Suatu Hari di Shakespeare & Co.

Suatu Hari di Shakespeare & Co.

Gara-gara menulis postingan sebelum ini tentang Ethan Hawke, saya jadi ingin berbagi pengalaman saya mengunjungi toko buku legendaris ‘Shakespeare and Company’ (Shakespeare & Co.). Kunjungan saya ke Paris pada musim panas lalu lengkap dengan akhirnya merasakan sendiri berada di salah satu lokasi syuting film ‘Before Sunset‘ ini.

screen-shot-2016-10-07-at-5-22-53-pm

Nina di depan Shakespeare & Co.

Continue reading

Advertisements

[TRAVEL STORY] CHRISTIANIA

Beberapa saat yang lalu, entah kapan, saya pernah berjanji mau berbagi sedikit pengalaman traveling berkesan saya. Janji itu rasanya sudah lama sekali, hahaha. Mumpung saya sedang dalam mood bercerita (dan juga mood traveling), saya mulai sedikit bercerita tentang…

CHRISTIANIA!

Ketika nama tempat ini disebut, mungkin banyak yang mengerutkan kening. Di mana itu? Kota apa itu? Negara apa itu? Sayangnya, penjelasan geografis hanya akan membuat kita bingung. Jadi, saya coba mulai menjelaskan ‘Christiania’ berdasarkan penjelasan di Wikipedia.

Freetown Christiania adalah wilayah otonomi yang secara geografis berada di tengah-tengah kota Copenhagen, Denmark. Luasnya sekitar 34 hektar dengan penduduk sekitar 850 jiwa. Pemerintah Denmark melarang peredaran ganja, tapi khusus untuk Christiania, penjualan dan pemakaian ganja dianggap legal.  Continue reading

Football Traveling (4): Champions League Throwback

FC Basel vs Schalke 04, 1 Oktober 2013 (video: koleksi pribadi Mahir Pradana)

Selama ‘football traveling‘ saya di Swiss pada tahun 2011-2013 lalu, salah satu yang paling berkesan adalah St. Jakob Park, Basel, pada 1 Oktober 2013. Ketika itu, saya akhirnya berkesempatan menonton langsung Liga Champions Eropa, ajang antarklub paling bergengsi di benua tersebut. Continue reading

Football Traveling (3): Stade de Suisse (Bern)

Terlepas dari statusnya sebagai ibu kota, Bern sebenarnya tidak lebih dari sebuah kota kecil yang sederhana. Populasinya hanya 134.000 jiwa. Dibandingkan dengan dua kota besar tetangganya, yaitu Zürich dan Basel, wajah Bern sangat berbeda. Basel dan Zürich dipenuhi gedung-gedung beton dan jalan-jalan lebar, sedangkan Bern masih menjaga sebagian besar bangunan tuanya. Andai bukan dengan tujuan untuk kuliah di Universität Bern, saya tidak pernah membayangkan suatu hari akan tinggal di kota itu.

Kota Bern memiliki klub sepak bola bernama Young Boys (YB). Klub ini tidak terlalu terkenal memang, terutama jika dibandingkan klub raksasa Swiss, FC Basel. YB juga sudah lama tidak juara Liga Swiss, terakhir mereka menjadi juara pada tahun 1986. Continue reading

Football Traveling (2): ‘Home & Away’, Santiago Bernabeu

Dengan terbitnya buku ‘Home & Away’, petualangan saya di Eropa menonton pertandingan-pertandingan sepak bola pun akhirnya berwujud sebuah kumpulan catatan perjalanan. Sebagai pengikut setia Liga Spanyol, sejak kecil saya bermimpi suatu saat nanti saya akan bisa bertualang di negeri matador untuk menyaksikan langsung klub-klub La Liga Primera berlaga di stadion mereka. Mimpi itu baru akhirnya kesampaian dua tahun lalu, tepatnya di bulan April 2012. Saat itu, saya dan seorang teman nekat bertualang di tiga kota Spanyol selama sepuluh hari untuk merasakan langsung atmosfer La Liga.

