Wiljan Pluim, dari Belanda ke Indonesia Lewat Vietnam

WILJAN PLUIM, DARI BELANDA KE INDONESIA LEWAT VIETNAM

(Update: ini menjadi postingan paling banyak dibaca sepanjang sejarah blog saya ini. Hingga Juni 2017, postingan ini dibaca sudah lebih 7000 kali. Besar kemungkinan ini berkaitan dengan meroketnya pamor Wiljan Pluim di liga Indonesia)

(Baca juga interview langsung saya dengan Pluim di website Football Tribe )

(Artikel di bawah ini juga pernah di muat di website Fandom Indonesia)

Akhir-akhir ini, ada sebuah nama yang menjadi buah bibir para pendukung PSM Makassar. Dia adalah playmaker berusia 27 tahun bernama Wiljan Pluim (baca: Wi-li-an Plo-em).

Pada akhir putaran pertama Liga Indonesia Torabika Soccer Championship (TSC), PSM Makassar masih terdampar di papan bawah klasemen. Namun setelah bergabungnya Robert Rene Alberts (RRA) sebagai pelatih kepala, prestasi klub berusia 101 tahun ini perlahan-lahan membaik. Hingga pekan ke-30, Ardan Aras dan kawan-kawan kini sanggup bersaing di papan atas, tepatnya posisi lima klasemen sementara.

Perubahan drastis PSM tak lepas dari efek bagus bergabungnya Pluim. Pemain tengah asal Belanda ini sudah bergabung ketika RRA mengambil alih kursi kepelatihan, tapi baru bisa dimainkan di putaran kedua kompetisi. Selama sekitar 12 pertandingan, Pluim sudah mencetak 3 gol, yaitu sebuah gol indah ke gawang Barito Putra dan PS TNI serta gol penentu kemenangan di injury time melawan Madura United. Selain 3 gol tersebut, ia juga sudah mencetak 4 assist di semua pertandingan yang dilakoniknya bersama PSM (total 11 pertandingan per 28 November 2016). Continue reading

Advertisements

The Perks of Being A Lecturer

“Kamu sadar kan, kalau dengan berkarir sebagai dosen, penghasilan kamu akan jauh di bawah kalau kamu kerja di corporate?”

Saya mengangguk mendengar pertanyaan itu. Ya, mau gimana lagi? Itu kan sudah fenomena umum di Indonesia. Bapak yang meng-interview saya kayaknya masih belum puas.

“Sebagai lulusan S2 dari luar negeri, kenapa memangnya kamu ingin jadi dosen?” Continue reading

Not Easy Being A TV Pundit

Pengen banget deh jadi komentator sepak bola. Tinggal datang, terus cuap-cuap soal bola. Dapat duit. Enak banget.’

Itu anggapan saya sewaktu kecil setiap kali melihat para komentator sepak bola di stasiun-stasiun televisi Indonesia. Memang terlihat menyenangkan, datang ke studio memakai jas, lalu ngoceh tentang sepak bola selama sejam-dua jam. Dapat duit lalu terkenal. What a life.

Namun, saya tak menduga ketika hari saya diundang ke televisi untuk berkomentar tentang sepak bola tiba, anggapan saya di atas langsung berubah.

Ceritanya, pada tanggal 12 Desember 2014 lalu saya diundang stasiun televisi Berita Satu sebagai narasumber di program Football Insight. Teman sekaligus editor saya di Bola Total, Ekky, lebih dulu diundang ke acara tersebut dan merekomendasikan saya kepada tim kreatif Berita Satu.

IMG_20141213_174242

Pada pukul 11 malam pada hari itu, saya pun mengisi acara tersebut bersama narasumber lain, Mas Edi dan host acara tersebut, Ahmad Murodi (Dody). Di situlah, saya merasa bahwa jadi komentator (atau istilah kekiniannya: pandit) itu tidaklah gampang. Saya terkadang bingung dan nge-blank sendiri ketika berhadapan dengan kamera. Padahal, berbicara tentang sepak bola di depan kamera sudah sering saya lakukan di podcast Bola Total.

