BOOK CHARITY part 2

Halo,

Saya ingin menjual lagi beberapa buku koleksi saya yang sepertinya akan lebih bermanfaat jika berada di tangan orang-orang yang lebih membutuhkan. Namun, saya juga sekalian ingin mengumpulkan dana untuk acara ‘Festival Kuliner Sulawesi Selatan’ yang akan diadakan oleh teman-teman saya pada 18 Mei 2014.

Sama seperti Book Charity yang kemarin (https://mahir-pradana.com/2014/02/24/my-book-charity/), jika ada yang mau beli, kontak saya saja di nomor HP 082193187891 ya. Atau email ke mahir.pradana@gmail.com. Harga belum termasuk ongkos kirim, jadi beli banyak lebih baik, hehehe.

Untuk lebih memudahkan, saya cantumkan juga beberapa buku dari Book Charity pertama yang sudah terjual. Yang ada tulisan ‘SOLD’ sayang sekali sudah terjual.

Selamat memilih, mudah-mudahan ada yang cocok!

Buku-Buku Terjemahan (buku luar negeri yang diterjemahkan ke Bahasa Indonesia):

  1. No Country for Old Men oleh Cormac McCarthy – Rp. 15.000 – SOLD
  2. Midnight Children oleh Salman Rushdie – Rp. 20.000
  3. Intrepeter of Maladies oleh Jhumpa Lahiri – Rp. 20.000
  4. Life of Pi oleh Yann Martel – Rp. 20.000
  5. Sphere oleh Michael Crichton – Rp. 10.000
  6. Mengail di Air Keruh, Pembunuhan atas Roger Ackroyd, Pembunuhan di Pondokan Mahasiswa (3 buku Agatha Christie, beli satuan Rp. 10.000. Sekaligus 3 Rp. 25.000)
  7. The Notebook oleh Nicholas Sparks – Rp. 15.000
  8. How to be Good oleh Nick Hornby – Rp. 15.000
  9. Snow Country oleh Yasunari Kawabata (masih segel) – Rp. 25.000
  10. The Undomestic Goddess oleh Sophie Kinsella – Rp. 15.000
  11. My Name Is Red oleh Orhan Pamuk – Rp. 15.000
  12. The Professor and the Madman oleh Simon Winchester – Rp.15.000
  13. Dracula oleh Bram Stoker – Rp. 10.000
  14. The New Life oleh Orhan Pamuk – Rp. 20.000 – SOLD
  15. Rage of Angels oleh Sidney Sheldon – Rp.10.000
  16. Life’s Golden Ticket oleh Brendon Burchard – Rp.10.000
  17. Room to Read oleh John Wood – Rp. 15.000 – SOLD
  18. Come Together oleh Josie Lloyd dan Emlyn Rees – Rp. 10.000
  19. The Men’s Guide to Women’s Bathroom by Jo Barrett – Rp. 20.000
  20. The Witness by Sandra Brown – Rp. 15.000 – SOLD
  21. Bloodline by Sidney Sheldon – Rp. 10.000
  22. Vita Brevis by Jostein Gaarder – Rp. 10.000 – SOLD
  23. Rispondimi (Jawablah Aku) oleh Susanna Tamaro – Rp. 10.000
  24. Da Vinci Code oleh Dan Brown – Rp. 20.000 – SOLD
  25. Angels and Demons oleh Dan Brown – Rp. 20.000
  26. Memories of Midnight oleh Sidney Sheldon – Rp. 10.000
  27. Are You Afraid of the Dark? Oleh Sidney Sheldon – Rp. 10.000
  28. Tuesdays with Morrie oleh Mitch Albom – Rp. 20.000 – SOLD
  29. 5 People You Meet in Heaven oleh Mitch Albom – Rp. 20.000 – SOLD
  30. Cecilia dan Malaikat Ariel oleh Jostein Gaarder – Rp. 10.000 – SOLD

Buku-Buku Dalam Negeri:

  1. Drop Out (DO) oleh Arry Risaf Arisandi – Rp. 15.000
  2. Jakarta-Paris via French Kiss oleh Syahmedi Dean – Rp.10.000
  3. Pengantin Gypsy dan Penipu Cinta oleh Syahmedi Dean – Rp. 10.000
  4. Mendamba oleh Aditia Yudis – Rp. 10.000 – SOLD
  5. Rindu oleh Sefryana Khairil – Rp. 10.000 – SOLD
  6. Maryamah Karpov oleh Andrea Hirata – Rp. 20.000
  7. Forever Yours oleh Karla M. Nashar – Rp. 10.000 – SOLD
  8. Adriana oleh Fajar Nugros dan Artasya Sudirman – Rp. 10.000
  9. Kumawa Aing Weh – Rp. 10.000
  10. Watir – Rp. 10.000
  11. Marmut Merah Jambu oleh Raditya Dika – Rp. 20.000
  12. 9 Summers 10 Autumns oleh Iwan Setyawan – Rp. 15.000
  13. Menerjang Batas oleh Estu Ernesto – Rp.15.000
  14. Keliling Eropa 6 Bulan oleh Marina Sylvia — Rp. 15.000
  15. Nasional.Is.Me oleh Pandji Pragiwaksono – Rp. 15.000
  16. Love in Somalia oleh Faqih bin Yusuf – Rp. 20.000
  17. Soulmate oleh Stephanie Hid – Rp. 10.000

P.S: Jangan lupa datang ke acara Festival Kuliner ini, ya:

BnZX_naCIAAZoEE

Advertisements

Gratitude to My ‘Publicists’

Bagi seorang penulis buku, siapa orang-orang paling berperan dalam hal-hal teknis mempromosikan buku? Penerbit, tentu saja. Tapi jika di-breakdown lagi, siapa ‘aktor’ di dalam penerbit yang bertanggung jawab dalam promosi sebuah buku? Jika ada yang menjawab editor, bisa ya bisa tidak. Editor memang berperang sangat penting dalam membuat konsep buku bersama-sama dengan penulis dan bertanggung jawab sampai naskah itu terbit. Namun, untuk urusan memasarkan, ada pihak-pihak lain yang lebih berperan. Siapa mereka?

