Sneak Peek: Sunset Holiday (New Novel)

Seperti yang sudah diungkapkan Nina Ardianti di blognya, kami berdua memulai proyek nulis duet bergenre komedi romantis ini sekitar sembilan bulan lalu. Sempat diganggu oleh banyaknya kerjaan, ngurus studi, ngurus berbagai dokumen dan lain-lain (baca: kehidupan nyata), akhirnya naskah ini selesai juga. Sambil menunggu keputusan dari editor tentang kapan terbitnya, mari kita simak lagi sedikit excerpt dari cerita perjalanan karakter Ibi dan Audy:

AUDY

Berlin memang salah satu kota yang ingin aku datangi. Aku bahkan sudah booking hostel untuk dua malam di sebuah hostel yang letaknya agak ke tengah kota. Hanya saja waktu booking, aku masih di Jakarta. Belum tahu bahwa akan ada sesosok cowok yang nebeng itinerary-ku, yang belum memikirkan mau tidur dimana selama di Berlin.

Mengingat aku sudah meninggalkan Ibi selama dua malam di Munich, nggak mungkin banget aku membiarkannya mencari hostel sendirian lagi di Berlin.

“Kamu yakin?” Ibi bertanya ke sekian kalinya ketika mencari-cari hostel yang masih kosong di hostelworld.com. “Deposit-nya bakalan hangus, lho.”

Tadinya aku menyarankan Ibi untuk booking hostel yang sama denganku. Sayangnya, karena ini liburan musim panas, tempat itu penuh banget. Mau nggak mau kami harus mencari hostel lain, yang bisa untuk kami berdua. Aku merelakan deposit di hostelku sebelumnya hangus.

“Aku nggak mau merasa bersalah lagi sama kamu.” Aku menimpali dengan asal sambil mengunyah keripik kentang yang aku bawa sebagai bekal. “Lagipula, perasaan baru beberapa jam yang lalu, deh, kita berjanji nggak akan berpisah selama perjalanan ini.”

Ibi nggak bisa menahan cengirannya. “Tumben kamu nggak short-term memory lost. Biasanya kayak si Dory di Finding Nemo.”

“Waaahh… Cowok kayak kamu nonton Finding Nemo juga?” Aku meledeknya.

“Nggak ada yang salah kali.” Ibi mendengus. “Nggak bikin aku jadi kurang cowok juga.”

“Hihihi.” Aku terkikik geli. “Nggak ada yang bilang salah dan kurang cowok juga kali…”

Ibi mengabaikanku dan fokus mencari hostel. Beberapa saat kemudian, “Udah fully-booked semua, nih.” Ia menoleh ke arahku.

“Yah, terus gimana dong?” aku menatapnya kecewa. Dan khawatir.

“Aku ingat temanku ada yang pernah backpacking ke Berlin dan nginap di salah satu youth hostel. Nggak jauh dari stasiun kereta. Cuma aku nggak ingat namanya apa.”

“Ya udah, tanya ke teman kamu sana.”

Ibi langsung menghubungi temannya. Setelah lima menit sibuk mengetik tanpa henti di ponsel, akhirnya Ibi menoleh ke arahku dan berkata, “Kata temanku, kita langsung kesana aja. Banyak yang go show juga, kok. Dia juga go show waktu kemarin kesana.”

“Oh gitu?” aku rada sangsi.

Namun melihat anggukan Ibi yang begitu mantap, aku nggak punya pilihan selain mengikuti rencananya.

***

IBI

Selepas turun dari bus, kami berjalan kaki keluar dari ZOB, lalu mencari-cari arah menuju ke jalur S-Bahn dan U-Bahn. Setelah mencocokkan dengan informasi hostel yang kami telah cari sebelumnya, akhirnya kami pun menemukan koneksi U-Bahn dan S-Bahn menuju ke hostel.

Sebagai kota metropolitan, Berlin ternyata sangat padat. Ketika kami berganti kereta di stasiun Friedrichstrasse, aku hampir saja kepisah dari Audy saking berdesak-desakannya penumpang. Belum lagi koper pink-nya yang bikin repot. Tentu saja aku nggak mengutarakannya ke Audy. Bisa dicubit sampai memar nanti.

Setelah akhirnya menemukan diri kami di gerbong S-Bahn yang sudah setengahnya kosong, kami pun duduk berdampingan di kursi penumpang. Suasana sudah lumayan santai, sehingga aku bersenandung.

“Oke, stop, stop!”

Aku menghentikan senandungku. “Kenapa?”

Audy menggigit bibirnya dengan ekspresi yang menggemaskan. Ketika aku bilang ‘menggemaskan’, mungkin levelnya nyaris setara dengan kecentilan Audrey Hepburn di ‘Breakfast at Tiffany’s’. Yah, begitulah kira-kira.

If I don’t ask this question, I will be forever haunted.”

