Tentang ‘Home & Away’

Akhirnya, buku yang ditulis dengan penuh perjuangan ini terbit (memangnya ada buku yang nggak pake perjuangan?). Sempat tertunda beberapa bulan karena hal ini-itu, buku memoar perjalanan saya ke beberapa stadion / event sepak bola di benua Eropa akhirnya akan muncul di toko-toko buku seluruh Indonesia.

Oh ya, judul awal yang tadinya ‘Football Traveling’ pun diubah menjadi judul final yang memakai istilah di kompetisi sepak bola:

  • Home & Away

Penerbit GagasMedia pun melabeli buku ini dengan ‘traveling’. Berarti, kemungkinan buku ini akan ditemukan di rak yang berbeda dengan buku-buku saya sebelumnya (novel). Terlepas dari apakah dilabeli ‘traveling’ atau ‘sepak bola’, saya sudah cukup bersyukur buku ini akan beredar dan dibaca orang. Ini juga akan menjadi buku pertama saya yang berdasarkan kisah nyata, karena sebelum-sebelumnya semua buku saya kisah fiksi, hehehe.

BxqMJyrCAAAAH10

Buku ini akan memuat ringkasan perjalanan saya di Eropa (yang berhubungan dengan sepak bola, tentunya) selama 2 tahun, dari periode 2011-2013. Tidak lupa berbagai cerita menarik dan kontemplasi yang menyertai (jadi bukan cuma jalan-jalan dan foto-foto saja). Adapun beberapa event bola yang saya datangi selama periode itu adalah:

1. FC Zurich vs Vaslui (Stadion Letzigrund, Zurich, November 2011, penyisihan grup Europa League 2011-2012).

2. Swiss vs Argentina (Stade de Suisse, Bern, Februari 2012, international friendly).

3. FC Barcelona vs Getafe (Estadio Camp Nou, Barcelona, April 2012, Liga Spanyol 2011-2012).

4. Valencia vs Rayo Vallecano (Estadio Mestalla, Valencia, April 2012, Liga Spanyol 2011-2012).

5. Real Madrid vs Sporting Gijon (Estadio Santiago Bernabeu, Madrid, April 2012, Liga Spanyol 2011-2012).

6. Rayo Vallecano vs Atletico Madrid (Estadio Vallecas, Madrid, April 2012, Liga Spanyol 2011-2012).

7. Swiss vs Jerman (St. Jakob Park, Basel, Mei 2012, 2012, international friendly).

8. Spanyol vs Korea Selatan (Stade de Suisse, Bern, Mei 2012, international friendly).

9. Italia vs Kroasia (Miejski Stadium, Poznan, Juni 2012, Euro 2012).

10. Galatasaray vs Fiorentina (Turk Telekom Arena, Istanbul, Agustus 2012, international friendly).

11. BSC Young Boys vs FC Midtjylland (Stade de Suisse, Bern, Agustus 2012, Euro League 2012-2013–talking about non-mainstream football, hehehe…).

12. Switzerland vs Norway (Stade de Suisse, Oktober 2012, World Cup Qualifications)

13. BSC Young Boys vs Liverpool (Stade de Suisse, Bern, Oktober 2012, Euro League 2012-2013)

14. BSC Young Boys vs Anzhi Makhachkala (Stade de Suisse, Bern, Desember 2012, Euro League 2012-2013)

15. SC Freiburg vs Greuther Fuerth (Mage Solar Stadium, Freiburg, Desember 2012, Bundesliga 2012-2013)

16. BSC Young Boys vs FC Sion (Stade de Suisse, Bern, Maret 2013, Swiss Super League 2012-2013)

17. FC Basel vs Grasshopper Zurich (St. Jakob Park, Basel, Mei 2013, Swiss Cup Final 2013)

18. Austria vs Sweden (Ernst Happel Stadium, Vienna, Juni 2013, World Cup Qualification)

19. Vfl Wolfsburg vs AS Saint-Etienne (Tourbillon Stadium, Sion, Juli 2013, Valais Cup 2013)

20. FC Sion vs Olympique Marseille (Tourbillon Stadium, Sion, Juli 2013, Valais Cup 2013)

21. FC Basel vs Borussia Dortmund (St. Jakob Park, Basel, Juli 2013, International Club Friendly)

22. AC Milan vs Sao Paolo (Allianz Arena, Muenchen, Agustus 2013, Audi Cup 2013)

23. Bayern Muenchen vs Manchester City (Allianz Arena, Muenchen, Agustus 2013, Audi Cup 2013)

24. Switzerland vs Brazil (St. Jakob Park, Basel, Agustus 2013, International Friendly)

25. FC Basel vs Schalke 04 (St. Jakob Park, Basel, September 2013, Champions League 2013-2014).

Kira-kira, ‘Home & Away’ akan beredar di seluruh jaringan toko buku di Indonesia pada awal Oktober 2014. Mari kita tunggu!