Pelajaran berharga justru ditunjukkan Mas Edi, yang mempersenjatai dirinya dengan secarik kertas berupa data-data sepak bola up-to-date baik tentang sepak bola Italia, Spanyol maupun Inggris. Background beliau sebagai wartawan senior di tabloid Soccer sangat mendukung. Saya bisa berkilah bahwa beberapa jam sebelumnya saya masih kerja di kantor dan menempuh perjalanan 3 jam Bandung-Jakarta sebelum sampai ke studio, sehingga tidak sempat melakukan riset sebelum syuting. Namun intinya, pada malam itu saya langsung punya pendapat baru bahwa jadi komentator itu bukanlah pekerjaan gampang!

IMG-20141218-WA0007

Anyway, mudah-mudahan Berita Satu (dan juga stasiun-stasiun televisi lainnya) tidak kapok mengundang saya sebagai pandit. At least, saya sudah survive satu jam pertama saya di depan kamera untuk sebuah acara yang disiarkan live, hehehe.

Luciano dan Hotelnya

Saya pernah nulis artikel tentang mantan pemain sepak bola Indonesia, Luciano Leandro, yang menjalankan bisnis hotel di Rio de Janeiro, Brazil. Ini dia artikelnya:

Ada yang pernah membaca novel sejarah-romantis karangan penulis terkenal asal Turki bernama Orhan Pamuk? Judulnya adalah The Museum of Innocence. Novel ini merupakan salah satu cerita fiksi favorit saya.

Berlatar belakang Turki di pertengahan abad ke-20, alkisah seorang lelaki bernama Kemal terlibat cinta terlarang dengan seorang gadis remaja bernama Fusun. Berbagai konflik sosial di Turki kala itu membuat cinta mereka akhirnya kandas, terutama karena Kemal harus menikah dengan wanita lain. Pada akhirnya, Kemal tidak pernah bisa melepaskan semua kenangan tentang Fusun dari hidupnya.

Maka, semua obsesi terhadap Fusun dituangkan Kemal ke sebuah bangunan yang dibuatnya khusus untuk mengenang wanita itu. Bangunan tersebut diisinya dengan segala pernak-pernik yang berhubungan dengan diri wanita yang sangat dicintainya itu. Dari pakaian Fusun, hingga detil-detil kecil seperti puntung-puntung rokok yang pernah diisap gadis itu dikumpulkan dan diawetkannya. Semua diarsipkan secara rapi dalam bangunan yang disebutnya ‘Museum of Innocence’.

Menariknya, bangunan ‘Museum of Innocence’ sendiri ternyata benar-benar ada di kehidupan nyata. Seperti halnya cerita di novelnya, bangunan ini benar-benar berlokasi di sebuah sudut kota Istanbul yang kumuh. Rakyat Turki sendiri menganggap bahwa Masumiyet Muzesi alias ‘Museum of Innocence’ sebenarnya merupakan pengejawantahan obsesi sebenarnya dari sang penulis, Orhan Pamuk, terhadap seorang wanita yang menjadi cinta terlarangnya. Apakah sosok Fusun benar ada atau tidak, hanya Tuhan dan penulis peraih Nobel Prize di bidang sastra itu yang tahu.

Nah, siapa yang menyangka bahwa suatu cerita dari dunia sepak bola ternyata benar-benar terjadi, dan mirip dengan Museum of Innocence. Cerita yang satu ini sebenarnya cerita lama, dan bukan lagi berita aneh bagi para penggila sepak bola nasional. Terutama para supporter fanatik PSM Makassar.

Ini tentang Luciano Leandro. Pemain asing asal Brasil yang sangat populer di akhir 1990-an dan awal 2000-an. Playmaker jenius ini menjadi kesayangan publik Makassar ketika menjadi runner-up Liga Indonesia ke-2 di tahun 1996. Saat itu ia bahu-membahu dengan rekan senegaranya yang sekarang jadi pelatih handal di Persipura, Jacksen F. Tiago.

Bersama PSM, Luciano mempersembahkan begitu banyak bagi tim Juku Eja. Luci, panggilan akrabnya, juga pernah memperkuat PSM di ajang Piala Champions Asia. Suporter PSM tidak akan pernah lupa akan penampilan uniknya dengan kuncir yang khas. Etos kerja dan tingkah lakunya yang selalu positif pun membuatnya menjadi pujaan suporter.

