Toko-Toko Buku Indie Terbaik di Singapore

Pecinta Buku Wajib Datang ke 8 Toko Buku Indie Terbaik di Singapore Ini:

Bagi rata-rata orang Indonesia, Singapore adalah surganya belanja. Barisan toko beraneka brand di Orchard Road, ditambah dengan hotel di Singapore yang dekat dengan kawasan tersebut, seolah meminta untuk dikunjungi lagi dan lagi. Padahal, kalau mau mengeksplor lebih jauh lagi, Singapore juga bisa menjadi surga bagi para pecinta buku lho. Ada cukup banyak toko buku indie dengan koleksi buku, majalah, dan komik yang mungkin tidak akan kamu temukan di Indonesia.

1. BooksActually

1

Source: Flickr

Bisa dibilang kalau BooksActually merupakan toko buku indie yang paling populer di antara lainnya. Di sinilah kamu bisa menemukan koleksi terlengkap dari buku literatur Bahasa Inggris karya penulis-penulis unik seperti Haruki Murakami, J.D. Salinger, Capote, Nabokov, dan Sweeney. Ada pula beberapa novel lokal yang ditulis oleh penulis Singapore. Terletak di kawasan Tiong Bahru, BooksActually memiliki atmosfer yang benar-benar cozy dan membuat siapa pun betah menghabiskan waktu di sana, tak berbeda jauh dengan Shakespeare & Co. di Paris, misalnya. Selain buku, BooksActually juga menjual peralatan menulis dan beberapa aksesoris yang mereka buat sendiri dengan menggunakan brand bernama Birds & Co.

Continue reading

Advertisements

Suatu Hari di Shakespeare & Co.

Suatu Hari di Shakespeare & Co.

Gara-gara menulis postingan sebelum ini tentang Ethan Hawke, saya jadi ingin berbagi pengalaman saya mengunjungi toko buku legendaris ‘Shakespeare and Company’ (Shakespeare & Co.). Kunjungan saya ke Paris pada musim panas lalu lengkap dengan akhirnya merasakan sendiri berada di salah satu lokasi syuting film ‘Before Sunset‘ ini.

screen-shot-2016-10-07-at-5-22-53-pm

Nina di depan Shakespeare & Co.

Continue reading

My Summer Readings

My Summer Readings

In Indonesia, there are only sunny days and rainy days. We don’t really know when our summer starts or ends. However, while people in other countries start with their list of fictions as their summer readings, we also don’t want to be left behind.

This last month, I finished two remarkable pieces of work. The first one is ‘Mr. Penumbra’s 24-Hour Bookstore‘ by Robin Sloan (2012). It tells a story about a jobseeker who finally got a job as a bookstore attendant. The seemingly boring night-shift job turned into a fascinating adventure when the protagonist began to notice that his customers were not average normal ones. His curiosity turned into investigation which opened his eyes about the existence of a hundreds year-old cult trying to preserve conventional books from extinction.

screen-shot-2016-09-11-at-9-19-15-am

photo source: farm9.staticflickr.com

The premise of a twenty-something guy who worked in a bookstore attracted me in the first place. It reminded me to the premise of my favourite ever, ‘High Fidelity‘ by Nick Hornby, in which the protagonist ran a record store. However, I was quite stunned by the shifting of ‘Mister Penumbra’s‘s plot into a quite surreal adventure that felt like something coming out of any Neil Gaiman’s works. Thankfully, I like Gaiman’s too, so I could still enjoy Robin Sloan’s unforgettable debut. Continue reading

Football Traveling (2): ‘Home & Away’, Santiago Bernabeu

Dengan terbitnya buku ‘Home & Away’, petualangan saya di Eropa menonton pertandingan-pertandingan sepak bola pun akhirnya berwujud sebuah kumpulan catatan perjalanan. Sebagai pengikut setia Liga Spanyol, sejak kecil saya bermimpi suatu saat nanti saya akan bisa bertualang di negeri matador untuk menyaksikan langsung klub-klub La Liga Primera berlaga di stadion mereka. Mimpi itu baru akhirnya kesampaian dua tahun lalu, tepatnya di bulan April 2012. Saat itu, saya dan seorang teman nekat bertualang di tiga kota Spanyol selama sepuluh hari untuk merasakan langsung atmosfer La Liga.

