About ‘Blue Heaven’

‘After all, family is the one that shows you’re not alone in this world…’

Setelah selesai menulis novel pertama saya, ‘Here, After‘ (2010), saya sebenarnya langsung menulis sebuah naskah dengan working titleHearts at Home‘. Naskah tersebut saya tulis sepanjang 2011, tapi sempat terpotong ketika saya disibukkan urusan persiapan lanjut kuliah ke Swiss.

Setelah dua tahun, naskah itu terkatung-katung dalam kondisi 80%. Seperti diketahui, selama 2012 dan 2013 saya disibukkan dua project menulis lain, yang pada akhirnya berhasil jadi buku, yaitu novel ‘Rhapsody‘ (2013) dan nonfiksi catatan perjalanan saya ke berbagai event sepak bola di Eropa, ‘Home & Away’ (2014). Hearts at Home pun sempat didiamkan lama dan tak tersentuh.

Pada akhir 2013, penerbit Rak Buku mendekati saya dan kami pun berdiskusi tentang kemungkinan menerbitkan naskah tersebut. Tertarik dengan keluarga sebagai tema besarnya, naskah tersebut pun meluncur ke redaksi Rak Buku dan menjalani beberapa treatment, antara lain ending versi saya yang beberapa kali mengalami perubahan dan beberapa adegan yang ditambahkan dan beberapa dihapus.

Pada tahun 2014, Hearts at Home pun terbit dengan judul baru ‘Blue Heaven‘. Premisnya tentang empat bersaudara keluarga Arizki, Riyaz, Raisa, Rafi dan Rayden (yep, semua nama diawali dengan huruf ‘R’). Sejak ayah mereka meninggal, mereka berempat berusaha mempertahankan keluarga mereka agar tidak menjadi sebuah disfunctional family. Apalagi dengan berbagai intrik yang datang mengganggu, beberapa di antaranya berupa intrik politik dan permasalahan keluarga tentunya.

Blue Heaven

Atas terbitnya novel berjudul lembut dan bercover menawan ini, saya berterima kasih kepada teman-teman di Rak Buku, antara lain Dewi Fita sebagai editor dan Dwi Anissa Anindhika ‘Aneesy’ atas cover cantiknya. Silakan mencari novel tersebut di rak fiksi toko-toko buku terdekat. Sejak awal Desember 2014, Blue Heaven sudah tersebar di seluruh Indonesia.

After all, selamat menikmati novel ketiga saya. Masih seperti biasa, sedikit dark tapi dengan sentuhan hangat dan inspiratif. Semoga semua pesannya sampai.

18 Desember 2014,

Mahir Pradana

Tentang ‘Home & Away’

Akhirnya, buku yang ditulis dengan penuh perjuangan ini terbit (memangnya ada buku yang nggak pake perjuangan?). Sempat tertunda beberapa bulan karena hal ini-itu, buku memoar perjalanan saya ke beberapa stadion / event sepak bola di benua Eropa akhirnya akan muncul di toko-toko buku seluruh Indonesia.

Oh ya, judul awal yang tadinya ‘Football Traveling’ pun diubah menjadi judul final yang memakai istilah di kompetisi sepak bola:

  • Home & Away

Penerbit GagasMedia pun melabeli buku ini dengan ‘traveling’. Berarti, kemungkinan buku ini akan ditemukan di rak yang berbeda dengan buku-buku saya sebelumnya (novel). Terlepas dari apakah dilabeli ‘traveling’ atau ‘sepak bola’, saya sudah cukup bersyukur buku ini akan beredar dan dibaca orang. Ini juga akan menjadi buku pertama saya yang berdasarkan kisah nyata, karena sebelum-sebelumnya semua buku saya kisah fiksi, hehehe.