Sekalian nostalgia, saya akan menuliskan pengalaman tersebut secara berseri di blog ini. Cerita lengkapnya bisa dibaca di ‘Home & Away’ terbitan GagasMedia.

cropped-title-image-mp2.jpg

Awalnya, saya yang kuliah di Swiss dan teman saya yang saat itu kuliah di Italia bernama Rusmin (di Twitter dia beredar dengan akun @mrusmin) menghabiskan hampir seharian menjelajah kota Madrid. Setelah sempat keluar masuk metro (kereta bawah tanah) dan bertanya ke sana ke mari untuk mencari-cari informasi tentang lokasi stadion Santiago Bernabeu, akhirnya kami pun sampai. Kami akhirnya tiba di salah satu ‘tanah suci’ sepakbola dunia itu.

Bangunan Stadion Santiago Bernabeu berdiri gagah di tengah-tengah distrik Chamartin, sebuah wilayah ramai pusat kota Madrid. Di luarnya, beberapa bendera kuning-merah yang melambangkan federasi Spanyol berkibar-kibar ditiup angin musim semi. Stadion itu memang merupakan stadion kebanggaan Spanyol. Nama stadion sendiri diambil dari nama mantan pemain Real Madrid yang juga pernah menjabat menjadi presiden klub, Santiago Bernabeu Yeste. Stadion ini memiliki muatan sejarah yang panjang, salah satunya menjadi penyelenggara pertandingan final Piala Dunia 1982.

Di saat kami berjalan ke ticket box, antrian sudah mengular. Terlihat lebih banyak wisatawan yang mengantri di depan ticket box itu. Bisa dipahami, karena penduduk asli Madrid pasti sudah memiliki tiket terusan atau melakukan online booking. Setelah berhasil melewati antrian dan memperoleh tiket pertandingan sekaligus tiket tur ke museum Real Madrid dan stadion Santiago Bernabeu, akhirnya kami masuk juga ke dalam museum.

20 Euro adalah jumlah yang kami keluarkan untuk tiket museum klub terbesar di dunia tersebut. Kami penasaran, seberapa jauh Real Madrid menyaingi Barcelona dalam urusan sport-tourism mereka. Dengan jumlah uang tersebut, pengunjung bisa masuk mengagumi kemegahan konstruksi dan fasilitas stadion, bahkan duduk-duduk di bangku cadangan pemain. Selain itu, daya tarik utama tentunya El Museo del Madrid (Museum Real Madrid). Museum ini memang merupakan tempat yang wajib dikunjungi oleh penggila sepakbola. Apalagi kalau bukan karena alasan sejarah panjang klub sepakbola nomor satu Spanyol tersebut, ditambah lagi mereka merupakan salah satu klub sepakbola tersukses di dunia dari sisi prestasi maupun finansial.

nllssbm4

Great view!

Selama berpuluh-puluh tahun, Real Madrid memenangi trofi demi trofi bergengsi dan menguasai dunia dengan para jugador zaman dulu mereka, seperti Alfredo di Stefano dan Ferenc Puskas. Isi lemari Real Madrid sudah penuh sesak dengan gelar juara domestik plus 5 trofi Piala Champions yang mereka dominasi dari tahun 1956 sampai 1960.

Maka, jika berkeliling di dalam museum Real Madrid, yang terlihat adalah parade kesuksesan selama berabad-abad. Piala dari tahun 1950-an sampai abad ke-21 menghiasi seluruh ruangan.

Real Madrid juga selalu menjadi salah satu pelaku utama gemerlapnya panggung sepakbola Eropa zaman modern dengan gelimang harta dan pemain-pemain kelas dunia yang seolah sangat gampangnya mereka gaet. Stadion Santiago Bernabeu selalu dipenuhi pemain-pemain sekaliber Ronaldo Luis Nazario da Lima, Luis Figo, Zinedine Zidane, David Beckham, Ruud Van Nistelrooy, hingga nama-nama beken masa kini seperti Cristiano Ronaldo, Kaka dan Mesut Ozil.

Maka, meskipun bukan fans Madrid, namun penggila bola seperti saya dan Rusmin terpesona melihat ‘peninggalan-peninggalan’ beberapa pemain dunia yang masih tersimpan di rak-rak museum Real Madrid.

nllssbm2

Ini foto dua tahun lalu, jadi banyak di antara pemain-pemain di galeri itu yang sudah pindah

Yang unik dari museum Real Madrid adalah mereka membuat museum mereka seperti rumah bagi para pemain yang pernah menghiasi sejarah mereka. Jangan heran jika Anda bisa melihat sepatu-sepatu lama milik Cristiano Ronaldo atau KTP zaman remaja Raul Gonzalez!

