The Perks of Being A Lecturer

“Kamu sadar kan, kalau dengan berkarir sebagai dosen, penghasilan kamu akan jauh di bawah kalau kamu kerja di corporate?”

Saya mengangguk mendengar pertanyaan itu. Ya, mau gimana lagi? Itu kan sudah fenomena umum di Indonesia. Bapak yang meng-interview saya kayaknya masih belum puas.

“Sebagai lulusan S2 dari luar negeri, kenapa memangnya kamu ingin jadi dosen?” Continue reading

Advertisements

Sneak Peek: Sunset Holiday (New Novel)

Seperti yang sudah diungkapkan Nina Ardianti di blognya, kami berdua memulai proyek nulis duet bergenre komedi romantis ini sekitar sembilan bulan lalu. Sempat diganggu oleh banyaknya kerjaan, ngurus studi, ngurus berbagai dokumen dan lain-lain (baca: kehidupan nyata), akhirnya naskah ini selesai juga. Sambil menunggu keputusan dari editor tentang kapan terbitnya, mari kita simak lagi sedikit excerpt dari cerita perjalanan karakter Ibi dan Audy:

AUDY

Berlin memang salah satu kota yang ingin aku datangi. Aku bahkan sudah booking hostel untuk dua malam di sebuah hostel yang letaknya agak ke tengah kota. Hanya saja waktu booking, aku masih di Jakarta. Belum tahu bahwa akan ada sesosok cowok yang nebeng itinerary-ku, yang belum memikirkan mau tidur dimana selama di Berlin.

Mengingat aku sudah meninggalkan Ibi selama dua malam di Munich, nggak mungkin banget aku membiarkannya mencari hostel sendirian lagi di Berlin.

“Kamu yakin?” Ibi bertanya ke sekian kalinya ketika mencari-cari hostel yang masih kosong di hostelworld.com. “Deposit-nya bakalan hangus, lho.”

Tadinya aku menyarankan Ibi untuk booking hostel yang sama denganku. Sayangnya, karena ini liburan musim panas, tempat itu penuh banget. Mau nggak mau kami harus mencari hostel lain, yang bisa untuk kami berdua. Aku merelakan deposit di hostelku sebelumnya hangus.

“Aku nggak mau merasa bersalah lagi sama kamu.” Aku menimpali dengan asal sambil mengunyah keripik kentang yang aku bawa sebagai bekal. “Lagipula, perasaan baru beberapa jam yang lalu, deh, kita berjanji nggak akan berpisah selama perjalanan ini.”

Ibi nggak bisa menahan cengirannya. “Tumben kamu nggak short-term memory lost. Biasanya kayak si Dory di Finding Nemo.”

“Waaahh… Cowok kayak kamu nonton Finding Nemo juga?” Aku meledeknya.

“Nggak ada yang salah kali.” Ibi mendengus. “Nggak bikin aku jadi kurang cowok juga.”

“Hihihi.” Aku terkikik geli. “Nggak ada yang bilang salah dan kurang cowok juga kali…”

Ibi mengabaikanku dan fokus mencari hostel. Beberapa saat kemudian, “Udah fully-booked semua, nih.” Ia menoleh ke arahku.

“Yah, terus gimana dong?” aku menatapnya kecewa. Dan khawatir.

“Aku ingat temanku ada yang pernah backpacking ke Berlin dan nginap di salah satu youth hostel. Nggak jauh dari stasiun kereta. Cuma aku nggak ingat namanya apa.”

“Ya udah, tanya ke teman kamu sana.”

Ibi langsung menghubungi temannya. Setelah lima menit sibuk mengetik tanpa henti di ponsel, akhirnya Ibi menoleh ke arahku dan berkata, “Kata temanku, kita langsung kesana aja. Banyak yang go show juga, kok. Dia juga go show waktu kemarin kesana.”

“Oh gitu?” aku rada sangsi.

Namun melihat anggukan Ibi yang begitu mantap, aku nggak punya pilihan selain mengikuti rencananya.