Sekalian nostalgia, saya akan menuliskan pengalaman tersebut secara berseri di blog ini. Cerita lengkapnya bisa dibaca di ‘Home & Away’ terbitan GagasMedia.

cropped-title-image-mp2.jpg

Awalnya, saya yang kuliah di Swiss dan teman saya yang saat itu kuliah di Italia bernama Rusmin (di Twitter dia beredar dengan akun @mrusmin) menghabiskan hampir seharian menjelajah kota Madrid. Setelah sempat keluar masuk metro (kereta bawah tanah) dan bertanya ke sana ke mari untuk mencari-cari informasi tentang lokasi stadion Santiago Bernabeu, akhirnya kami pun sampai. Kami akhirnya tiba di salah satu ‘tanah suci’ sepakbola dunia itu.

Bangunan Stadion Santiago Bernabeu berdiri gagah di tengah-tengah distrik Chamartin, sebuah wilayah ramai pusat kota Madrid. Di luarnya, beberapa bendera kuning-merah yang melambangkan federasi Spanyol berkibar-kibar ditiup angin musim semi. Stadion itu memang merupakan stadion kebanggaan Spanyol. Nama stadion sendiri diambil dari nama mantan pemain Real Madrid yang juga pernah menjabat menjadi presiden klub, Santiago Bernabeu Yeste. Stadion ini memiliki muatan sejarah yang panjang, salah satunya menjadi penyelenggara pertandingan final Piala Dunia 1982.

Di saat kami berjalan ke ticket box, antrian sudah mengular. Terlihat lebih banyak wisatawan yang mengantri di depan ticket box itu. Bisa dipahami, karena penduduk asli Madrid pasti sudah memiliki tiket terusan atau melakukan online booking. Setelah berhasil melewati antrian dan memperoleh tiket pertandingan sekaligus tiket tur ke museum Real Madrid dan stadion Santiago Bernabeu, akhirnya kami masuk juga ke dalam museum.

20 Euro adalah jumlah yang kami keluarkan untuk tiket museum klub terbesar di dunia tersebut. Kami penasaran, seberapa jauh Real Madrid menyaingi Barcelona dalam urusan sport-tourism mereka. Dengan jumlah uang tersebut, pengunjung bisa masuk mengagumi kemegahan konstruksi dan fasilitas stadion, bahkan duduk-duduk di bangku cadangan pemain. Selain itu, daya tarik utama tentunya El Museo del Madrid (Museum Real Madrid). Museum ini memang merupakan tempat yang wajib dikunjungi oleh penggila sepakbola. Apalagi kalau bukan karena alasan sejarah panjang klub sepakbola nomor satu Spanyol tersebut, ditambah lagi mereka merupakan salah satu klub sepakbola tersukses di dunia dari sisi prestasi maupun finansial.

nllssbm4

Great view!

Selama berpuluh-puluh tahun, Real Madrid memenangi trofi demi trofi bergengsi dan menguasai dunia dengan para jugador zaman dulu mereka, seperti Alfredo di Stefano dan Ferenc Puskas. Isi lemari Real Madrid sudah penuh sesak dengan gelar juara domestik plus 5 trofi Piala Champions yang mereka dominasi dari tahun 1956 sampai 1960.

Maka, jika berkeliling di dalam museum Real Madrid, yang terlihat adalah parade kesuksesan selama berabad-abad. Piala dari tahun 1950-an sampai abad ke-21 menghiasi seluruh ruangan.