***

Matchday: Real Madrid vs Sporting Gijon

Pertandingan dimulai pukul 21:00, namun sejak sore, ribuan pengunjung sudah berbondong-bondong datang ke stadion. Kapasitas stadion yang sekitar 85-ribu itu memang selalu terisi penuh. Terlihat jalan di depan stadion diblokir. Mobil-mobil polisi berjaga di sana-sini. Setiap ada ‘Real Madrid Day’, seluruh daerah di sekitar kawasan stadion Santiago Bernabeu memang seolah berubah menjadi Ka’bah. Lautan manusia menyemut dan mengerubungi stadion bersejarah itu.

Rusmin dan saya masuk ke stadion. Tiket kami seharga 39 Euro itu di-scan oleh sebuah mesin elektronik di pintu masuk. Setelah itu, beberapa petugas memeriksa tas kami masing-masing. Meskipun tergolong salah satu stadion paling aman di dunia, para panitia pertandingan pasti tak mau ambil risiko jika misalnya ada penonton yang cari gara-gara dengan membawa senjata tajam ke dalam stadion. Bahkan, botol minuman plastik pun dicekal. Botol air mineral yang saya beli harus saya relakan untuk dibuang ke tong sampah. Padahal isinya masih penuh. Kirain cuma di Indonesia botol minuman plastik dilarang masuk karena takut dipakai menimpuk pemain.

Namun, begitu kami baru selesai menaiki tangga untuk naik ke bagian stadion yang lebih tinggi, saya bisa melihat alasan mengapa penonton dilarang membawa minuman dari luar. Ternyata banyak stan makanan dan minuman yang memanfaatkan ruangan-ruangan di dalam stadion. Segala macam makanan bisa ditemui di situ, seperti hot dog, sandwich, kebab, sampai patatas fritas (french fries), termasuk pula berbagai macam minuman ringan. Setiap jeda pertandingan, penonton bisa membeli makanan dan minuman di stan-stan tersebut, tak usah keluar stadion lagi. Jadi, jika semua penonoton membawa minuman mereka sendiri, para penjual ini akan rugi.

Rusmin dan saya akhirnya menemukan tempat duduk kami sebuah tribun yang terletak di belakang gawang. Memang itulah tiket yang paling murah, padahal harganya yang 39 Euro cukup terbilang mencekik. Kocek mahasiswa kami memang belum sanggup membeli tiket tribun yang di tengah, apalagi tribun VIP yang harganya bisa mencapai 300 Euro.

Kemegahan di Santiago Bernabeu sudah terlihat sebelum pertandingan dimulai, penyelenggara pertandingan Real Madrid terlebih dahulu memainkan mars resmi klub yang berjudul ‘Hala Madrid’. Lagu yang dinyanyikan seorang penyanyi tenor laksana Pavarotti itu ternyata diperlakukan seperti lagu kebangsaan jika tim nasional sebuah negara akan bertanding. Hampir seluruh penonton akan berdiri dan mendengarkan dengan khidmat. Mereka sangat menghargai lagu mars yang telah berusia beberapa dekade tersebut. Lagu itu tentunya menjadi teman setia dalam berpuluh-puluh tahun sejarah besar Real Madrid.

Saya memandang ke atas. Seluruh bagian stadion Bernabeu tertutup atap. Saat itu adalah bulan April, yang masih termasuk musim semi. Musim semi di Spanyol berarti curah hujan termasuk tinggi. Maka, udara pun masih tergolong bikin kulit menggigil. Namun, semua itu teratasi oleh fasilitas kelas wahid Stadion Santiago Bernabeu. Semua tribun di stadion kebanggaan Madrid ini tertutup oleh atap dan dilengkapi dengan fasilitas penghangat ruangan.

Sampai sekarang, saya tidak pernah lupa akan fasilitas bintang lima stadion ini. Bisa dibilang, Santiago Bernabeu adalah salah satu stadion paling megah yang pernah saya kunjungi.

