[Movie Review] CAPTAIN FANTASTIC

[Movie Review] CAPTAIN FANTASTIC

Hal terbaik tentang karya indie adalah kita sebagai penikmat bisa dibuat terkejut, karena menemukan hal-hal yang berbeda dari karya-karya mainstream. Dalam film, saya sudah sering dibuat terpukau oleh ide-ide brilian yang ditawarkan oleh film-film indie. Cerita tentang menghapus seseorang dari ingatan (Eternal Sunshine of the Spotless Mind) atau kisah cinta seorang pria antisosial dengan program komputer (Her) mungkin tak akan laris terjual di pasar mainstream, tapi sukses menjadi film-film legendaris di ranah indie.

Baru-baru ini, saya kembali dibuat terkesan oleh sebuah judul indie. ‘Captain Fantastic’ yang dibintangi Viggo Mortensen (pemeran Aragorn dalam trilogi Lord of the Rings) adalah film terbaik pada tahun 2016 menurut saya, dan saya tak perlu menunggu tahun 2016 berakhir untuk memastikannya. Selain akting Mortensen dan pemain-pemainnya yang memukau, ‘Captain Fantastic’ dari awal sudah menawarkan premis yang berbeda dari film-film lain. Continue reading

Advertisements

The Perks of Being A Lecturer

“Kamu sadar kan, kalau dengan berkarir sebagai dosen, penghasilan kamu akan jauh di bawah kalau kamu kerja di corporate?”

Saya mengangguk mendengar pertanyaan itu. Ya, mau gimana lagi? Itu kan sudah fenomena umum di Indonesia. Bapak yang meng-interview saya kayaknya masih belum puas.

“Sebagai lulusan S2 dari luar negeri, kenapa memangnya kamu ingin jadi dosen?” Continue reading

My Fav TV Serials

Saya menyadari sesuatu akhir-akhir ini. Ternyata untuk urusan nonton serial TV, selera saya berbeda dengan orang-orang kebanyakan!

Bukannya sok anti-mainstream, tapi lihat saja fakta berikut ini. Beberapa serial TV terkenal yang digemari orang-orang kebanyakan gagal memuaskan saya. Mencoba mengikuti 2 episode, saya menyerah dan memutuskan tidak akan lanjut menonton Breaking Bad. Untuk Game of Thrones lebih bagus, saya bertahan 4 episode sampai akhirnya tidak melanjutkannya. Entah, apakah yang mengganggu saya adalah mindset tidak ingin ikut selera kebanyakan, atau memang alur cerita serial-serial itu yang gagal memikat saya.

Padahal, kedua serial itu adalah serial-serial dengan rating tertinggi di imdb.com, plus berbagai penghargaan untuk tayangan layar kaca di Amerika Serikat sana. Serial dengan rating tinggi yang cukup membuat saya betah menyaksikan sampai akhir season 3 hanyalah Sherlock (versi BBC), itu pun saya nggak ngefans-ngefans amat. Lagipula, adaptasi Sherlock Holmes ke zaman modern ini hanya terdiri dari (total) 9 episode, dengan rincian 3 episode tiap season. Makanya saya nggak kewalahan mengikutinya.

Saya juga malas mengikuti serial-serial sitcom seperti How I Met Your Mother, The Big Bang Theory, Friends, dan lain-lain. Minat saya masih di action, thriller atau petualangan. Beberapa yang sempat saya ikuti semasa kuliah adalah Prison Break, Lost, Heroes, Smallville, Alias, The Walking Dead, Arrow, Sons of Anarchy, dan Bates Motel. Namun, tidak satu pun yang membuat saya menjadi fan fanatik serial-serial tersebut.

Top 4 serial yang saya gemari dan tidak boleh saya lewatkan adalah:

  1. 24

Sejak zaman kuliah, saya sudah mengikuti sepak terjang agen anti-teroris yang akhirnya menjadi anti-pemerintah, Jack Bauer (Kiefer Sutherland). Sekarang, 24 sudah memasuki season ke-9, dan seting yang tadinya di Amerika Serikat kini pindah ke London (khusus season 9, 24: Live Another Day). Saya ngefans banget dengan serial action ini karena selain adegan-adegan actionnya yang tidak pernah setengah-setengah (malah tergolong sangat spektakuler untuk ukuran tayangan TV), konsep real-time-nya (satu adegan disamakan dengan satu jam di dalam episodenya) juga menambah ketegangan.