Real Madrid juga selalu menjadi salah satu pelaku utama gemerlapnya panggung sepakbola Eropa zaman modern dengan gelimang harta dan pemain-pemain kelas dunia yang seolah sangat gampangnya mereka gaet. Stadion Santiago Bernabeu selalu dipenuhi pemain-pemain sekaliber Ronaldo Luis Nazario da Lima, Luis Figo, Zinedine Zidane, David Beckham, Ruud Van Nistelrooy, hingga nama-nama beken masa kini seperti Cristiano Ronaldo, Kaka dan Mesut Ozil.

Maka, meskipun bukan fans Madrid, namun penggila bola seperti saya dan Rusmin terpesona melihat ‘peninggalan-peninggalan’ beberapa pemain dunia yang masih tersimpan di rak-rak museum Real Madrid.

nllssbm2

Ini foto dua tahun lalu, jadi banyak di antara pemain-pemain di galeri itu yang sudah pindah

Yang unik dari museum Real Madrid adalah mereka membuat museum mereka seperti rumah bagi para pemain yang pernah menghiasi sejarah mereka. Jangan heran jika Anda bisa melihat sepatu-sepatu lama milik Cristiano Ronaldo atau KTP zaman remaja Raul Gonzalez!

***

Matchday: Real Madrid vs Sporting Gijon

Pertandingan dimulai pukul 21:00, namun sejak sore, ribuan pengunjung sudah berbondong-bondong datang ke stadion. Kapasitas stadion yang sekitar 85-ribu itu memang selalu terisi penuh. Terlihat jalan di depan stadion diblokir. Mobil-mobil polisi berjaga di sana-sini. Setiap ada ‘Real Madrid Day’, seluruh daerah di sekitar kawasan stadion Santiago Bernabeu memang seolah berubah menjadi Ka’bah. Lautan manusia menyemut dan mengerubungi stadion bersejarah itu.

Rusmin dan saya masuk ke stadion. Tiket kami seharga 39 Euro itu di-scan oleh sebuah mesin elektronik di pintu masuk. Setelah itu, beberapa petugas memeriksa tas kami masing-masing. Meskipun tergolong salah satu stadion paling aman di dunia, para panitia pertandingan pasti tak mau ambil risiko jika misalnya ada penonton yang cari gara-gara dengan membawa senjata tajam ke dalam stadion. Bahkan, botol minuman plastik pun dicekal. Botol air mineral yang saya beli harus saya relakan untuk dibuang ke tong sampah. Padahal isinya masih penuh. Kirain cuma di Indonesia botol minuman plastik dilarang masuk karena takut dipakai menimpuk pemain.

Namun, begitu kami baru selesai menaiki tangga untuk naik ke bagian stadion yang lebih tinggi, saya bisa melihat alasan mengapa penonton dilarang membawa minuman dari luar. Ternyata banyak stan makanan dan minuman yang memanfaatkan ruangan-ruangan di dalam stadion. Segala macam makanan bisa ditemui di situ, seperti hot dog, sandwich, kebab, sampai patatas fritas (french fries), termasuk pula berbagai macam minuman ringan. Setiap jeda pertandingan, penonton bisa membeli makanan dan minuman di stan-stan tersebut, tak usah keluar stadion lagi. Jadi, jika semua penonoton membawa minuman mereka sendiri, para penjual ini akan rugi.

Rusmin dan saya akhirnya menemukan tempat duduk kami sebuah tribun yang terletak di belakang gawang. Memang itulah tiket yang paling murah, padahal harganya yang 39 Euro cukup terbilang mencekik. Kocek mahasiswa kami memang belum sanggup membeli tiket tribun yang di tengah, apalagi tribun VIP yang harganya bisa mencapai 300 Euro.

Kemegahan di Santiago Bernabeu sudah terlihat sebelum pertandingan dimulai, penyelenggara pertandingan Real Madrid terlebih dahulu memainkan mars resmi klub yang berjudul ‘Hala Madrid’. Lagu yang dinyanyikan seorang penyanyi tenor laksana Pavarotti itu ternyata diperlakukan seperti lagu kebangsaan jika tim nasional sebuah negara akan bertanding. Hampir seluruh penonton akan berdiri dan mendengarkan dengan khidmat. Mereka sangat menghargai lagu mars yang telah berusia beberapa dekade tersebut. Lagu itu tentunya menjadi teman setia dalam berpuluh-puluh tahun sejarah besar Real Madrid.