Bagi yang mau ngintip sedikit nukilan bukunya, saya sisipkan di bawah ini:

Akhirnya saya pun duduk kembali di bangku saya, mengamati anak-anak kecil yang memeluk orangtua mereka atau sepasang sahabat yang saling menepuk pundak sambil tertawa riang. Bagi masyarakat Spanyol, bahagia itu sederhana. Menyaksikan kemenangan tim sepak bola favorit bersama orang-orang yang mereka sayangi adalah salah satunya.

Saya memejamkan mata dan membiarkan udara hangat Valencia membelai rambut dan kulit saya, lalu masuk melalui rongga hidung ke dalam paru-paru saya. Telinga saya berusaha menangkap berbagai sorak-sorai dan nyanyian dalam bahasa Spanyol. Meskipun kebanyakan seruan itu saya tidak pahami, luapan ekspresi kegembiraan atas kemenangan itu terekam untuk selamanya di dalam otak saya.

Di stadion, orang-orang menggantungkan harapan, memanjatkan doa-doa, dan memuja-muji nama-nama idolanya. Setelah pertandingan berlangsung, masih ada pula fungsi sosial. Para orangtua berbagi waktu dan kesenangan dengan anak-anaknya. Masyarakat kota bisa bertegur sapa di luar jeratan stres pekerjaan mereka. Stadion adalah monumen yang dibangun khusus untuk masyarakat.

‘I learned about life with ball at my feet’ – Ronaldinho

Advertisements

Rhapsody Recap

Dreams need to be decorated‘ – Rhapsody by Mahir Pradana

Tidak terasa, sudah hampir delapan bulan novel kedua saya, ‘Rhapsody’, beredar di pasaran. Seperti beberapa tahun lalu ketika novel pertama saya, ‘Here, After’ keluar, saatnya berkontemplasi dengan pengalaman novel kedua ini (halah).

Cukup bangga juga melihat respons positif pembaca terhadap cerita Al dan hostel kecilnya ini. Tertunda 4-5 bulan dalam perilisannya ternyata berbuah manis. Di website pemerhati buku goodreads.com, >95% pembaca ngasih bintang 3 ke atas. Alhamdulillah, ya. Hehehe.

Untitled Untitled2

 

Jika ditanya apa yang berbeda dari pengalaman menerbitkan ‘Here, After’ dan ‘Rhapsody’, mungkin seperti ini. ‘Here, After’ yang terbit di tahun 2010 lalu adalah karya saya yang eksperimental. Imajinasi saya biarkan seliar-liarnya, sehingga jadilah novel bersegmen-segmen yang diwarnai kekerasan dan patah hati itu. Yang suka dengan gaya saya, akan menyukai buku tersebut, sedangkan yang muak akan membencinya. Sesederhana itu. (yang belum baca silakan ikuti review-review pembaca di http://www.goodreads.com/book/show/9764819-here-after?from_search=true )

Sedangkan bagi Rhapsody, saya bisa berbangga karena banyak pembaca yang memberi feedback merasa terinspirasi oleh premis ‘mengejar dan mempertahankan mimpi’ yang diusung novel ini. Jujur, saya memang hanya ingin menginspirasi pembaca dengan mimpi dan kehangatan. Untungnya sambutan pembaca baik.