Screen_Shot_2014-02-02_at_9.44.38_PM_large_verge_super_wide

  1. The Following

Banyak kritikus di luar sana yang mencibir serial ini karena dianggap mengada-ada dan mengagung-agungkan kekerasan. Namun, meski dipenuhi adegan pembunuhan yang terkadang sangat gory dan sadis, anehnya The Following (dan juga 24) masih menjaga kesopanan dalam dialog. Kata-kata sumpah serapah yang explicitly rude seperti the F-word tidak akan pernah didengar. Adegan-adegan dewasa dan display aurat juga cukup dijaga untuk dipertontonkan. Bandingkan dengan Breaking Bad yang penuh sumpah serapah dan Game of Thrones yang sudah seperti film semi itu.

Anyway, saya jatuh cinta pada The Following karena faktor Kevin Williamson sebagai kreatornya. Saya menyukai konsep brilian untuk film thriller yang diciptakannya di trilogy Scream, yang akhirnya dilanjutkannya di The Following. Di serial yang menampilkan actor super-cool Kevin Bacon sebagai peran utamanya ini, Williamson mulai dengan konsep sederhana tapi cukup wicked, yaitu pembunuh berantai yang membuat komunitas cult yang mengajarkan pembunuhan. Season 1 serial ini membawa banyak referensi dari puisi-puisi dark karya Edward Allan Poe sebagai referensi. Bring it on!

The-Following-11

  1. Elementary

Ketika masyarakat dunia tergila-gila dengan adaptasi Sherlock yang diperankan secara sempurna oleh duet Inggris, Benedict Cumberbatch dan Martin Sheen, saya justru menemukan keasikan di adaptasi Amerika sang detektif ternama. Elementary adalah kisah Sherlock Holmes yang berseting di New York, dengan actor Trainspotting, Jonny Lee Miller sebagai Holmes. Uniknya, karakter sidekick John Watson dijadikan wanita dengan Lucy Liu sebagai pemerannya.

Saya mengakui, Elementary kurang megah dan terlihat kurang ‘mahal’ dibandingkan Sherlock. Namun, saya menyukai kesederhanaan kisah-kisah yang diusungnya di tiap episode. Dua season pertama yang masing-masing terdiri dari 24 episode semuanya menampilkan kisah-kisah kriminal (umumnya pembunuhan) yang menantang kecerdasan Sherlock Holmes untuk memecahkan. Di sinilah bagian yang saya suka, menebak-nebak pelaku kejahatan, alibi palsu yang dipakai sebagai kedok dan modus kejahatan yang seringkali realistis dan menantang intelegensi. Rasanya seperti kembali ke masa kecil dan membaca komik Detektif Conan.

Jonny+Lee+Miller+Lucy+Liu+Films+Jonny+Lee+j7F2FV0SgXzl

  1. American Horror Story

Ada sesuatu yang special di antara saya dan horor-horor Amerika. Yes, memang benar, kisah horor Amerika tidak seram, dibandingkan kisah-kisah hantu yang lebih dekat dengan kultur kita seperti Jepang atau Thailand. Namun, saya suka penggambaran horor Amerika yang seringkali dihubungkan dengan logika atau ilmu pengetahuan, seperti yang tergambar dalam film-film layar lebar Insidious 1&2, The Sixth Sense, The Conjuring, atau Sinister.

American Horror Story sendiri sebenarnya tak lebih dari melodrama yang menggunakan seting dan plot horor. Bagusnya, ceritanya akan berbeda setiap season. Season 1 (Murder House) bercerita tentang sebuah keluarga disfungsi yang baru pindah ke sebuah rumah berhantu. Favorit saya adalah season 2 (Asylum) yang berseting di sebuah rumah sakit jiwa, dan memadukan semua elemen horor klasik, dari UFO, exorcism (pengusiran setan), rumah sakit jiwa berhantu dan pembunuh berantai. Season 3 (Coven) adalah season yang paling saya tidak suka, karena pemilihan plot yang usang dan tidak menarik (seputar sekolah sihir).

