SARAJEVO, BOSNIA

Sarajevo, Bosnia: ‘Masjid Soeharto’ dan Optimisme di Balik Kenangan Perang

(versi sepak bola tulisan ini dimuat di website Football Tribe pada 30 Maret 2017)

“Apa? Kamu lagi di Sarajevo?”

Itu reaksi pertama ayah saya ketika saya berbicara dengannya di telepon. Saya langsung was-was, apakah dia akan mengkhawatirkan keselamatan saya, mengingat bagi banyak orang, memori tentang Sarajevo yang membekas adalah masa-masa perang.

“Jangan lupa datang ke Masjid Soeharto, ya!” sambung ayah saya di telepon.

“Eh?” saya langsung mengira saya salah dengar.

“Iya, di Bosnia ada Masjid Soeharto. Namanya begitu karena itu hadiah pemerintah Indonesia sewaktu Bosnia dilanda perang.”

Screen Shot 2017-06-27 at 6.49.02 AM

Bagian dalam Masjid Istiqlal Sarajevo, alias ‘Masjid Soeharto’

Beberapa waktu lalu, saya mengunjungi kota Sarajevo, ibukota negara Bosnia Herzegovina. Salah satu tujuan utama warga Indonesia ke kota ini adalah ‘Masjid Istiqlal’, pemberian pemerintah Indonesia kepada Bosnia pada dekade 1990-an. Nama itu dipilih karena menyesuaikan dengan nama masjid besar di Jakarta. Seperti kita ketahui, ‘Istiqlal’ sendiri mengandung arti ‘kemerdekaan’.

Mungkin sewaktu menghadiahkan masjid tersebut bagi rakyat Bosnia, Presiden Soeharto mendoakan negara Balkan tersebut segera merdeka dari perang berkepanjangan. Meski demikian, pembangunan masjid Istiqlal Sarajevo sempat terhenti seiring lengsernya Soeharto dari jabatan presiden. Masjid itu baru bisa diresmikan oleh Presiden Megawati pada tahun 2001.

Saya akhirnya tiba di ‘Masjid Istiqlal’ yang juga disebut ‘Masjid Soeharto’ oleh beberapa kalangan, termasuk orang-orang Bosnia sendiri. Penjaga masjid memanggil saya dan istri saya yang tadinya hanya foto-foto di luar masjid. Ia menyuruh kami untuk masuk, dan saya pun mengagumi keindahan masjid tersebut dari dalam ruangan.

Desain interior masjid Istiqlal memang berbeda dengan masjid-masjid kebanyakan di Eropa, yang sebagian besar merupakan peninggalan Kerajaan Ottoman pada sekitar abad ke-12 hingga 15. Masjid Istiqlal lebih terlihat seperti sebuah masjid Indonesia, baik terlihat dari luar maupun di dalamnya. Sebuah kubah bundar terlihat jelas diapit oleh dua menara, dengan cat bernuansa biru muda dominan di tembok luarnya.

Di dekat pintu masuk masjid tersebut, terdapat bagian dari marmer bertuliskan tulisan dalam bahasa setempat dan bahasa Inggris. jika dibahasa Indonesiakan kira-kira bunyinya begini: “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, masjid ‘Al Istiqlal’ ini dipersembahkan rakyat Indonesia kepada rakyat Bosnia sebagai simbol persahabatan. Semoga Allah memberkati dan senantiasa melindungi masjid ini.

Sayangnya, karena kami datang ke masjid tersebut di pagi hari, kami tidak sempat melihat suasana salat Zuhur di sana. Setelah melihat-lihat selama hampir satu jam, kami beranjak pergi untuk melihat-lihat suasana kota Sarajevo.

img_4749.jpg

Welcome to Sarajevo

Sewaktu masih duduk di bangku SMP, saya pernah begadang untuk menunggu film ‘Welcome to Sarajevo‘ tayang di salah satu stasiun televisi. Film yang dibintangi Woody Harrelson tersebut menceritakan tentang beberapa orang wartawan yang ditugaskan meliput suasana peperangan di ibu kota Bosnia Herzegovina tersebut.

Jika Anda tumbuh besar di dekade 1990-an, Anda pasti akrab dengan berita Perang Bosnia yang sering muncul di Dunia Dalam Berita dulu.

Saya dan istri saya memang sengaja berkunjung ke Sarajevo karena sejak kecil saya tertarik dengan kisah perang Bosnia. Pada tahun 1992, seiring dengan kejatuhan paham komunis di seluruh dunia, Yugoslavia pun mengalami perpecahan. Federasi Bosnia-Herzegovina pun melepaskan diri dari Yugoslavia pada tahun 1992, menyusul Slovenia dan Kroasia yang lebih dulu memproklamirkan kemerdekaan mereka.

Pemerintah Yugoslavia lalu mengirimkan pasukan militer mereka ke Bosnia dan melakukan pembersihan etnis Bosnia yang dominan beragama Islam. Sebanyak 8.300 jiwa menemui ajal mereka di kota Srebrenica, di wilayah timur Bosnia.

Tentara Serbia (hasil dari Republik Federasi Yugoslavia yang bubar) sudah siap mengambil alih kembali Bosnia. Mereka menempatkan penembak jitu mereka di gedung-gedung bertingkat dan mengepung kota Sarajevo. Namun, masyarakat Bosnia tak mau menyerahkan ibu kota mereka begitu saja ke tangan tentara Serbia. Selama tiga tahun, perang tersebut berlangsung sampai akhirnya tentara NATO mengintervensi perang yang sudah menelan sekitar seratus ribu lebih jiwa tersebut.

Screen Shot 2017-06-27 at 6.48.07 AM

Latin Bridge, jembatan tempat Franz Ferdinand ditembak dan memicu Perang Dunia pertama

Setelah perang berakhir, Sarajevo beranjak pulih dan saat ini sudah dikunjungi banyak wisatawan, dan masyarakat kota pun merespons dengan menunjukkan keramahan mereka. Kafe-kafe tenda terlihat di mana-mana, meskipun di berbagai sudut kota masih terlihat lubang bekas peluru pada tembok luar gedung atau rumah.

Meski masa lalu mereka cukup kelam karena dilanda perang, rakyat Sarajevo cukup optimis menatap masa depan mereka yang ditunjukkan dengan bangkitnya sektor pariwisata kota tersebut.

(bersambung… kapan-kapan dilanjutkan…)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s