Berikut ini beberapa link blog pembaca yang memberi feedback kepada ‘Rhapsody’:

http://widhiebbf.blogspot.com/2014/02/resensi-buku-rhapsody-mahir-pradana.html?spref=tw

http://ariansyahabo.blogspot.com/2013/12/book-review-rhapsody-by-mahir-pradana.html

http://justsavemywords.wordpress.com/2014/03/13/review-novel-rhapsody-by-mahir-pradana/#more-87

Selain itu, beberapa pengalaman baru mengikuti saya setelah menerbitkan novel kedua itu. Komunitas Goodreads Indonesia mengundang saya untuk bincang santai membahas ‘Rhapsody’ di bulan Februari 2014. Mari dibaca liputannya di sini:

http://bacaituseru.org/lpm-klub-buku-offline-1/

12284144243_46dc7298f3_h

Dokumentasi teman-teman Goodreads Indonesia

Inilah yang membuat hidup saya sebagai penulis senantiasa lebih berwarna. Thank you, guys!

hugs,

MP

#FootballTraveling (part. 1)

Sebentar lagi, buku berupa memoar perjalanan saya keliling Eropa akan rilis. Buku tersebut menceritakan pengalaman saya mengunjungi beberapa lokasi penting sepak bola dan menyaksikan pertandingan-pertandingan. Nah, untuk menyambut rilisnya buku tersebut, saya memulai semacam kampanye di Instagram dan Twitter berupa #FootballTraveling . Hasil recap-nya akan saya muat secara berseri di blog ini. Ikuti petualangan saya, yuk! 🙂 Continue reading

For Sale: Here, After

Halo, semua!

Tidak terasa sudah empat tahun berlalu sejak terbitnya novel pertama saya, Here, After. Waktu berubah, tak terhitung buku-buku baru yang muncul di toko-toko buku, sehingga Here, After pun semakin sulit ditemukan di toko-toko buku mana pun.

I’ve had good times writing it, and even more unforgettable experiences after it was published. Mungkin sudah sering saya cerita buku tersebut masuk lima besar nominasi buku fiksi terfavorit Anugerah Pembaca 2011. Meski akhirnya nggak menang, it was a proud moment for me.

Nah, untuk memfasilitasi teman-teman yang belum baca, atau pengen baca lagi, saya menjual Here, After secara pribadi ya. Harganya tetap sama, Rp. 34.000 (belum termasuk ongkos kirim). Teman-teman bisa pesan mau bertanda tangan saya atau lebih memilih masih disegel. Jika ingin memesan, silakan hubungi saya di 0821-931-87891 atau e-mail ke mahir.pradana@gmail.com

BmS49BUCcAAJfz2

Sebagai info tambahan, silakan dicek beberapa review orang-orang yang telah membaca Here, After:

– blog:

Kalau yang satu  ini review di website pribadi Mbak Lia, (mantan) penanggung jawab program ProResensi di RRI Pro2 Jakarta yang pernah meng-interview saya secara langsung di acara talkshow tersebut:
Setelah saya google sedikit, ternyata pihak Gramedia Istana Plaza juga mendokumentasikan talkshow saya (di tahun 2010 lalu) di halaman website mereka:

 

– Twitter:

rina_shu
Jd mulai agak apatis sama yg namanya cinta gara2 baca Here, After. Penulisnya hrs tanggung jawab nih.

cyntia_tia
A depressing infatuation about a never ending agony. ( Here, after ) kata-katanya ngenak banget :*

septamellina
In spite of my assigments and exam,I could finally finish reading #NovelHereAfter I love your novel, friend

tatats
I do! Hehehe..I like your different view about love 😀

dogeena
She gave love a new name : “A depressing infatuation about a never ending agony” #HereAfter | nice poem! 🙂

anastha
Tdk semua pernikahan hrs dimulai dgn cinta & tdk semua cinta hrs diakhiri dgn pernikahan ~ @maheeeR >> nyebelin bgt lo, hir! 😀

ophye
agreed!! Awalny kupikir bakalan ala2 novel cinta teenlit cupu yg mellow ndak jelas. Ternyata I can’t be more wrong!!!

msyarifm
I’ve just read 1 1/2 chapter, but u know what? u’ve got talent @maheeeR. (@_@) *serius*

me_bie
baru selesei baca novel Here After,one conclusion:kapan dibikin film nya?bgs nih jalan ceritanya 😀

erdityaarfah
udh beres gw baca.kesimpulannya: ajarin gw nulis romance dong. 🙂

Inabeautiful
novelnya kak @maheeeR bener2 gaswat -_- udah kelar dibaca malah jadi ketagihan pengen dibaca lagi. Padahal besok uas. Haha. Ah,bodo ah.

adit_adit 
sebelum baca #NovelHereAfter-nya @maheeeR, cari lagu Love Hurts-nya Incubus deh, biar tambah galau waktu bacanya, hahaha