Luci akhirnya pindah ke Persija Jakarta, tapi ternyata cintanya pada kota Makassar sangat membekas. Atmosfer Stadion Mattoanging tidak pernah dilupakannya. Keramahan para penduduk kota Makassar juga selalu membuatnya merasa seperti di rumah sendiri. Apalagi, Makassar adalah kota tempat cintanya dengan istrinya, Denise, tumbuh dan berkembang. Hubungan keduanya pun menghasilkan seorang putri bernama Yasmin, yang juga lahir di ibukota Sulawesi Selatan tersebut.

Setelah memutuskan untuk gantung sepatu dan pulang ke kampung halamannya di Brasil, Luci memanfaatkan hasil tabungannya dari bermain sepak bola dengan membuka bisnis berupa sebuah hotel. Uniknya, hotel yang terletak di bilangan Araujo Macae, Rio de Janeiro tersebut diberinya nama ‘Hotel Makassar’.

Dari hasil wawancaranya dengan beberapa media ketika datang kembali ke Indonesia beberapa tahun lalu, Luci mengaku bahwa hotel yang dibangunnya pada tahun 2004 itu memang merupakan semacam memento untuk mengingatkannya pada kehidupan menyenangkan yang dialaminya semasa bermain di Indonesia. Menurut penuturan pria itu, hotel tersebut didesainnya lengkap dengan segala sesuatu berbau Makassar. Tidak hanya nama hotel, nama-nama ruangan dan kamar pun memakai istilah-istilah khas Sulawesi. Di restorannya juga tersedia beberapa hidangan khas Makassar. Tidak lupa sebuah peta Makassar terpajang di pintu masuk agar tamu langsung mengetahui asal-usul nama hotel yang sama sekali tidak berbau Brasil.

Inside Hotel Makassar
Lalu, seperti halnya Orhan Pamuk dan karakter Kemal di cerita Museum of Innocence, Luciano Leandro memajang kenangan-kenangan masa lalunya di hotel tersebut. Berbagai foto lama dari masa kejayaannya di Liga Indonesia terpajang rapi di dalam ruangan-ruangan hotel. Luci pastinya selalu ingin mengenang bahwa meskipun terpisah jauh oleh samudera, namun negara yang awalnya sama sekali asing baginya itu akhirnya menjadi rumah kedua yang berkesan baginya.

Di negara itu juga, ia pernah dicintai oleh masyarakat berkat sepak bola. Sebagai balasan untuk menunjukkan rasa cinta, Hotel Makassar akhirnya menjadi ‘Museum of Innocence’-nya terhadap negara bernama Indonesia tersebut.

Kisah Luciano Leandro ini sebagai pengingat bahwa sepak bola negara kita pernah menjadi surga bagi para pemain asing. Saatnya kita bersatu untuk mengembalikan kejayaan itu.

Artikel itu dimuat di http://www.footballfandom.net pada tahun 2013. Setahun kemudian, tanpa saya duga, saya menemukan nama Luciano di Facebook. Saya sempat ragu apakah pemilik akun merupakan Luciano asli, tapi akhirnya saya semakin yakin karena foto-fotonya kebanyakan foto-foto di Brazil. Sebuah album foto juga memperlihatkan situasi Hotel Makassar miliknya.

Maka, saya memberanikan diri memposting link artikel saya dan menulis pesan kepadanya. Saya mencoba mempergunakan bahasa Portugis yang saya peroleh dari Google Translate, isinya begini:

‘Luciano, silakan baca artikel saya tentang hotel kamu di salah satu website di Indonesia. Semoga sukses selalu!’

Beberapa jam kemudian, Luciano membalas dengan bahasa Indonesia:

‘Mahir, saya sudah membacanya. Beberapa rekan di Indonesia memberi linknya kepada saya. Terima kasih telah menulis tentang hotel saya. Sukses juga buat kamu.’

Membaca pesan itu membuat hati saya hangat. Tujuh belas tahun lalu, saya adalah seorang anak kecil yang menyaksikan aksi Luciano di lapangan dengan mata berbinar-binar.

