Hari Ketika PSM Pulang ke Rumah

6 April 2015. Ruangan kantor saya masih penuh orang, tapi saya memberanikan diri mengakses sebuah situs streaming di laptop. Sial, saya lupa membawa headset! Volume saya setel pelan agar tidak mengganggu rekan-rekan kerja saya, tapi saya usahakan masih terdengar agar suasana stadion Mattoanging tetap terasa.

Continue reading

Advertisements

2014 Upcoming Project (2)

Saya punya sebuah naskah lain yang rencananya akan terbit juga di tahun 2014, yaitu sebuah naskah non-fiksi tentang perjalanan saya ber-football traveling di Eropa dalam periode 2011-2013 lalu. Berikut ini cuplikannya:

2012-04-09 13.07.21

Saya tinggal di sebuah student house (asrama mahasiswa) yang dipenuhi sekelompok mahasiswa Eropa yang gila sepakbola. Gedung asrama itu disebut Studenthouse Tscharnergut, sesuai dengan nama jalan bangunan itu berada.

Bangunan Tscharnergut tersebut adalah sebuah bangunan berlantai 19. Kamar saya terletak di lantai dua belas. Tetangga di samping kamar saya adalah seorang mahasiswa teologi asal Romania bernama Csongor Kelemen, biasa dipanggil Chongi.

Menariknya, meskipun kuliah di bidang teologi, Chongi justru termasuk salah seorang yang menge-Tuhan-kan sepakbola. Pada awalnya, begitu mendengar penghuni sebelah kamar saya adalah mahasiswa teologi alias calon pendeta, saya mengira dia adalah seseorang yang super-serius dan tertutup. Ternyata saya salah.

Chongi punya karakter periang dan sangat ramah. Setiap kali ada acara kumpul-kumpul seperti barbeque, tur atau acara-acara get together lainnya, Chongi pasti tidak pernah ketinggalan. Namun, lain cerita jika weekend datang. Biasanya, pada Jumat malam atau Sabtu malam, Chongi akan mengurung diri di kamarnya. Dia akan khusyuk duduk di depan computer untuk menonton tayangan streaming Liga Sepakbola Romania untuk menyaksikan klub kesayangannya bertanding.

Klub kesayangan Chongi bernama CFR Cluj. Klub tersebut merupakan kebanggaan kota Cluj, kampung halaman sekaligus kota kelahirannya.

***

Pada suatu hari, saya dan Chongi sedang mengobrol santai di dalam kamarnya. Kami bertukar cerita tentang kampung halaman kami masing-masing. Saya baru saja selesai bercerita padanya tentang kota-kota di Indonesia.

‘Ceritakan padaku tentang Cluj,’ pinta saya. Mata pria berambut pirang itu langsung menerawang ke beberapa tahun ke belakang.

‘Cluj-Napoca adalah nama lengkap kota itu, tapi kamu bisa menyebutnya Cluj. Kota itu merupakan salah satu kota terpenting di Transylvania.’

‘Daerah asal para vampir?’ aku melontarkan komentar bercanda.

‘Yeah, vampires.’ Chongi tertawa mendengarnya. Kemudian ia melanjutkan, ‘Meski demikian, kota itu tidak sebesar Bucharest.’

‘Bucharest,’ saya mengangguk pertanda saya paham kota itu merupakan ibukota Rumania. Banyak orang yang tertukar menyebut nama kota itu dengan Budapest, ibukota Hungaria.

‘Chongi mengangguk. Pada akhir 80-an, sewaktu saya masih kecil, saya ingat, kota kami sangat miskin. Mungkin kamu juga tahu, saat itu Romania masih berada di bawah kendali komunis.’

‘Oh ya, I see…’ benak saya mulai membuka-buka lagi pengetahuan sejarah yang saya pelajari di SMA.

‘Selain pengaruh Uni Sovyet, di Rumania sendiri ada Nicolae Ceauşescu, sang pemimpin diktator. Pokoknya kehidupan kami sempat berada di masa-masa sulit. Ditambah lagi dengan Revolusi Romania, hidup semakin susah saja.’

Saya tidak mengatakan apa-apa. Sulit memang membayangkan kehidupan yang tidak pernah saya jalani.

‘Di bawah kendali komunis, kamu bisa bayangkan. Tidak ada hiburan. Tidak ada kehidupan modern seperti sekarang. Bioskop dilarang memainkan film-film seru buatan Amerika. Konser-konser musik pun terbatas. Maka, satu-satunya hiburan masyarakat Cluj hanyalah sepakbola. Jadi bisa dibilang CFR Cluj adalah satu-satunya grup entertainer di kota kami saat itu.’