***

Real Madrid yang merupakan salah satu klub terhebat dunia dengan salah Cristiano Ronaldo sebagai pemain andalannya terlalu tangguh bagi lawannya, tim liliput bernama Sporting Gijon.

Gijon sempat mengejutkan di babak pertama dengan mencetak gol lewat penalti. Namun, kelas Madrid masih jauh di atas mereka. Keunggulan kualitas pemain membuat Real Madrid menang 3-1. Saat itu, Madrid yang ketinggalam lebih dulu lewat gol pinalti akhirnya membalas dengan gol-gol ketiga penyerang andalan mereka, Gonzalo Higuain, Cristiano Ronaldo dan Karim Benzema. Seluruh penonton di Santiago Bernabeu (95% di antaranya merupakan pendukung Madrid dan 5% turis seperti kami berdua) pun membubarkan diri dengan perasaan senang.

Saya dan Rusmin tidak butuh waktu lama untuk menemukan cara untuk pulang. Yang mengesankan dari Santiago Bernabeu adalah lokasinya yang berada tepat di pusat kota Madrid, tapi tidak sesemrawut Stadion Utama Senayan yang berada di Jakarta. Kita pasti tahu persis, jika ada pertandingan sepakbola berlangsung di Jakarta, maka neraka adalah sebutan yang tepat bagi para pengendara kendaraan bermotor. Mereka akan terjebak kemacetan Senayan yang butuh waktu berjam-jam untuk diatasi, belum lagi potensi kerusuhan oleh suporter.

Di Madrid, semua berlangsung lancar. Tepat di pintu keluar stadion Santiago Bernabeu, terdapat stasiun metro (kereta bawah tanah), sehingga masyarakat bisa langsung mempergunakan transportasi umum tanpa terjebak macet.

*pernah dimuat di website www.bolatotal.com pada bulan Juli 2013*

nllssbm1

kapan lagi bisa selonjoran di bench pemain Real Madrid?

Tentang ‘Home & Away’

Akhirnya, buku yang ditulis dengan penuh perjuangan ini terbit (memangnya ada buku yang nggak pake perjuangan?). Sempat tertunda beberapa bulan karena hal ini-itu, buku memoar perjalanan saya ke beberapa stadion / event sepak bola di benua Eropa akhirnya akan muncul di toko-toko buku seluruh Indonesia.

Oh ya, judul awal yang tadinya ‘Football Traveling’ pun diubah menjadi judul final yang memakai istilah di kompetisi sepak bola:

  • Home & Away

Penerbit GagasMedia pun melabeli buku ini dengan ‘traveling’. Berarti, kemungkinan buku ini akan ditemukan di rak yang berbeda dengan buku-buku saya sebelumnya (novel). Terlepas dari apakah dilabeli ‘traveling’ atau ‘sepak bola’, saya sudah cukup bersyukur buku ini akan beredar dan dibaca orang. Ini juga akan menjadi buku pertama saya yang berdasarkan kisah nyata, karena sebelum-sebelumnya semua buku saya kisah fiksi, hehehe.

BxqMJyrCAAAAH10

Buku ini akan memuat ringkasan perjalanan saya di Eropa (yang berhubungan dengan sepak bola, tentunya) selama 2 tahun, dari periode 2011-2013. Tidak lupa berbagai cerita menarik dan kontemplasi yang menyertai (jadi bukan cuma jalan-jalan dan foto-foto saja). Adapun beberapa event bola yang saya datangi selama periode itu adalah:

