamanya bermain untuk PSM membuatnya dicintai suporter. Para fans setempat pun memberinya sapaan akrab ala Sulawesi Selatan, yaitu ‘Daeng Spaso’.

Seiring dengan kiprahnya yang sedikit demi sedikit terangkat di Liga Indonesia, mantan pemain timnas U-21 Montenegro ini sering menjadi headline media-media terkemuka di negara asalnya. Terutama cerita ketika ia mencetak gol di pertandingan persahabatan ‘Fabregas and Friends vs Tim Garuda’, tahun 2012 lalu. Fotonya yang terlihat akrab dengan bintang
Spanyol, Cesc Fabregas, membuat heboh publik Montenegro sekaligus kagum, betapa hal-hal besar di dunia sepakbola juga bisa terjadi di Indonesia.

Lalu, dalam beberapa waktu terakhir, secara terbuka, Spaso sudah mengutarakan niatnya untuk mengikuti jejak Cristian Gonzales menjadi warga negara Indonesia dan bermain untuk timnas Garuda. Untuk itu,ia rela menetap di PSM dan menolak puluhan tawaran untuk bermain membela klub lain di negara yang sepakbolanya lebih elit dari Indonesia. Salah satu
tawaran yang ditolaknya adalah klub Italia, Brescia!

Menyadari pemain ini memiliki banyak cerita unik dan tidak biasa, saya pun mengajaknya bertemu dalam sebuah obrolan santai di sebuah kafe di Makassar. Ternyata dia menyambut ajakan saya dengan antusias. Kami pun mengobrol santai selama hampir tiga jam. Pembicaraan di bawah ini adalah hasilnya.

  1. Spaso, saya membaca di berbagai media sepertinya kamu sangat cinta dengan Indonesia. Apa yang membuatmu betah di sini?

Betul sekali. Hal pertama yang membuat saya terkesan adalah bagaimana masyarakat Indonesia selalu menyambut saya dengan tangan terbuka. Baik ketika pertama kali tiba di Bali, maupun sekarang tahun ke-dua saya di Makassar. Orang-orang selalu tersenyum dan ramah. Saya langsung merasa bahwa Indonesia adalah rumah ke-dua saya.

2. Memangnya kamu tidak memperoleh kesan yang sama di negara-negara lain yang pernah kamu kunjungi?

Begini, saya sudah bermain sepakbola di beberapa negara berbeda, termasuk Serbia, Latvia, Georgia, dan terakhir Yunani. Masyarakat mereka juga menyambut saya dengan baik. Di beberapa negara itu, ada yang kultur maupun bahasanya sama, not to say warna kulit orang-orangnya sama dengan saya. Namun, selalu ada yang kurang. In the end, saya tetaplah
orang asing bagi mereka. Di Indonesia, somehow, saya merasakan sesuatu yang baru. Selain alamnya yang indah dan surgawi, saya merasa selalu diterima sebagai bagian dari masyarakat. Padahal, secara kasat mata, Indonesia dan Montenegro memiliki sangat banyak perbedaan. Itulah yang membuat saya betah.

3. Itukah alasan mengapa kamu menolak tawaran berbagai klub yang mengincarmu?

Ya, dan tentu saja karena alasan saya ingin berkontribusi untuk sepakbola Indonesia. Saya mencintai atmosfer Liga Indonesia.

4. (Saya mengucek-ucek mata dan mengorek-ngorek telinga, takutnya saya salah dengar) Serius, kamu betah bermain di Liga Indonesia? Dengan semua masalah yang terjadi di sepakbola Indonesia saat ini?