Di film-film Hollywood, kita mengenal istilah publicist atau agen penulis, yaitu seseorang yang mengatur jadwal promosi si penulis itu. Kebanyakan, para publicist hanya jadi figuran, dan seingat saya tidak ada publicist di film yang berakhir enak. Di film Before Sunset, agen yang mengurusi promosi Jesse (Ethan Hawke) di Paris sudah memesan penerbangan penulis tersebut untuk pulang ke Amerika, tapi sang protagonis malah asik mengejar rasa penasaran akan cinta masa lalunya sehingga mengabaikan pesawat yang seharusnya ditumpanginya. Sedangkan di Scream 4 lebih mengerikan, publicist-nya karakter Sidney Prescott (Neve Campbell) menjadi salah satu korban pertama yang terbunuh. *maaf spoiler*

Lah, malah jadi ngebahas pilem?

Di Indonesia, istilah agen penulis mungkin masih asing. Di penerbit saya, GagasMedia, terdapat personil sendiri yang mengurusi kegiatan-kegiatan promosi penulis. Terdapat dua jenis kegiatan promo yang bisa dilakukan oleh penulis, yaitu promosi on-air dan off-air, atau di zaman digital ini, online dan offline. Promosi on-air contohnya siaran di radio atau televisi. Promosi online, seperti namanya, bisa dilakukan dengan membuat kuis di social media atau sekadar meng-update status tentang buku. Promosi off-air dan offline adalah kegiatan yang turun langsung bersentuhan dengan pembaca, seperti talkshow di toko buku atau sekolah-sekolah.

Sejak buku pertama saya, Here, After terbit, hingga akhirnya novel terbaru saya Rhapsody beredar di pasaran, saya banyak terbantu oleh kehadiran para staf promosi di GagasMedia. Singkatnya, mereka adalah orang-orang yang mengatur event di mana saya harus tampil, lalu menjemput saya di rumah. Dengan sabar, mereka menanti saya selesai talkshow, mengambil dokumentasi selama acara dan menyampaikan update-nya lewat media sosial. Selesai? Belum. Mereka masih harus mengantar saya sampai kembali ke rumah, safe and sound. Meskipun pada akhirnya mereka sendiri baru sampai di rumah masing-masing larut malam dalam kondisi kurang istirahat.

Di luar itu, mereka masih harus bertugas mempromosikan karya-karya para penulis baru dan lama, tua dan muda, laris dan kurang laris dalam porsi yang sama. Mereka membangun relasi dengan rekan-rekan sejawat di media-media lain, dengan tujuan agar buku-buku penulis bisa dimuat di majalah, koran, atau mendapat jadwal interview di radio.

Sayangnya, seringkali orang-orang ini off-radar. Banyak yang tidak menyadari andil mereka. Namanya juga figuran, toh?

Padahal, saya merasa sangat, sangat terbantu oleh kehadiran para staf promo ini. Sebagai ‘orang biasa yang menerbitkan buku’, bukan ‘public figure yang menerbitkan buku’, saya tidak punya manajer. I am my own manager. Tapi tetap saja, untuk urusan dengan para pihak eksternal demi promo, saya butuh bantuan dari para staf promo.

Di sinilah mereka sangat membantu saya. Dari hal-hal kecil seperti memasukkan nama saya sebagai pengisi acara di suatu event, memesan mobil travel untuk transportasi saya (tidak jarang malah merangkap sopir, nyetir sendiri), mengurus banner dan materi promosi lainnya, hingga melipat kembali banner atau mengatur display buku saya di lokasi promo. Kadang-kadang, para ‘unsung heroes‘ ini malah harus melawan their own biggest fear showing up in public dengan cara menjadi MC acara talkshow.

Ladies and gentlemen, please give applause to these people.

Nah, tiap pekerjaan pasti ada tantangan dan sisi nggak enaknya. Jika saya meluangkan waktu untuk berada di perspektif para staf promo, maka saya akan menyebutkan satu saja hal yang tidak menyenangkan: being disrespected.

Tidak jarang, ada penulis yang tidak mengerti konsep promosi dari penerbit ini. Dianggapnya para staf promo ini adalah pelayan yang siap membantu dengan sikap ‘at-your-service, Your Highness’. Akhirnya si penulis mengabaikan semua atau beberapa konsep atau jadwal promo dari para staf promo.

Pernah kejadian, para staf promo sudah bekerja keras membuatkan event promo untuk si penulis, eh si penulis malah telat datang. Bukan begitu saja, si penulis, entah menganggap dirinya-lah center of the world atau bagaimana, nyaris tidak pernah ngobrol sambil menatap mata si staf promo. Baginya, para staf promo tidak lebih dari sekadar pelayan, sopir, sekretaris, tukang lipat banner, dan semacamnya.

Padahal, staf promo adalah perwakilan dari penerbit. Ini konsep yang sudah umum: penulis dan penerbit memiliki posisi yang setara. Tidak ada yang lebih di atas atau lebih di bawah.

Atau, nggak usah dulu ngomongin konsep apapun deh. Sikap menghargai orang lain itu kan sebenarnya tata krama yang paling dasar. Bagaimana kita saling menghargai sesama manusia. Pelajaran PPKN, anybody?

Jadi, jika ada penulis yang semena-mena pada staf promo karena ngerasa dirinya superstar atau sedang naik daun seperti ulat sagu, send them back to elementary school untuk ngulang PPKN aja lah.