***

IBI

Selepas turun dari bus, kami berjalan kaki keluar dari ZOB, lalu mencari-cari arah menuju ke jalur S-Bahn dan U-Bahn. Setelah mencocokkan dengan informasi hostel yang kami telah cari sebelumnya, akhirnya kami pun menemukan koneksi U-Bahn dan S-Bahn menuju ke hostel.

Sebagai kota metropolitan, Berlin ternyata sangat padat. Ketika kami berganti kereta di stasiun Friedrichstrasse, aku hampir saja kepisah dari Audy saking berdesak-desakannya penumpang. Belum lagi koper pink-nya yang bikin repot. Tentu saja aku nggak mengutarakannya ke Audy. Bisa dicubit sampai memar nanti.

Setelah akhirnya menemukan diri kami di gerbong S-Bahn yang sudah setengahnya kosong, kami pun duduk berdampingan di kursi penumpang. Suasana sudah lumayan santai, sehingga aku bersenandung.

“Oke, stop, stop!”

Aku menghentikan senandungku. “Kenapa?”

Audy menggigit bibirnya dengan ekspresi yang menggemaskan. Ketika aku bilang ‘menggemaskan’, mungkin levelnya nyaris setara dengan kecentilan Audrey Hepburn di ‘Breakfast at Tiffany’s’. Yah, begitulah kira-kira.

If I don’t ask this question, I will be forever haunted.”

Deg. Dadaku langsung berdentum. Darahku berdesir. Apakah ini saatnya menghadapi pertanyaan penting itu…

What question?”

“Itu lagu apa sih yang kamu nyanyiin dari tadi?”

Hatiku langsung mencelos. Ugh, ternyata bukan sepenting pertanyaan ‘would you be my boyfriend?’

Setelah itu aku langsung membayangkan menoyor kepalaku sendiri. Bukannya itu harusnya dialog aku ke dia? Di mana harga diri aku sebagai cowok?

“Yang ini?” tanyaku, lalu bersiul campur bergumam.

“Nah itu!” seru Audy bersemangat. “Kedengaran catchy banget.”

Nobody knows it but you’ve got a secret smile

And you use it only for me

 

Audy mengerutkan kening. Tampak mencoba mengorek ingatan. “Itu lagu lama ya?”

“Secret Smile, dari band Semisonic. Band 90-an,” aku menerangkan sambil terus menyenandungkan lagu itu. Nobody knows it, but you’ve got a secret smile…

Itu membuat Audy tersenyum penuh arti. “HA! I get it.”

“Apa?”

“Kamu sengaja ngulang-ngulang supaya jadi gombal terselubung, ya?”

Aku nyaris tersedak. “Wooy, fitnah. Kalau mau ngegombal, mending aku ngomong langsung, kali.”

Kami berdua tertawa. Tanpa terasa, akhirnya kami sampai di stasiun yang dituju, dan hostel kami hanya sekitar 300 meter dari stasiun tersebut.

 ***

 “Aku punya kabar baik dan kabar buruk.”

Audy langsung berdiri menyambutku. Sudah sekitar lima belas menit kutinggalkan dia di ruang tunggu youth hostel tersebut. Gadis itu sejak tadi hanya memandangi beberapa anak muda bule yang sedang bermain bilyar sambil menenggak bir.

“Kabar buruk dulu deh.” Kata Audy nggak bersemangat. Wajahnya langsung terlihat lemas.

“Kamar-kamar di hostel ini sudah fullybooked. Liburan musim panas soalnya.”

‘’Yah, nasib ya nyari penginapan dengan cara go-show gini.” Audy menyampirkan poninya ke samping. “Kalau gitu, kita sekarang harus cari hostel lain?”

Aku langsung nyengir lebar. “Justru di sini kabar baiknya.”

Audy mengernyit. “Apa?”

Follow me.”

