‘APA LIAT-LIAT?’

Saya sebenarnya jarang sekali menulis cerita pendek. Namun, kali ini saya ingin share cerita yang saya tulis secara spontan berdasarkan pengalaman pribadi teman-teman saya. Enjoy! Continue reading

Advertisements

Untuk Miss Atomic Bomb, dari Mister Brightside.

Februari.

Kata orang ini bulan penuh cinta. Harusnya ada juga bulan penuh benci, dong? Kan segala sesuatu di dunia ini harus seimbang? Ah sudahlah.

Anyway, surat ini tertuju untuk Miss Atomic Bomb.

You’re gonna miss me when I’m gone…. *yah malah nyanyi*

Okay, here we go,

Dia mendambakanmu, menganggap sosokmu penuh dengan segala wife material yang diinginkannya sebagai pendamping hidupnya di masa depan.

Kau menyukai anak-anak, makanya dia menganggapmu sangat keibuan. Jika anak-anak kecil berada di sekelilingmu, senyumanmu menyatu dengan senyuman mereka. Dia menganggapmu Wendy yang bermain bersama anak-anak dari Wonderland Eh, apa itu Neverland, ya? Atau pabrik coklat Willy Wonka? Ah, peduli amat. Masa kecilku memang tidak bahagia.

Intinya, di imajinasi pria itu, dirimu telah menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya. Anak-anakmu. Anak-anak kalian. Dengan rumah yang besar dipenuhi pepohonan rindang, dengan si sulung dan kelima adiknya sedang bermain petak umpet di balik saung-saung yang menghiasi pekarangan rumah kalian. Hey, ada berapa sebenarnya anak kalian? Ah sudahlah, itu kan imajinasi dia saja. Biar dia saja yang menjelaskan mau punya berapa orang anak dari kamu.

Setiap kali kau dan dia menghadiri acara pernikahan, orang-orang di sekelilingmu pun membantu menggoreskan tinta di kertas naskah imajinasimu. “Kapan kalian menyusul?” “Doakan saja segera, Tante.” Ia pun segera melirik ke arahmu, tapi kamu hanya tersenyum penuh arti. Hatinya pun terasa hangat, dipenuhi dengan harapan-harapan bahwa semakin banyak acara kondangan yang kalian berdua datangi, semakin banyak yang mendoakan agar hubungan kalian berlanjut ke jenjang yang sama.

It feels just like a dagger buried deep in your back
You run for cover but you can’t escape the second attack

Dia mencintai segalanya dari dirimu. Ia selalu mengagumi rambut panjangmu, baik tergerai lurus maupun dikuncir. Ia merasa agak kecewa ketika kau memotongnya sependek model rambut Miley Cyrus, meski kemudian merasa kecantikanmu tak akan bisa dibingkai oleh model rambut apapun. Ia pun berusaha menyukai kulitmu yang lambat laun semakin gelap. Meskipun sebenarnya ia sangat berharap kulitmu akan kembali berubah menjadi kuning langsat seperti ketika ia pertama kali menyukaimu.

Cast out of the night, well you’ve got a foolish heart
So you took your place but the fall from grace was the hardest part

Makanya aku sangat membencinya. Aku membenci lelaki itu.

Dia pikir dia adalah orang yang paling mengagumimu apa adanya. Salah. Aku mencintaimu melebihi siapapun di dunia ini pernah mencintaimu. Darahku yang berdesir setiap kali melihat kulitmu menggelap setiap kali kau telah pulang dari suatu perjalanan. Entah bagian mana lagi dari nusantara ini yang telah kau jelajahi. Hanya lelaki itu saja yang kau kabari, meskipun ia tidak pernah mengerti maksud perjalananmu. Kau wanita penganut prinsip, “high mileage low maintenance”. Tak peduli kehilangan kulit indah kuning langsat yang pernah membuatmu jadi pujaan cowok-cowok di kampus. Kau juga rela memotong rambut panjang yang lebih indah dari rambutnya Annisa Pohan sewaktu masih lajang dan menggantinya dengan model pendek ala Miley Cyrus. Rambut panjang hanya akan menghambatmu dalam perjalanan-perjalananmu ke daerah-daerah lembap dan panas.