Saya memandang ke atas. Seluruh bagian stadion Bernabeu tertutup atap. Saat itu adalah bulan April, yang masih termasuk musim semi. Musim semi di Spanyol berarti curah hujan termasuk tinggi. Maka, udara pun masih tergolong bikin kulit menggigil. Namun, semua itu teratasi oleh fasilitas kelas wahid Stadion Santiago Bernabeu. Semua tribun di stadion kebanggaan Madrid ini tertutup oleh atap dan dilengkapi dengan fasilitas penghangat ruangan.

Sampai sekarang, saya tidak pernah lupa akan fasilitas bintang lima stadion ini. Bisa dibilang, Santiago Bernabeu adalah salah satu stadion paling megah yang pernah saya kunjungi.

***

Real Madrid yang merupakan salah satu klub terhebat dunia dengan salah Cristiano Ronaldo sebagai pemain andalannya terlalu tangguh bagi lawannya, tim liliput bernama Sporting Gijon.

Gijon sempat mengejutkan di babak pertama dengan mencetak gol lewat penalti. Namun, kelas Madrid masih jauh di atas mereka. Keunggulan kualitas pemain membuat Real Madrid menang 3-1. Saat itu, Madrid yang ketinggalam lebih dulu lewat gol pinalti akhirnya membalas dengan gol-gol ketiga penyerang andalan mereka, Gonzalo Higuain, Cristiano Ronaldo dan Karim Benzema. Seluruh penonton di Santiago Bernabeu (95% di antaranya merupakan pendukung Madrid dan 5% turis seperti kami berdua) pun membubarkan diri dengan perasaan senang.

Saya dan Rusmin tidak butuh waktu lama untuk menemukan cara untuk pulang. Yang mengesankan dari Santiago Bernabeu adalah lokasinya yang berada tepat di pusat kota Madrid, tapi tidak sesemrawut Stadion Utama Senayan yang berada di Jakarta. Kita pasti tahu persis, jika ada pertandingan sepakbola berlangsung di Jakarta, maka neraka adalah sebutan yang tepat bagi para pengendara kendaraan bermotor. Mereka akan terjebak kemacetan Senayan yang butuh waktu berjam-jam untuk diatasi, belum lagi potensi kerusuhan oleh suporter.

Di Madrid, semua berlangsung lancar. Tepat di pintu keluar stadion Santiago Bernabeu, terdapat stasiun metro (kereta bawah tanah), sehingga masyarakat bisa langsung mempergunakan transportasi umum tanpa terjebak macet.

*pernah dimuat di website www.bolatotal.com pada bulan Juli 2013*

nllssbm1

kapan lagi bisa selonjoran di bench pemain Real Madrid?

About ‘Blue Heaven’

‘After all, family is the one that shows you’re not alone in this world…’

Setelah selesai menulis novel pertama saya, ‘Here, After‘ (2010), saya sebenarnya langsung menulis sebuah naskah dengan working titleHearts at Home‘. Naskah tersebut saya tulis sepanjang 2011, tapi sempat terpotong ketika saya disibukkan urusan persiapan lanjut kuliah ke Swiss.

Setelah dua tahun, naskah itu terkatung-katung dalam kondisi 80%. Seperti diketahui, selama 2012 dan 2013 saya disibukkan dua project menulis lain, yang pada akhirnya berhasil jadi buku, yaitu novel ‘Rhapsody‘ (2013) dan nonfiksi catatan perjalanan saya ke berbagai event sepak bola di Eropa, ‘Home & Away’ (2014). Hearts at Home pun sempat didiamkan lama dan tak tersentuh.