Sorry for getting emotional, but I have spent time, maybe too much time with my friends from staf promosi GagasMedia, and I must say that they are some of the coolest people in the world. Jika postingan ini belum bisa mengerakkan orang-orang untuk lebih menyadari jasa-jasa staf promosi, minimal anggap saja sebagai pernyataan mengapresiasi dan mega-apresiasi kehadiran teman-teman baik yang telah mewarnai hidup saya tersebut.

Ladies and gentlemen, I give you, my great friends (and ‘promo people’ of GagasMedia):

–          Aveline Agrippina (@_agrippina)

–          Mudin Em (@omemdisini)

–          Chyntia Kartika Sari (@ciboaccy)

–          Tasya Anugerah (@tasyaugie)

–          Badru Alwahdi (@badrualwahdi)

BhFRPt0CAAI74np

Teppy (paling kiri), Nina (ketiga dari kanan) dan saya (kedua dari kanan), bersama para ‘publicist: Chyntia (paling kanan), Bedu (kedua dari kiri) dan Ugi (ketiga dari kiri)

 

MY BOOK CHARITY

Bencana di beberapa wilayah Indonesia akhir-akhir ini, mendorong teman-teman saya di Latimodjong Bandung ( http://latimodjong-bandung.com ) untuk mengadakan bakti sosial menggalang dana untuk disumbangkan ke lokasi-lokasi yang membutuhkan. Karena harus bekerja sehingga gerak saya terbatas untuk terlibat dalam penggalangan dana, saya ingin berkontribusi dengan cara lain, yaitu menjual beberapa buku koleksi saya.

Judul-judul buku di bawah ini sengaja saya jual online karena siapa tahu ada beberapa teman yang membutuhkan atau sudah mencari-cari sejak lama. Jika ada buku yang diminati, silakan kontak saya di 082193187891 atau e-mail ke mahir.pradana@gmail.com. Buku-buku ini juga akan saya jual di pasar kaget di sekitar Lapangan Gasibu Bandung pada hari Minggu pagi, 2 Maret 2014.

Harga-harga yang tertera saya sesuaikan dengan kondisi buku. Harga 10-ribu mungkin disebabkan oleh kondisi yang sudah usang atau ada beberapa bagian yang cacat, tapi dijamin masih bisa dibaca lengkap. Harga 15-ribu dan 20-ribu didasarkan pada kualitas yang lebih bagus atau judul buku yang lebih terkenal, tapi semuanya saya usahakan untuk dilepas dengan harga terjangkau.

Silakan kontak saya jika berminat!

Buku-Buku Terjemahan:

  1. No Country for Old Men oleh Cormac McCarthy – Rp. 15.000
  2. The Professor and the Madman oleh Simon Winchester – Rp.15.000
  3. Dracula oleh Bram Stoker – Rp. 10.000
  4. The New Life oleh Orhan Pamuk – Rp. 20.000
  5. Rage of Angels oleh Sidney Sheldon – Rp.10.000
  6. Life’s Golden Ticket oleh Brendon Burchard – Rp.10.000
  7. Room to Read oleh John Wood – Rp. 15.000
  8. Come Together oleh Josie Lloyd dan Emlyn Rees – Rp. 10.000
  9. The Men’s Guide to Women’s Bathroom by Jo Barrett – Rp. 20.000
  10. The Witness by Sandra Brown – Rp. 15.000
  11. Bloodline by Sidney Sheldon – Rp. 10.000
  12. Vita Brevis by Jostein Gaarder – Rp. 10.000
  13. Rispondimi oleh Susanna Tamaro – Rp. 10.000
  14. Da Vinci Code oleh Dan Brown – Rp. 20.000
  15. Memories of Midnight oleh Sidney Sheldon – Rp. 10.000
  16. Are You Afraid of the Dark? Oleh Sidney Sheldon – Rp. 10.000
  17. Tuesdays with Morrie oleh Mitch Albom – Rp. 20.000
  18. 5 People You Meet in Heaven oleh Mitch Albom – Rp. 20.000
  19. Cecilia dan Malaikat Ariel oleh Jostein Gaarder – Rp. 10.000

 Image

Buku-Buku Dalam Negeri:

  1. Drop Out (DO) oleh Arry Risaf Arisandi – Rp. 15.000
  2. Jakarta-Paris via French Kiss oleh Syahmedi Dean – Rp.10.000
  3. Mendamba oleh Aditia Yudis – Rp. 10.000
  4. Rindu oleh Sefryana Khairil – Rp. 10.000
  5. Maryamah Karpov oleh Andrea Hirata – Rp. 20.000
  6. Forever Yours oleh Karla M. Nashar – Rp. 10.000
  7. Adriana oleh Fajar Nugros dan Artasya Sudirman – Rp. 10.000
  8. Kumawa Aing Weh – Rp. 20.000
  9. Watir – Rp. 20.000
  10. Marmut Merah Jambu oleh Raditya Dika – Rp. 20.000
  11. 9 Summers 10 Autumns oleh Iwan Setyawan – Rp. 15.000
  12. Menerjang Batas oleh Estu Ernesto – Rp.15.000
  13. Keliling Eropa 6 Bulan oleh Marina Sylvia — Rp. 15.000

2014 Upcoming Project (2)

Saya punya sebuah naskah lain yang rencananya akan terbit juga di tahun 2014, yaitu sebuah naskah non-fiksi tentang perjalanan saya ber-football traveling di Eropa dalam periode 2011-2013 lalu. Berikut ini cuplikannya:

2012-04-09 13.07.21

Saya tinggal di sebuah student house (asrama mahasiswa) yang dipenuhi sekelompok mahasiswa Eropa yang gila sepakbola. Gedung asrama itu disebut Studenthouse Tscharnergut, sesuai dengan nama jalan bangunan itu berada.

