San Diego Comic-Con

San Diego Comic-Con 2016

San Diego Comic-Con (SDCC) sudah terkenal sebagai surganya para pop-culture geeks di dunia. Saya sendiri sebelumnya hanya mengetahui ajang ini dari film ‘Paul‘ (2011) dan ‘Chasing Amy‘ (1997). Kalau ada rezeki, suatu saat saya harus ke Comic-Con, pikir saya. Kayaknya seru terlibat dalam euforia orang-orang yang menyenangi berbagai macam pop-culture.

Screen Shot 2017-07-20 at 2.52.02 PM

Kesempatan itu akhirnya datang tahun lalu, tepatnya musim panas 2016, ketika saya dan istri melakukan road trip across United States. Kami sengaja datang ke kota San Diego, California, untuk melihat bagaimana sih event SDCC itu?

Antusiasme event utama yang berlangsung di San Diego Convention Center itu ternyata terasa di seluruh kota. Kami sampai harus parkir mobil di Qualcomm Stadium yang letaknya agak melipir dari tengah kota. Bagusnya, di depan Qualcomm Stadium ada kereta dalam kota (disebutnya trolley), sehingga kami tinggal naik trolley ke Convention Center.

Di dalam trolley, secara bertahap naiklah penumpang-penumpang dengan berbagai dandanan karakter fiksi (cosplay). Star Wars, Star Trek, Lord of the Rings, you name it! Serunya, para orang tua mendandani anak-anak mereka dengan kostum, tapi lebih banyak lagi orangtua yang mengenakan cosplay mereka sendiri. Memang benar, SDCC membangkitkan sisi anak-anak dalam diri orang dewasa.

Screen Shot 2017-07-20 at 2.51.46 PM

Ada yang jadi Jawa di Star Wars

Sesampainya di pusat kota San Diego, terlihat di sana-sini banner raksasa bergambar poster berbagai film atau serial TV yang bar mau keluar dipajang menutupi gedung. Kami berdua tidak bisa masuk ke dalam ruangan yang mengadakan berbagai diskusi panel. Diskusi panel pada tahun 2016 itu antara lain Star Wars: Rogue One, Doctor Strange dan Suicide Squad.

Yang bisa masuk ke diskusi panel hanyalah mereka yang sukses membeli tanda pengenal (badge), sedangkan semua badge sudah habis terjual online dalam sehari pada Februari 2016. Gila, ya?

Mustahil juga membeli badge on the spot atau lewat calo. Orang waras sepertinya tak akan sudi menjual badge yang mereka peroleh dengan susah payah. Maka, saya dan istri harus puas dengan hanya berjalan-jalan di sekitar Convention Center, menikmati semua ‘kegilaan’ SDCC.

Screen Shot 2017-07-23 at 2.44.16 AM

niat banget ini orag jadi Jason (Friday the 13th)

Namun ketika berjalan sedikit ke arah halaman sebuah gedung di luar arena event, kami melihat ada keramaian. Kami pun bertanya kepada para petugas berseragam. Mereka menjelaskan bahwa event di luar ini bisa ditonton secara gratis.

Ternyata, event tersebut khusus membahas serial-serial yang diputar di TV kabel. Sayang, tepat ketika kami melewati antrian dan berhasil masuk, pengumuman di dekat panggung mengatakan bahwa salah satu acara yang ditunggu-tunggu baru saja selesai. Acara tersebut adalah interview bersama penulis naskah dan beberapa pemeran ‘Game of Thrones‘!

Untungnya, kami masih bisa menyaksikan talkshow salah satu serial berjudul ‘Outcast‘. Serial ini sepertinya tak terlalu populer di Indonesia, tapi saya sendiri mengikuti season 1-nya sampai selesai. Saya cukup girang melihat pemeran utamanya, Patrick Fugit (yang juga pernah bermain di film ‘Almost Famous‘), melambai ke arah penonton.