1. FC Zurich vs Vaslui (Stadion Letzigrund, Zurich, November 2011, penyisihan grup Europa League 2011-2012).

2. Swiss vs Argentina (Stade de Suisse, Bern, Februari 2012, international friendly).

3. FC Barcelona vs Getafe (Estadio Camp Nou, Barcelona, April 2012, Liga Spanyol 2011-2012).

4. Valencia vs Rayo Vallecano (Estadio Mestalla, Valencia, April 2012, Liga Spanyol 2011-2012).

5. Real Madrid vs Sporting Gijon (Estadio Santiago Bernabeu, Madrid, April 2012, Liga Spanyol 2011-2012).

6. Rayo Vallecano vs Atletico Madrid (Estadio Vallecas, Madrid, April 2012, Liga Spanyol 2011-2012).

7. Swiss vs Jerman (St. Jakob Park, Basel, Mei 2012, 2012, international friendly).

8. Spanyol vs Korea Selatan (Stade de Suisse, Bern, Mei 2012, international friendly).

9. Italia vs Kroasia (Miejski Stadium, Poznan, Juni 2012, Euro 2012).

10. Galatasaray vs Fiorentina (Turk Telekom Arena, Istanbul, Agustus 2012, international friendly).

11. BSC Young Boys vs FC Midtjylland (Stade de Suisse, Bern, Agustus 2012, Euro League 2012-2013–talking about non-mainstream football, hehehe…).

12. Switzerland vs Norway (Stade de Suisse, Oktober 2012, World Cup Qualifications)

13. BSC Young Boys vs Liverpool (Stade de Suisse, Bern, Oktober 2012, Euro League 2012-2013)

14. BSC Young Boys vs Anzhi Makhachkala (Stade de Suisse, Bern, Desember 2012, Euro League 2012-2013)

15. SC Freiburg vs Greuther Fuerth (Mage Solar Stadium, Freiburg, Desember 2012, Bundesliga 2012-2013)

16. BSC Young Boys vs FC Sion (Stade de Suisse, Bern, Maret 2013, Swiss Super League 2012-2013)

17. FC Basel vs Grasshopper Zurich (St. Jakob Park, Basel, Mei 2013, Swiss Cup Final 2013)

18. Austria vs Sweden (Ernst Happel Stadium, Vienna, Juni 2013, World Cup Qualification)

19. Vfl Wolfsburg vs AS Saint-Etienne (Tourbillon Stadium, Sion, Juli 2013, Valais Cup 2013)

20. FC Sion vs Olympique Marseille (Tourbillon Stadium, Sion, Juli 2013, Valais Cup 2013)

21. FC Basel vs Borussia Dortmund (St. Jakob Park, Basel, Juli 2013, International Club Friendly)

22. AC Milan vs Sao Paolo (Allianz Arena, Muenchen, Agustus 2013, Audi Cup 2013)

23. Bayern Muenchen vs Manchester City (Allianz Arena, Muenchen, Agustus 2013, Audi Cup 2013)

24. Switzerland vs Brazil (St. Jakob Park, Basel, Agustus 2013, International Friendly)

25. FC Basel vs Schalke 04 (St. Jakob Park, Basel, September 2013, Champions League 2013-2014).

Kira-kira, ‘Home & Away’ akan beredar di seluruh jaringan toko buku di Indonesia pada awal Oktober 2014. Mari kita tunggu!

Bagi yang mau ngintip sedikit nukilan bukunya, saya sisipkan di bawah ini:

Akhirnya saya pun duduk kembali di bangku saya, mengamati anak-anak kecil yang memeluk orangtua mereka atau sepasang sahabat yang saling menepuk pundak sambil tertawa riang. Bagi masyarakat Spanyol, bahagia itu sederhana. Menyaksikan kemenangan tim sepak bola favorit bersama orang-orang yang mereka sayangi adalah salah satunya.

Saya memejamkan mata dan membiarkan udara hangat Valencia membelai rambut dan kulit saya, lalu masuk melalui rongga hidung ke dalam paru-paru saya. Telinga saya berusaha menangkap berbagai sorak-sorai dan nyanyian dalam bahasa Spanyol. Meskipun kebanyakan seruan itu saya tidak pahami, luapan ekspresi kegembiraan atas kemenangan itu terekam untuk selamanya di dalam otak saya.

Di stadion, orang-orang menggantungkan harapan, memanjatkan doa-doa, dan memuja-muji nama-nama idolanya. Setelah pertandingan berlangsung, masih ada pula fungsi sosial. Para orangtua berbagi waktu dan kesenangan dengan anak-anaknya. Masyarakat kota bisa bertegur sapa di luar jeratan stres pekerjaan mereka. Stadion adalah monumen yang dibangun khusus untuk masyarakat.

‘I learned about life with ball at my feet’ – Ronaldinho