Pride, Prejudice and ‘Uang Panai’

SPOILER ALERT: Postingan ini membeberkan isi cerita dari film ‘Uang Panai’. Jadi jika Anda belum menonton dan berniat akan menontonnya, berhentilah membaca sampai di sini saja.

Ada masa-masa saya sangat rajin menonton film nasional. Sejak SMP, saya memang penikmat film-film barat. Tetapi baru ketika duduk di bangku kuliah saya betul-betul merasakan kegairahan film nasional. ‘Alexandria’, ‘Catatan Akhir Sekolah’, ‘Denias’ sampai film Indonesia favorit saya sepanjang masa, ‘Jomblo’ adalah judul-judul yang saya libas di bioskop dan bahkan mengoleksi VCD-nya. Namun, selalu pertanyaan yang sama melintas di benak saya, “Kapan film-film menghibur seperti judul-judul di atas mengambil setting di kota Makassar?”

Jawaban dari penantian itu akhirnya datang di tahun 2016. ‘Uang Panai’’ adalah salah satu film nasional paling menghibur . Bagi saya pribadi, salah satu film komedi terlaris tahun ini, ‘My Stupid Boss’ pun masih kalah menghibur dari ‘Uang Panai’. Bukan hanya bersetting di Makassar dan mengangkat tema sosial-kultural Bugis-Makassar, hampir semua kru dan pemain film ‘Uang Panai’ berasal dari Sulawesi Selatan. Meski demikian, bukan hanya proksimitas (kedekatan geografis) yang membuat saya memuji film tersebut setinggi langit.

uang-panai

sumber gambar: pusatsinopsis.com

Ceritanya sederhana. Ancha, adalah seorang pemuda yang baru kembali ke Makassar dari perantauan. Tanpa sengaja, ia bertemu dengan mantan kekasihnya, Risna. Setelah kembali menjalin komunikasi, Ancha dan Risna kembali berpacaran dan pada akhirnya ingin melanjutkan ke jenjang pernikahan. Namun, rencana mereka terbentur pada aturan adat Bugis-Makassar dimana calon mempelai pria harus membayar sejumlah ‘uang panai’ kepada keluarga calon mempelai wanita. Sadar dirinya bukan berasal dari keluarga berkecukupan, Ancha pun jatuh bangun mengumpulkan uang panai. Dalam proses tersebut, ia dibantu dengan dua orang sahabatnya yang super-kocak, Tumming dan Abu.

Komedi adalah napas utama film produksi Makkita Production ini. Sutradara dan segenap tim kreatifnya sukses membungkus tema sosial-budaya yang biasanya dibahas serius dengan lelucon-lelucon khas Makassar. Film ini sekaligus membuat saya bernostalgia ketika mendengar celetukan-celetukan seperti “buntu-buntu memang kau” (otakmu memang buntu) atau “sampoi mulut nu!” (cuci mulutmu pakai shampoo), karena masa kecil saya di Makassar dipenuhi dengan berbagai seruan seperti itu. Derasnya lelucon-lelucon yang mengalir memang terkadang terasa mengalihkan fokus dari tema besar, tapi saya sendiri menikmati tingkah laku kocak para pemerannya.

Di sinilah penonton diperkenalkan dengan duet rising star, Tumming dan Abu. Kedua pemeran figuran ini terlihat jelas ditempatkan di posisi comic relief, yaitu para pemeran yang bertugas memancing tawa penonton. Tumming dan Abu, yang ternyata sudah cukup terkenal di Makassar dan sekitarnya, tampil tanpa beban, seolah-olah penampilan di film ini hanyalah rutinitas di channel Youtube mereka. Meski ada beberapa lelucon mereka yang meleset, serunya penampilan duet komikal ini adalah alasan utama hampir semua orang ingin menonton ‘Uang Panai’ lebih dari satu kali.

Satu lagi yang paling mencuri perhatian saya adalah pemeran ibunya Ancha, yang ternyata merupakan ibu kandungnya Tumming di dunia nyata. Meski perannya sedikit, ibunya Ancha membuat saya tertawa hampir setiap kali muncul di layar dengan penggunaan broken English-nya yang benar-benar… broken se-broken broken-nya!! Meski mungkin bagi banyak orang biasa saja, celetukan ‘Selamat datang di welcome’ yang begitu polosnya diucapkan wanita ini membuat saya terkikik geli sampai sekarang.

Kemunculan Katon Bagaskara sebagai cameo juga cukup memorable. Entah apa motif dan sebabnya penyanyi kondang ini muncul dengan janggut palsu yang membuatnya nyaris tak bisa dikenali. Namun, penampilannya juga cukup mengocok perut, apalagi diakhiri dengan dialog absurd sok mengguruinya, “Hari ini adalah besok yang kemarin.”

Meski demikian, cukup disayangkan karena menurut saya, hampir semua sisi plus dari film ini justru berasal dari gimmick atau elemen-elemen minornya. Padahal, banyak elemen utama film ‘Uang Panai’ yang justru kurang matang atau butuh pembenahan. Saya tidak akan mengomentari aspek pengambilan gambar atau pencahayaan film ini, karena memang kompetensi saya bukan di hal-hal tersebut. Sebagai sesama penulis fiksi, saya justru ingin mengomentari alur/plot film ini yang menurut saya sedikit janggal.