Screen Shot 2017-07-20 at 2.52.23 PM

atas: Talkshow ‘Outcast’ bawah: kami berdua di depan San Diego Convention Center

Sebelum kami beranjak dari daerah panggung, sempat diadakan pemutaran perdana trailer salah satu film yang ditunggu-tunggu pada tahun 2017, yaitu ‘Justice League‘!

Kami tidak mengikuti talkshow setelahnya karena kami ingin lebih menikmati suasana SDCC. Kami berjalan kembali ke jalan-jalan di sekitar Convention Center yang telah berubah menjadi lautan cosplay. Salah satu yang menurut saya paling unik adalah beberapa anak balita yang didandani menjadi Ghosbusters di bawah ini:

Today's best cosplay at #SanDiegoComicCon goes to these little Ghostbusters! šŸ˜

A post shared by Mahir Pradana (@maheerprad) on

Sayang, kami hanya punya waktu sehari untuk berada di San Diego, padahal SDCC sendiri berlangsung selama 4 hari. Meski demikian, kami sudah cukup puas dengan pengalaman once in a lifetime ini.

Advertisements

Andorra

Pesona Andorra, Negara Kecil di Perbatasan

Spanyol – Prancis

Beberapa waktu lalu, teman-teman dariĀ http://wewerehere.id/Ā mengundang saya dan istriĀ untuk berbagi pengalaman kami traveling ke Andorra. Cerita yang kami bagikan di Twitter itu saya rangkum lagi di sini, lengkap dengan foto-foto hasil jepretan kami.

Kenapa kami memutuskan untuk ke Andorra? Kami pengin ngerasain rasanya berada di salah satu negara terkecil di dunia. Kami penasaran kehidupan masyarakat di suatu negara kecil seperti apa. Agak nyesel dulu ga sempat main ke San Marino & Liechtenstein.

Continue reading

[TRAVEL STORY] CHRISTIANIA

Beberapa saat yang lalu, entah kapan, saya pernah berjanji mau berbagi sedikit pengalaman travelingĀ berkesan saya. Janji itu rasanya sudah lama sekali, hahaha.Ā Mumpung saya sedang dalam mood bercerita (dan juga mood traveling), saya mulai sedikit bercerita tentang…

CHRISTIANIA!

Ketika nama tempat ini disebut, mungkin banyak yang mengerutkan kening. Di mana itu? Kota apa itu? Negara apa itu? Sayangnya, penjelasan geografis hanya akan membuat kita bingung. Jadi, saya coba mulai menjelaskan ‘Christiania’ berdasarkan penjelasan di Wikipedia.

Freetown Christiania adalah wilayah otonomi yang secara geografis berada di tengah-tengah kota Copenhagen, Denmark. Luasnya sekitar 34 hektar dengan penduduk sekitar 850 jiwa. Pemerintah Denmark melarang peredaran ganja, tapi khusus untuk Christiania, penjualan dan pemakaian ganja dianggap legal.Ā  Continue reading

Football Traveling (4): Champions League Throwback

FC Basel vs Schalke 04, 1Ā Oktober 2013 (video: koleksi pribadi Mahir Pradana)

Selama ‘football traveling‘ saya di Swiss pada tahun 2011-2013 lalu, salah satu yang paling berkesan adalah St. Jakob Park, Basel, pada 1 Oktober 2013. Ketika itu, saya akhirnya berkesempatan menonton langsung Liga Champions Eropa, ajang antarklub paling bergengsi di benua tersebut. Continue reading

Football Traveling (3): Stade de Suisse (Bern)

Terlepas dari statusnya sebagai ibu kota, Bern sebenarnya tidak lebih dari sebuah kota kecil yang sederhana. Populasinya hanya 134.000 jiwa. Dibandingkan dengan dua kota besar tetangganya, yaitu ZĆ¼rich dan Basel, wajah Bern sangat berbeda. Basel dan ZĆ¼rich dipenuhi gedung-gedung beton dan jalan-jalan lebar, sedangkan Bern masih menjaga sebagian besar bangunan tuanya. Andai bukan dengan tujuan untuk kuliah di UniversitƤt Bern, saya tidak pernah membayangkan suatu hari akan tinggal di kota itu.