BxqMJyrCAAAAH10

Buku ini akan memuat ringkasan perjalanan saya di Eropa (yang berhubungan dengan sepak bola, tentunya) selama 2 tahun, dari periode 2011-2013. Tidak lupa berbagai cerita menarik dan kontemplasi yang menyertai (jadi bukan cuma jalan-jalan dan foto-foto saja). Adapun beberapa event bola yang saya datangi selama periode itu adalah:

1. FC Zurich vs Vaslui (Stadion Letzigrund, Zurich, November 2011, penyisihan grup Europa League 2011-2012).

2. Swiss vs Argentina (Stade de Suisse, Bern, Februari 2012, international friendly).

3. FC Barcelona vs Getafe (Estadio Camp Nou, Barcelona, April 2012, Liga Spanyol 2011-2012).

4. Valencia vs Rayo Vallecano (Estadio Mestalla, Valencia, April 2012, Liga Spanyol 2011-2012).

5. Real Madrid vs Sporting Gijon (Estadio Santiago Bernabeu, Madrid, April 2012, Liga Spanyol 2011-2012).

6. Rayo Vallecano vs Atletico Madrid (Estadio Vallecas, Madrid, April 2012, Liga Spanyol 2011-2012).

7. Swiss vs Jerman (St. Jakob Park, Basel, Mei 2012, 2012, international friendly).

8. Spanyol vs Korea Selatan (Stade de Suisse, Bern, Mei 2012, international friendly).

9. Italia vs Kroasia (Miejski Stadium, Poznan, Juni 2012, Euro 2012).

10. Galatasaray vs Fiorentina (Turk Telekom Arena, Istanbul, Agustus 2012, international friendly).

11. BSC Young Boys vs FC Midtjylland (Stade de Suisse, Bern, Agustus 2012, Euro League 2012-2013–talking about non-mainstream football, hehehe…).

12. Switzerland vs Norway (Stade de Suisse, Oktober 2012, World Cup Qualifications)

13. BSC Young Boys vs Liverpool (Stade de Suisse, Bern, Oktober 2012, Euro League 2012-2013)

14. BSC Young Boys vs Anzhi Makhachkala (Stade de Suisse, Bern, Desember 2012, Euro League 2012-2013)

15. SC Freiburg vs Greuther Fuerth (Mage Solar Stadium, Freiburg, Desember 2012, Bundesliga 2012-2013)

16. BSC Young Boys vs FC Sion (Stade de Suisse, Bern, Maret 2013, Swiss Super League 2012-2013)

17. FC Basel vs Grasshopper Zurich (St. Jakob Park, Basel, Mei 2013, Swiss Cup Final 2013)

18. Austria vs Sweden (Ernst Happel Stadium, Vienna, Juni 2013, World Cup Qualification)

19. Vfl Wolfsburg vs AS Saint-Etienne (Tourbillon Stadium, Sion, Juli 2013, Valais Cup 2013)

20. FC Sion vs Olympique Marseille (Tourbillon Stadium, Sion, Juli 2013, Valais Cup 2013)

21. FC Basel vs Borussia Dortmund (St. Jakob Park, Basel, Juli 2013, International Club Friendly)

22. AC Milan vs Sao Paolo (Allianz Arena, Muenchen, Agustus 2013, Audi Cup 2013)

23. Bayern Muenchen vs Manchester City (Allianz Arena, Muenchen, Agustus 2013, Audi Cup 2013)

24. Switzerland vs Brazil (St. Jakob Park, Basel, Agustus 2013, International Friendly)

25. FC Basel vs Schalke 04 (St. Jakob Park, Basel, September 2013, Champions League 2013-2014).

Kira-kira, ‘Home & Away’ akan beredar di seluruh jaringan toko buku di Indonesia pada awal Oktober 2014. Mari kita tunggu!

Bagi yang mau ngintip sedikit nukilan bukunya, saya sisipkan di bawah ini:

Akhirnya saya pun duduk kembali di bangku saya, mengamati anak-anak kecil yang memeluk orangtua mereka atau sepasang sahabat yang saling menepuk pundak sambil tertawa riang. Bagi masyarakat Spanyol, bahagia itu sederhana. Menyaksikan kemenangan tim sepak bola favorit bersama orang-orang yang mereka sayangi adalah salah satunya.