Ya, kenapa tidak? (Nada bicara Spaso berubah serius). Saya belum pernah merasakan suasana stadion sebaik di Indonesia. Ambil contoh, ketika saya bermain di Liga Georgia. Saya memenangi double, Liga dan Piala Georgia, serta menjadi pemain asing top-scorer pertama sepanjang sejarah negara tersebut. Semuanya sempurna, kecuali satu hal yang paling
esensial. Setiap kali saya mencetak gol, saya meluapkan kegembiraan dengan bersorak sekuat tenaga. Namun, apa yang terjadi? Saya bisa mendengar pantulan teriakan saya bergema di dalam stadion. Ya, stadion-stadion Liga Georgia yang megah dan berfasilitas bagus itu tidak pernah penuh oleh penonton. Di Liga Indonesia, bahkan latihan rutin pun selalu dipenuhi penonton yang jumlahnya bahkan lebih dari penonton di Liga Montenegro. Di setiap pertandingan Liga Indonesia, minimal sepuluh ribu orang datang ke stadion. Nyanyian dan sorak-sorai supporter, atau bahkan nyala kembang api, itulah kenikmatan tiada tara yang dicari oleh seorang pemain sepakbola. Hal itu tidak bisa dibeli dengan uang. Itulah sebabnya saya
bertahan di Indonesia.

5. Bagaimana dengan pembayaran gaji dari klub yang sering telat?

Memang pembayaran gaji sering terlambat, tapi saya pikir Indonesia tidak seburuk itu. Gaji pada akhirnya selalu dibayar full tanpa kurang sepeser pun, setidaknya di PSM. Namun, ada fakta menarik bagi saya. Teman-teman saya yang pemain lokal, selalu menghadapi masalah keterlambatan gaji dengan santai. Mereka bahkan datang ke tempat latihan dengan tersenyum, tertawa dan bercanda. Ini membuat saya kagum. Di negara lain, kalau ada masalah seperti ini, suasana tim pasti sudah tidak kondusif. Para pemain akan terlihat suka marah-marah dan serasa ingin membunuh orang.

6. Tapi apakah kamu tidak merasa sayang akan karirmu? Usiamu masih 25 tahun, dan kamu bermain di Liga Indonesia? Sedangkan rekanmu, Stevan Jovetic, sedang mengobrak-abrik Liga Italia?

Banyak orang yang menanyakan hal itu kepada saya. Namun, saya melihatnya dari sisi yang berbeda. Usia saya baru 25 tahun, dan saya sudah berpindah-pindah hampir belasan negara. Terakhir saya bermain di Liga Yunani dan kondisi di sana jauh dari menyenangkan. Saya ingin menemukan tempat yang membuat hidup saya settled. Saya ingin berkomitmen pada suatu tempat, di mana masyarakatnya membutuhkan saya dan saya mencintai masyarakat itu. Setahun di Makassar sudah lebih dari cukup untuk membuat saya yakin bahwa inilah kehidupan yang saya inginkan. PSM adalah klub besar, tapi mereka sedang membangun segalanya kembali dari dasar. Saya yakin bisa membantu mereka dengan gol demi gol saya. Makanya saya menolak banyak tawaran pindah ke Thailand, Montenegro, Georgia, Italia, dan bahkan klub Indonesia lain.

7. Sepertinya tekadmu sudah bulat ingin terus berkarir di Indonesia, ya? Apa momen istimewa di sepakbola Indonesia yang mendorongmu menjadi demikian?

Banyak, Bro (berpikir sejenak). Salah satu kejadian utama adalah ketika saya masih memperkuat Bali De Vata. Saat itu, kami akan menghadapi Persebaya 1927 di LPI. Persebaya adalah tim besar dengan ribuan bonek yang menjadi supporter fanatik mereka. Sedangkan BDV merupakan tim baru, dan sepuluh ribu penonton datang ke stadion pun sudah bagus. Namun, ternyata pada hari pertandingan, stadion Dipta Gianyar dipenuhi 30-ribu penonton. Dua puluh ribu di antaranya merupakan Bonek yang menyeberang lautan dari Surabaya dan menginap di stadion khusus untuk mendukung tim idola mereka. Saya langsung terharu mendengar cerita itu. Pada saat itulah saya berkesimpulan bahwa suporter Indonesia adalah
yang terbaik.