So, what are you waiting for? Pesan ya, mumpung stok masih ada 😀

 

2014 Upcoming Project (2)

Saya punya sebuah naskah lain yang rencananya akan terbit juga di tahun 2014, yaitu sebuah naskah non-fiksi tentang perjalanan saya ber-football traveling di Eropa dalam periode 2011-2013 lalu. Berikut ini cuplikannya:

2012-04-09 13.07.21

Saya tinggal di sebuah student house (asrama mahasiswa) yang dipenuhi sekelompok mahasiswa Eropa yang gila sepakbola. Gedung asrama itu disebut Studenthouse Tscharnergut, sesuai dengan nama jalan bangunan itu berada.

Bangunan Tscharnergut tersebut adalah sebuah bangunan berlantai 19. Kamar saya terletak di lantai dua belas. Tetangga di samping kamar saya adalah seorang mahasiswa teologi asal Romania bernama Csongor Kelemen, biasa dipanggil Chongi.

Menariknya, meskipun kuliah di bidang teologi, Chongi justru termasuk salah seorang yang menge-Tuhan-kan sepakbola. Pada awalnya, begitu mendengar penghuni sebelah kamar saya adalah mahasiswa teologi alias calon pendeta, saya mengira dia adalah seseorang yang super-serius dan tertutup. Ternyata saya salah.

Chongi punya karakter periang dan sangat ramah. Setiap kali ada acara kumpul-kumpul seperti barbeque, tur atau acara-acara get together lainnya, Chongi pasti tidak pernah ketinggalan. Namun, lain cerita jika weekend datang. Biasanya, pada Jumat malam atau Sabtu malam, Chongi akan mengurung diri di kamarnya. Dia akan khusyuk duduk di depan computer untuk menonton tayangan streaming Liga Sepakbola Romania untuk menyaksikan klub kesayangannya bertanding.

Klub kesayangan Chongi bernama CFR Cluj. Klub tersebut merupakan kebanggaan kota Cluj, kampung halaman sekaligus kota kelahirannya.

***

Pada suatu hari, saya dan Chongi sedang mengobrol santai di dalam kamarnya. Kami bertukar cerita tentang kampung halaman kami masing-masing. Saya baru saja selesai bercerita padanya tentang kota-kota di Indonesia.

‘Ceritakan padaku tentang Cluj,’ pinta saya. Mata pria berambut pirang itu langsung menerawang ke beberapa tahun ke belakang.

‘Cluj-Napoca adalah nama lengkap kota itu, tapi kamu bisa menyebutnya Cluj. Kota itu merupakan salah satu kota terpenting di Transylvania.’

‘Daerah asal para vampir?’ aku melontarkan komentar bercanda.

‘Yeah, vampires.’ Chongi tertawa mendengarnya. Kemudian ia melanjutkan, ‘Meski demikian, kota itu tidak sebesar Bucharest.’

‘Bucharest,’ saya mengangguk pertanda saya paham kota itu merupakan ibukota Rumania. Banyak orang yang tertukar menyebut nama kota itu dengan Budapest, ibukota Hungaria.

‘Chongi mengangguk. Pada akhir 80-an, sewaktu saya masih kecil, saya ingat, kota kami sangat miskin. Mungkin kamu juga tahu, saat itu Romania masih berada di bawah kendali komunis.’

‘Oh ya, I see…’ benak saya mulai membuka-buka lagi pengetahuan sejarah yang saya pelajari di SMA.

‘Selain pengaruh Uni Sovyet, di Rumania sendiri ada Nicolae Ceauşescu, sang pemimpin diktator. Pokoknya kehidupan kami sempat berada di masa-masa sulit. Ditambah lagi dengan Revolusi Romania, hidup semakin susah saja.’

Saya tidak mengatakan apa-apa. Sulit memang membayangkan kehidupan yang tidak pernah saya jalani.

‘Di bawah kendali komunis, kamu bisa bayangkan. Tidak ada hiburan. Tidak ada kehidupan modern seperti sekarang. Bioskop dilarang memainkan film-film seru buatan Amerika. Konser-konser musik pun terbatas. Maka, satu-satunya hiburan masyarakat Cluj hanyalah sepakbola. Jadi bisa dibilang CFR Cluj adalah satu-satunya grup entertainer di kota kami saat itu.’