Bangunan Tscharnergut tersebut adalah sebuah bangunan berlantai 19. Kamar saya terletak di lantai dua belas. Tetangga di samping kamar saya adalah seorang mahasiswa teologi asal Romania bernama Csongor Kelemen, biasa dipanggil Chongi.

Menariknya, meskipun kuliah di bidang teologi, Chongi justru termasuk salah seorang yang menge-Tuhan-kan sepakbola. Pada awalnya, begitu mendengar penghuni sebelah kamar saya adalah mahasiswa teologi alias calon pendeta, saya mengira dia adalah seseorang yang super-serius dan tertutup. Ternyata saya salah.

Chongi punya karakter periang dan sangat ramah. Setiap kali ada acara kumpul-kumpul seperti barbeque, tur atau acara-acara get together lainnya, Chongi pasti tidak pernah ketinggalan. Namun, lain cerita jika weekend datang. Biasanya, pada Jumat malam atau Sabtu malam, Chongi akan mengurung diri di kamarnya. Dia akan khusyuk duduk di depan computer untuk menonton tayangan streaming Liga Sepakbola Romania untuk menyaksikan klub kesayangannya bertanding.

Klub kesayangan Chongi bernama CFR Cluj. Klub tersebut merupakan kebanggaan kota Cluj, kampung halaman sekaligus kota kelahirannya.

***

Pada suatu hari, saya dan Chongi sedang mengobrol santai di dalam kamarnya. Kami bertukar cerita tentang kampung halaman kami masing-masing. Saya baru saja selesai bercerita padanya tentang kota-kota di Indonesia.

‘Ceritakan padaku tentang Cluj,’ pinta saya. Mata pria berambut pirang itu langsung menerawang ke beberapa tahun ke belakang.

‘Cluj-Napoca adalah nama lengkap kota itu, tapi kamu bisa menyebutnya Cluj. Kota itu merupakan salah satu kota terpenting di Transylvania.’

‘Daerah asal para vampir?’ aku melontarkan komentar bercanda.

‘Yeah, vampires.’ Chongi tertawa mendengarnya. Kemudian ia melanjutkan, ‘Meski demikian, kota itu tidak sebesar Bucharest.’

‘Bucharest,’ saya mengangguk pertanda saya paham kota itu merupakan ibukota Rumania. Banyak orang yang tertukar menyebut nama kota itu dengan Budapest, ibukota Hungaria.

‘Chongi mengangguk. Pada akhir 80-an, sewaktu saya masih kecil, saya ingat, kota kami sangat miskin. Mungkin kamu juga tahu, saat itu Romania masih berada di bawah kendali komunis.’

‘Oh ya, I see…’ benak saya mulai membuka-buka lagi pengetahuan sejarah yang saya pelajari di SMA.

‘Selain pengaruh Uni Sovyet, di Rumania sendiri ada Nicolae Ceauşescu, sang pemimpin diktator. Pokoknya kehidupan kami sempat berada di masa-masa sulit. Ditambah lagi dengan Revolusi Romania, hidup semakin susah saja.’

Saya tidak mengatakan apa-apa. Sulit memang membayangkan kehidupan yang tidak pernah saya jalani.

‘Di bawah kendali komunis, kamu bisa bayangkan. Tidak ada hiburan. Tidak ada kehidupan modern seperti sekarang. Bioskop dilarang memainkan film-film seru buatan Amerika. Konser-konser musik pun terbatas. Maka, satu-satunya hiburan masyarakat Cluj hanyalah sepakbola. Jadi bisa dibilang CFR Cluj adalah satu-satunya grup entertainer di kota kami saat itu.’

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa fungsi stadion pun menjelma menjadi ‘agora’, yaitu ruang berkumpul bagi publik dalam mitologi Yunani. ‘Setelah rezim komunis runtuh, barulah kehidupan di Romania perlahan bangkit. Termasuk di Cluj. Akhirnya sekarang kami bisa menikmati kehidupan normal.’

‘Dan selama ini CFR tetap menjadi kebanggaan masyarakat kalian?’

Exactly,’ mata Chongi berkilat-kilat. Sepertinya dia excited karena aku menangkap arah ceritanya. ‘Bayangkan, di akhir 80-an, CFR hanyalah klub kecil yang hampir bangkrut. Sekarang, mereka sudah berkompetisi di Liga Champions Eropa!’

Cerita pun berlanjut. Klub asal kota kelahirannya itu kini merupakan contender serius dalam pengejaran gelar juara Liga Romania setiap tahun. Maka, di mata Chongi dan ribuan penduduk kota Cluj lainnya, CFR Cluj bukan sekadar klub sepakbola, melainkan simbol perjuangan rakyat Romania dari keterpurukan di bawah paham komunisme menjadi salah satu kota berpengaruh di Eropa.

Setiap kali membicarakan tentang sepakbola dengan pria ini, saya memang pasti menghabiskan waktu paling sedikit tiga puluh menit.

‘Jadi, kamu nggak pernah melewatkan sekali pun pertandingan CFR Cluj?’

Chongi tertawa. ‘Yah, nggak juga sih. Kecuali kalau ada acara penting. Tapi, sebisa mungkin kalau CFR main, saya pasti nonton. Rumah saya di Cluj tepat di belakang stadion CFR. Jadi, setiap mereka main pasti saya nonton.’

Saya memandangi poster-poster dan syal CFR Cluj yang memenuhi dinding kamar pria Romania itu. CFR Cluj nampaknya memang sudah menjadi darah-dagingnya.