Saya memejamkan mata dan membiarkan udara hangat Valencia membelai rambut dan kulit saya, lalu masuk melalui rongga hidung ke dalam paru-paru saya. Telinga saya berusaha menangkap berbagai sorak-sorai dan nyanyian dalam bahasa Spanyol. Meskipun kebanyakan seruan itu saya tidak pahami, luapan ekspresi kegembiraan atas kemenangan itu terekam untuk selamanya di dalam otak saya.

Di stadion, orang-orang menggantungkan harapan, memanjatkan doa-doa, dan memuja-muji nama-nama idolanya. Setelah pertandingan berlangsung, masih ada pula fungsi sosial. Para orangtua berbagi waktu dan kesenangan dengan anak-anaknya. Masyarakat kota bisa bertegur sapa di luar jeratan stres pekerjaan mereka. Stadion adalah monumen yang dibangun khusus untuk masyarakat.

‘I learned about life with ball at my feet’ – Ronaldinho

BOOK CHARITY part 2

Halo,

Saya ingin menjual lagi beberapa buku koleksi saya yang sepertinya akan lebih bermanfaat jika berada di tangan orang-orang yang lebih membutuhkan. Namun, saya juga sekalian ingin mengumpulkan dana untuk acara ‘Festival Kuliner Sulawesi Selatan’ yang akan diadakan oleh teman-teman saya pada 18 Mei 2014.

Sama seperti Book Charity yang kemarin (https://mahir-pradana.com/2014/02/24/my-book-charity/), jika ada yang mau beli, kontak saya saja di nomor HP 082193187891 ya. Atau email ke mahir.pradana@gmail.com. Harga belum termasuk ongkos kirim, jadi beli banyak lebih baik, hehehe.

Untuk lebih memudahkan, saya cantumkan juga beberapa buku dari Book Charity pertama yang sudah terjual. Yang ada tulisan ‘SOLD’ sayang sekali sudah terjual.

Selamat memilih, mudah-mudahan ada yang cocok!

Buku-Buku Terjemahan (buku luar negeri yang diterjemahkan ke Bahasa Indonesia):

  1. No Country for Old Men oleh Cormac McCarthy – Rp. 15.000 – SOLD
  2. Midnight Children oleh Salman Rushdie – Rp. 20.000
  3. Intrepeter of Maladies oleh Jhumpa Lahiri – Rp. 20.000
  4. Life of Pi oleh Yann Martel – Rp. 20.000
  5. Sphere oleh Michael Crichton – Rp. 10.000
  6. Mengail di Air Keruh, Pembunuhan atas Roger Ackroyd, Pembunuhan di Pondokan Mahasiswa (3 buku Agatha Christie, beli satuan Rp. 10.000. Sekaligus 3 Rp. 25.000)
  7. The Notebook oleh Nicholas Sparks – Rp. 15.000
  8. How to be Good oleh Nick Hornby – Rp. 15.000
  9. Snow Country oleh Yasunari Kawabata (masih segel) – Rp. 25.000
  10. The Undomestic Goddess oleh Sophie Kinsella – Rp. 15.000
  11. My Name Is Red oleh Orhan Pamuk – Rp. 15.000
  12. The Professor and the Madman oleh Simon Winchester – Rp.15.000
  13. Dracula oleh Bram Stoker – Rp. 10.000
  14. The New Life oleh Orhan Pamuk – Rp. 20.000 – SOLD
  15. Rage of Angels oleh Sidney Sheldon – Rp.10.000
  16. Life’s Golden Ticket oleh Brendon Burchard – Rp.10.000
  17. Room to Read oleh John Wood – Rp. 15.000 – SOLD
  18. Come Together oleh Josie Lloyd dan Emlyn Rees – Rp. 10.000
  19. The Men’s Guide to Women’s Bathroom by Jo Barrett – Rp. 20.000
  20. The Witness by Sandra Brown – Rp. 15.000 – SOLD
  21. Bloodline by Sidney Sheldon – Rp. 10.000
  22. Vita Brevis by Jostein Gaarder – Rp. 10.000 – SOLD
  23. Rispondimi (Jawablah Aku) oleh Susanna Tamaro – Rp. 10.000
  24. Da Vinci Code oleh Dan Brown – Rp. 20.000 – SOLD
  25. Angels and Demons oleh Dan Brown – Rp. 20.000
  26. Memories of Midnight oleh Sidney Sheldon – Rp. 10.000
  27. Are You Afraid of the Dark? Oleh Sidney Sheldon – Rp. 10.000
  28. Tuesdays with Morrie oleh Mitch Albom – Rp. 20.000 – SOLD
  29. 5 People You Meet in Heaven oleh Mitch Albom – Rp. 20.000 – SOLD
  30. Cecilia dan Malaikat Ariel oleh Jostein Gaarder – Rp. 10.000 – SOLD