***

Beberapa menit kemudian, kami sudah berada di halaman belakang hostel tersebut. Lokasi bangunan hostel memang berada di daerah suburb, dengan sebuah lapangan menyerupai padang rumput di halaman belakangnya.

Audy menyeret koper pink-nya sambil memicingkan mata di balik kacamata hitam. Ternyata kacamata hitamnya tidak cukup menangkal cahaya matahari, sehingga ia harus menghalau cahaya silau dengan sebelah tangan. Gadis itu menatap tenda-tenda yang berjejer di padang rumput.

“Wauw, baru kali ini aku melihat yang seperti ini,” gumamnya terdengar takjub.

Aku melangkah keluar dari pintu belakang hostel sambil membawa dua buah sleeping bag. “Come on, let’s go!”

Kernyitan di dahinya bertambah dalam, “Heh? Mau kemana?”

“Tenda kita.”

Kedua mata Audy membelalak. “Kita akan nginap di sini? Di salah satu tenda ini?”

Aku nyengir lebar. “Aku lupa bilang bahwa itulah kabar baiknya.”

Ekspresinya berubah menjadi horror. Ia lalu tertawa miris dan menggeleng. “No way.”

“Oh, ayolah, nggak buruk kok. Daripada kita mondar-mandir nyari hostel lain lagi. Belum tentu juga ada yang kosong.’

Aku melangkah ke deretan tenda dan menyapa beberapa muda-mudi yang duduk di sekitar tenda mereka sambil berjemur di bawah matahari. Mataku mencari-cari nomor tenda yang diberikan oleh resepsionis hostel. Di belakangku, Audy mengikuti sambil terus-terusan mengoceh.

“Ini pertama kalinya aku tidur di dalam tenda, loh. Aku nggak pernah ikut pramuka waktu sekolah dulu. Nggak mungkin ya minjem kasur buat dibawa ke tenda?”

Kuacuhkan semua pertanyaannya dan berhenti di depan tenda bernomor ‘12’. Setelah menyibakkan kain yang menjadi pintu untuk membuka tenda itu sedikit, aku memberinya tatapan dan senyuman jahil.

After you, princess.”

Ia membalas dengan tatapan cemberut. “Kita nggak tau apakah sleeping bag-nya bersih atau nggak. Kalo kulitku gatal-gatal, itu salah kamu.’

“Ini akan jadi pengalaman tak terlupakan, trust me!”

Di dalam tenda, Audy menaruh tas dan kopernya di salah satu sisi. Ia terpaksa berlutut karena atap tenda yang rendah. Tenda itu sendiri berjenis dome setengah bulat yang biasa dipakai berkemah. Aku mengikutinya masuk ke dalam untuk menaruh kedua sleeping bag. Tenda itu hanya beralaskan rumput, jadi tentu saja kami membutuhkan benda itu.

“Tenda ini hanya berkapasitas dua orang ya?” tanya gadis itu lagi.

That’s why it will be unforgettable,” aku tersenyum.

 ***

Sekian dulu lah ya, teaser dari naskah ber-working title ‘Sunset Holiday’ ini. Ditunggu saja semoga cepat terbit 🙂

2014 Review and My 2015 Resolution

It was nice to see some of my family and friends’ posts which express gratitude to the year 2014. The recently passed year seemed to be legendary to them. To me, it was slightly different. Nothing really happened much in 2014, hence I put a great deal of expectation in 2015.

If I had to describe 2014 in a sentence, I would say it was the year of waiting for me. I waited for a real job to come. I waited for my non-fiction book to publish, a football-traveling memoir which I have been working for two years. I waited for another opportunity to continue my higher education (I applied to a Ph.D position in a university in Europe). I waited, then waited…

In the second half of 2014, things turned out to be okay. I got accepted to work as a lecturer at a new, emerging university in Bandung, Indonesia. This opportunity means there were lots of things to catch up, as I had only a semester of teaching experience (as a substitute lecturer in my almamater university). Then in October, my book was finally published, entitled ‘Home & Away’. I also got admitted to the Ph.D program I had been desiring, only I still could not leave for Europe to grab the opportunity because I have not been awarded to any scholarships.