Pada akhir 2013, penerbit Rak Buku mendekati saya dan kami pun berdiskusi tentang kemungkinan menerbitkan naskah tersebut. Tertarik dengan keluarga sebagai tema besarnya, naskah tersebut pun meluncur ke redaksi Rak Buku dan menjalani beberapa treatment, antara lain ending versi saya yang beberapa kali mengalami perubahan dan beberapa adegan yang ditambahkan dan beberapa dihapus.

Pada tahun 2014, Hearts at Home pun terbit dengan judul baru ‘Blue Heaven‘. Premisnya tentang empat bersaudara keluarga Arizki, Riyaz, Raisa, Rafi dan Rayden (yep, semua nama diawali dengan huruf ‘R’). Sejak ayah mereka meninggal, mereka berempat berusaha mempertahankan keluarga mereka agar tidak menjadi sebuah disfunctional family. Apalagi dengan berbagai intrik yang datang mengganggu, beberapa di antaranya berupa intrik politik dan permasalahan keluarga tentunya.

Blue Heaven

Atas terbitnya novel berjudul lembut dan bercover menawan ini, saya berterima kasih kepada teman-teman di Rak Buku, antara lain Dewi Fita sebagai editor dan Dwi Anissa Anindhika ‘Aneesy’ atas cover cantiknya. Silakan mencari novel tersebut di rak fiksi toko-toko buku terdekat. Sejak awal Desember 2014, Blue Heaven sudah tersebar di seluruh Indonesia.

After all, selamat menikmati novel ketiga saya. Masih seperti biasa, sedikit dark tapi dengan sentuhan hangat dan inspiratif. Semoga semua pesannya sampai.

18 Desember 2014,

Mahir Pradana

Rhapsody Recap

Dreams need to be decorated‘ – Rhapsody by Mahir Pradana

Tidak terasa, sudah hampir delapan bulan novel kedua saya, ‘Rhapsody’, beredar di pasaran. Seperti beberapa tahun lalu ketika novel pertama saya, ‘Here, After’ keluar, saatnya berkontemplasi dengan pengalaman novel kedua ini (halah).

Cukup bangga juga melihat respons positif pembaca terhadap cerita Al dan hostel kecilnya ini. Tertunda 4-5 bulan dalam perilisannya ternyata berbuah manis. Di website pemerhati buku goodreads.com, >95% pembaca ngasih bintang 3 ke atas. Alhamdulillah, ya. Hehehe.

Untitled Untitled2

 

Jika ditanya apa yang berbeda dari pengalaman menerbitkan ‘Here, After’ dan ‘Rhapsody’, mungkin seperti ini. ‘Here, After’ yang terbit di tahun 2010 lalu adalah karya saya yang eksperimental. Imajinasi saya biarkan seliar-liarnya, sehingga jadilah novel bersegmen-segmen yang diwarnai kekerasan dan patah hati itu. Yang suka dengan gaya saya, akan menyukai buku tersebut, sedangkan yang muak akan membencinya. Sesederhana itu. (yang belum baca silakan ikuti review-review pembaca di http://www.goodreads.com/book/show/9764819-here-after?from_search=true )

Sedangkan bagi Rhapsody, saya bisa berbangga karena banyak pembaca yang memberi feedback merasa terinspirasi oleh premis ‘mengejar dan mempertahankan mimpi’ yang diusung novel ini. Jujur, saya memang hanya ingin menginspirasi pembaca dengan mimpi dan kehangatan. Untungnya sambutan pembaca baik.