Buku-Buku Dalam Negeri:

  1. Drop Out (DO) oleh Arry Risaf Arisandi – Rp. 15.000
  2. Jakarta-Paris via French Kiss oleh Syahmedi Dean – Rp.10.000
  3. Pengantin Gypsy dan Penipu Cinta oleh Syahmedi Dean – Rp. 10.000
  4. Mendamba oleh Aditia Yudis – Rp. 10.000 – SOLD
  5. Rindu oleh Sefryana Khairil – Rp. 10.000 – SOLD
  6. Maryamah Karpov oleh Andrea Hirata – Rp. 20.000
  7. Forever Yours oleh Karla M. Nashar – Rp. 10.000 – SOLD
  8. Adriana oleh Fajar Nugros dan Artasya Sudirman – Rp. 10.000
  9. Kumawa Aing Weh – Rp. 10.000
  10. Watir – Rp. 10.000
  11. Marmut Merah Jambu oleh Raditya Dika – Rp. 20.000
  12. 9 Summers 10 Autumns oleh Iwan Setyawan – Rp. 15.000
  13. Menerjang Batas oleh Estu Ernesto – Rp.15.000
  14. Keliling Eropa 6 Bulan oleh Marina Sylvia — Rp. 15.000
  15. Nasional.Is.Me oleh Pandji Pragiwaksono – Rp. 15.000
  16. Love in Somalia oleh Faqih bin Yusuf – Rp. 20.000
  17. Soulmate oleh Stephanie Hid – Rp. 10.000

P.S: Jangan lupa datang ke acara Festival Kuliner ini, ya:

BnZX_naCIAAZoEE

Movies vs Novels: The Change of Mindset

Mungkin ini perdebatan klasik yang akan selalu ada. Kebanyakan pembaca setia novel akan kecewa setelah melihat novel kesayangannya diangkat ke layar lebar. Pasti ada saja yang tidak sesuai dengan imajinasi si pembaca.

Saya punya teman fanatik Harry Potter yang protes ketika film pertamanya dirilis pertama kali di tahun 2001 lalu. Ia protes karena sosok Harry yang diperankan oleh Daniel Radcliffe memiliki perbedaan mendasar dengan Harry di buku, yaitu: warna matanya! OMG, when she was saying that, I rolled my eyes.