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa fungsi stadion pun menjelma menjadi ‘agora’, yaitu ruang berkumpul bagi publik dalam mitologi Yunani. ‘Setelah rezim komunis runtuh, barulah kehidupan di Romania perlahan bangkit. Termasuk di Cluj. Akhirnya sekarang kami bisa menikmati kehidupan normal.’

‘Dan selama ini CFR tetap menjadi kebanggaan masyarakat kalian?’

Exactly,’ mata Chongi berkilat-kilat. Sepertinya dia excited karena aku menangkap arah ceritanya. ‘Bayangkan, di akhir 80-an, CFR hanyalah klub kecil yang hampir bangkrut. Sekarang, mereka sudah berkompetisi di Liga Champions Eropa!’

Cerita pun berlanjut. Klub asal kota kelahirannya itu kini merupakan contender serius dalam pengejaran gelar juara Liga Romania setiap tahun. Maka, di mata Chongi dan ribuan penduduk kota Cluj lainnya, CFR Cluj bukan sekadar klub sepakbola, melainkan simbol perjuangan rakyat Romania dari keterpurukan di bawah paham komunisme menjadi salah satu kota berpengaruh di Eropa.

Setiap kali membicarakan tentang sepakbola dengan pria ini, saya memang pasti menghabiskan waktu paling sedikit tiga puluh menit.

‘Jadi, kamu nggak pernah melewatkan sekali pun pertandingan CFR Cluj?’

Chongi tertawa. ‘Yah, nggak juga sih. Kecuali kalau ada acara penting. Tapi, sebisa mungkin kalau CFR main, saya pasti nonton. Rumah saya di Cluj tepat di belakang stadion CFR. Jadi, setiap mereka main pasti saya nonton.’

Saya memandangi poster-poster dan syal CFR Cluj yang memenuhi dinding kamar pria Romania itu. CFR Cluj nampaknya memang sudah menjadi darah-dagingnya.

‘Lagipula saya dan ayah saya tiap awal musim kompetisi dimulai pasti membeli tiket terusan. Kalau nggak dipake nonton langsung di stadion, mubazir kan? Makanya nonton langsung CFR Cluj menjadi prioritas di jadwal mingguan saya.’

‘Kalau begitu pasti kamu kangen rumah,’ aku menimpali. ‘Di sini kamu nggak bisa ngerasain langsung suasana stadion tiap CFR main.’

‘Untungnya ada teknologi,’ Chongi menepuk-nepuk laptopnya. Dia memang selalu mengikuti sepak terjang CFR lewat streaming internet. ‘Jadi, kamu tahu kapan sebaiknya kamu tidak mengganggu saya. Yaitu setiap kali CFR bertanding.’

Kami berdua tertawa.

‘Jadi CFR sudah menjadi tempat ibadah kedua bagimu setelah gereja?’ saya menggodanya. Tak disangka, raut wajah Chongi kembali berubah serius.

Homo pedifollium.’

‘Apa?’

‘Saya mendengar istilah itu disebutkan oleh dosen teologi saya. Istilah itu sebenarnya buatannya sendiri, berasal dari bahasa latin, seperti homo sapiens atau homo economicus. Saya dan teman-teman sering membahas hal ini. Bahwa banyak golongan manusia yang menuhankan sepakbola. Homo adalah manusia, dan pedifollium adalah sepakbola.’

‘Oh,’ aku mengangguk tanda mengerti. ‘Homo pedifollium.’

Kali ini Chongi tersenyum. ‘Ya. Istilah itu awalnya hanya sebagai ucapan iseng, lama kelamaan istilah iseng itu jadi familiar di Eropa sini untuk menyebut para fans sepakbola. Bagi kami di kota Cluj, semuanya masuk akal karena kami sempat melihat pengaruh langsung sepakbola terhadap masyarakat kami. Akibat pengaruh rezim komunis, sempat banyak rakyat kami yang tidak percaya Tuhan. Mereka hanya mempercayai kekuatan magis para seniman sepakbola yang bisa memberi mereka kegembiraan walaupun sesaat.’

Saya tercenung. Saya langsung jadi teringat beberapa golongan di Argentina yang sampai membangun gereja untuk memuja Diego Maradona, legenda sepakbola mereka.

Chongi benar. Sepakbola selalu memiliki sentuhan ajaib yang membawa kegembiraan ke masyarakat.

Okay then,’ saya bangkit dari kursi saya karena harus mengerjakan tugas.  ‘Terima kasih atas cerita menarik tentang CFR Cluj ya.’