‘Lagipula saya dan ayah saya tiap awal musim kompetisi dimulai pasti membeli tiket terusan. Kalau nggak dipake nonton langsung di stadion, mubazir kan? Makanya nonton langsung CFR Cluj menjadi prioritas di jadwal mingguan saya.’

‘Kalau begitu pasti kamu kangen rumah,’ aku menimpali. ‘Di sini kamu nggak bisa ngerasain langsung suasana stadion tiap CFR main.’

‘Untungnya ada teknologi,’ Chongi menepuk-nepuk laptopnya. Dia memang selalu mengikuti sepak terjang CFR lewat streaming internet. ‘Jadi, kamu tahu kapan sebaiknya kamu tidak mengganggu saya. Yaitu setiap kali CFR bertanding.’

Kami berdua tertawa.

‘Jadi CFR sudah menjadi tempat ibadah kedua bagimu setelah gereja?’ saya menggodanya. Tak disangka, raut wajah Chongi kembali berubah serius.

Homo pedifollium.’

‘Apa?’

‘Saya mendengar istilah itu disebutkan oleh dosen teologi saya. Istilah itu sebenarnya buatannya sendiri, berasal dari bahasa latin, seperti homo sapiens atau homo economicus. Saya dan teman-teman sering membahas hal ini. Bahwa banyak golongan manusia yang menuhankan sepakbola. Homo adalah manusia, dan pedifollium adalah sepakbola.’

‘Oh,’ aku mengangguk tanda mengerti. ‘Homo pedifollium.’

Kali ini Chongi tersenyum. ‘Ya. Istilah itu awalnya hanya sebagai ucapan iseng, lama kelamaan istilah iseng itu jadi familiar di Eropa sini untuk menyebut para fans sepakbola. Bagi kami di kota Cluj, semuanya masuk akal karena kami sempat melihat pengaruh langsung sepakbola terhadap masyarakat kami. Akibat pengaruh rezim komunis, sempat banyak rakyat kami yang tidak percaya Tuhan. Mereka hanya mempercayai kekuatan magis para seniman sepakbola yang bisa memberi mereka kegembiraan walaupun sesaat.’

Saya tercenung. Saya langsung jadi teringat beberapa golongan di Argentina yang sampai membangun gereja untuk memuja Diego Maradona, legenda sepakbola mereka.

Chongi benar. Sepakbola selalu memiliki sentuhan ajaib yang membawa kegembiraan ke masyarakat.

Okay then,’ saya bangkit dari kursi saya karena harus mengerjakan tugas.  ‘Terima kasih atas cerita menarik tentang CFR Cluj ya.’

No problem,’ balas Chongi. ‘Lain kali mungkin kamu yang harus bercerita kepada saya tentang Gonzales.’

Saya hanya tertawa mendengarnya.

***

43dff5a3e3af91335caf51008a7a5373

2014 Upcoming Project (1)

Selamat tahun baru 2014!

Sebelum ada yang nanya, apakah saya ada rencana nerbitin novel baru di 2014, saya jawab saja dulu: iya.

Nukilan di bawah ini adalah sedikit dari naskah saya berjudul tentatif ‘Distorsi‘. Sudah disetujui untuk terbit oleh GagasMedia, dan sekarang sedang dalam proses pengeditan.

Oh ya, gara-gara novel pertama saya, ‘Here, After‘ yang bertaburan adegan-adegan tragis, banyak yang mengira novel kedua saya, ‘Rhapsody‘, juga akan bernuansa suram. Ternyata tidak. Banyak yang kaget karena Rhapsody lebih ceria dan inspiratif. Nah, khusus bagi mereka yang menyukai tone-nya Here, After, boleh berharap pada naskah baru ini.

Hope it will live up the expectations! 🙂

Selamat membaca!

DISTORSI

Pada suatu hari, ketika hari di luar sudah mulai gelap, Satria memutuskan untuk masuk ke ruangan perpustakaan mencari Lara. Ruangan itu sudah sepi. Satria hanya melihat punggung Lara dari belakang dan rambut panjangnya yang tergerai. Dia berada di ujung ruangan, sehingga terlihat seolah ditelan oleh jejeran rak penuh buku. Perlahan, Satria berjalan menghampirinya.

Namun, seiring dengan langkah kakinya menyusuri deretan rak buku, ia menyadari bahwa ada yang berbeda dari gelapnya ruangan itu. Hanya ada secuil cahaya matahari sore yang menyelinap dari celah jendela. Rambut panjang Lara terlihat seperti sosok hantu di film-film horor Jepang.

Bukan, itu bukan Lara.

Itu adalah… sosok hantu berambut panjang itu lagi!

Bulu kuduk Satria berdiri. Suasana ini memang cukup horor. Meskipun suara langkah kakinya cukup jelas terdengar di lantai, sosok berambut panjang itu tidak menoleh sedikitpun.

Satria memutuskan untuk memperlambat langkahnya. Tiba-tiba terdengar suara isak tangis perempuan.

Kali ini seluruh urat syaraf di tubuhnya menegang.

Langkahnya sedikit demi sedikit semakin mendekati perempuan berambut panjang itu. Rambut hitam legamnya yang sedikit berombak itu ternyata basah. Punggungnya bergerak-gerak. Suara isak tangis lama-kelamaan semakin terdengar jelas.

Satria mengulurkan tangannya yang bergetar hebat untuk menyentuh punggung wanita itu. Namun seketika dia terhenti.

Sesuatu yang basah dari balik rambut panjangnya meninggalkan noda berwarna gelap di punggungnya. Noda itu perlahan semakin membesar. Lalu semakin besar.

Barulah ia menyadari bahwa noda berwarna merah tua itu adalah…

Darah.

Napas Satria tertahan. Ia menatap sosok itu tak berkedip.

‘La…ra?’ panggilnya lirih.