Tapi iya sih, saya sempat membaca beberapa jilid Harry Potter, meskipun nggak pernah menjadi seorang fan apalagi loyalis J.K. Rowling. Dua adegan yang paling berkesan ketika membaca kisah sekolah penyihir itu malah tidak membekas sama sekali ketika diangkat menjadi film. Adegan favorit saya adalah ketika si kembar pemberontak Fred dan George Weasley kabur dari sekolah Hogwarts dengan sebuah farewell yang fenomenal. Di film, adegan tersebut hanya selewat saja. Momen lain yang menurut saya perlu dramatisasi lebih dalam adalah ketika kepala sekolah bijak nan simpatik Albus Dumbledore diceritakan terbunuh. Di pikiran saya, jika filmnya keluar, adegan ini minimal harus sama mengharukannya ketika saya menonton Lord of the Rings jilid I, yaitu ketika sosok penyihir Gandalf jatuh ke jurang bersama monster api. Adegan itu sangat mengharukan, sehingga membuat mata saya agak basah. Eh ternyata Gandalf saat itu toh belum mati. Makanya, kematian Dumbledore di film ke-6 Harry Potter yang flat dan tidak berasa, membuat saya jengkel.

*by the way, maaf ya, kalo sampai sekarang saya banyak menebar spoiler tentang siapa yang mati, siapa yang tidak. Jika ada yang terganggu, yaa, salah kalian sendiri sih, hari gini belum nonton se-populer Harry Potter dan Lord of the Rings. HAHAHA.*

awesome-book-book-vs-movie-harry-potter-judge-Favim.com-145650_large

Nah, kembali ke pembahasan tadi. Tapi, jika begini adanya, film yang diangkat dari novel tidak akan berpeluang besar memuaskan pembacanya, dong? Jika ditelaah, saya pikir memang masuk akal jika sebagian besar film dari novel akan mengecewakan. Bayangkan saja, bagaimana cara mengadaptasi novel setebal 400-500 halaman ke durasi film hanya 2 atau  jam? Pastilah ada adegan-adegan yang dianggap tidak mendukung jalannnya film sehingga tidak perlu diadaptasi ke film. Namun, bagi yang namanya pembaca fanatik, justru adegan-adegan dan detil-detil kecil itulah yang membuat kita terhubung secara lebih emosional dengan cerita, kan?

Baiklah.

Kalau begitu, coba kita lihat kasus-kasus lain. Ada beberapa film yang sebenarnya diadaptasi dari novel, tapi justru tidak pernah dibanding-bandingkan dengan bukunya, yang notabene terbit sebelum filmnya rilis. Psycho arahan Alfred Hitchcock yang fenomenal itu jarang dibandingkan dengan novelnya yang dikarang oleh Robert Bloch. Bahkan, zaman sekarang, jika kita membahas judul ‘Psycho‘, orang-orang lebih familier dengan nama Hitchcock sebagai sutradara daripada Bloch yang justru merupakan pencetus idenya.

Kenapa bisa demikian? Kalau menurut film Hitchcock (2012) yang diarahkan oleh sutradara Sacha Gervasi, pada saat memutuskan untuk membuat adaptasi filmnya di tahun 1959 lalu, Sir Alfred Hitchcock memborong semua buku Psycho dari pasaran agar pembaca tidak mengetahui ending ceritanya terlebih dulu.

Nah, sekarang, kita tahu kata kuncinya: ekspektasi!

Novel, adalah kunci ekspektasi kita dalam menilai suatu film. Makanya, sering tidak adil bagi film karena pasti akan dibanding-bandingkan dengan novel, padahal novel lebih bisa bercerita lebih detil dan mempermainkan imajinasi pembaca.

*sebelum lanjut, orang-orang yang hanya suka nonton film dan tidak suka membaca novel, tidak perlu mengikuti tulisan ini sampai habis, lho. Karena tulisan ini toh tidak melibatkan kepentingan kalian.*

Makanya, beberapa tahun terakhir, saya mengembangkan sebuah mindset baru. Malah bisa dibilang suatu gerakan baru, yaitu: Dahulukan Menonton Film Sebelum Membaca Novelnya! Saya sebut ‘gerakan’ karena saya berhasil mempengaruhi beberapa teman dalam mengikuti langkah saya ini, hehehe.