Deg. Dadaku langsung berdentum. Darahku berdesir. Apakah ini saatnya menghadapi pertanyaan penting itu…

What question?”

“Itu lagu apa sih yang kamu nyanyiin dari tadi?”

Hatiku langsung mencelos. Ugh, ternyata bukan sepenting pertanyaan ‘would you be my boyfriend?’

Setelah itu aku langsung membayangkan menoyor kepalaku sendiri. Bukannya itu harusnya dialog aku ke dia? Di mana harga diri aku sebagai cowok?

“Yang ini?” tanyaku, lalu bersiul campur bergumam.

“Nah itu!” seru Audy bersemangat. “Kedengaran catchy banget.”

Nobody knows it but you’ve got a secret smile

And you use it only for me

 

Audy mengerutkan kening. Tampak mencoba mengorek ingatan. “Itu lagu lama ya?”

“Secret Smile, dari band Semisonic. Band 90-an,” aku menerangkan sambil terus menyenandungkan lagu itu. Nobody knows it, but you’ve got a secret smile…

Itu membuat Audy tersenyum penuh arti. “HA! I get it.”

“Apa?”

“Kamu sengaja ngulang-ngulang supaya jadi gombal terselubung, ya?”

Aku nyaris tersedak. “Wooy, fitnah. Kalau mau ngegombal, mending aku ngomong langsung, kali.”

Kami berdua tertawa. Tanpa terasa, akhirnya kami sampai di stasiun yang dituju, dan hostel kami hanya sekitar 300 meter dari stasiun tersebut.

 ***

 “Aku punya kabar baik dan kabar buruk.”

Audy langsung berdiri menyambutku. Sudah sekitar lima belas menit kutinggalkan dia di ruang tunggu youth hostel tersebut. Gadis itu sejak tadi hanya memandangi beberapa anak muda bule yang sedang bermain bilyar sambil menenggak bir.

“Kabar buruk dulu deh.” Kata Audy nggak bersemangat. Wajahnya langsung terlihat lemas.

“Kamar-kamar di hostel ini sudah fullybooked. Liburan musim panas soalnya.”

‘’Yah, nasib ya nyari penginapan dengan cara go-show gini.” Audy menyampirkan poninya ke samping. “Kalau gitu, kita sekarang harus cari hostel lain?”

Aku langsung nyengir lebar. “Justru di sini kabar baiknya.”

Audy mengernyit. “Apa?”

Follow me.”

***

Beberapa menit kemudian, kami sudah berada di halaman belakang hostel tersebut. Lokasi bangunan hostel memang berada di daerah suburb, dengan sebuah lapangan menyerupai padang rumput di halaman belakangnya.

Audy menyeret koper pink-nya sambil memicingkan mata di balik kacamata hitam. Ternyata kacamata hitamnya tidak cukup menangkal cahaya matahari, sehingga ia harus menghalau cahaya silau dengan sebelah tangan. Gadis itu menatap tenda-tenda yang berjejer di padang rumput.

“Wauw, baru kali ini aku melihat yang seperti ini,” gumamnya terdengar takjub.

Aku melangkah keluar dari pintu belakang hostel sambil membawa dua buah sleeping bag. “Come on, let’s go!”

Kernyitan di dahinya bertambah dalam, “Heh? Mau kemana?”

“Tenda kita.”

Kedua mata Audy membelalak. “Kita akan nginap di sini? Di salah satu tenda ini?”

Aku nyengir lebar. “Aku lupa bilang bahwa itulah kabar baiknya.”

Ekspresinya berubah menjadi horror. Ia lalu tertawa miris dan menggeleng. “No way.”

“Oh, ayolah, nggak buruk kok. Daripada kita mondar-mandir nyari hostel lain lagi. Belum tentu juga ada yang kosong.’

Aku melangkah ke deretan tenda dan menyapa beberapa muda-mudi yang duduk di sekitar tenda mereka sambil berjemur di bawah matahari. Mataku mencari-cari nomor tenda yang diberikan oleh resepsionis hostel. Di belakangku, Audy mengikuti sambil terus-terusan mengoceh.

“Ini pertama kalinya aku tidur di dalam tenda, loh. Aku nggak pernah ikut pramuka waktu sekolah dulu. Nggak mungkin ya minjem kasur buat dibawa ke tenda?”

Kuacuhkan semua pertanyaannya dan berhenti di depan tenda bernomor ‘12’. Setelah menyibakkan kain yang menjadi pintu untuk membuka tenda itu sedikit, aku memberinya tatapan dan senyuman jahil.

After you, princess.”

Ia membalas dengan tatapan cemberut. “Kita nggak tau apakah sleeping bag-nya bersih atau nggak. Kalo kulitku gatal-gatal, itu salah kamu.’

“Ini akan jadi pengalaman tak terlupakan, trust me!”