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa fungsi stadion pun menjelma menjadi ‘agora’, yaitu ruang berkumpul bagi publik dalam mitologi Yunani. ‘Setelah rezim komunis runtuh, barulah kehidupan di Romania perlahan bangkit. Termasuk di Cluj. Akhirnya sekarang kami bisa menikmati kehidupan normal.’

‘Dan selama ini CFR tetap menjadi kebanggaan masyarakat kalian?’

Exactly,’ mata Chongi berkilat-kilat. Sepertinya dia excited karena aku menangkap arah ceritanya. ‘Bayangkan, di akhir 80-an, CFR hanyalah klub kecil yang hampir bangkrut. Sekarang, mereka sudah berkompetisi di Liga Champions Eropa!’

Cerita pun berlanjut. Klub asal kota kelahirannya itu kini merupakan contender serius dalam pengejaran gelar juara Liga Romania setiap tahun. Maka, di mata Chongi dan ribuan penduduk kota Cluj lainnya, CFR Cluj bukan sekadar klub sepakbola, melainkan simbol perjuangan rakyat Romania dari keterpurukan di bawah paham komunisme menjadi salah satu kota berpengaruh di Eropa.

Setiap kali membicarakan tentang sepakbola dengan pria ini, saya memang pasti menghabiskan waktu paling sedikit tiga puluh menit.

‘Jadi, kamu nggak pernah melewatkan sekali pun pertandingan CFR Cluj?’

Chongi tertawa. ‘Yah, nggak juga sih. Kecuali kalau ada acara penting. Tapi, sebisa mungkin kalau CFR main, saya pasti nonton. Rumah saya di Cluj tepat di belakang stadion CFR. Jadi, setiap mereka main pasti saya nonton.’

Saya memandangi poster-poster dan syal CFR Cluj yang memenuhi dinding kamar pria Romania itu. CFR Cluj nampaknya memang sudah menjadi darah-dagingnya.

‘Lagipula saya dan ayah saya tiap awal musim kompetisi dimulai pasti membeli tiket terusan. Kalau nggak dipake nonton langsung di stadion, mubazir kan? Makanya nonton langsung CFR Cluj menjadi prioritas di jadwal mingguan saya.’

‘Kalau begitu pasti kamu kangen rumah,’ aku menimpali. ‘Di sini kamu nggak bisa ngerasain langsung suasana stadion tiap CFR main.’

‘Untungnya ada teknologi,’ Chongi menepuk-nepuk laptopnya. Dia memang selalu mengikuti sepak terjang CFR lewat streaming internet. ‘Jadi, kamu tahu kapan sebaiknya kamu tidak mengganggu saya. Yaitu setiap kali CFR bertanding.’

Kami berdua tertawa.

‘Jadi CFR sudah menjadi tempat ibadah kedua bagimu setelah gereja?’ saya menggodanya. Tak disangka, raut wajah Chongi kembali berubah serius.

Homo pedifollium.’

‘Apa?’

‘Saya mendengar istilah itu disebutkan oleh dosen teologi saya. Istilah itu sebenarnya buatannya sendiri, berasal dari bahasa latin, seperti homo sapiens atau homo economicus. Saya dan teman-teman sering membahas hal ini. Bahwa banyak golongan manusia yang menuhankan sepakbola. Homo adalah manusia, dan pedifollium adalah sepakbola.’

‘Oh,’ aku mengangguk tanda mengerti. ‘Homo pedifollium.’

Kali ini Chongi tersenyum. ‘Ya. Istilah itu awalnya hanya sebagai ucapan iseng, lama kelamaan istilah iseng itu jadi familiar di Eropa sini untuk menyebut para fans sepakbola. Bagi kami di kota Cluj, semuanya masuk akal karena kami sempat melihat pengaruh langsung sepakbola terhadap masyarakat kami. Akibat pengaruh rezim komunis, sempat banyak rakyat kami yang tidak percaya Tuhan. Mereka hanya mempercayai kekuatan magis para seniman sepakbola yang bisa memberi mereka kegembiraan walaupun sesaat.’

Saya tercenung. Saya langsung jadi teringat beberapa golongan di Argentina yang sampai membangun gereja untuk memuja Diego Maradona, legenda sepakbola mereka.

Chongi benar. Sepakbola selalu memiliki sentuhan ajaib yang membawa kegembiraan ke masyarakat.