Kiat ini cukup berhasil. Saya tidak lagi judgmental dalam menilai suatu film yang diadaptasi dari novel, karena saya masuk ke dalam ruangan bioskop tanpa ada ekspektasi apa pun. Akhirnya, saya lebih bisa menikmati film tersebut, terlepas dari konsensus kritik yang menilai film tersebut bagus atau jelek. Terhitung dalam beberapa tahun terakhir, saya sangat menikmati Hugo (diadaptasi dari novel grafis The Adventure of Hugo Cabret), Warm Bodies (judul sama), The Hunger Games (judul sama), The Hobbit 1 dan 2 (judul sama, film ke-2 diberi judul Desolation of Smaug), dan favorit saya dalam 2 tahun terakhir: Extremely Loud and Incredibly Close. Judul terakhir malah membuat saya kepengen banget membaca novelnya, dan memang tidak mengecewakan. Extremely Loud pun menjadi salah satu novel favorit saya, padahal saya terlebih dulu dipuaskan oleh filmnya.

Untuk menambah panjang daftar, saya terpikat oleh The Perks of Being A Wallflower, yang film maupun bukunya dibuat oleh orang yang sama, yaitu Stephen Chbosky. Lalu ada Let The Right One In (versi aslinya yang buatan Swedia ya, bukan Let Me In buatan Hollywood) dan The Help. Terakhir, saya terpuaskan oleh karya-karya anak bangsa, yaitu 5 cm (saya tidak menyukai novelnya, jadi saya tidak selesai membacanya. Tapi saya terhibur banget oleh filmnya!), Negeri 5 Menara, dan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck.

Untuk yang masuk kategori mengecewakan, saya punya daftar Jack Reacher, Perahu Kertas dan The Mortal Instruments: City of Bones. Nah, bagusnya, dengan pembalikan mindset seperti ini, kita akan dapat keuntungan. Di mindset sebelumnya, jika novelnya mengecewakan, besar kemungkinan kita tidak akan mau nonton filmnya. Namun jika filmnya mengecewakan, selalu terbuka kesempatan untuk kita membaca bukunya. Apalagi jika filmnya sangat memuaskan, besar kemungkinan bukunya akan meningkatkan kepuasan kita dengan menyelami setiap detil cerita yang terlewat oleh filmnya.

Perubahan mindset ini cukup membantu saya meninggalkan debat klasik yang cenderung membosankan bahwa ‘mana yang lebih baik, novelnya atau bukunya?’ Terserah kalian mau mengikuti kiat saya ini atau tidak. 🙂

Selamat menonton dan membaca!

MP

Introducing, THE WAY WE WERE by Sky Nakayama

Terbitnya sebuah naskah debut adalah suatu momen yang life-changing. Saya pernah merasakannya sebelumnya, ketika naskah novel saya diputuskan terbit oleh GagasMedia untuk pertama kalinya 3 tahun lalu.

Sekarang, saatnya saya memperkenalkan seorang penulis yang juga baru menerbitkan novel pertamanya di GagasMedia, dia adalah Sky Nakayama dengan novelnya, The Way We Were. Silakan dibaca pesan dan kesan penulis:

BN0alGtCIAEMNjE.jpg large

cover The Way We Were (sumber: twicsy.com)

If you have been able to take anything away from my writing thus far it should be that young adult’s life is insane. Everything spins so fast. Before you can really grasp what is currently going on with your life, you find yourself waking up one morning, helplessly watch people move away from your life without bothering to give you a decent notice first. Cast and locations change, and suddenly it’s a whole new story.

The Way We Were adalah naskah yang tumbuh dan berevolusi seirama dengan ritme hidup saya. Ini adalah naskah yang saya tulis ketika saya sedang berjuang melawan writer’s block yang ketika itu sudah menghantui saya selama empat tahun. Karakter yang ada dalam novel ini pun tumbuh, seiring dengan pemahaman saya tentang hidup mulai berevolusi.
Seringkali, kita harus bisa merelakan sesuatu yang tidak bisa kita ubah. Hidup adalah pembelajaran untuk menerima dan merelakan, menurut saya, dan itulah yang ingin saya cerminkan lewat karakter Laut Senja.