Berikut ini beberapa link blog pembaca yang memberi feedback kepada ‘Rhapsody’:

http://widhiebbf.blogspot.com/2014/02/resensi-buku-rhapsody-mahir-pradana.html?spref=tw

http://ariansyahabo.blogspot.com/2013/12/book-review-rhapsody-by-mahir-pradana.html

http://justsavemywords.wordpress.com/2014/03/13/review-novel-rhapsody-by-mahir-pradana/#more-87

Selain itu, beberapa pengalaman baru mengikuti saya setelah menerbitkan novel kedua itu. Komunitas Goodreads Indonesia mengundang saya untuk bincang santai membahas ‘Rhapsody’ di bulan Februari 2014. Mari dibaca liputannya di sini:

http://bacaituseru.org/lpm-klub-buku-offline-1/

12284144243_46dc7298f3_h

Dokumentasi teman-teman Goodreads Indonesia

Inilah yang membuat hidup saya sebagai penulis senantiasa lebih berwarna. Thank you, guys!

hugs,

MP

For Sale: Here, After

Halo, semua!

Tidak terasa sudah empat tahun berlalu sejak terbitnya novel pertama saya, Here, After. Waktu berubah, tak terhitung buku-buku baru yang muncul di toko-toko buku, sehingga Here, After pun semakin sulit ditemukan di toko-toko buku mana pun.

I’ve had good times writing it, and even more unforgettable experiences after it was published. Mungkin sudah sering saya cerita buku tersebut masuk lima besar nominasi buku fiksi terfavorit Anugerah Pembaca 2011. Meski akhirnya nggak menang, it was a proud moment for me.

Nah, untuk memfasilitasi teman-teman yang belum baca, atau pengen baca lagi, saya menjual Here, After secara pribadi ya. Harganya tetap sama, Rp. 34.000 (belum termasuk ongkos kirim). Teman-teman bisa pesan mau bertanda tangan saya atau lebih memilih masih disegel. Jika ingin memesan, silakan hubungi saya di 0821-931-87891 atau e-mail ke mahir.pradana@gmail.com

BmS49BUCcAAJfz2

Sebagai info tambahan, silakan dicek beberapa review orang-orang yang telah membaca Here, After:

– blog:

Kalau yang satu  ini review di website pribadi Mbak Lia, (mantan) penanggung jawab program ProResensi di RRI Pro2 Jakarta yang pernah meng-interview saya secara langsung di acara talkshow tersebut:
Setelah saya google sedikit, ternyata pihak Gramedia Istana Plaza juga mendokumentasikan talkshow saya (di tahun 2010 lalu) di halaman website mereka:

 

– Twitter:

rina_shu
Jd mulai agak apatis sama yg namanya cinta gara2 baca Here, After. Penulisnya hrs tanggung jawab nih.

cyntia_tia
A depressing infatuation about a never ending agony. ( Here, after ) kata-katanya ngenak banget :*

septamellina
In spite of my assigments and exam,I could finally finish reading #NovelHereAfter I love your novel, friend

tatats
I do! Hehehe..I like your different view about love 😀

dogeena
She gave love a new name : “A depressing infatuation about a never ending agony” #HereAfter | nice poem! 🙂

anastha
Tdk semua pernikahan hrs dimulai dgn cinta & tdk semua cinta hrs diakhiri dgn pernikahan ~ @maheeeR >> nyebelin bgt lo, hir! 😀

ophye
agreed!! Awalny kupikir bakalan ala2 novel cinta teenlit cupu yg mellow ndak jelas. Ternyata I can’t be more wrong!!!

msyarifm
I’ve just read 1 1/2 chapter, but u know what? u’ve got talent @maheeeR. (@_@) *serius*

me_bie
baru selesei baca novel Here After,one conclusion:kapan dibikin film nya?bgs nih jalan ceritanya 😀

erdityaarfah
udh beres gw baca.kesimpulannya: ajarin gw nulis romance dong. 🙂

Inabeautiful
novelnya kak @maheeeR bener2 gaswat -_- udah kelar dibaca malah jadi ketagihan pengen dibaca lagi. Padahal besok uas. Haha. Ah,bodo ah.

adit_adit 
sebelum baca #NovelHereAfter-nya @maheeeR, cari lagu Love Hurts-nya Incubus deh, biar tambah galau waktu bacanya, hahaha

So, what are you waiting for? Pesan ya, mumpung stok masih ada 😀