No problem,’ balas Chongi. ‘Lain kali mungkin kamu yang harus bercerita kepada saya tentang Gonzales.’

Saya hanya tertawa mendengarnya.

***

43dff5a3e3af91335caf51008a7a5373

2014 Upcoming Project (1)

Selamat tahun baru 2014!

Sebelum ada yang nanya, apakah saya ada rencana nerbitin novel baru di 2014, saya jawab saja dulu: iya.

Nukilan di bawah ini adalah sedikit dari naskah saya berjudul tentatif ‘Distorsi‘. Sudah disetujui untuk terbit oleh GagasMedia, dan sekarang sedang dalam proses pengeditan.

Oh ya, gara-gara novel pertama saya, ‘Here, After‘ yang bertaburan adegan-adegan tragis, banyak yang mengira novel kedua saya, ‘Rhapsody‘, juga akan bernuansa suram. Ternyata tidak. Banyak yang kaget karena Rhapsody lebih ceria dan inspiratif. Nah, khusus bagi mereka yang menyukai tone-nya Here, After, boleh berharap pada naskah baru ini.

Hope it will live up the expectations! 🙂

Selamat membaca!

DISTORSI

Pada suatu hari, ketika hari di luar sudah mulai gelap, Satria memutuskan untuk masuk ke ruangan perpustakaan mencari Lara. Ruangan itu sudah sepi. Satria hanya melihat punggung Lara dari belakang dan rambut panjangnya yang tergerai. Dia berada di ujung ruangan, sehingga terlihat seolah ditelan oleh jejeran rak penuh buku. Perlahan, Satria berjalan menghampirinya.

Namun, seiring dengan langkah kakinya menyusuri deretan rak buku, ia menyadari bahwa ada yang berbeda dari gelapnya ruangan itu. Hanya ada secuil cahaya matahari sore yang menyelinap dari celah jendela. Rambut panjang Lara terlihat seperti sosok hantu di film-film horor Jepang.

Bukan, itu bukan Lara.

Itu adalah… sosok hantu berambut panjang itu lagi!

Bulu kuduk Satria berdiri. Suasana ini memang cukup horor. Meskipun suara langkah kakinya cukup jelas terdengar di lantai, sosok berambut panjang itu tidak menoleh sedikitpun.

Satria memutuskan untuk memperlambat langkahnya. Tiba-tiba terdengar suara isak tangis perempuan.

Kali ini seluruh urat syaraf di tubuhnya menegang.

Langkahnya sedikit demi sedikit semakin mendekati perempuan berambut panjang itu. Rambut hitam legamnya yang sedikit berombak itu ternyata basah. Punggungnya bergerak-gerak. Suara isak tangis lama-kelamaan semakin terdengar jelas.

Satria mengulurkan tangannya yang bergetar hebat untuk menyentuh punggung wanita itu. Namun seketika dia terhenti.

Sesuatu yang basah dari balik rambut panjangnya meninggalkan noda berwarna gelap di punggungnya. Noda itu perlahan semakin membesar. Lalu semakin besar.

Barulah ia menyadari bahwa noda berwarna merah tua itu adalah…

Darah.

Napas Satria tertahan. Ia menatap sosok itu tak berkedip.

‘La…ra?’ panggilnya lirih.

Sosok itu berhenti terisak. Lalu, dengan sebuah gerakan berkelebat, sosok itu memutar tubuhnya.

Satria menjerit.

***

Dibuang Sayang: Adegan dalam Rhapsody yang Kena Gunting Editor

Halo, semuanya! Pasti ada beberapa di antara kalian yang sudah membaca ‘Rhapsody‘. Nah, dari novel terbaru saya yang tebalnya 324 halaman itu, tentunya ada beberapa bagian yang tidak termasuk ke draft final. Termasuk adegan di bawah ini.

Adegan ini sedianya menjadi kelanjutan malam ulang tahun Bebi, dan pada saat Al menyadari Sari pergi diving ke Pulau Selayar bersama Miguel. Karena sayang jika dibuang, saya post adegan ini sebagai persembahan untuk para fans segenap hostel Makassar Paradise, terutama yang pengen baca pembicaraan-pembicaraan kocak antara Bebi dan Simon.

BZUuu_9CIAEPFax.jpg largeSelamat membaca! 🙂

Lesson of Life no.6:

Everybody loves a joker, but nobody likes a fool.