Laut berada dalam masa di mana pertanyaan ‘kenapa’ banyak menerpa dirinya. Sayangnya, ia tidak selalu bisa menemukan jawaban yang tepat untuk menghapus jutaan pertanyaan yang mengelilingi dirinya. Hingga pada akhirnya, ia bertemu dengan seseorang yang menggantikan keinginannya untuk menemukan semua jawaban atas pertanyaannya dengan kemampuan untuk merelakan semua pertanyaan yang tidak memiliki jawaban.

To go with the flow.

Belajar untuk melihat bahwa bahkan dalam situasi seburuk apapun, kamu bisa menemukan kebahagiaan kecil terselip di sana-sini. Seringkali manusia terlalu fokus akan rasa sakit yang menerpa mereka hingga mereka lupa bahwa masih banyak hal indah di muka bumi ini.

Jujur, karena saya sudah sangat lama sekali tidak menulis, proses penulisan The Way We Were merupakan sebuah proses yang dipenuhi oleh keraguan. Saya tidak yakin bahwa penyampaiannya tepat. Saya ragu orang lain bisa melihat Laut seperti saya melihat dirinya.

Namun pada akhirnya saya ingat akan tema tulisan saya. Perlahan-lahan saya memupuk rasa berani selagi berusaha mengalihkan pikiran saya dari keraguan yang tidak bisa saya jawab. Saya terus mengingatkan diri saya bahwa menulis adalah hal yang saya cintai, hingga saya bisa menaruh hati saya di setiap kalimat yang saya tuangkan dalam novel ini.

Jikalau saya tidak memupuk keberanian dari sekarang, selamanya saya akan terus berada dalam zona aman tanpa pernah mengizinkan tulisan saya untuk berkembang. Dan itu juga berarti saya telah membiarkan rasa takut untuk gagal menguasai saya. Sungguh berkebalikan dengan pesan yang ingin saya titipkan dalam karakter-karakter saya.

Gagal atau sukses—sedih atau senang—adalah fase yang diperlukan untuk berkembang. Saya berharap The Way We Were bisa menjadi titik awal perjalanan menulis saya. Sebuah awal yang mempertemukan saya dengan kalian, pembaca-pembaca saya, sebuah awal yang bisa saya jadikan patokan untuk menjadi lebih baik di masa depan.

Semoga kalian mendapatkan inspirasi juga dalam menulis setelah membaca tulisan Sky di atas. Tetap semangat menulis, ya! 🙂

Radioplay ‘Moonliner’ from ‘Menuju(H)’

Pada bulan Januari 2013 lalu, seorang teman saya, penyiar di radio Prambors FM Makassar, menawarkan untuk membuat versi radioplay dari salah satu cerpen saya untuk menyambut Valentine 2013. Cerpen yang dimaksud adalah ‘Moonliner’ dari kumpulan cerpen ‘Menuju(H)’.

menuju(h)_cover

Siapa tau ada yang lupa, ini sampul buku ‘Menuju(h) yang saya tulis bersama 6 penulis muda lain 🙂

Akhirnya, tepat pada 14 Februari 2013 lalu, radioplay itu disiarkan di radio tersebut dan mendapat banyak respons positif dari pendengar. Bahkan, radioplay itu sempat diputar ulang dua minggu berikutnya! Now, thanks to SoundCloud, radioplay itu bisa kita dengarkan lagi.

Tinggal klik link berikut ini: https://soundcloud.com/pradana-mahir/moonliner

Nah… selamat terbuai oleh kisah cinta Safir dan Regina dalam radioplay ‘Moonliner’! 🙂

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Ini adalah penampakan bus ‘moonliner’ yang menjadi inspirasi cerita (taken from http://www.simmentalzeitung.ch )

MP