Meski demikian, para creator serial ini (yang juga menggagas serial Glee, would you believe it?) telah menjanjikan season 4 yang akan lebih ‘menggigit’. That’s why I cannot wait!

tkdesigning-AmericanHorrorStory1

RIP Robin Williams

Dalam suatu tahap dalam kehidupan, kita akan menghadapi saat-saat yang lebih buruk daripada kematian kita sendiri, yaitu kematian orang-orang yang kita sayangi. Di usia saya yang sudah menginjak penghujung usia 20-an, saya masih tergolong beruntung. Kedua orangtua saya masih lengkap dan masih sehat walafiat. Saya juga bersyukur nenek saya tercinta masih hidup meski kesehatan beliau sudah jauh menurun. Meski demikian, kenyataan bahwa masih ada sosok fisik beliau untuk memeluk dan mencium saya cukup menyenangkan dan menenangkan.

Namun, seiring dengan tumbuhnya saya menjadi semakin dewasa, beberapa teman saya dijemput lebih awal oleh Yang Maha Kuasa. Seperti seseorang pernah berkata kepada saya, ‘Manusia itu seperti tanah liat. Ia dibentuk oleh manusia-manusia lain yang datang dan menyentuhnya.’ Maka, ketika mengetahui teman-teman dekat saya telah tidak ada lagi di dunia ini, kesedihan mengusik diri saya, seakan bagian di dalam hidup saya yang telah disentuh mendiang teman saya ikut mati.

Di tulisan ini saya tidak akan membahas teman-teman saya yang telah meninggal. Too depressing. I’ll talk to you in person if you want to talk about them. Kali ini, saya hanya ingin menulis tribut kepada seorang aktor yang meninggal dua hari yang lalu. Seorang komedian hebat yang telah menyentuh jutaan hidup di dunia ini.

Robin Williams.

images

Salah satu film layar lebar pertama yang saya tonton semasa kecil adalah Aladdin, produksi Disney di awal dekade 90-an. Film yang saya tonton lewat teknologi Laser Disc itu sangat berkesan, terutama karakter jin botol bertubuh biru yang penuh humor. Ditambah dengan soundtrack ‘A Whole New World’-nya Peabo Bryson dan Regina Belle yang mendunia, Aladdin adalah film fenomenal di masa kecil saya.

Beberapa tahun kemudian baru saya ketahui bahwa pengisi suara sang Jin adalah pria yang sama dengan pemeran utama Jumanji (1995), yaitu Robin Williams. Film Jumanji cukup mind-blowing juga bagi saya yang saat itu masih berusia di bawah 10-tahun. Cerita karakter Williams yang terjebak di alternate reality selagi kehidupan nyatanya terus berjalan cukup menghantui saya. Bayangin, gara-gara kalah di permainan mistis Jumanji, karakter anak kecil seumuran saya itu harus terdampar di hutan rimba selama lebih dari 20 tahun. Ketika permainan itu diteruskan 20 tahun kemudian, ia kembali ke dunia nyata. Namun, segala sesuatu di sekelilingnya telah berubah. Semua orang yang ia kenal tidak lagi muda, dan beberapa malah sudah meninggal.

Depressing, kan?

Untungnya, Williams punya banyak film menyenangkan yang mewarnai perjalanan hidup saya tumbuh dewasa. Berhubung saya juga seorang moviegoer, saya tidak ingin ketinggalan film-film sang maestro. Ada film-film Flubber dan Patch Adams, serta seri-seri Night at the Museum sebagai film-film keluarga yang menyenangkan. Dari ranah film-film serius, Williams juga bermain di film-film inspiratif seperti Dead Poets Society, Bicentennial Man dan Good Will Hunting.

Dari semua judul itu, Dead Poets Society termasuk yang paling intriguing, karena saya tonton sewaktu tahun-tahun pertama kuliah. Sebagai seorang pemuda yang sedang mencari jati diri, peran Williams sebagai seorang guru bernama John Keating cukup kontroversial, sekaligus menginspirasi. Pak Guru Keating menggunakan puisi sebagai landasan ajarannya, sehingga menumbuhkan pandangan free spirit dan eksistensialisme dalam diri murid-muridnya. Ia mengajarkan agar generasi muda tidak begitu saja tunduk pada kenyataan dan selalu percaya pada mimpi-mimpi mereka.

No matter what anybody tells you, words and ideas can change the world.” – John Keating (Robin Williams), DEAD POETS SOCIETY

Selain itu, sebuah scene memorable dalam Dead Poets society menunjukkan salah satu metode Keating yang sama sekali tidak biasa. Ia berdiri di atas meja dan bertanya kepada murid-muridnya.

John Keating: “Why do I stand up here? Anybody?” (Ada yang tahu kenapa saya berdiri di atas meja?)