Di dalam tenda, Audy menaruh tas dan kopernya di salah satu sisi. Ia terpaksa berlutut karena atap tenda yang rendah. Tenda itu sendiri berjenis dome setengah bulat yang biasa dipakai berkemah. Aku mengikutinya masuk ke dalam untuk menaruh kedua sleeping bag. Tenda itu hanya beralaskan rumput, jadi tentu saja kami membutuhkan benda itu.

“Tenda ini hanya berkapasitas dua orang ya?” tanya gadis itu lagi.

That’s why it will be unforgettable,” aku tersenyum.

 ***

Sekian dulu lah ya, teaser dari naskah ber-working title ‘Sunset Holiday’ ini. Ditunggu saja semoga cepat terbit 🙂

MY BOOK CHARITY

Bencana di beberapa wilayah Indonesia akhir-akhir ini, mendorong teman-teman saya di Latimodjong Bandung ( http://latimodjong-bandung.com ) untuk mengadakan bakti sosial menggalang dana untuk disumbangkan ke lokasi-lokasi yang membutuhkan. Karena harus bekerja sehingga gerak saya terbatas untuk terlibat dalam penggalangan dana, saya ingin berkontribusi dengan cara lain, yaitu menjual beberapa buku koleksi saya.

Judul-judul buku di bawah ini sengaja saya jual online karena siapa tahu ada beberapa teman yang membutuhkan atau sudah mencari-cari sejak lama. Jika ada buku yang diminati, silakan kontak saya di 082193187891 atau e-mail ke mahir.pradana@gmail.com. Buku-buku ini juga akan saya jual di pasar kaget di sekitar Lapangan Gasibu Bandung pada hari Minggu pagi, 2 Maret 2014.

Harga-harga yang tertera saya sesuaikan dengan kondisi buku. Harga 10-ribu mungkin disebabkan oleh kondisi yang sudah usang atau ada beberapa bagian yang cacat, tapi dijamin masih bisa dibaca lengkap. Harga 15-ribu dan 20-ribu didasarkan pada kualitas yang lebih bagus atau judul buku yang lebih terkenal, tapi semuanya saya usahakan untuk dilepas dengan harga terjangkau.

Silakan kontak saya jika berminat!

Buku-Buku Terjemahan:

  1. No Country for Old Men oleh Cormac McCarthy – Rp. 15.000
  2. The Professor and the Madman oleh Simon Winchester – Rp.15.000
  3. Dracula oleh Bram Stoker – Rp. 10.000
  4. The New Life oleh Orhan Pamuk – Rp. 20.000
  5. Rage of Angels oleh Sidney Sheldon – Rp.10.000
  6. Life’s Golden Ticket oleh Brendon Burchard – Rp.10.000
  7. Room to Read oleh John Wood – Rp. 15.000
  8. Come Together oleh Josie Lloyd dan Emlyn Rees – Rp. 10.000
  9. The Men’s Guide to Women’s Bathroom by Jo Barrett – Rp. 20.000
  10. The Witness by Sandra Brown – Rp. 15.000
  11. Bloodline by Sidney Sheldon – Rp. 10.000
  12. Vita Brevis by Jostein Gaarder – Rp. 10.000
  13. Rispondimi oleh Susanna Tamaro – Rp. 10.000
  14. Da Vinci Code oleh Dan Brown – Rp. 20.000
  15. Memories of Midnight oleh Sidney Sheldon – Rp. 10.000
  16. Are You Afraid of the Dark? Oleh Sidney Sheldon – Rp. 10.000
  17. Tuesdays with Morrie oleh Mitch Albom – Rp. 20.000
  18. 5 People You Meet in Heaven oleh Mitch Albom – Rp. 20.000
  19. Cecilia dan Malaikat Ariel oleh Jostein Gaarder – Rp. 10.000

 Image

Buku-Buku Dalam Negeri:

  1. Drop Out (DO) oleh Arry Risaf Arisandi – Rp. 15.000
  2. Jakarta-Paris via French Kiss oleh Syahmedi Dean – Rp.10.000
  3. Mendamba oleh Aditia Yudis – Rp. 10.000
  4. Rindu oleh Sefryana Khairil – Rp. 10.000
  5. Maryamah Karpov oleh Andrea Hirata – Rp. 20.000
  6. Forever Yours oleh Karla M. Nashar – Rp. 10.000
  7. Adriana oleh Fajar Nugros dan Artasya Sudirman – Rp. 10.000
  8. Kumawa Aing Weh – Rp. 20.000
  9. Watir – Rp. 20.000
  10. Marmut Merah Jambu oleh Raditya Dika – Rp. 20.000
  11. 9 Summers 10 Autumns oleh Iwan Setyawan – Rp. 15.000
  12. Menerjang Batas oleh Estu Ernesto – Rp.15.000
  13. Keliling Eropa 6 Bulan oleh Marina Sylvia — Rp. 15.000