Kejadian kedua adalah ketika saya diundang bermain di Liga Ramadan, sebuah turnamen tarkam di Makassar yang diadakan di bulan puasa. Saya merasa turnamen itu unik karena saya belum pernah bermain di tarkam sebelumnya. Selain itu, hampir semua pemain bertanding dalam keadaan berpuasa! Saya kagum, para pemain tidak makan dan minum, tapi tak seorangpun mengeluh karena kehabisan tenaga.
And there are lot more stories, bro. You cannot imagine how huge the respect I have to Indonesian football, especially the supporter

8. Ada momen buruk yang kamu pernah alami dari sepakbola Indonesia?

Yah, paling ketika masa-masa awal bergabung dengan PSM, saya sempat kekeringan gol selama dua bulan. Hey, tapi semuanya teratasi oleh dukungan rekan-rekan setim dan lagi-lagi, suporter tercinta.

Oh, ada satu lagi. Kamu ingat ketika Indonesia dibantai Bahrain 0-10 di Penyisihan Piala Dunia? Oh man, believe it or not, saya ikut merasa malu pada saat itu. Saudara-saudara dan teman-teman saya di Montenegro tidak henti-hentinya mengirim SMS dan menelepon, menanyakan kenapa Indonesia bisa dibantai separah itu. Saya hanya diam tanpa kata. Rasanya memang seperti ditampar di wajah.

9. Kamu sempat bermain di pertandingan persahabatan dengan Fabregas, Pepe, Arbeloa…

(Spaso memotong perkataan saya…) Anton Ferdinand, lalu ada juga pemain-pemain legendaris Milan, seperti Franco Baresi, Dida dan Alessandro
Costacurta (tertawa). Saya bahkan sempat bertukar pin Blackberry dengan Daniele Massaro!

Yeah, believe it or not, man. Saya nyaris tidak percaya bisa bertemu bintang-bintang dunia seperti mereka di Indonesia. Lalu, setiap momen menarik itu terjadi, saya pasti kirimkan dokumentasinya ke rekan-rekan saya para jurnalis di Montenegro. Media-media di sana masih sangat tertarik mengikuti kabar saya meskipun saya berada sangat jauh
di Indonesia.

10. Namun bagaimana dengan kondisi sepakbola Indonesia yang tercabik-cabik oleh politik? Tidakkah itu membuatmu risau?

(Spaso Menggelengkan kepala). Tentu saja sangat buruk, Bro. Di negara mana pun, sepakbola adalah milik rakyat dan politik tidak boleh turut campur. Namun, para pecinta sepakbola tidak boleh patah semangat. Di Montenegro sendiri, kondisinya pun sangat prihatin. Di Italia yang sepakbolanya sudah sangat maju juga tak terpisahkan oleh politik dan
mafia, kan?

Bagi saya pribadi sebagai pemain, yang terpenting adalah memberi yang terbaik bagi suporter. Tidak ada urusan dengan politik. Namun, saya tentu saja berharap kondisi sepakbola Indonesia akan membaik dari waktu ke waktu.

11. Oke, pertanyaan paling penting, nih. Dengar-dengar kamu sangat ingin bergabung dengan timnas Indonesia?

(Spaso Langsung memasang tampang serius) Ya, itulah mimpi terbesar saya. Saya ingin tampil mengenakan kostum timnas Garuda di depan sembilan puluh ribu suporter Indonesia. Posisi saya adalah penyerang, maka saya ingin menjadi petarung kuat di lini depan yang selama ini dibutuhkan Indonesia.

Saya memang tidak lahir di Indonesia, tapi banyak kasus telah membuat segalanya mungkin. Gonzales, Igbonefo, Nwokolo, dan sahabat saya sendiri, Raphael Maitimo (rekan satu klub Spaso di Bali De Vata). Saya bersedia menunggu, semoga PSSI kelak membutuhkan
saya untuk timnas.

I want to make Indonesian supporters happy. They need it the most.

Itulah hasil bincang santai saya dengan Ilija Spasojevic. Ia menyambut saya dengan sangat ramah meskipun saya tidak berasal dari kalangan wartawan media mana pun. Maka, saya membalasnya dengan menyusun tulisan ini, tanpa dikurangi ataupun ditambahi sedikit pun.

Terus terang, beberapa hasil wawancara itu membuat saya terkejut, terutama betapa besarnya optimism dalam diri Spaso terhadap Indonesia, terlepas dari segala macam cerita buruk yang mewarnai hari demi hari sepakbola kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s