Launching Menujuh, Bandung, 10.11.12

Datang ya, ke launching buku kumpulan cerita ‘Menuju(H)’ ini! Penyelenggaraannya akan diadakan di tempat yang mengusung nama hampir mirip: Seven Heaven (ada ‘tujuh’-nya juga, hehehe).

Semua penulis, plus sang ilustrator akan hadir di acara tersebut. Sayang, berhubung saya masih di Swiss, saya tidak akan bisa hadir secara fisik. Meski demikian, ada rencana untuk menghadirkan saya lewat Skype. I’m so excited!

Catat tanggalnya, 10 November 2012 (10 – 11 – 12)!

An Exciting Experience with ‘Menujuh’

Sebenarnya saya berniat untuk tidak akan pernah memberi rating kepada karya-karya saya sendiri. Penilaian adalah sepenuhnya hak pembaca, begitu prinsip saya. Meski demikian, khusus buku ‘Menujuh’ ini, ada enam penulis selain saya yang menampilkan cerita dan gaya menulis masing-masing, sehingga saya merasa perlu memberi penilaian pribadi juga.

‘Menujuh’ bukan hanya tentang menulis. Buku ini terlahir dari sebuah proses kreatif yang dikawal secara bersama-sama oleh ketujuh penulis. Dari pemilihan konsep penulisan, pemberian nama judul, pemilihan ilustrator, sampai pemilihan konsep promosi adalah hasil musyawarah bersama. Terlibat menjadi seperdelapan bagian buku ini (tujuh penulis plus Lala Bohang sebagai ilustrator) merupakan pengalaman yang menyenangkan dan tak terlupakan!

Konsep awal membuat suatu kumpulan cerita dilemparkan pertama kali oleh Dilla (Maradilla Syachridar) melalui sebuah celetukan iseng di pertemuan pada suatu sore hari di kota Bandung. Saya langsung menyambut baik usulan tersebut, yang langsung dilontarkan lagi oleh Dilla kepada Theo (Theoresia Rumthe alias Perempuan Sore) dan Dea (Salamatahari). Ide pun lalu dimatangkan di Warung Ngebul milik Valiant Budi (Vabyo), yang pada akhirnya diajak pula on board. Pada akhirnya, kami pun menentukan bahwa penulis yang terlibat harus genap tujuh orang… eh ganjil maksudnya. Setelah itu, kami tinggal mencari dua penulis lagi untuk mengisi slot tersisa.

Dilla (lagi-lagi), mengusulkan agar kedua slot penulis itu diisi oleh pribadi-pribadi nyentrik dengan gaya tulisan unik. Akhirnya diajaklah Iru Irawan dan Aan Syafrani, dua orang teman baik yang langsung menyambut baik ajakan tersebut.

Lalu, akhirnya setelah melewati brainstorming dan diskusi kreatif yang berlangsung mulus tanpa pro dan kontra, akhirnya dipilihlah benang merah yang akan mengikat ketujuh konsep cerita yang berbeda-beda: yaitu nama-nama hari!

Senin: Aan Syafrani

Saya pribadi merasa cerita Aan sebagai pembuka memberi sesuatu yang fresh. Ceritanya yang kocak dan ‘anak-muda-banget’ menunjukkan potensinya yang selama ini terasah sebagai editor (sekaligus scout) naskah-naskah komedi. Meskipun mengaku baru pertama kali menulis naskah fiksi, namun Aan patut memperoleh apresiasi tinggi atas kedua cerpennya: ‘Seninku Selingkuh’ dan ‘Seninmu Kuselingi’.

Selasa: Theoresia Rumthe

Theo adalah figur yang menarik. Terkenal sebagai penyiar radio di Bandung, Theo punya sisi lain di dunia internet. Blognya, http://perempuansore.blogspot.com, memiliki banyak penggemar setia di mana-mana. Di buku ‘Menujuh’ ini, kami semua memercayai Theo sebagai pimpinan project, yang sekaligus unjuk gigi dengan dua cerpennya, ‘Hari Ketika Hujan Mati’ dan ‘Sebelum Hari Ketika Hujan Mati’.

Rabu: Iru Irawan

Saya sudah mengenal Iru sejak SD, dan selama ini ia dikenal sebagai pemain keyboard band indie Hollywood Nobody dan tukang bermain kata-kata yang kadang melankolis di Twitter. Ternyata Iru jago juga merangkai cerita di ‘Haru Biru Kelabu’ dan ‘Baru Hari Rabu’.

Kamis: Valiant Budi

Selama ini saya mengagumi Vabyo sebagai pembuat cerita dengan alur misterius. Ketika mengajaknya bergabung ke project ini, kami sempat mengira ia akan menolak karena saat itu ia lagi sibuk-sibuknya mempromosikan Warung Ngebul-nya dan buku nonfiksi kerennya, ‘Kedai 1001 Mimpi’. Namun, ternyata ia kembali menghipnotis kita di dua cerita unik, ‘Kamis, Puk-Puk’ dan ‘Simak! Kup-Kup’.