Pagi itu cerah, seperti hari-hari biasa di musim kemarau ini. Waktu menunjukkan pukul 10, tapi suhu sudah panas menyengat. Aku baru selesai mandi dan berpakaian untuk memulai tugas sehari-hariku menjadi resepsionis. Di meja resepsionis sudah ada Bebi melayani beberapa bule yang hendak check out.

Good morning, guys!’ sapaku ramah kepada tiga orang bule yang hendak check out itu. Mereka membalas sapaanku dan akhirnya aku menghabiskan sekitar satu menit berbasa-basi dengan mereka. Dua pria dan seorang wanita yang berasal dari Swedia ini ternyata tidak bisa ngobrol berlama-lama karena mereka harus mengejar flight mereka jam 12.

’11 o’clock? That’s one hour from now! You guys need to hurry!’

Cewek pirang yang berkulit pucat baru akan menjawab, tapi dipotong oleh perkataan Bebi.

‘Sudah mi saya telepong taksi, tapi sibuk semua taksi katanya.’

‘Yah, gimana dong?’ aku garuk-garuk kepala. ‘Waktunya mepet banget. Flight mereka tinggal sejam lagi. Padahal dari sini ke airport butuh sekitar empat puluh menit. Belum lagi check in dan nitip bagasi.’

Bebi mengangkat bahu. Ketiga turis Swedia itu hanya saing berpandangan. Dalam hati aku menyayangkan kurangnya sarana transportasi di Indonesia, termasuk di Makassar. Di kota manapun, belum terdapat transportasi praktis yang menghubungkan ke airport atau stasiun kereta. Padahal keberadaan transportasi semacam itu sangat penting bagi mobilitas wisatawan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke negara kita.

Akhirnya, aku memutuskan untuk berlari ke luar, guna menyetop taksi di jalan raya. Namun, semenit dua menit berlalu dan tidak satu pun taksi yang lewat. Aku melirik ke arah hostel. Ketiga warga Swedia itu terlihat gelisah.

‘Ojek, Bos?’

Aku tersentak kaget. Ternyata seorang pria berjaket kulit menghampiriku. Aku mengenalnya, dia adalah penarik ojek yang sering mangkal di warung kopi yang terletak beberapa rumah dari hostel.

Aku memutar otak. Mungkin aku bisa naik ojek ke sekitar kawasan MTC Karebosi atau Menara Bosowa untuk memanggil taksi di sana. Kedua tempat itu terletak di pusat kota yang sangat sibuk, sehingga pasti tidak susah menemukan taksi di sana.

‘Ke MTC Karebosi berapa, Daeng?’ tanyaku.

‘Sepuluh ribu, Bos!’

‘Idih, mahal kamma, Daeng!’ aku mencoba berbicara dengan dialek Makassar sebaik mungkin. Sesuatu yang sangat jarang kulakukan. ‘Padahal MTC Karebosi kan kelihatan dari sini.’

Si abang ojek itu menjawab cuek, ‘yah, Bos. Itu awan di atas juga kelihatan dari sini, Bos! Sepuluh ribu itu murah sekali mi, Bos!’

Aku langsung garuk-garuk kepala. Susah memang berdebat dengan logika raja jalanan.

‘Gimana, Bos? Jadi ndak?’

Aku menoleh. Si Abang Ojek ternyata sudah naik ke atas motornya. Aku menoleh lagi ke hostelku di seberang jalan. Ketiga orang Swedia hanya balas memandangiku dari balik pintu kaca. Salah satu dari mereka bolak-balik mengecek jam tangan. Tampak jelas mereka semakin gelisah.

Mendadak, sebuah ide cemerlang mampir ke otakku.

***

‘Iih, Al! Semoga ketiga orang Swedia itu sampai di airport tepat waktu. Kamaseang[1] ki kalo ketinggalang pesawat.’

Aku sudah duduk-duduk santai di balik meja resepsionis bersama Bebi. Aku melahap sebuah jalangkote[2] sebagai sarapan. Late breakfast, tepatnya. Mengingat ini sudah hampir jam 11 siang.

‘Pasti tepat waktu kok,’ kataku santai. ‘Yang gue kuatir hanyalah semoga tukang-tukang ojek itu nggak kebut-kebutan. Kasihan bule-bule itu. Jarak dari sini ke airport tanpa lewat tol itu hampir dua puluh kilometer. Kalau jaraknya jauh dan mereka harus berada di atas motor yang kencang, bisa-bisa mereka jantungan.’