Sosok itu berhenti terisak. Lalu, dengan sebuah gerakan berkelebat, sosok itu memutar tubuhnya.

Satria menjerit.

***

Movies vs Novels: The Change of Mindset

Mungkin ini perdebatan klasik yang akan selalu ada. Kebanyakan pembaca setia novel akan kecewa setelah melihat novel kesayangannya diangkat ke layar lebar. Pasti ada saja yang tidak sesuai dengan imajinasi si pembaca.

Saya punya teman fanatik Harry Potter yang protes ketika film pertamanya dirilis pertama kali di tahun 2001 lalu. Ia protes karena sosok Harry yang diperankan oleh Daniel Radcliffe memiliki perbedaan mendasar dengan Harry di buku, yaitu: warna matanya! OMG, when she was saying that, I rolled my eyes.

Tapi iya sih, saya sempat membaca beberapa jilid Harry Potter, meskipun nggak pernah menjadi seorang fan apalagi loyalis J.K. Rowling. Dua adegan yang paling berkesan ketika membaca kisah sekolah penyihir itu malah tidak membekas sama sekali ketika diangkat menjadi film. Adegan favorit saya adalah ketika si kembar pemberontak Fred dan George Weasley kabur dari sekolah Hogwarts dengan sebuah farewell yang fenomenal. Di film, adegan tersebut hanya selewat saja. Momen lain yang menurut saya perlu dramatisasi lebih dalam adalah ketika kepala sekolah bijak nan simpatik Albus Dumbledore diceritakan terbunuh. Di pikiran saya, jika filmnya keluar, adegan ini minimal harus sama mengharukannya ketika saya menonton Lord of the Rings jilid I, yaitu ketika sosok penyihir Gandalf jatuh ke jurang bersama monster api. Adegan itu sangat mengharukan, sehingga membuat mata saya agak basah. Eh ternyata Gandalf saat itu toh belum mati. Makanya, kematian Dumbledore di film ke-6 Harry Potter yang flat dan tidak berasa, membuat saya jengkel.

*by the way, maaf ya, kalo sampai sekarang saya banyak menebar spoiler tentang siapa yang mati, siapa yang tidak. Jika ada yang terganggu, yaa, salah kalian sendiri sih, hari gini belum nonton se-populer Harry Potter dan Lord of the Rings. HAHAHA.*

awesome-book-book-vs-movie-harry-potter-judge-Favim.com-145650_large

Nah, kembali ke pembahasan tadi. Tapi, jika begini adanya, film yang diangkat dari novel tidak akan berpeluang besar memuaskan pembacanya, dong? Jika ditelaah, saya pikir memang masuk akal jika sebagian besar film dari novel akan mengecewakan. Bayangkan saja, bagaimana cara mengadaptasi novel setebal 400-500 halaman ke durasi film hanya 2 atau  jam? Pastilah ada adegan-adegan yang dianggap tidak mendukung jalannnya film sehingga tidak perlu diadaptasi ke film. Namun, bagi yang namanya pembaca fanatik, justru adegan-adegan dan detil-detil kecil itulah yang membuat kita terhubung secara lebih emosional dengan cerita, kan?

Baiklah.

Kalau begitu, coba kita lihat kasus-kasus lain. Ada beberapa film yang sebenarnya diadaptasi dari novel, tapi justru tidak pernah dibanding-bandingkan dengan bukunya, yang notabene terbit sebelum filmnya rilis. Psycho arahan Alfred Hitchcock yang fenomenal itu jarang dibandingkan dengan novelnya yang dikarang oleh Robert Bloch. Bahkan, zaman sekarang, jika kita membahas judul ‘Psycho‘, orang-orang lebih familier dengan nama Hitchcock sebagai sutradara daripada Bloch yang justru merupakan pencetus idenya.

Kenapa bisa demikian? Kalau menurut film Hitchcock (2012) yang diarahkan oleh sutradara Sacha Gervasi, pada saat memutuskan untuk membuat adaptasi filmnya di tahun 1959 lalu, Sir Alfred Hitchcock memborong semua buku Psycho dari pasaran agar pembaca tidak mengetahui ending ceritanya terlebih dulu.

Nah, sekarang, kita tahu kata kuncinya: ekspektasi!

Novel, adalah kunci ekspektasi kita dalam menilai suatu film. Makanya, sering tidak adil bagi film karena pasti akan dibanding-bandingkan dengan novel, padahal novel lebih bisa bercerita lebih detil dan mempermainkan imajinasi pembaca.

*sebelum lanjut, orang-orang yang hanya suka nonton film dan tidak suka membaca novel, tidak perlu mengikuti tulisan ini sampai habis, lho. Karena tulisan ini toh tidak melibatkan kepentingan kalian.*

Makanya, beberapa tahun terakhir, saya mengembangkan sebuah mindset baru. Malah bisa dibilang suatu gerakan baru, yaitu: Dahulukan Menonton Film Sebelum Membaca Novelnya! Saya sebut ‘gerakan’ karena saya berhasil mempengaruhi beberapa teman dalam mengikuti langkah saya ini, hehehe.

Kiat ini cukup berhasil. Saya tidak lagi judgmental dalam menilai suatu film yang diadaptasi dari novel, karena saya masuk ke dalam ruangan bioskop tanpa ada ekspektasi apa pun. Akhirnya, saya lebih bisa menikmati film tersebut, terlepas dari konsensus kritik yang menilai film tersebut bagus atau jelek. Terhitung dalam beberapa tahun terakhir, saya sangat menikmati Hugo (diadaptasi dari novel grafis The Adventure of Hugo Cabret), Warm Bodies (judul sama), The Hunger Games (judul sama), The Hobbit 1 dan 2 (judul sama, film ke-2 diberi judul Desolation of Smaug), dan favorit saya dalam 2 tahun terakhir: Extremely Loud and Incredibly Close. Judul terakhir malah membuat saya kepengen banget membaca novelnya, dan memang tidak mengecewakan. Extremely Loud pun menjadi salah satu novel favorit saya, padahal saya terlebih dulu dipuaskan oleh filmnya.