Kota Bern memiliki klub sepak bola bernama Young Boys (YB). Klub ini tidak terlalu terkenal memang, terutama jika dibandingkan klub raksasa Swiss, FC Basel. YB juga sudah lama tidak juara Liga Swiss, terakhir mereka menjadi juara pada tahun 1986. Continue reading

Football Traveling (2): ‘Home & Away’, Santiago Bernabeu

Dengan terbitnya buku ‘Home & Away’, petualangan saya di Eropa menonton pertandingan-pertandingan sepak bola pun akhirnya berwujud sebuah kumpulan catatan perjalanan. Sebagai pengikut setia Liga Spanyol, sejak kecil saya bermimpi suatu saat nanti saya akan bisa bertualang di negeri matador untuk menyaksikan langsung klub-klub La Liga Primera berlaga di stadion mereka. Mimpi itu baru akhirnya kesampaian dua tahun lalu, tepatnya di bulan April 2012. Saat itu, saya dan seorang teman nekat bertualang di tiga kota Spanyol selama sepuluh hari untuk merasakan langsung atmosfer La Liga.

Sekalian nostalgia, saya akan menuliskan pengalaman tersebut secara berseriĀ di blog ini. Cerita lengkapnya bisa dibaca di ‘Home & Away’ terbitan GagasMedia.

cropped-title-image-mp2.jpg

Awalnya, saya yang kuliah di Swiss dan teman saya yang saat itu kuliah di Italia bernama Rusmin (di Twitter dia beredar dengan akun @mrusmin) menghabiskan hampir seharian menjelajah kota Madrid. Setelah sempat keluar masuk metro (kereta bawah tanah) dan bertanya ke sana ke mari untuk mencari-cari informasi tentang lokasi stadion Santiago Bernabeu, akhirnya kami pun sampai. Kami akhirnya tiba di salah satu ā€˜tanah suciā€™ sepakbola dunia itu.

Bangunan Stadion Santiago Bernabeu berdiri gagah di tengah-tengah distrik Chamartin, sebuah wilayah ramai pusat kota Madrid. Di luarnya, beberapa bendera kuning-merah yang melambangkan federasi Spanyol berkibar-kibar ditiup angin musim semi. Stadion itu memang merupakan stadion kebanggaan Spanyol. Nama stadion sendiri diambil dari nama mantan pemain Real Madrid yang juga pernah menjabat menjadi presiden klub, Santiago Bernabeu Yeste. Stadion ini memiliki muatan sejarah yang panjang, salah satunya menjadi penyelenggara pertandingan final Piala Dunia 1982.

Di saat kami berjalan ke ticket box, antrian sudah mengular. Terlihat lebih banyak wisatawan yang mengantri di depan ticket box itu. Bisa dipahami, karena penduduk asli Madrid pasti sudah memiliki tiket terusan atau melakukan online booking. Setelah berhasil melewati antrian dan memperoleh tiket pertandingan sekaligus tiket tur ke museum Real Madrid dan stadion Santiago Bernabeu, akhirnya kami masuk juga ke dalam museum.

20 Euro adalah jumlah yang kami keluarkan untuk tiket museum klub terbesar di dunia tersebut. Kami penasaran, seberapa jauh Real Madrid menyaingi Barcelona dalam urusan sport-tourism mereka. Dengan jumlah uang tersebut, pengunjung bisa masuk mengagumi kemegahan konstruksi dan fasilitas stadion, bahkan duduk-duduk di bangku cadangan pemain. Selain itu, daya tarik utama tentunya El Museo del Madrid (Museum Real Madrid). Museum ini memang merupakan tempat yang wajib dikunjungi oleh penggila sepakbola. Apalagi kalau bukan karena alasan sejarah panjang klub sepakbola nomor satu Spanyol tersebut, ditambah lagi mereka merupakan salah satu klub sepakbola tersukses di dunia dari sisi prestasi maupun finansial.

nllssbm4

Great view!