Salah seorang murid menjawab: “To feel taller! (Supaya lebih tinggi!)

John Keating: “No!” (Bukan!)

I stand upon my desk to remind myself that we must constantly look at things in a different way.”

(Tujuan saya berdiri di atas meja adalah mengingatkan diri saya untuk selalu melihat segala sesuatu dari sisi yang berbeda)

Dialog-dialog itu sangatlah menggugah. Meski kita harus mengacungi jempol kepada para penulis naskah, tanpa penjiwaan karakter Keating yang dilakukan Robin Williams, efeknya tidak akan sedalam itu.

Maka, ketika mendengar Robin Williams meninggal karena bunuh diri, saya bergabung dengan jutaan orang di dunia ini yang ikut bersedih. No, I don’t know him personally. No, I’ve never met him in person. But there are so many things inside me that he contributed in shaping.

Rest in peace, Robin. You’ll be remembered. 

…and, it’s not your fault.

My Favorite Song Lines

Do you have specific favorite lines from specific songs? Take a look at my top 10!

 

1. OASIS – Don’t Look Back in Anger

“So, I start a revolution from my bed…”

I wake up every morning with this powerful spell!

 

2. JOHN RZEZNIK (the singer of Goo Goo Dolls) – I’m Still Here

“I am a question to the world,

not an answer to the earth…”

This sentence is too contemplative  that I adopted it as my blog tagline.

 

3. SILVERCHAIR – The Greatest View

“I’m watching you watch over me

and I’ve got…

the greatest view from here!”

Always love hopeless romantic lyrics in a powerful rock song.

Continue reading

Gratitude to My ‘Publicists’

Bagi seorang penulis buku, siapa orang-orang paling berperan dalam hal-hal teknis mempromosikan buku? Penerbit, tentu saja. Tapi jika di-breakdown lagi, siapa ‘aktor’ di dalam penerbit yang bertanggung jawab dalam promosi sebuah buku? Jika ada yang menjawab editor, bisa ya bisa tidak. Editor memang berperang sangat penting dalam membuat konsep buku bersama-sama dengan penulis dan bertanggung jawab sampai naskah itu terbit. Namun, untuk urusan memasarkan, ada pihak-pihak lain yang lebih berperan. Siapa mereka?

Di film-film Hollywood, kita mengenal istilah publicist atau agen penulis, yaitu seseorang yang mengatur jadwal promosi si penulis itu. Kebanyakan, para publicist hanya jadi figuran, dan seingat saya tidak ada publicist di film yang berakhir enak. Di film Before Sunset, agen yang mengurusi promosi Jesse (Ethan Hawke) di Paris sudah memesan penerbangan penulis tersebut untuk pulang ke Amerika, tapi sang protagonis malah asik mengejar rasa penasaran akan cinta masa lalunya sehingga mengabaikan pesawat yang seharusnya ditumpanginya. Sedangkan di Scream 4 lebih mengerikan, publicist-nya karakter Sidney Prescott (Neve Campbell) menjadi salah satu korban pertama yang terbunuh. *maaf spoiler*

Lah, malah jadi ngebahas pilem?

Di Indonesia, istilah agen penulis mungkin masih asing. Di penerbit saya, GagasMedia, terdapat personil sendiri yang mengurusi kegiatan-kegiatan promosi penulis. Terdapat dua jenis kegiatan promo yang bisa dilakukan oleh penulis, yaitu promosi on-air dan off-air, atau di zaman digital ini, online dan offline. Promosi on-air contohnya siaran di radio atau televisi. Promosi online, seperti namanya, bisa dilakukan dengan membuat kuis di social media atau sekadar meng-update status tentang buku. Promosi off-air dan offline adalah kegiatan yang turun langsung bersentuhan dengan pembaca, seperti talkshow di toko buku atau sekolah-sekolah.

Sejak buku pertama saya, Here, After terbit, hingga akhirnya novel terbaru saya Rhapsody beredar di pasaran, saya banyak terbantu oleh kehadiran para staf promosi di GagasMedia. Singkatnya, mereka adalah orang-orang yang mengatur event di mana saya harus tampil, lalu menjemput saya di rumah. Dengan sabar, mereka menanti saya selesai talkshow, mengambil dokumentasi selama acara dan menyampaikan update-nya lewat media sosial. Selesai? Belum. Mereka masih harus mengantar saya sampai kembali ke rumah, safe and sound. Meskipun pada akhirnya mereka sendiri baru sampai di rumah masing-masing larut malam dalam kondisi kurang istirahat.

