Here’s to The Fools Who Dream

HERE’S TO THE FOOLS WHO DREAM

Tulisan ini dimuat juga di website Voxpop Indonesia dengan judul ‘Mengapa La La Land Terhubung Langsung dengan Kita?’ 

http://voxpop.id/mengapa-la-la-land-terhubung-langsung-dengan-kita/

La La Land‘, film musikal yang menampilkan chemistry mantap Ryan Gosling dan Emma Stone, sedang menjadi award-darling di berbagai acara penghargaan dan memikat jutaan penonton di dunia saat ini. Selain kedua pemainnya memang sudah good-looking dari sananya dan lagu-lagu di filmnya memang memorable, kira-kira apa yang membuat kita menyukai ‘La La Land‘?

Mimpi.

Itulah tema besar film arahan sutradara Damien Chazelle ini. Meski ending film yang sedikit nyesek-nya juga menjadi bahan pembicaraan banyak orang, sebenarnya dari kaca mata saya, tema mimpi atau impian-lah yang menjadi inti cerita.

Karakter Mia (Stone) yang bermimpi menjadi aktris, Sebastian (Gosling) yang bermimpi membuka klub musik jazz, serta perjuangan jatuh-bangun mereka menjaga mimpi itu tetap hidup. Tema ini langsung terhubung dengan kita sebagai penonton, karena tentu saja, kita semua mempunyai mimpi yang sedang berusaha kita capai. Lewat sesi audisi terakhirnya, Mia menekankan pentingnya menjadi ‘orang bodoh yang bermimpi’. Karena toh, semuanya dimulai dari mimpi.

1

Bagi saya pribadi, frase ‘fools who dream‘ atau orang bodoh yang bermimpi terasa sangat cocok, mengingat di dunia ini sekarang banyak orang yang merasa pintar sehingga mengerdilkan arti penting bermimpi. Saya teringat salah satu teman, err.. sebenarnya saya nggak terlalu kenal dekat sih, tapi teman atau kenalan ini pernah mencetuskan sesuatu di media sosial tentang novel ‘The Alchemist‘ karangan Paulo Coelho.

Kenalan saya ini mencela-cela ‘The Alchemist‘ sebagai novel membosankan yang tidak jelas dari awal sampai akhir dari segi penceritaan hingga tema ‘menjual mimpi’-nya. Ini sedikit menyakiti hati saya, bukan hanya karena saya menyukai ‘The Alchemist‘. Saya adalah salah seorang dari jutaan pembaca novel tersebut yang jadi berani bermimpi setelah membaca khutbah penuh kiasan Paulo Coelho di salah satu novel terlaris dunia tersebut.

Oh ya, saya sebenarnya tidak terlalu menyukai Paulo Coelho, tapi novel ‘The Alchemist‘ sendiri sudah menjadi salah satu favorit saya sepanjang masa.

3

sumber: amazon.com

Apa yang salah dengan menjual mimpi? Supply karya kreatif yang menjual mimpi meningkat karena demand masyarakat yang butuh ‘asupan mimpi’ meningkat, kan? Di kondisi sehari-hari yang serba susah, banyak anak muda berijazah sulit cari kerja yang perlu diingatkan untuk tidak pernah berhenti berusaha melamar kerja. Banyak anak muda yang bermimpi bisa lanjut kuliah bahkan sampai ke luar negeri yang perlu memperoleh inspirasi dari film-film seperti ‘Laskar Pelangi‘ untuk giat berburu beasiswa. Seperti kata Giring Nidji: “Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia…”

Di usia yang sudah memasuki kepada tiga, saya sendiri pun harus selalu sering-sering mengingatkan diri saya untuk tak pernah berhenti bermimpi.

2

Maka, di sinilah fungsinya film-film seperti ‘La La Land‘.

Atau, kalau bosan dengan ‘La La Land‘, salah satu film seputar musik  dari tahun 2016 ini juga perlu ditonton:

sing-street-1.png

sumber: tribee.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s