Aku tersenyum-senyum sendiri membayangkannya. Jadi, pada akhirnya tadi aku menyuruh si tukang ojek untuk memanggil dua orang temannya sesama penarik ojek. Daripada ketiga bule Swedia itu ketinggalan pesawat, akhirnya aku menyarankan kepada mereka untuk menumpang ojek sampai airport. Keputusan itu pasti akan lebih menghemat banyak waktu.

‘Kalo tiga bule itu ndak mau lagi kembali ke Indonesia, itu salahmu,’ kata Bebi lagi. ‘Pasti karena mereka kapok dibonceng naik ojek kebut-kebutang kayak dikejar setang.’

‘Ah, santai aja! Bule justru suka tantangan!’

‘Aih tantangang apa anjo[3]! Dibonceng naik motor baku balap-balap sama truk gandeng di jalan raya? Paka dumba’-dumba’ na[4]!’

Aku hanya tertawa mendengar gerutuan Bebi. Setidaknya, pagi ini dia kelihatan segar. Tidak ada tanda-tanda hangover dari maboknya tadi malam. Namun, untuk memastikan, aku bertanya padanya, ‘gimana kepala lo? Pusing nggak?’

‘Iyo, masih pusin. Ta’putar-putar ini dunia sa lihat. Seperti dikocok-kocok isi kepalaku.’

‘Udah, yang penting jadi artis, terkenal di kalangan bule-bule.’

Pintu hostel terbuka. Simon melangkah masuk. Tampang bocah chubby itu terlihat cerah. Aku menebak, pasti disebabkan oleh beberapa jilid komik One Piece terbaru yang berada di dalam genggamannya.

‘Selamat pagi, semuanya! Simon pikir hari ini sangat cerah, tidakkah kalian berpikir seperti itu?’

‘Apa tong kau, battala’![5]’ sindir Bebi. Aku langsung tergelak melihat tingkah keduanya.

‘Ih, Nona Bebi, kok marah-marah, sih? Marah-marah itu nggak baik, you know? Cepat tua kamu nantinya.’

‘Ededeh, ndak bisa ko bicara seperti manusia normal kah?’

Tawaku semakin keras. ‘Look who’s talking!’

Simon menarik sebuah kursi lalu duduk di samping Bebi. ‘Tau deh, tadi malam yang have a good time. A good birthday party, was it not? Ngabisin lima botol vodka? Kamu masih hangover sekarang, aku bisa pastiin.’

‘Duuh! Jauh-jauh ko deh, battala’! Bumi sudah panas kau datang lagi dekat-dekat. Tambah panas mi saya rasa!’

‘Yaa, apa gunanya AC? Dinyalain dong!’

‘Eh, sudah-sudah!’ aku melerai pertengkaran konyol itu. ‘Malu kalo ada guest dan kalian bertengkar kayak kucing sama anjing.’

Aku sudah selesai menyantap sarapanku. Setelah menghabiskan segelas susu, aku menyadari sesuatu.

‘Eh, Miguel mana ya? Kok nggak kelihatan?’

Simon hanya angkat bahu, pertanda dia tidak tahu. Wajar sih, karena dia baru datang. Aku berpaling ke Bebi. Anak itu hanya diam.

‘Beb, lo liat Miguel nggak?’

Perlahan, dia menjawab, ‘emm… katanya sih, pagi ini dia ke Selayar.’

‘Selayar? Ngapain? Untuk berapa hari?’

‘Katanya mau diving. Nginap di sana tiga hari.’

‘Oh gitu. Ya sudah. Aneh juga karena dia nggak ngomong sebelumnya sama gue.’ Tiba-tiba aku menyadari sesuatu. ‘Eh ya, Sari kan juga mau diving di Selayar hari ini. Selama tiga hari juga.’

Hening sebentar. Lalu, dengan nada bicara sangat hati-hati, Bebi menjawab.

‘Emm.. mereka memang berangkat berdua. Tadi pagi.’

***

Keterangan dialog bahasa daerah:


[1] Kasihan

[2] Kue pastel khas Makassar

[3] Tantangan macam apa itu

[4] Bikin tegang aja

[5] Ngomong apa sih, gendut?