Selama berpuluh-puluh tahun, Real Madrid memenangi trofi demi trofi bergengsi dan menguasai dunia dengan para jugador zaman dulu mereka, seperti Alfredo di Stefano dan Ferenc Puskas. Isi lemari Real Madrid sudah penuh sesak dengan gelar juara domestik plus 5 trofi Piala Champions yang mereka dominasi dari tahun 1956 sampai 1960.

Maka, jika berkeliling di dalam museum Real Madrid, yang terlihat adalah parade kesuksesan selama berabad-abad. Piala dari tahun 1950-an sampai abad ke-21 menghiasi seluruh ruangan.

Real Madrid juga selalu menjadi salah satu pelaku utama gemerlapnya panggung sepakbola Eropa zaman modern dengan gelimang harta dan pemain-pemain kelas dunia yang seolah sangat gampangnya mereka gaet. Stadion Santiago Bernabeu selalu dipenuhi pemain-pemain sekaliber Ronaldo Luis Nazario da Lima, Luis Figo, Zinedine Zidane, David Beckham, Ruud Van Nistelrooy, hingga nama-nama beken masa kini seperti Cristiano Ronaldo, Kaka dan Mesut Ozil.

Maka, meskipun bukan fans Madrid, namun penggila bola seperti saya dan Rusmin terpesona melihat ā€˜peninggalan-peninggalanā€™ beberapa pemain dunia yang masih tersimpan di rak-rak museum Real Madrid.

nllssbm2

Ini foto dua tahun lalu, jadi banyak di antara pemain-pemain di galeri itu yang sudah pindah

Yang unik dari museum Real Madrid adalah mereka membuat museum mereka seperti rumah bagi para pemain yang pernah menghiasi sejarah mereka. Jangan heran jika Anda bisa melihat sepatu-sepatu lama milik Cristiano Ronaldo atau KTP zaman remaja Raul Gonzalez!

***

Matchday: Real Madrid vs Sporting Gijon

Pertandingan dimulai pukul 21:00, namun sejak sore, ribuan pengunjung sudah berbondong-bondong datang ke stadion. Kapasitas stadion yang sekitar 85-ribu itu memang selalu terisi penuh. Terlihat jalan di depan stadion diblokir. Mobil-mobil polisi berjaga di sana-sini. Setiap ada ā€˜Real Madrid Dayā€™, seluruh daerah di sekitar kawasan stadion Santiago Bernabeu memang seolah berubah menjadi Kaā€™bah. Lautan manusia menyemut dan mengerubungi stadion bersejarah itu.

Rusmin dan saya masuk ke stadion. Tiket kami seharga 39 Euro itu di-scan oleh sebuah mesin elektronik di pintu masuk. Setelah itu, beberapa petugas memeriksa tas kami masing-masing. Meskipun tergolong salah satu stadion paling aman di dunia, para panitia pertandingan pasti tak mau ambil risiko jika misalnya ada penonton yang cari gara-gara dengan membawa senjata tajam ke dalam stadion. Bahkan, botol minuman plastik pun dicekal. Botol air mineral yang saya beli harus saya relakan untuk dibuang ke tong sampah. Padahal isinya masih penuh. Kirain cuma di Indonesia botol minuman plastik dilarang masuk karena takut dipakai menimpuk pemain.

Namun, begitu kami baru selesai menaiki tangga untuk naik ke bagian stadion yang lebih tinggi, saya bisa melihat alasan mengapa penonton dilarang membawa minuman dari luar. Ternyata banyak stan makanan dan minuman yang memanfaatkan ruangan-ruangan di dalam stadion. Segala macam makanan bisa ditemui di situ, seperti hot dog, sandwich, kebab, sampai patatas fritas (french fries), termasuk pula berbagai macam minuman ringan. Setiap jeda pertandingan, penonton bisa membeli makanan dan minuman di stan-stan tersebut, tak usah keluar stadion lagi. Jadi, jika semua penonoton membawa minuman mereka sendiri, para penjual ini akan rugi.