Jumat: Mahir Pradana

Ada gap waktu yang cukup lama bagi saya untuk menyelesaikan kedua cerita di sini. ‘Follow Friday’ saya selesaikan di pertengahan 2011, sebelum berangkat ke Swiss untuk kuliah. Cerita kedua, ‘Moonliner’, saya selesaikan di Swiss setelah memperoleh ilham pada saat pelaksanaan karnaval Fasnacht, Maret 2012. Semoga kalian suka.

Sabtu: Sundea (Salamatahari)

‘Ke Mana Sabtu Pergi?’ dan ‘Ke Sana Sabtu Pergi’ adalah dua cerita yang memang ‘Dea banget’. Sebelumnya, saya mengenalnya lewat tulisan-tulisannya yang unik dan enjoyable di http://www.salamatahari.com . Cara menulis Dea yang ‘one of a kind‘ memberi warna tersendiri di buku rangkaian kisah tujuh hari ini.

Minggu: Maradilla Syachridar

Hari terakhir adalah harinya Dilla, teman sekaligus juga penulis muda yang (lagi-lagi) saya kagumi. Saya sempat mengira ia akan bermain-main dengan genre yang cukup absurd, seperti yang ia tunjukkan di novel-novelnya terdahulu. Ternyata, Dilla muncul dengan sentuhan manis di dua cerita bertema ‘battle of sexes‘, ‘Solo Stranger’ dan ‘Solo Stalker’.

Last but not least, lima bintang saya berikan bukan hanya karena saya ikut terlibat, melainkan karena proses penyusunan buku ini merupakan salah satu pengalaman tak terlupakan dalam hidup saya. 🙂

p.s: Menujuh sudah bisa didapatkan di toko-toko buku terdekat di kota Anda 🙂

MP

Menuju(H): Ketika Para Penulis Memaknai Hari-Hari Mereka

Untuk memuaskan dahaga para pembaca saya yang budiman, well you know, karena banyak yang penasaran kapan saya nerbitin buku lagi. Then here it is, one of my new upcoming books.

Judulnya ‘Menuju(h)’. Buku ini merupakan hasil kolaborasi saya dengan enam orang penulis muda lainnya. Formatnya adalah kumpulan cerita. Totalnya ada empat belas cerita, dengan masing-masing penulis menyumbangkan dua cerita.

Sebagai teaser, Menuju(h) sedikit berbeda format dengan buku kumpulan cerita biasa. Di buku ini, setiap penulis mengembangkan kedua ceritanya dari satu hari dalam seminggu. Siapa sajakah penulis yang terlibat?

Ini dia daftarnya:

– Aan Syafrani

– Theoresia Rumthe

– Iru Irawan

– Valiant Budi

– Mahir Pradana (me!)

– Sundea

– Maradilla Syachridar

Penasaran siapa mendapat hari apa? Then get it on your bookstores near you!

P.S: Remember, this is just one of the upcoming books written by me! 🙂

EXPLORE. DREAM. DISCOVER

Jenewa, Sabtu, 5 November 2011.

Pesawat yang membawa saya kembali ke Barcelona dari Jenewa baru saja mendarat di Geneve Aeroport. Seperti reaksi penumpang pesawat pada umumnya, saya langsung menyalakan smartphone begitu tiba di airport. Selama tiga hari liburan di Barcelona, saya memang tidak mengaktifkan layanan Blackberry. Takut dibombardir tagihan karena kena roaming internasional, hehehe…

Tepat ketika mengaktifkan Twitter, perasaan saya seolah melambung ke angkasa. Seolah-olah ada malaikat tak terlihat yang mengajak saya terbang ke langit ketujuh. Penyebabnya adalah sebuah kabar menggembirakan yang masuk.

‘congrats, Here, After’ masuk longlist tahap ke-2 API 2011!’

Sejenak, saya tertegun. Bumi berhenti berputar. Sebuah celetukan konyol menggema di dalam benak saya.

oh, whoa… I never knew I would make it that far

Ya, novel pertama saya yang terbit di penghujung 2010 tersebut masuk daftar 10 besar Anugerah Pembaca Indonesia (API 2011). A reality which is too good to be true. Bahkan bermimpi pun saya tidak pernah berani sejauh ini.

Mendadak, udara dingin Jenewa tergantikan oleh hangatnya perasaan bangga dan berbagai memori yang merasuk kembali ke benak saya.