Lelaki itu tak pernah mengerti maksud perjalananmu ke pelosok-pelosok negeri kepulauan ini. Ia tak pernah mengerti puluhan pegunungan yang kau daki dan lautan yang kau selami demi menemukan kehidupan ideal yang menyatu dengan alam. Andai saja ia tahu bahwa kehangatanmu setiap kali berada di sekeliling anak-anak adalah buah dari gerakan sukarelawan yang telah kau geluti di desa-desa terpencil di Indonesia bagian timur. Di sana, belasan, mungkin puluhan anak telah kau giring ke bangunan sekolah dan kau ajar menyelam di lautan aksara, sehingga akhirnya mereka terbebas dari buta huruf.

Lelaki itu tidak pernah mengerti bahwa dirinya tidak lagi berada di rencana masa depanmu…

Memang keputusan yang tepat bagimu untuk meninggalkan dia.

Ketika ia telah resmi keluar dari kehidupanmu, terasa seperti ada pesta kembang api di dalam hatiku.

Kali ini sudah saatnya bagiku untuk masuk ke dalam kehidupanmu.

…dan berusaha menyamakan frekuensi mimpi-mimpiku dengan mimpi-mimpimu.

I was new in town, the boy with the eager eyes.

Open up my eager eyes

I’m Mr. Brightside.

*inspirasi iseng menjodohkan Mister Brightside dengan Miss Atomic Bomb ini datang dari lagu-lagu yang telah dipopulerkan oleh band The Killers, tentu saja*

GOOD MINDS THINK ALIKE

Ini postingan lama yang sudah lebih dulu dimuat di blog saya yang lama. Tapi saya rasa menarik dan relevan bagi siapapun yang suka menulis. Check it out!

On July 9th, 2011, I was invited to a writing workshop at CLC, Bandung as a speaker. Although it was a small group of people, but everyone was active and ecstatic. Then we tried something new and different. We wrote things in our minds in a small piece of paper then we handed the paper to the friends next to us. They went around in circle until became several flash-fiction stories.

The results? They were awesome!

Siapa yang mengira dari pikiran yang berbeda-beda, ternyata bisa terbentuk cerita-cerita menarik. Padahal, satu orang hanya kebagian menulis tidak lebih dari satu kalimat. Meskipun hasilnya berupa bentuk prosa singkat yang lebih menyerupai flash-fiction, tapi ini merupakan hal baru yang menarik bagi saya. Berikut ini tiga di antaranya:

1.

Pagi ini, aku bangun tidur dan melihat dunia terasa lebih indah. Tidak seperti pagi dulu yang membuat enggan terbangun dan merasa. Pagi ini, semua terasa berbeda—benarkah ini masih pagi? Saat kuraih jam weker dari tempat tidurku, tampak jarum jam menunjukkan pukul tujuh.  Kucubit lenganku sendiri dan sakit sekali rasanya. Bergegeas aku ke kamar mandi, tapi—betulkah ini masih pagi? Satu yang kupahami, pagi selalu menyisakan rindu. Rindu pada aroma kopi dan nafasmu, serta matahari di dahimu. Serta, rindu pada jati diriku yang sesungguhnya.

2.

Saya adalah seorang penyanyi mimpi, berlayar ke Samudera Hindia. Berlayar dengan hanya berbekal sekantung harapan dan pria berkumis tebal. Awalnya, kumulai mimpiku dengan menjadi seorang pengamen waria jalanan. Ini mungkin bukanlah suatu profesi impian, tapi bukankah Iwan Fals juga dulunya seorang pengamen? Ah, saya tidak tahu karena saya tidak mengenal dia. Kunci G akan membuka laguku hari ini, yang kumainkan dengan berputar-putar seperti benang kusut. Ternyata, kunci G terlalu sulit. Akhirnya kuurungkan niat menjadi pengamen profesional yang memainkan not lagu. Kupilih sebuah bas betot untuk menjadi sahabat karibku. Akhirnya, sekarang aku terkenal sebagai seorang ahli pembetot bas dari Samudera Hindia.

3.

Aku adalah talenta. Dunia sangat bersyukur aku hadir di dalamnya. Kecuali ibuku. Kurasa baginya, aku adalah kutukan. Kata Tuhan, aku anugerah, tetapi ibuku menganggapku sampah. Makanya, sehari-hari aku bergaul dengan sampah masyarakat lainnya. Kami semua seperti sampah non-organik yang tak bisa hilang begitu saja, meski orang-orang membuang kami secara sembarangan. Kami adalah sampah yang tidak berbau busuk dan tidak berlendir. Kuharap ada orang yang bisa mendaur ulang diri kami agar kami bisa dipergunakan untuk kehidupan.

Writing is awesome! 🙂