Yang paling mengganjal pikiran saya adalah subplot bahwa ayah Risna berutang sejumlah uang yang membuatnya selalu diintai para penagih utang. Ini sedikit banyak memotivasi sang ayah untuk memilih menjodohkan putrinya dengan putra rekan bisnisnya daripada menjodohkannya dengan Anca, pemuda yang dianggapnya tak memiliki masa depan yang jelas. Pertanyaan-pertanyaan pun muncul satu per satu di benak saya: mengapa para penagih utang hanya duduk-duduk di dalam mobil selama berhari-hari di luar rumah Risna? Mereka kan penagih utang, bukan detektif swasta yang kerjaannya memang mengintai? Lalu, sebagai penonton, saya sudah ‘telanjur sayang’ kepada Ancha dan mendukung setiap usahanya mengumpulkan uang panai. Salahkah saya jika justru saya tidak ingin karakter yang saya sayangi ini jatuh ke tangan keluarga yang dililit utang? Ayah Risna ini jauh dari kesan simpatik karena terlihat terlalu ingin ‘menjual’ anak perempuannya. Anyway, intinya, subplot keluarga Risna dililit utang ini saya rasa sangat tidak perlu. Alasan gengsi, status sosial dan adat rasanya sudah cukup untuk menjadi penjelasan kenapa uang panai merupakan hal yang serius harus dipenuhi jika kedua karakter protagonis ingin menikah.

Juga, penggambaran karakter Risna alih-alih membuat kita bersimpati, justru membuat kita jengkel. Awalnya minta dilamar, lalu sedikit-sedikit cemburu hanya karena salah paham melihat Ancha jalan dengan cewek lain yang ternyata sepupunya (subplot lain yang juga saya rasa tidak perlu), hingga akhirnya memaksa Ancha untuk silariang (kawin lari). Saya pribadi semakin kesal ketika di akhir film, terungkaplah bahwa sebenarnya bukan Risna yang hendak dijodohkan ayahnya dengan putra rekan bisnisnya, melainkan Mita, adik Risna.

Kesan yang saya simpulkan adalah singkat cerita… andai saja setiap karakter di film ini menyempatkan diri untuk mendengar penjelasan dari karakter lain, semua kesalahpahaman dan kerusuhan yang memadati sebagian besar film tak perlu ada. Sayangnya, hampir semua karakter lebih sibuk marah-marah, membentak-bentak, dan lari untuk merajuk daripada mendengar. Untuk sebuah film yang build-up karakterisasi, adegan pembuka sampai pertengahannya sudah rapi, memang cukup disayangkan karena separuh film terakhir ceritanya terlihat sangat kedodoran.

Ah, tapi namanya juga film. Seperti kata-kata Tumming di film ini, “Ka dunia ji ini.” (ah, ini hanya dunia).

Secara keseluruhan, saya dan ratusan ribu orang yang telah menonton film ini cukup puas terlepas dari apa pun kekurangannya. Film yang menyorot budaya Bugis-Makassar bisa dihitung jari, sehingga ‘Uang Panai’ menjadi perwakilan yang cukup memuaskan. Penonton Indonesia butuh lebih banyak film seperti ini, karena pasti banyak yang bosan film nasional hanya bersetting di seputar Jakarta saja.

P.S: Saya cukup beruntung sempat menyaksikan ‘Uang Panai‘ di Bandung pada hari terakhir masa penayangannya. Saat itu, isi bioskop hanya saya, dua orang teman saya, dan dua orang penonton lainnya. Tapi, di kawasan timur Indonesia, film ini merajai hamppir semua bioskop sampai pertengahan September 2016.

Advertisements

4 thoughts on “Pride, Prejudice and ‘Uang Panai’

  1. ada lagi, di pernikahannya, mita sedih sampe meneteskan air mata, terkesan kawin paksa.
    tapi di bagian twist ‘the real story’ nya, mita dan farhan sudah pandang2an dan menunjukkan klo sudah suka satu sama lain.
    it’s like… what…?

    hehehe…tapi tetap kujempol deh penggagas film ini. 🙂

    • setengah film terakhir cerita memang agak kurang fokus dan penyelesaiannya terburu-buru. Tapi, menurutku jauh lebih masuk akal dibanding beberapa film nasional yang lebih terkenal tapi alur ceritanya lebih absurd dari sinetron

  2. Terima kasih atas review dan kritik membangunnya, kami akui film ini memang masih banyak kekurangan, persiapan pra produksi yang kurang matang, ditambah crew-crew yang kami comot dari kiri kanan dan belum punya pengalaman sama sekali di produksi film.
    Semoga produksi-produksi film kami selanjutnya bisa diperbaiki dan disempurnakan lagi, kami tidak akan berhenti belajar untuk kemajuan perfilman Indonesia..
    salam

    Amril Nuryan
    Produser

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s