So, I would not say that my 2014 was marvelous. I said it was just okay, because I could have done better.

new-years-resolution-be-more-awesome

Therefore, I should see 2015 as another year of opportunities, but this time I should be relentless in grabbing them. These points will be my so-called ‘2015 Resolution’, which I will use to remind me in the end of the year of which are grabbed and which are missed:

  • Learn Spanish (as a preparation to leave for my Ph.D)
  • Seek scholarship or study grants more intensively
  • Start my Ph.D
  • Publish two novels (since I have been writing and editing two novels for months in 2014)
  • Attend at least three academic conferences / call for papers
  • Publish at least one academic journal
  • Learn French (I had studied the language for five years, but need to brush up my conversational skills)
  • Write a brand new novel project (aside from the currently-edited ones)
  • Write (or if possibly publish) an academic book
  • Save some money (which means less impulsive shopping)
  • Travel to new places (in 2014 I traveled to Jogja and Bali, but those are the places I have been before)
  • Stay fit (intensively jog and exercise)
  • Change other people’s lives (I am not saying it as a lip-service. By the end of the year, I shall review whose lives I have altered)
  • Re-connect with long lost-touched friends

(to be reviewed in December 2015)

Luciano dan Hotelnya

Saya pernah nulis artikel tentang mantan pemain sepak bola Indonesia, Luciano Leandro, yang menjalankan bisnis hotel di Rio de Janeiro, Brazil. Ini dia artikelnya:

Ada yang pernah membaca novel sejarah-romantis karangan penulis terkenal asal Turki bernama Orhan Pamuk? Judulnya adalah The Museum of Innocence. Novel ini merupakan salah satu cerita fiksi favorit saya.

Berlatar belakang Turki di pertengahan abad ke-20, alkisah seorang lelaki bernama Kemal terlibat cinta terlarang dengan seorang gadis remaja bernama Fusun. Berbagai konflik sosial di Turki kala itu membuat cinta mereka akhirnya kandas, terutama karena Kemal harus menikah dengan wanita lain. Pada akhirnya, Kemal tidak pernah bisa melepaskan semua kenangan tentang Fusun dari hidupnya.

Maka, semua obsesi terhadap Fusun dituangkan Kemal ke sebuah bangunan yang dibuatnya khusus untuk mengenang wanita itu. Bangunan tersebut diisinya dengan segala pernak-pernik yang berhubungan dengan diri wanita yang sangat dicintainya itu. Dari pakaian Fusun, hingga detil-detil kecil seperti puntung-puntung rokok yang pernah diisap gadis itu dikumpulkan dan diawetkannya. Semua diarsipkan secara rapi dalam bangunan yang disebutnya ‘Museum of Innocence’.

Menariknya, bangunan ‘Museum of Innocence’ sendiri ternyata benar-benar ada di kehidupan nyata. Seperti halnya cerita di novelnya, bangunan ini benar-benar berlokasi di sebuah sudut kota Istanbul yang kumuh. Rakyat Turki sendiri menganggap bahwa Masumiyet Muzesi alias ‘Museum of Innocence’ sebenarnya merupakan pengejawantahan obsesi sebenarnya dari sang penulis, Orhan Pamuk, terhadap seorang wanita yang menjadi cinta terlarangnya. Apakah sosok Fusun benar ada atau tidak, hanya Tuhan dan penulis peraih Nobel Prize di bidang sastra itu yang tahu.

Nah, siapa yang menyangka bahwa suatu cerita dari dunia sepak bola ternyata benar-benar terjadi, dan mirip dengan Museum of Innocence. Cerita yang satu ini sebenarnya cerita lama, dan bukan lagi berita aneh bagi para penggila sepak bola nasional. Terutama para supporter fanatik PSM Makassar.