Untuk menambah panjang daftar, saya terpikat oleh The Perks of Being A Wallflower, yang film maupun bukunya dibuat oleh orang yang sama, yaitu Stephen Chbosky. Lalu ada Let The Right One In (versi aslinya yang buatan Swedia ya, bukan Let Me In buatan Hollywood) dan The Help. Terakhir, saya terpuaskan oleh karya-karya anak bangsa, yaitu 5 cm (saya tidak menyukai novelnya, jadi saya tidak selesai membacanya. Tapi saya terhibur banget oleh filmnya!), Negeri 5 Menara, dan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck.

Untuk yang masuk kategori mengecewakan, saya punya daftar Jack Reacher, Perahu Kertas dan The Mortal Instruments: City of Bones. Nah, bagusnya, dengan pembalikan mindset seperti ini, kita akan dapat keuntungan. Di mindset sebelumnya, jika novelnya mengecewakan, besar kemungkinan kita tidak akan mau nonton filmnya. Namun jika filmnya mengecewakan, selalu terbuka kesempatan untuk kita membaca bukunya. Apalagi jika filmnya sangat memuaskan, besar kemungkinan bukunya akan meningkatkan kepuasan kita dengan menyelami setiap detil cerita yang terlewat oleh filmnya.

Perubahan mindset ini cukup membantu saya meninggalkan debat klasik yang cenderung membosankan bahwa ‘mana yang lebih baik, novelnya atau bukunya?’ Terserah kalian mau mengikuti kiat saya ini atau tidak. 🙂

Selamat menonton dan membaca!

MP

Dibuang Sayang: Adegan dalam Rhapsody yang Kena Gunting Editor

Halo, semuanya! Pasti ada beberapa di antara kalian yang sudah membaca ‘Rhapsody‘. Nah, dari novel terbaru saya yang tebalnya 324 halaman itu, tentunya ada beberapa bagian yang tidak termasuk ke draft final. Termasuk adegan di bawah ini.

Adegan ini sedianya menjadi kelanjutan malam ulang tahun Bebi, dan pada saat Al menyadari Sari pergi diving ke Pulau Selayar bersama Miguel. Karena sayang jika dibuang, saya post adegan ini sebagai persembahan untuk para fans segenap hostel Makassar Paradise, terutama yang pengen baca pembicaraan-pembicaraan kocak antara Bebi dan Simon.

BZUuu_9CIAEPFax.jpg largeSelamat membaca! 🙂

Lesson of Life no.6:

Everybody loves a joker, but nobody likes a fool.

Pagi itu cerah, seperti hari-hari biasa di musim kemarau ini. Waktu menunjukkan pukul 10, tapi suhu sudah panas menyengat. Aku baru selesai mandi dan berpakaian untuk memulai tugas sehari-hariku menjadi resepsionis. Di meja resepsionis sudah ada Bebi melayani beberapa bule yang hendak check out.

Good morning, guys!’ sapaku ramah kepada tiga orang bule yang hendak check out itu. Mereka membalas sapaanku dan akhirnya aku menghabiskan sekitar satu menit berbasa-basi dengan mereka. Dua pria dan seorang wanita yang berasal dari Swedia ini ternyata tidak bisa ngobrol berlama-lama karena mereka harus mengejar flight mereka jam 12.

’11 o’clock? That’s one hour from now! You guys need to hurry!’

Cewek pirang yang berkulit pucat baru akan menjawab, tapi dipotong oleh perkataan Bebi.

‘Sudah mi saya telepong taksi, tapi sibuk semua taksi katanya.’

‘Yah, gimana dong?’ aku garuk-garuk kepala. ‘Waktunya mepet banget. Flight mereka tinggal sejam lagi. Padahal dari sini ke airport butuh sekitar empat puluh menit. Belum lagi check in dan nitip bagasi.’

Bebi mengangkat bahu. Ketiga turis Swedia itu hanya saing berpandangan. Dalam hati aku menyayangkan kurangnya sarana transportasi di Indonesia, termasuk di Makassar. Di kota manapun, belum terdapat transportasi praktis yang menghubungkan ke airport atau stasiun kereta. Padahal keberadaan transportasi semacam itu sangat penting bagi mobilitas wisatawan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke negara kita.

Akhirnya, aku memutuskan untuk berlari ke luar, guna menyetop taksi di jalan raya. Namun, semenit dua menit berlalu dan tidak satu pun taksi yang lewat. Aku melirik ke arah hostel. Ketiga warga Swedia itu terlihat gelisah.

‘Ojek, Bos?’

Aku tersentak kaget. Ternyata seorang pria berjaket kulit menghampiriku. Aku mengenalnya, dia adalah penarik ojek yang sering mangkal di warung kopi yang terletak beberapa rumah dari hostel.

Aku memutar otak. Mungkin aku bisa naik ojek ke sekitar kawasan MTC Karebosi atau Menara Bosowa untuk memanggil taksi di sana. Kedua tempat itu terletak di pusat kota yang sangat sibuk, sehingga pasti tidak susah menemukan taksi di sana.

‘Ke MTC Karebosi berapa, Daeng?’ tanyaku.

‘Sepuluh ribu, Bos!’

‘Idih, mahal kamma, Daeng!’ aku mencoba berbicara dengan dialek Makassar sebaik mungkin. Sesuatu yang sangat jarang kulakukan. ‘Padahal MTC Karebosi kan kelihatan dari sini.’

