We Need to Talk about Ethan

We Need to Talk about Ethan

Selepas menonton ‘The Magnificent Seven’ di bioskop minggu lalu, saya baru sadar bahwa sedikit banyak hidup saya dipengaruhi oleh Ethan Hawke. Di film western itu, Hawke berperan menjadi koboi ahli menembak jauh yang kehilangan sentuhan menembaknya karena trauma atas keterlibatannya di Perang Sipil. Namun, bukan hanya penampilan Hawke di film ini yang saya sebut berpengaruh terhadap hidup saya.

3

sumber: newyorker.com

Meski seorang pecinta film, saya sebenarnya hampir tidak punya aktor/aktris favorit. Saya lebih senang membicarakan sutradara atau penulis naskah sebagai curator sebuah film, seperti halnya mungkin seorang penulis di balik sebuah novel atau penulis lagu yang berjasa menulis lirik yang menyentuh hati. Tapi jika dihitung, lumayan banyak film yang dibintangi Ethan Hawke yang mengiringi perjalanan hidup saya hingga dewasa.

Ketika masih duduk di bangku SMA, tepatnya di tahun 2001, adalah pertama kali saya dibuat terkesan oleh aktor kelahiran 6 November 1970 ini. Penampilannya di film ‘Training Day‘ sebagai polisi rookie yang langsung menghadapi pergulatan moral akibat berpasangan dengan seorang polisi korup. Meskipun film tersebut memperoleh piala Oscar atas nama Denzel Washington sebagai sang polisi korup tersebut, di situlah pertama kali Ethan Hawke mencuri perhatian saya.

Saya kemudian menikmati penampilan lainnya sebagai polisi yang mempertahankan penjaranya dari serbuan mafia di ‘Assault on Precinct 13’. Namun, lama-lama saya heran, mengapa aktor ini jarang tampil di film-film blockbuster berbujet gila-gilaan seperti Tom Cruise atau Brad Pitt, misalnya, padahal modal fisik yang oke dan kemampuan akting keren sudah dimilikinya. Justru ia lebih memilih tampil di film-film kecil namun cukup terkenal seperti dwilogi ‘Before Sunrise’ dan ‘Before Sunset’ (saat itu film ke-3, ‘Before Midnight’, belum dirilis).

Oh ya, berbicara soal ‘Before Sunrise’ dan ‘Before Sunset’, kedua judul ini cukup membekas di hati saya. Saat itu saya masih duduk di bangku kuliah dan anak-anak muda pada saat itu jatuh cinta pada plot dan cara bertutur unik ‘Sunrise’. Belum lagi tema jatuh-cinta-pada-orang-asing-yang-ditemui-di-kereta tentu saja akan menarik bagi siapa pun. Namun, meski juga menyukai ‘Sunrise’, saya justru lebih terpikat oleh ‘Sunset’. Bukan hanya karena film itu menghasilkan nominasi Oscar untuk Hawke sebagai salah satu penulis naskahnya, tapi karena saya lebih bisa memahami keresehan-keresahan usia 30-an yang dialirkan melalui dialog-dialog dalam ‘Sunset’.

Akhirnya, saya pun menggali lebih jauh lagi filmografi aktor yang satu ini. Ternyata, Hawke muda termasuk di dalam jajaran cast yang bermain di salah satu film terinspiratif bagi saya, ‘Dead Poets Society’ (1989) yang menampilkan almarhum Robin Williams sebagai seorang guru dengan metode pengajaran sedikit nyeleneh. ‘Society’ pun menjadi salah satu film terbaik yang pernah saya tonton. Lalu, saya menikmati penampilan Hawke di adaptasi modern buku legendaris Charles Dickens, ‘Great Expectations’ (1998). Duet Hawke dan Gwyneth Paltrow di film tersebut benar-benar bittersweet. Selain itu, ada ‘Reality Bites‘ (1994) di mana ia bermain bersama Winona Ryder dan Ben Stiller. Terakhir yang cukup berkesan adalah ‘Gattaca‘ (1997), sebuah cerita science-fiction underrated yang mempertemukannya dengan aktris yang kelak menjadi istrinya, Uma Thurman.

1

sumber: weheartit.com

Intermezzo: bagi saya, perpisahan Ethan Hawke dan Uma Thurman lebih heart-breaking daripada Brad Pitt – Angelina Jolie.

Memang tidak semua film yang dibintangi Hawke pasti saya tonton. Juga, tidak semua filmnya bagus. Beberapa film berkualitas buruk yang dibintanginya antara lain ‘Taking Lives‘ (2004), ‘Brooklyn Finest‘ (2009) dan ‘Getaway‘ (2013). Namun, patut diacungi jempol juga variasi peran di beberapa film terakhirnya, antara lain pembasmi vampir di ‘Daybreakers‘ (2009), penulis yang tinggal di rumah berhantu dalam film horor ‘Sinister‘ (2012), penjelajah waktu yang berusaha memecahkan paradoks eksistensinya sendiri dalam ‘Predestination‘ (2014), serta memulai franchise sukses tentang hari ketika Amerika Serikat memperbolehkan warganya untuk saling membunuh, yaitu ‘The Purge‘ (2013).

Namun, penampilan terbaiknya ternyata berasal dari sebuah peran yang sangat biasa dan down to earth, yaitu menjadi seorang ayah yang berusaha terus mendampingi anak-anaknya meskipun telah bercerai dari istrinya. Perannya dalam film ‘Boyhood‘ (2014) itu lagi-lagi diganjar nominasi Oscar untuk pemeran pendukung terbaik. Yang mengesankan adalah komitmen Hawke dan seluruh pemeran dalam film ‘Boyhood‘ untuk tetap terlibat dalam pembuatan filmnya selama 12 tahun. Meski bagi banyak orang film ini terasa membosankan dan bahkan memusingkan, saya pribadi mengapresiasi ‘Boyhood‘ dari ide cerita dan ketekunan orang-orang di dalamnya, termasuk Hawke, tentu saja.

1

sumber: collider.com

Seolah tak bisa berhenti membuat saya terkesan, aktor ini ternyata juga sudah menerbitkan dua judul novel, ‘The Hottest State‘ (1998) dan ‘Ash Wednesday‘ (2002). Cukup lucu, karena sebenarnya jauh sebelum saya mengetahui Ethan Hawke juga penulis novel, perjalanan saya sebagai penulis novel lebih dulu terinspirasi darinya. Kembali lagi ke pembahasan mengenai ‘Before Sunset’, di film tersebut dikisahkan karakter Jesse yang diperankannya telah menjadi seorang penulis novel yang sedang mempromosikan bukunya di Paris. Akhirnya talkshow bukunya di toko buku legendaris Shakespeare & Co. mempertemukannya lagi dengan Celine, gadis yang ditemuinya 9 tahun lalu (cerita film Before Sunrise) dan menjadi inspirasi novel karangannya.

2

sumber: cineville.com

Selain keaktifannya menjadi aktor, Hawke pun konsisten di dunia literasi dengan mendirikan Young Lions Committee, yayasan yang bernaung di bawah perpustakaan kota New York. Salah satu kegiatan rutinnya adalah penghargaan Young Lions Fiction Award, yaitu penghargaan bagi penulis-penulis muda Amerika yang berusia di bawah 35 tahun.

Maka, secara resmi bisa saya katakan bahwa Ethan Hawke adalah salah seorang role model dalam hidup saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s