Ini tentang Luciano Leandro. Pemain asing asal Brasil yang sangat populer di akhir 1990-an dan awal 2000-an. Playmaker jenius ini menjadi kesayangan publik Makassar ketika menjadi runner-up Liga Indonesia ke-2 di tahun 1996. Saat itu ia bahu-membahu dengan rekan senegaranya yang sekarang jadi pelatih handal di Persipura, Jacksen F. Tiago.

Bersama PSM, Luciano mempersembahkan begitu banyak bagi tim Juku Eja. Luci, panggilan akrabnya, juga pernah memperkuat PSM di ajang Piala Champions Asia. Suporter PSM tidak akan pernah lupa akan penampilan uniknya dengan kuncir yang khas. Etos kerja dan tingkah lakunya yang selalu positif pun membuatnya menjadi pujaan suporter.

Luci akhirnya pindah ke Persija Jakarta, tapi ternyata cintanya pada kota Makassar sangat membekas. Atmosfer Stadion Mattoanging tidak pernah dilupakannya. Keramahan para penduduk kota Makassar juga selalu membuatnya merasa seperti di rumah sendiri. Apalagi, Makassar adalah kota tempat cintanya dengan istrinya, Denise, tumbuh dan berkembang. Hubungan keduanya pun menghasilkan seorang putri bernama Yasmin, yang juga lahir di ibukota Sulawesi Selatan tersebut.

Setelah memutuskan untuk gantung sepatu dan pulang ke kampung halamannya di Brasil, Luci memanfaatkan hasil tabungannya dari bermain sepak bola dengan membuka bisnis berupa sebuah hotel. Uniknya, hotel yang terletak di bilangan Araujo Macae, Rio de Janeiro tersebut diberinya nama ‘Hotel Makassar’.

Dari hasil wawancaranya dengan beberapa media ketika datang kembali ke Indonesia beberapa tahun lalu, Luci mengaku bahwa hotel yang dibangunnya pada tahun 2004 itu memang merupakan semacam memento untuk mengingatkannya pada kehidupan menyenangkan yang dialaminya semasa bermain di Indonesia. Menurut penuturan pria itu, hotel tersebut didesainnya lengkap dengan segala sesuatu berbau Makassar. Tidak hanya nama hotel, nama-nama ruangan dan kamar pun memakai istilah-istilah khas Sulawesi. Di restorannya juga tersedia beberapa hidangan khas Makassar. Tidak lupa sebuah peta Makassar terpajang di pintu masuk agar tamu langsung mengetahui asal-usul nama hotel yang sama sekali tidak berbau Brasil.

Inside Hotel Makassar
Lalu, seperti halnya Orhan Pamuk dan karakter Kemal di cerita Museum of Innocence, Luciano Leandro memajang kenangan-kenangan masa lalunya di hotel tersebut. Berbagai foto lama dari masa kejayaannya di Liga Indonesia terpajang rapi di dalam ruangan-ruangan hotel. Luci pastinya selalu ingin mengenang bahwa meskipun terpisah jauh oleh samudera, namun negara yang awalnya sama sekali asing baginya itu akhirnya menjadi rumah kedua yang berkesan baginya.

Di negara itu juga, ia pernah dicintai oleh masyarakat berkat sepak bola. Sebagai balasan untuk menunjukkan rasa cinta, Hotel Makassar akhirnya menjadi ‘Museum of Innocence’-nya terhadap negara bernama Indonesia tersebut.

Kisah Luciano Leandro ini sebagai pengingat bahwa sepak bola negara kita pernah menjadi surga bagi para pemain asing. Saatnya kita bersatu untuk mengembalikan kejayaan itu.

Artikel itu dimuat di http://www.footballfandom.net pada tahun 2013. Setahun kemudian, tanpa saya duga, saya menemukan nama Luciano di Facebook. Saya sempat ragu apakah pemilik akun merupakan Luciano asli, tapi akhirnya saya semakin yakin karena foto-fotonya kebanyakan foto-foto di Brazil. Sebuah album foto juga memperlihatkan situasi Hotel Makassar miliknya.