Rusmin dan saya akhirnya menemukan tempat duduk kami sebuah tribun yang terletak di belakang gawang. Memang itulah tiket yang paling murah, padahal harganya yang 39 Euro cukup terbilang mencekik. Kocek mahasiswa kami memang belum sanggup membeli tiket tribun yang di tengah, apalagi tribun VIP yang harganya bisa mencapai 300 Euro.

Kemegahan di Santiago Bernabeu sudah terlihat sebelum pertandingan dimulai, penyelenggara pertandingan Real Madrid terlebih dahulu memainkan mars resmi klub yang berjudul ā€˜Hala Madridā€™. Lagu yang dinyanyikan seorang penyanyi tenor laksana Pavarotti itu ternyata diperlakukan seperti lagu kebangsaan jika tim nasional sebuah negara akan bertanding. Hampir seluruh penonton akan berdiri dan mendengarkan dengan khidmat. Mereka sangat menghargai lagu mars yang telah berusia beberapa dekade tersebut. Lagu itu tentunya menjadi teman setia dalam berpuluh-puluh tahun sejarah besar Real Madrid.

Saya memandang ke atas. Seluruh bagian stadion Bernabeu tertutup atap. Saat itu adalah bulan April, yang masih termasuk musim semi. Musim semi di Spanyol berarti curah hujan termasuk tinggi. Maka, udara pun masih tergolong bikin kulit menggigil. Namun, semua itu teratasi oleh fasilitas kelas wahid Stadion Santiago Bernabeu. Semua tribun di stadion kebanggaan Madrid ini tertutup oleh atap dan dilengkapi dengan fasilitas penghangat ruangan.

Sampai sekarang, saya tidak pernah lupa akan fasilitas bintang lima stadion ini. Bisa dibilang, Santiago Bernabeu adalah salah satu stadion paling megah yang pernah saya kunjungi.

***

Real Madrid yang merupakan salah satu klub terhebat dunia dengan salah Cristiano Ronaldo sebagai pemain andalannya terlalu tangguh bagi lawannya, tim liliput bernama Sporting Gijon.

Gijon sempat mengejutkan di babak pertama dengan mencetak gol lewat penalti. Namun, kelas Madrid masih jauh di atas mereka. Keunggulan kualitas pemain membuat Real Madrid menang 3-1. Saat itu, Madrid yang ketinggalam lebih dulu lewat gol pinalti akhirnya membalas dengan gol-gol ketiga penyerang andalan mereka, Gonzalo Higuain, Cristiano Ronaldo dan Karim Benzema. Seluruh penonton di Santiago Bernabeu (95% di antaranya merupakan pendukung Madrid dan 5% turis seperti kami berdua) pun membubarkan diri dengan perasaan senang.

Saya dan Rusmin tidak butuh waktu lama untuk menemukan cara untuk pulang. Yang mengesankan dari Santiago Bernabeu adalah lokasinya yang berada tepat di pusat kota Madrid, tapi tidak sesemrawut Stadion Utama Senayan yang berada di Jakarta. Kita pasti tahu persis, jika ada pertandingan sepakbola berlangsung di Jakarta, maka neraka adalah sebutan yang tepat bagi para pengendara kendaraan bermotor. Mereka akan terjebak kemacetan Senayan yang butuh waktu berjam-jam untuk diatasi, belum lagi potensi kerusuhan oleh suporter.

Di Madrid, semua berlangsung lancar. Tepat di pintu keluar stadion Santiago Bernabeu, terdapat stasiun metro (kereta bawah tanah), sehingga masyarakat bisa langsung mempergunakan transportasi umum tanpa terjebak macet.

*pernah dimuat di website www.bolatotal.com pada bulan Juli 2013*

nllssbm1

kapan lagi bisa selonjoran di bench pemain Real Madrid?