  • Memori ketika waktu kecil ayah saya dengan sabar mengajarkan saya membaca danmenulis. Memori ketika beliau lebih memilih memanjakan saya dengan buku daripada mainan robot-robotan.
  • Semua puisi yang saya coba-coba untuk tulis di sela-sela pelajaran membosankan di bangku SMA. Memori ketika buku kumpulan puisi tersebut dicuri oleh teman-teman saya yang jahil untuk ditertawakan rame-rame.
  • Memori tentang surat cinta yang saya kerjakan sehari semalam untuk cinta monyet pertama saya. Saya ingat jelas bagaimana kegelian ketika membaca ulang kata-kata gombal tersamarkan oleh kerasnya degup jantung dan perasaan di dalam hati yang berjuang keras untuk diungkapkan lewat bibir, meskipun akhirnya hanya tanganlah yang merealisasikan ungkapan cinta dengan bantuan kertas dan pulpen.
  • Saat-saat pertama saya memutuskan untuk menulis novel pertama tanpa terlebih dahulu mencoba menulis sesuatu yang lebih singkat, seperti cerpen. Saya ingat jelas naskah tersebut sangat buruk sampai akhirnya saya putuskan untuk membuangnya ke tempat sampah dan akhirnya dibakar.
  • Memori empat tahun lalu, ketika saya menulis kata-kata pertama untuk draft Here, After. Tanpa ekspektasi apa-apa. Hanya ingin membuat sesuatu yang berbeda dari yang lain, yaitu plot dan anti-happy ending-nya…
  • Memori tiga tahun lalu ketika saya memutuskan untuk mengirim naskah tersebut ke penerbit GagasMedia. Lagi-lagi, tanpa ekspektasi apa-apa.
  • Memori di tahun 2010, ketika naskah tersebut diputuskan untuk terbit. Saat itu saya sudah senang bukan kepalang. Target realistis saya adalah, terjual 1000 kopi pun sudah bagus. Ternyata, sudah terjual lebih dari 12.000.
  • Memori dua minggu lalu, ketika Here, After masuk longlist tahap pertama API 2011 bersama dua puluh judul lainnya. Saat itu, target saya adalah untuk mengumpulkan vote sebanyak-banyaknya. Supaya nggak malu-maluin di mata orang-orang yang sudah baca novel saya. Ternyata, pada akhirnya masuk longlist tahap II (10 besar). Salah satu kompetitornya adalah Dewi Lestari, yang saya (dan hampir semua orang di Indonesia) kagumi..
  • Beberapa tahun yang lalu, saya melihat buku biografi Valentino Rossi yang berjudul What If I Never Tried It? Kini, kata-kata itu terus-terusan menggema di benak saya.

Ya. Bagaimana jadinya jika saya tidak pernah mencoba untuk merealisasikan mimpi saya? Bayangkan jika Valentino Rossi nggak pernah mencoba untuk memulai balapan motor, maka kita tidak akan mengenal sosok dia yang telah menjadi legenda di dunia otomotif. Apa jadinya seandainya saya tidak pernah menuangkan sedikit usaha tambahan demi melompat lebih tinggi meskipun hanya ‘sejengkal dari tanah’? Minimal, ‘sejengkal dari tanah’ berarti ‘lebih dekat ke langit’, kan?

Then, in the end, I’m glad that I did. Seperti kata-kata di lagunya Coldplay, ‘if you never try, you’ll never know’.

Satu lagi kata-kata yang sering saya ingat. Yaitu petuah bijak dari penulis legendaris Mark Twain:

“Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover.”

Saya tidak berhenti tersenyum. Life has turned unexpectedly fabulous for me. Saya mendapat kabar bahwa novel saya masuk 10 besar penghargaan bergengsi bersama penulis-penulis besar lain, tepat sehari setelah saya mengunjungi kota impian saya sejak kecil, yaitu Barcelona. I couldn’t ask for more.

Mimpi membawa saya ke sini. Tapi, mimpi-mimpi saya tidak akan terbentuk tanpa peranan orang-orang di sekitar saya yang selalu mendukung saya dalam situasi apa pun. Dengan postingan ini, saya ingin berterima kasih kepada semua orang yang terlibat dalam proses hidup saya sampai sekarang. Termasuk Anda yang sedang membaca postingan ini. 🙂

Explore. Dream. Discover.

Here, After in the Eyes of Fellow Author

Dikutip dari www.goodreads.com, ini adalah review novel Here, After dari Winna Efendi, salah satu penulis yang saya kagumi. Penulis muda ini telah menghasilkan beberapa novel laris, di antaranya Refrain dan Unforgettable.

‘It’s been quite some time since I’ve encountered a book I call ‘mellow’. This is one of them.

The thing is, most of the book feels real in terms of everyday life scenes, dialogue, the characters.. I don’t find the characters likable, but I have to say that real characters are flawed. I like the fact that the writer puts forward truth in his book, instead of writing about something extremely dramatic and unreasonable (though the book, in its latter chapters, do become more dramatic).

Most of all, I like Mahir’s writing style. His book is something I’d like to write myself, in the future, and that’s the biggest compliment a writer can give to another 🙂

Although I find myself getting depressed from time to time when reading this book, it’s nice to get an ounce of reality, sometimes.’

Kata-kata Winna membuat saya tersanjung, ‘…his book is something I’d like to write myself, in the future, and that’s the biggest compliment a writer can give to another…’ . Mengingat dirinya sendiri adalah penulis yang produktif dan memiliki fan-base yang sangat besar.

Saya juga sudah lama mengagumi penulis yang satu ini, selain kemampuan menulisnya yang semakin lama semakin meningkat, Winna juga selalu menjaga kedekatan dengan para pembaca. Ini membuat mereka menyayanginya serta selalu setia menunggu karya demi karya barunya. Silakan mengunjungi Winna juga di blog-nya, http://winna-efendi.blogspot.com/

Thanks, Winna!