Maka, saya memberanikan diri memposting link artikel saya dan menulis pesan kepadanya. Saya mencoba mempergunakan bahasa Portugis yang saya peroleh dari Google Translate, isinya begini:

‘Luciano, silakan baca artikel saya tentang hotel kamu di salah satu website di Indonesia. Semoga sukses selalu!’

Beberapa jam kemudian, Luciano membalas dengan bahasa Indonesia:

‘Mahir, saya sudah membacanya. Beberapa rekan di Indonesia memberi linknya kepada saya. Terima kasih telah menulis tentang hotel saya. Sukses juga buat kamu.’

Membaca pesan itu membuat hati saya hangat. Tujuh belas tahun lalu, saya adalah seorang anak kecil yang menyaksikan aksi Luciano di lapangan dengan mata berbinar-binar.

P.S: Jika berkunjung ke Rio de Janeiro, warga Indonesia gratis menginap di Hotel Makassar milik Luciano.

Tentang ‘Home & Away’

Akhirnya, buku yang ditulis dengan penuh perjuangan ini terbit (memangnya ada buku yang nggak pake perjuangan?). Sempat tertunda beberapa bulan karena hal ini-itu, buku memoar perjalanan saya ke beberapa stadion / event sepak bola di benua Eropa akhirnya akan muncul di toko-toko buku seluruh Indonesia.

Oh ya, judul awal yang tadinya ‘Football Traveling’ pun diubah menjadi judul final yang memakai istilah di kompetisi sepak bola:

  • Home & Away

Penerbit GagasMedia pun melabeli buku ini dengan ‘traveling’. Berarti, kemungkinan buku ini akan ditemukan di rak yang berbeda dengan buku-buku saya sebelumnya (novel). Terlepas dari apakah dilabeli ‘traveling’ atau ‘sepak bola’, saya sudah cukup bersyukur buku ini akan beredar dan dibaca orang. Ini juga akan menjadi buku pertama saya yang berdasarkan kisah nyata, karena sebelum-sebelumnya semua buku saya kisah fiksi, hehehe.

BxqMJyrCAAAAH10

Buku ini akan memuat ringkasan perjalanan saya di Eropa (yang berhubungan dengan sepak bola, tentunya) selama 2 tahun, dari periode 2011-2013. Tidak lupa berbagai cerita menarik dan kontemplasi yang menyertai (jadi bukan cuma jalan-jalan dan foto-foto saja). Adapun beberapa event bola yang saya datangi selama periode itu adalah:

1. FC Zurich vs Vaslui (Stadion Letzigrund, Zurich, November 2011, penyisihan grup Europa League 2011-2012).

2. Swiss vs Argentina (Stade de Suisse, Bern, Februari 2012, international friendly).

3. FC Barcelona vs Getafe (Estadio Camp Nou, Barcelona, April 2012, Liga Spanyol 2011-2012).

4. Valencia vs Rayo Vallecano (Estadio Mestalla, Valencia, April 2012, Liga Spanyol 2011-2012).

5. Real Madrid vs Sporting Gijon (Estadio Santiago Bernabeu, Madrid, April 2012, Liga Spanyol 2011-2012).

6. Rayo Vallecano vs Atletico Madrid (Estadio Vallecas, Madrid, April 2012, Liga Spanyol 2011-2012).

7. Swiss vs Jerman (St. Jakob Park, Basel, Mei 2012, 2012, international friendly).

8. Spanyol vs Korea Selatan (Stade de Suisse, Bern, Mei 2012, international friendly).

9. Italia vs Kroasia (Miejski Stadium, Poznan, Juni 2012, Euro 2012).

10. Galatasaray vs Fiorentina (Turk Telekom Arena, Istanbul, Agustus 2012, international friendly).

11. BSC Young Boys vs FC Midtjylland (Stade de Suisse, Bern, Agustus 2012, Euro League 2012-2013–talking about non-mainstream football, hehehe…).