Okay then,’ saya bangkit dari kursi saya karena harus mengerjakan tugas.  ‘Terima kasih atas cerita menarik tentang CFR Cluj ya.’

No problem,’ balas Chongi. ‘Lain kali mungkin kamu yang harus bercerita kepada saya tentang Gonzales.’

Saya hanya tertawa mendengarnya.

***

43dff5a3e3af91335caf51008a7a5373

2014 Upcoming Project (1)

Selamat tahun baru 2014!

Sebelum ada yang nanya, apakah saya ada rencana nerbitin novel baru di 2014, saya jawab saja dulu: iya.

Nukilan di bawah ini adalah sedikit dari naskah saya berjudul tentatif ‘Distorsi‘. Sudah disetujui untuk terbit oleh GagasMedia, dan sekarang sedang dalam proses pengeditan.

Oh ya, gara-gara novel pertama saya, ‘Here, After‘ yang bertaburan adegan-adegan tragis, banyak yang mengira novel kedua saya, ‘Rhapsody‘, juga akan bernuansa suram. Ternyata tidak. Banyak yang kaget karena Rhapsody lebih ceria dan inspiratif. Nah, khusus bagi mereka yang menyukai tone-nya Here, After, boleh berharap pada naskah baru ini.

Hope it will live up the expectations! 🙂

Selamat membaca!

DISTORSI

Pada suatu hari, ketika hari di luar sudah mulai gelap, Satria memutuskan untuk masuk ke ruangan perpustakaan mencari Lara. Ruangan itu sudah sepi. Satria hanya melihat punggung Lara dari belakang dan rambut panjangnya yang tergerai. Dia berada di ujung ruangan, sehingga terlihat seolah ditelan oleh jejeran rak penuh buku. Perlahan, Satria berjalan menghampirinya.

Namun, seiring dengan langkah kakinya menyusuri deretan rak buku, ia menyadari bahwa ada yang berbeda dari gelapnya ruangan itu. Hanya ada secuil cahaya matahari sore yang menyelinap dari celah jendela. Rambut panjang Lara terlihat seperti sosok hantu di film-film horor Jepang.

Bukan, itu bukan Lara.

Itu adalah… sosok hantu berambut panjang itu lagi!

Bulu kuduk Satria berdiri. Suasana ini memang cukup horor. Meskipun suara langkah kakinya cukup jelas terdengar di lantai, sosok berambut panjang itu tidak menoleh sedikitpun.

Satria memutuskan untuk memperlambat langkahnya. Tiba-tiba terdengar suara isak tangis perempuan.

Kali ini seluruh urat syaraf di tubuhnya menegang.

Langkahnya sedikit demi sedikit semakin mendekati perempuan berambut panjang itu. Rambut hitam legamnya yang sedikit berombak itu ternyata basah. Punggungnya bergerak-gerak. Suara isak tangis lama-kelamaan semakin terdengar jelas.

Satria mengulurkan tangannya yang bergetar hebat untuk menyentuh punggung wanita itu. Namun seketika dia terhenti.

Sesuatu yang basah dari balik rambut panjangnya meninggalkan noda berwarna gelap di punggungnya. Noda itu perlahan semakin membesar. Lalu semakin besar.

Barulah ia menyadari bahwa noda berwarna merah tua itu adalah…

Darah.

Napas Satria tertahan. Ia menatap sosok itu tak berkedip.

‘La…ra?’ panggilnya lirih.

Sosok itu berhenti terisak. Lalu, dengan sebuah gerakan berkelebat, sosok itu memutar tubuhnya.

Satria menjerit.

***

Football Travelling

IMG-20120615-01654

Fan Zone Euro 2012 di Poznan, Polandia

Tidak terasa, sudah hampir dua tahun sudah sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di benua Eropa. Saya telah memenuhi sebagian besar impian yang pada mulanya mendasari saya untuk memilih Eropa sebagai tujuan untuk melanjutkan kuliah.

Hidup di Swiss, sebuah negara yang bahasa nasionalnya bukan bahasa Inggris (walaupun sebagian besar penduduknya bisa berbahasa Inggris) adalah tantangan tersendiri. Untuk menyesuaikan diri, saya harus mempelajari bahasa yang digunakan penduduk setempat, makanya saya sedang mempelajari bahasa Jerman dan Prancis. Saya sering memperoleh kepuasan sendiri dalam belajar bahasa. Maka, rasanya tidak salah pilih saya mendarat di Swiss, dan bukannya memilih negara tujuan lain yang berbahasa Inggris seperti UK, Australia atau USA.