Di luar itu, mereka masih harus bertugas mempromosikan karya-karya para penulis baru dan lama, tua dan muda, laris dan kurang laris dalam porsi yang sama. Mereka membangun relasi dengan rekan-rekan sejawat di media-media lain, dengan tujuan agar buku-buku penulis bisa dimuat di majalah, koran, atau mendapat jadwal interview di radio.

Sayangnya, seringkali orang-orang ini off-radar. Banyak yang tidak menyadari andil mereka. Namanya juga figuran, toh?

Padahal, saya merasa sangat, sangat terbantu oleh kehadiran para staf promo ini. Sebagai ‘orang biasa yang menerbitkan buku’, bukan ‘public figure yang menerbitkan buku’, saya tidak punya manajer. I am my own manager. Tapi tetap saja, untuk urusan dengan para pihak eksternal demi promo, saya butuh bantuan dari para staf promo.

Di sinilah mereka sangat membantu saya. Dari hal-hal kecil seperti memasukkan nama saya sebagai pengisi acara di suatu event, memesan mobil travel untuk transportasi saya (tidak jarang malah merangkap sopir, nyetir sendiri), mengurus banner dan materi promosi lainnya, hingga melipat kembali banner atau mengatur display buku saya di lokasi promo. Kadang-kadang, para ‘unsung heroes‘ ini malah harus melawan their own biggest fear showing up in public dengan cara menjadi MC acara talkshow.

Ladies and gentlemen, please give applause to these people.

Nah, tiap pekerjaan pasti ada tantangan dan sisi nggak enaknya. Jika saya meluangkan waktu untuk berada di perspektif para staf promo, maka saya akan menyebutkan satu saja hal yang tidak menyenangkan: being disrespected.

Tidak jarang, ada penulis yang tidak mengerti konsep promosi dari penerbit ini. Dianggapnya para staf promo ini adalah pelayan yang siap membantu dengan sikap ‘at-your-service, Your Highness’. Akhirnya si penulis mengabaikan semua atau beberapa konsep atau jadwal promo dari para staf promo.

Pernah kejadian, para staf promo sudah bekerja keras membuatkan event promo untuk si penulis, eh si penulis malah telat datang. Bukan begitu saja, si penulis, entah menganggap dirinya-lah center of the world atau bagaimana, nyaris tidak pernah ngobrol sambil menatap mata si staf promo. Baginya, para staf promo tidak lebih dari sekadar pelayan, sopir, sekretaris, tukang lipat banner, dan semacamnya.

Padahal, staf promo adalah perwakilan dari penerbit. Ini konsep yang sudah umum: penulis dan penerbit memiliki posisi yang setara. Tidak ada yang lebih di atas atau lebih di bawah.

Atau, nggak usah dulu ngomongin konsep apapun deh. Sikap menghargai orang lain itu kan sebenarnya tata krama yang paling dasar. Bagaimana kita saling menghargai sesama manusia. Pelajaran PPKN, anybody?

Jadi, jika ada penulis yang semena-mena pada staf promo karena ngerasa dirinya superstar atau sedang naik daun seperti ulat sagu, send them back to elementary school untuk ngulang PPKN aja lah.

Sorry for getting emotional, but I have spent time, maybe too much time with my friends from staf promosi GagasMedia, and I must say that they are some of the coolest people in the world. Jika postingan ini belum bisa mengerakkan orang-orang untuk lebih menyadari jasa-jasa staf promosi, minimal anggap saja sebagai pernyataan mengapresiasi dan mega-apresiasi kehadiran teman-teman baik yang telah mewarnai hidup saya tersebut.

Ladies and gentlemen, I give you, my great friends (and ‘promo people’ of GagasMedia):

–          Aveline Agrippina (@_agrippina)

–          Mudin Em (@omemdisini)

–          Chyntia Kartika Sari (@ciboaccy)

–          Tasya Anugerah (@tasyaugie)

–          Badru Alwahdi (@badrualwahdi)

BhFRPt0CAAI74np

Teppy (paling kiri), Nina (ketiga dari kanan) dan saya (kedua dari kanan), bersama para ‘publicist: Chyntia (paling kanan), Bedu (kedua dari kiri) dan Ugi (ketiga dari kiri)