12. Switzerland vs Norway (Stade de Suisse, Oktober 2012, World Cup Qualifications)

13. BSC Young Boys vs Liverpool (Stade de Suisse, Bern, Oktober 2012, Euro League 2012-2013)

14. BSC Young Boys vs Anzhi Makhachkala (Stade de Suisse, Bern, Desember 2012, Euro League 2012-2013)

15. SC Freiburg vs Greuther Fuerth (Mage Solar Stadium, Freiburg, Desember 2012, Bundesliga 2012-2013)

16. BSC Young Boys vs FC Sion (Stade de Suisse, Bern, Maret 2013, Swiss Super League 2012-2013)

17. FC Basel vs Grasshopper Zurich (St. Jakob Park, Basel, Mei 2013, Swiss Cup Final 2013)

18. Austria vs Sweden (Ernst Happel Stadium, Vienna, Juni 2013, World Cup Qualification)

19. Vfl Wolfsburg vs AS Saint-Etienne (Tourbillon Stadium, Sion, Juli 2013, Valais Cup 2013)

20. FC Sion vs Olympique Marseille (Tourbillon Stadium, Sion, Juli 2013, Valais Cup 2013)

21. FC Basel vs Borussia Dortmund (St. Jakob Park, Basel, Juli 2013, International Club Friendly)

22. AC Milan vs Sao Paolo (Allianz Arena, Muenchen, Agustus 2013, Audi Cup 2013)

23. Bayern Muenchen vs Manchester City (Allianz Arena, Muenchen, Agustus 2013, Audi Cup 2013)

24. Switzerland vs Brazil (St. Jakob Park, Basel, Agustus 2013, International Friendly)

25. FC Basel vs Schalke 04 (St. Jakob Park, Basel, September 2013, Champions League 2013-2014).

Kira-kira, ‘Home & Away’ akan beredar di seluruh jaringan toko buku di Indonesia pada awal Oktober 2014. Mari kita tunggu!

Bagi yang mau ngintip sedikit nukilan bukunya, saya sisipkan di bawah ini:

Akhirnya saya pun duduk kembali di bangku saya, mengamati anak-anak kecil yang memeluk orangtua mereka atau sepasang sahabat yang saling menepuk pundak sambil tertawa riang. Bagi masyarakat Spanyol, bahagia itu sederhana. Menyaksikan kemenangan tim sepak bola favorit bersama orang-orang yang mereka sayangi adalah salah satunya.

Saya memejamkan mata dan membiarkan udara hangat Valencia membelai rambut dan kulit saya, lalu masuk melalui rongga hidung ke dalam paru-paru saya. Telinga saya berusaha menangkap berbagai sorak-sorai dan nyanyian dalam bahasa Spanyol. Meskipun kebanyakan seruan itu saya tidak pahami, luapan ekspresi kegembiraan atas kemenangan itu terekam untuk selamanya di dalam otak saya.

Di stadion, orang-orang menggantungkan harapan, memanjatkan doa-doa, dan memuja-muji nama-nama idolanya. Setelah pertandingan berlangsung, masih ada pula fungsi sosial. Para orangtua berbagi waktu dan kesenangan dengan anak-anaknya. Masyarakat kota bisa bertegur sapa di luar jeratan stres pekerjaan mereka. Stadion adalah monumen yang dibangun khusus untuk masyarakat.

‘I learned about life with ball at my feet’ – Ronaldinho

Down to earth, top of the world ala Imagine Dragons

Gurtenfestival, Bern, Swiss, 21 Juli 2013.

Suhu udara: (38 derajat Celcius) super hot!

Level of excitement: Super-excited!

Sama seperti nonton bola di stadion, salah satu kesenangan saya adalah nonton konser musik. Makanya di suatu hari bulan Juli yang panas itu, saya rela bergabung dengan ribuan orang yang memadati Puncak Gurten, Swiss untuk menjadi bagian dari festival musik tahunan mereka. Khusus untuk performer yang satu ini, saya bahkan bela-belain bergerilya untuk maju ke baris depan, meskipun harus bersikut-sikutan dengan cewek-cewek abege.