Si abang ojek itu menjawab cuek, ‘yah, Bos. Itu awan di atas juga kelihatan dari sini, Bos! Sepuluh ribu itu murah sekali mi, Bos!’

Aku langsung garuk-garuk kepala. Susah memang berdebat dengan logika raja jalanan.

‘Gimana, Bos? Jadi ndak?’

Aku menoleh. Si Abang Ojek ternyata sudah naik ke atas motornya. Aku menoleh lagi ke hostelku di seberang jalan. Ketiga orang Swedia hanya balas memandangiku dari balik pintu kaca. Salah satu dari mereka bolak-balik mengecek jam tangan. Tampak jelas mereka semakin gelisah.

Mendadak, sebuah ide cemerlang mampir ke otakku.

***

‘Iih, Al! Semoga ketiga orang Swedia itu sampai di airport tepat waktu. Kamaseang[1] ki kalo ketinggalang pesawat.’

Aku sudah duduk-duduk santai di balik meja resepsionis bersama Bebi. Aku melahap sebuah jalangkote[2] sebagai sarapan. Late breakfast, tepatnya. Mengingat ini sudah hampir jam 11 siang.

‘Pasti tepat waktu kok,’ kataku santai. ‘Yang gue kuatir hanyalah semoga tukang-tukang ojek itu nggak kebut-kebutan. Kasihan bule-bule itu. Jarak dari sini ke airport tanpa lewat tol itu hampir dua puluh kilometer. Kalau jaraknya jauh dan mereka harus berada di atas motor yang kencang, bisa-bisa mereka jantungan.’

Aku tersenyum-senyum sendiri membayangkannya. Jadi, pada akhirnya tadi aku menyuruh si tukang ojek untuk memanggil dua orang temannya sesama penarik ojek. Daripada ketiga bule Swedia itu ketinggalan pesawat, akhirnya aku menyarankan kepada mereka untuk menumpang ojek sampai airport. Keputusan itu pasti akan lebih menghemat banyak waktu.

‘Kalo tiga bule itu ndak mau lagi kembali ke Indonesia, itu salahmu,’ kata Bebi lagi. ‘Pasti karena mereka kapok dibonceng naik ojek kebut-kebutang kayak dikejar setang.’

‘Ah, santai aja! Bule justru suka tantangan!’

‘Aih tantangang apa anjo[3]! Dibonceng naik motor baku balap-balap sama truk gandeng di jalan raya? Paka dumba’-dumba’ na[4]!’

Aku hanya tertawa mendengar gerutuan Bebi. Setidaknya, pagi ini dia kelihatan segar. Tidak ada tanda-tanda hangover dari maboknya tadi malam. Namun, untuk memastikan, aku bertanya padanya, ‘gimana kepala lo? Pusing nggak?’

‘Iyo, masih pusin. Ta’putar-putar ini dunia sa lihat. Seperti dikocok-kocok isi kepalaku.’

‘Udah, yang penting jadi artis, terkenal di kalangan bule-bule.’

Pintu hostel terbuka. Simon melangkah masuk. Tampang bocah chubby itu terlihat cerah. Aku menebak, pasti disebabkan oleh beberapa jilid komik One Piece terbaru yang berada di dalam genggamannya.

‘Selamat pagi, semuanya! Simon pikir hari ini sangat cerah, tidakkah kalian berpikir seperti itu?’

‘Apa tong kau, battala’![5]’ sindir Bebi. Aku langsung tergelak melihat tingkah keduanya.

‘Ih, Nona Bebi, kok marah-marah, sih? Marah-marah itu nggak baik, you know? Cepat tua kamu nantinya.’

‘Ededeh, ndak bisa ko bicara seperti manusia normal kah?’

Tawaku semakin keras. ‘Look who’s talking!’

Simon menarik sebuah kursi lalu duduk di samping Bebi. ‘Tau deh, tadi malam yang have a good time. A good birthday party, was it not? Ngabisin lima botol vodka? Kamu masih hangover sekarang, aku bisa pastiin.’

‘Duuh! Jauh-jauh ko deh, battala’! Bumi sudah panas kau datang lagi dekat-dekat. Tambah panas mi saya rasa!’

‘Yaa, apa gunanya AC? Dinyalain dong!’

‘Eh, sudah-sudah!’ aku melerai pertengkaran konyol itu. ‘Malu kalo ada guest dan kalian bertengkar kayak kucing sama anjing.’

Aku sudah selesai menyantap sarapanku. Setelah menghabiskan segelas susu, aku menyadari sesuatu.

‘Eh, Miguel mana ya? Kok nggak kelihatan?’

Simon hanya angkat bahu, pertanda dia tidak tahu. Wajar sih, karena dia baru datang. Aku berpaling ke Bebi. Anak itu hanya diam.

‘Beb, lo liat Miguel nggak?’

Perlahan, dia menjawab, ‘emm… katanya sih, pagi ini dia ke Selayar.’

‘Selayar? Ngapain? Untuk berapa hari?’

‘Katanya mau diving. Nginap di sana tiga hari.’

‘Oh gitu. Ya sudah. Aneh juga karena dia nggak ngomong sebelumnya sama gue.’ Tiba-tiba aku menyadari sesuatu. ‘Eh ya, Sari kan juga mau diving di Selayar hari ini. Selama tiga hari juga.’

Hening sebentar. Lalu, dengan nada bicara sangat hati-hati, Bebi menjawab.

‘Emm.. mereka memang berangkat berdua. Tadi pagi.’

***

Keterangan dialog bahasa daerah:


[1] Kasihan

[2] Kue pastel khas Makassar

[3] Tantangan macam apa itu

[4] Bikin tegang aja

[5] Ngomong apa sih, gendut?