Selain itu, alasan saya memilih untuk melanjutkan pendidikan di Eropa adalah untuk merasakan langsung atmosfer fenomena massa terbesar di dunia: yaitu sepakbola. Enaknya tinggal di Eropa adalah dengan gampangnya kita bisa bepergian ke negara satu ke negara lain dengan menempuh jalur darat. Dalam setahun terakhir, saya dengan modal nekat sudah berkelana untuk nonton bola di Swiss, Spanyol, Polandia (pagelaran Euro 2012), Jerman, bahkan Austria dan Turki. Pengalaman nonton sepakbola saya di stadion pun semakin bertambah dari waktu ke waktu:

1. FC Zurich vs Vaslui (Stadion Letzigrund, Zurich, November 2011, penyisihan grup Europa League 2011-2012).

2. Swiss vs Argentina (Stade de Suisse, Bern, Februari 2012, international friendly–pertama kalinya saya nonton langsung aksi Lionel Messi!!!).

3. FC Barcelona vs Getafe (Estadio Camp Nou, Barcelona, April 2012, Liga Spanyol 2011-2012–dreams came true! Akhirnya nonton langsung Barca di Camp Nou!!!).

4. Valencia vs Rayo Vallecano (Estadio Mestalla, Valencia, April 2012, Liga Spanyol 2011-2012).

5. Real Madrid vs Sporting Gijon (Estadio Santiago Bernabeu, Madrid, April 2012, Liga Spanyol 2011-2012).

6. Rayo Vallecano vs Atletico Madrid (Estadio Vallecas, Madrid, April 2012, Liga Spanyol 2011-2012).

7. Swiss vs Jerman (St. Jakob Park, Basel, Mei 2012, 2012, international friendly).

8. Spanyol vs Korea Selatan (Stade de Suisse, Bern, Mei 2012, international friendly).

9. Italia vs Kroasia (Miejski Stadium, Poznan, Juni 2012, Euro 2012).

10. Galatasaray vs Fiorentina (Turk Telekom Arena, Istanbul, Agustus 2012, international friendly).

11. BSC Young Boys vs FC Midtjylland (Stade de Suisse, Bern, Agustus 2012, Euro League 2012-2013–talking about non-mainstream football, hehehe…).

12. Switzerland vs Norway (Stade de Suisse, Oktober 2012, World Cup Qualifications)

13. BSC Young Boys vs Liverpool (Stade de Suisse, Bern, Oktober 2012, Euro League 2012-2013)

IMG_1015

Stade de Suisse, Maret 2013. Dua orang Indonesia: saya dan Edo, serta Daniel, teman kami orang Spanyol… eh bukan, Catalunya

14. BSC Young Boys vs Anzhi Makhachkala (Stade de Suisse, Bern, Desember 2012, Euro League 2012-2013)

15. SC Freiburg vs Greuther Fuerth (Mage Solar Stadium, Freiburg, Desember 2012, Bundesliga 2012-2013)

16. BSC Young Boys vs FC Sion (Stade de Suisse, Bern, Maret 2013, Swiss Super League 2012-2013)

17. FC Basel vs Grasshopper Zurich (St. Jakob Park, Basel, Mei 2013, Swiss Cup Final 2013)

18. Austria vs Sweden (Ernst Happel Stadium, Vienna, Juni 2013, World Cup Qualification)

19. Vfl Wolfsburg vs AS Saint-Etienne (Tourbillon Stadium, Sion, Juli 2013, Valais Cup 2013)

20. FC Sion vs Olympique Marseille (Tourbillon Stadium, Sion, Juli 2013, Valais Cup 2013)

21. FC Basel vs Borussia Dortmund (St. Jakob Park, Basel, Juli 2013, International Club Friendly)

22. AC Milan vs Sao Paolo (Allianz Arena, Muenchen, Agustus 2013, Audi Cup 2013)

23. Bayern Muenchen vs Manchester City (Allianz Arena, Muenchen, Agustus 2013, Audi Cup 2013)

24. Switzerland vs Brazil (St. Jakob Park, Basel, Agustus 2013, International Friendly)

and the list goes on

Sebagian besar pertandingan yang saya saksikan langsung di stadion adalah yang dilangsungkan di Swiss. Saya cukup beruntung karena negeri penghasil jam tangan dan coklat ini lumayan diminati sebagai penyelenggara pertandingan-pertandingan kelas dunia, meskipun animo sepakbolanya masih kalah dari negara-negara tetangganya, seperti Jerman atau Italia. Selain itu, saya sering nekat travelling dengan beberapa orang teman untuk memuaskan rasa penasaran menonton pertunjukan sepakbola yang semasa kecil hanya kami saksikan di kotak televisi. Tidak kurang dari Spanyol, Jerman dan Italia sudah kami jelajahi. Memakai kiat grup travelling supporter tertua di Indonesia, bonek (bondo nekat alias modal nekat), kami juga mengarungi negara-negara di Eropa dengan modal seadanya. Numpang di rumah kenalan, nginap di hostel murah, bahkan tidur di stasiun kereta dan airport demi menghemat biaya penginapan, sudah pernah saya dan teman-teman saya alami.

