OTOTD: Outfit Topic of the Day

OTOTD: Outfit Topic of the Day

Beberapa hari yang lalu saya mengalami kejadian yang entah bisa dibilang lucu atau nyebelin. Saat itu sekitar pukul 10 pagi di kampus tempat saya mengajar. Saya hendak bergegas menghadiri agenda rapat di gedung lain, tapi saya menyempatkan dulu untuk menyapa teman saya sesama dosen yang sedang mengajar di salah satu ruangan. Baru saja akan membuka pintu ruangan kelas untuk menemui teman saya itu, sebuah suara aneh terdengar.

Suara itu bernada seperti memanggil seekor kucing, “Pssst…. Pssst.” Karena penasaran, saya berhenti di depan pintu yang masih tertutup dan menoleh ke arah suara. Ternyata seorang mahasiswa pria sedang berbicara kepada saya.

“Pssst… masih boleh masuk nggak?” tanya pemuda itu.

“Heh??

Saya butuh sekitar tiga detik sampai akhirnya bisa memproses kejadian itu. Oh, ternyata si mahasiswa mengira saya mahasiswa juga. Mungkin karena sehari-hari saya di lingkungan kampus selalu berpakaian layaknya salah satu dari mereka: kemeja santai, celana jins, sepatu kets, dan tentu saja tampang babyface (LOL, yang terakhir boleh diprotes).

Singkat cerita, saya hanya bilang kepada anak itu bahwa Pak Mahendra (teman saya yang sedang ngajar di dalam kelas) bukan tipe dosen galak yang melarang mahasiswa terlambat masuk ke kelas. Saya tidak menekankan kepadanya bahwa saya juga dosen. Biarlah suatu saat dia kenalan sendiri dengan saya, hehehe. Akhirnya, kami berdua masuk ke dalam kelas. Pada saat saya dengan santainya mengobrol dengan pria yang sedang duduk di depan kelas, barulah anak itu tercengang. Tapi ya sudahlah, biarkan saja.

Tentang outfit saya di kampus, seringkali rekan-rekan kerja, termasuk atasan saya, memberi masukan supaya saya mengenakan pakaian-pakaian lebih ‘dewasa’. Ini berarti saya dianjukan memakai kemeja kantoran, celana kain, sampai mungkin sepatu pantofel. Tujuannya supaya rekan-rekan dosen (terutama dari fakultas lain) tidak salah mengira saya sebagai mahasiswa. Mungkin mereka berusaha mencegah saya dari musibah dimarahi dosen lain hanya karena berpenampilan seperti anak-anak muda di mal? Entah.

Tapi sikap saya tetap tidak berubah. Alasan pertama adalah kenyamanan. Saya hanya memakai sepatu pantofel untuk menghadiri pernikahan (termasuk pernikahan saya sendiri, hahaha), memakai kemeja formal seperti batik jika menghadiri seminar atau konferensi, dan celana berbahan kain… err… sebisa mungkin saya hindari.

Alasan kedua: memangnya respek harus selalu dilihat dari kulit luar berupa pakaian saja? Ah, saya sih selalu percaya bahwa kalau kita respek duluan kepada orang lain, mereka akan balas respek kepada kita. Lagipula, saya tidak ingin tetek-bengek formalitas membatasi saya. Cukuplah kartu pegawai saja yang menjadi penanda identitas bahwa saya bukan berada di lingkungan kampus sebagai mahasiswa.

x

memecenter.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s