P.S: Jika berkunjung ke Rio de Janeiro, warga Indonesia gratis menginap di Hotel Makassar milik Luciano.

Lengkap Bertuju(H)!

Pada hari Sabtu, 26 Januari 2013, geng penulis buku kompilasi cerita Menuju(H) kembali mengadakan talkshow. Kali ini di Toko Buku Gramedia Istana Plaza, Bandung.

Ini adalah talkshow pertama ketujuh penulis lengkap. Selama ini promo buku tersebut memang belum pernah komplit karena salah seorang penulisnya tinggal di luar negeri. Siapa lagi kalau bukan… saya sendiri! :p

Tapi, di Istana Plaza waktu itu, kebersamaan benar-benar terasa, dan hari menjadi semakin spesial karena segenap karyawan toko buku bela-belain bikin flashmob diiringi lagu Gangnam Style demi menyambut kami. Thanks banget, guys, seluruh kru Gramedia Istana Plaza! 🙂

Anyway, seminggu setelah talkshow tersebut, saya harus kembali ke Swiss untuk melanjutkan kuliah. Tapi, hari tersebut benar-benar hari yang menyenangkan. Bahkan bisa menjadi salah satu cerita di Menuju(H) juga, hehehe.

Akhirnya geng Menuju(H) komplit!

ImageImage

*foto-foto dari website-nya Dea, http://www.salamatahari.com

 

Enam Plus Satu di Sepuluh, Sebelas, Dua Belas

10/11/12.

Di tanggal cantik yang juga diperingati masyarakat Indonesia sebagai Hari Pahlawan ini, buku kumpulan cerita ‘Menuju(H)’ akhirnya launching juga. Tempatnya di kafe buku 7-Heaven yang cozy bin gaul di Bandung. Pada hari Minggu yang (tadinya) cerah itu, para pecinta buku dan penggemar kata berkumpul di tempat tersebut untuk berbagi cerita dengan ketujuh penulis Menujuh.

Keenam teman saya, Aan Syafrani, Iru Irawan, Sundea, Theoresia Rumthe, Maradilla Syachridar dan Valiant Budi, semuanya hadir di tempat itu sejak jam 3 sore. Sayangnya, karena masih di Swiss, saya tidak bisa hadir. Sebagai jalan keluar untuk menyelipkan sedikit kehadiran saya, akhirnya teman-teman berencana mengadakan semacam video call dengan Skype. Dengan begitu kehadiran saya bisa dilihat di kamera komputer yang ditampilkan di sebuah layar putih, lengkap dengan suara yang keluar dari speaker.

(photo by Wulandari Setiawan – GagasMedia)

Jadi, saya bisa merasakan kehadiran saya di antara pengunjung yang setia memadati acara launching buku tersebut. Sayang, konon pada sore hari, Bandung tiba-tiba diguyur hujan lebat sehingga sambungan saya melalui Skype pun harus diakhiri. Meski demikian, setelah hujan berhenti, acara launching pun dilanjutkan lagi dan diakhiri dengan book-signing oleh para penulis. Tentunya, saya tidak bisa ikut book-signing karena tidak hadir di sana.

Namun bagaimanapun juga, it was a great day! Cukup menyenangkan rasanya bisa terlibat di launching buku sendiri meskipun terpisah jarak ribuan kilometer.

Ah, spirit menujuh memang luar biasa. Kini, hari demi hari saya serasa tidak berhenti bercerita.

MP

Launching Menujuh, Bandung, 10.11.12

Datang ya, ke launching buku kumpulan cerita ‘Menuju(H)’ ini! Penyelenggaraannya akan diadakan di tempat yang mengusung nama hampir mirip: Seven Heaven (ada ‘tujuh’-nya juga, hehehe).

Semua penulis, plus sang ilustrator akan hadir di acara tersebut. Sayang, berhubung saya masih di Swiss, saya tidak akan bisa hadir secara fisik. Meski demikian, ada rencana untuk menghadirkan saya lewat Skype. I’m so excited!

Catat tanggalnya, 10 November 2012 (10 – 11 – 12)!