Sejauh ini, banyak teman yang nyindir saya di Twitter atau Facebook, ‘Kamu itu ke Eropa buat sekolah atau nonton bola, sih?’ Toh, selama saya bisa me-manage keseimbangan studi saya dengan dengan football travelling yang saya lakukan, kenapa tidak? Lagipula, alasan saya untuk ber-football traveling ria di Eropa adalah quote terkenal Mark Twain: ‘Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn’t do than by the things you did do.’ Yap, saya berusaha sebisa mungkin meraih momen-momen itu sekarang, sebelum menyesal di kemudian hari kelak.

Selain itu, sebenarnya toh saya hanya melakukan hal-hal yang bagi masyarakat Eropa dianggap wajar. Jika kata orang-orang bijak, manusia adalah makhluk yang berbudaya dan selalu berpindah-pindah, maka sepakbola menjadi alasan saya untuk menjalani kedua ‘kodrat’ itu. Tidak ada tempat yang lebih tepat untuk memahami sepakbola sebagai warisan budaya dunia selain negara-negara di Eropa.

43dff5a3e3af91335caf51008a7a5373

Travelling terbaru saya: Allianz Arena, Agustus 2013. Audi Cup.

Terasa betul bahwa dalam dua tahun ini saya mengalami berbagai perubahan sudut pandang. Selain karena travelling membantu wawasan saya hingga semakin terbuka, saya juga semakin mencintai sepakbola tanpa harus membeda-bedakan apakah tontonan sepakbola itu melibatkan tim-tim dan pemain-pemain ternama atau tidak. Saya tidak peduli lagi apakah yang main merupakan klub terkenal seperti Barcelona atau Bayern Muenchen, atau klub tidak ternama dari Swiss seperti FC Sion. Apakah yang saya tonton merupakan pertandingan kelas dunia dengan harga tiket mahal seperti Liga Champions atau sekadar pertandingan knock-out Piala Swiss. Yang terpenting bagi saya adalah belajar menikmati sepakbola apa adanya, sebagai sebuah permainan yang indah, tanpa memberi label atau embel-embel pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Bisa berada di dalam stadion bersama ribuan pasang mata yang memiliki passion yang sama sudah merupakan kepuasan luar biasa.

Maka, dalam setahun terakhir, saya merekam jejak-jejak perjalanan saya di berbagai stadion di Eropa dalam bentuk tulisan. Hopefully, suatu hari nanti akan menjadi sebuah buku. Sudah ada rekan penerbit yang mengutarakan niat ingin menerbitkan cerita saya, tapi saya masih belum pede. Keinginan saya adalah menjadikan buku ini sebagai perpaduan cerita travelling dan passion tentang sepakbola. Tidak melulu soal sepakbola. Saya ingin hasil tulisan ini bisa dinikmati semua kalangan, bahkan non-fans sepakbola sekalipun.

Untuk mencapai tujuan itu, saya mendalami berbagai literatur yang mengangkat fenomena sepakbola. Beberapa buku bertema sepakbola saya lahap. Beberapa di antaranya adalah:

Fever Pitch by Nick Hornby (my favorite author!).

A Life Too Short: The Story of Robert Enke by Ronald Reng (semacam biografi Ronald Enke, kiper nasional Jerman yang tewas bunuh diri).

Barca: The Making of The Greatest Team in the World by Graham Hunter.

How Soccer Explains the World by Franklin Foer.

Messi: The Story of A Boy Who Became A Legend by Luca Caioli.

– …dan buku favorit saya: The Miracle of Castel di Sangro by Joe McGinniss

Beberapa hasil ‘latihan’ football-travel-writing ini sudah saya kirimkan untuk di-publish di website Bola Total. Jika ingin membacanya, silakan ikuti link ini: http://www.bolatotal.com/jurnalbotoligans-maheeer.html

Saya pun semakin mantap menyebut diri saya sebagai football traveler. I’m living the passion of the most beautiful game in the world! 🙂

1014017_704147559602420_1944727412_n

MP