For a specific reason, I had to be in the front row. Biasanya, jika nonton konser saya lebih suka berada di garis belakang, but not this time. Pasalnya, performer yang satu ini adalah band baru yang langsung menjadi idola saya. Sebuah band yang baru naik daun di tahun 2012 lalu bernama Imagine Dragons.

Hello, Bern! We are Imagine Dragons, we are so glad to be here. We are from Las Vegas, Nevada,’ begitu sapa frontman sekaligus vokalis band tersebut, Dan Reynolds.

Image

We are here to help you release the stress from your daily life. So, for today, let’s all forget all the stress from work or university, let’s just enjoy some music!’

Setelah itu, Imagine Dragons pun menggeber dua lagu dari album Night Vision, bertajuk ‘Tiptoe’ dan lagu favorit saya di album tersebut, berjudul ‘Amsterdam’. Sebagai pengikut baru yang sudah akrab dengan lagu-lagu mereka–bahkan sampai  menghapal liriknya, I was having a good time. Meskipun udara panas menyengat sampai membuat peluh membanjiri T-shirt yang saya kenakan.

Imagine Dragons lalu menyambung kemeriahan dengan lagu-lagu andalan mereka seperti ‘Hear Me’, ‘Bleeding Out’, Underdog’, dan bahkan membawakan cover lagu ‘Stand By Me’-nya Ben E. King. Lalu, ketika crowd dirasa sudah cukup excited, mereka tidak berbasa-basi dengan langsung membawakan salah satu hit single mereka yang sudah cukup lama bertengger di billboard, ‘It’s Time’.

Setelah puas membuat penonton bergoyang, Imagine Dragons rehat sejenak untuk memberi kesempatan bagi Reynolds untuk kembali berkomunikasi dengan penonton. Di sinilah momen ketika saya semakin bersimpati kepada band alternative rock ini.

It was quite funny when we got an invitation to play in Switzerland. At first, we thought only four or five people would come to see our show…’

Dan Reynolds mengucapkan pengakuan itu sambil tertawa-tawa kecil. Dari raut wajahnya, terlihat bahwa ia cukup tulus mengungkapkan hal tersebut, bahwa ekspektasi awalnya tidak muluk-muluk, ia hanya ingin datang dan bermain musik untuk menghibur warga Bern. Di luar dugaannya, Imagine Dragons ternyata cukup terkenal di Eropa.

We play music because we love it. We are just the same as you guys, we are normal people. We are just your boys next-door because we love to express…’

Saya terkesan, ternyata puncak ketenaran yang datang begitu cepat tidak membuat band Las Vegas ini besar kepala. Bahkan sebaliknya, mereka tetap memperlihatkan sikap down to earth.

Ini tergambar juga dari penampilan Imagine Dragons yang dibuat sebisa mungkin tidak mengada-ada. Selepas membawakan lagu-lagu populer andalan mereka seperti ‘Radioactive’ dan ‘Demons’, mereka hanya sempat turun panggung sebentar untuk mengambil napas. Namun, sama sekali tidak terlihat bahwa mereka sedang bersandiwara agar penonton meminta encore, yaitu penampilan tambahan setelah penonton bersorak ‘We want more!’

No, Imagine Dragons did not have to do that. Performance mereka terkesan jujur dan apa adanya. Mereka tidak ingin terlihat sebagai seleb terkenal. Seperti kata Reynolds tadi, mereka sama saja seperti kita, tidak lebih dari orang biasa yang suka bermimpi.

Maka, tanpa sandiwara palsu encore yang kadang terasa basi, Imagine Dragons pun menutup penampilan mereka di Gurtenfestival pada hari itu dengan hit single terakhir mereka, ‘Top Of the World’.

Imagine Dragons. Down to earth, top of the world.

Thanks to PianetaSarah for the videos on Youtube

MP