For Sale: Here, After

Halo, semua!

Tidak terasa sudah empat tahun berlalu sejak terbitnya novel pertama saya, Here, After. Waktu berubah, tak terhitung buku-buku baru yang muncul di toko-toko buku, sehingga Here, After pun semakin sulit ditemukan di toko-toko buku mana pun.

I’ve had good times writing it, and even more unforgettable experiences after it was published. Mungkin sudah sering saya cerita buku tersebut masuk lima besar nominasi buku fiksi terfavorit Anugerah Pembaca 2011. Meski akhirnya nggak menang, it was a proud moment for me.

Nah, untuk memfasilitasi teman-teman yang belum baca, atau pengen baca lagi, saya menjual Here, After secara pribadi ya. Harganya tetap sama, Rp. 34.000 (belum termasuk ongkos kirim). Teman-teman bisa pesan mau bertanda tangan saya atau lebih memilih masih disegel. Jika ingin memesan, silakan hubungi saya di 0821-931-87891 atau e-mail ke mahir.pradana@gmail.com

BmS49BUCcAAJfz2

Sebagai info tambahan, silakan dicek beberapa review orang-orang yang telah membaca Here, After:

– blog:

Kalau yang satu  ini review di website pribadi Mbak Lia, (mantan) penanggung jawab program ProResensi di RRI Pro2 Jakarta yang pernah meng-interview saya secara langsung di acara talkshow tersebut:
Setelah saya google sedikit, ternyata pihak Gramedia Istana Plaza juga mendokumentasikan talkshow saya (di tahun 2010 lalu) di halaman website mereka:

 

– Twitter:

rina_shu
Jd mulai agak apatis sama yg namanya cinta gara2 baca Here, After. Penulisnya hrs tanggung jawab nih.

cyntia_tia
A depressing infatuation about a never ending agony. ( Here, after ) kata-katanya ngenak banget :*

septamellina
In spite of my assigments and exam,I could finally finish reading #NovelHereAfter I love your novel, friend

tatats
I do! Hehehe..I like your different view about love 😀

dogeena
She gave love a new name : “A depressing infatuation about a never ending agony” #HereAfter | nice poem! 🙂

anastha
Tdk semua pernikahan hrs dimulai dgn cinta & tdk semua cinta hrs diakhiri dgn pernikahan ~ @maheeeR >> nyebelin bgt lo, hir! 😀

ophye
agreed!! Awalny kupikir bakalan ala2 novel cinta teenlit cupu yg mellow ndak jelas. Ternyata I can’t be more wrong!!!

msyarifm
I’ve just read 1 1/2 chapter, but u know what? u’ve got talent @maheeeR. (@_@) *serius*

me_bie
baru selesei baca novel Here After,one conclusion:kapan dibikin film nya?bgs nih jalan ceritanya 😀

erdityaarfah
udh beres gw baca.kesimpulannya: ajarin gw nulis romance dong. 🙂

Inabeautiful
novelnya kak @maheeeR bener2 gaswat -_- udah kelar dibaca malah jadi ketagihan pengen dibaca lagi. Padahal besok uas. Haha. Ah,bodo ah.

adit_adit 
sebelum baca #NovelHereAfter-nya @maheeeR, cari lagu Love Hurts-nya Incubus deh, biar tambah galau waktu bacanya, hahaha

So, what are you waiting for? Pesan ya, mumpung stok masih ada 😀

 

Advertisements

EXPLORE. DREAM. DISCOVER

Jenewa, Sabtu, 5 November 2011.

Pesawat yang membawa saya kembali ke Barcelona dari Jenewa baru saja mendarat di Geneve Aeroport. Seperti reaksi penumpang pesawat pada umumnya, saya langsung menyalakan smartphone begitu tiba di airport. Selama tiga hari liburan di Barcelona, saya memang tidak mengaktifkan layanan Blackberry. Takut dibombardir tagihan karena kena roaming internasional, hehehe…

Tepat ketika mengaktifkan Twitter, perasaan saya seolah melambung ke angkasa. Seolah-olah ada malaikat tak terlihat yang mengajak saya terbang ke langit ketujuh. Penyebabnya adalah sebuah kabar menggembirakan yang masuk.

‘congrats, Here, After’ masuk longlist tahap ke-2 API 2011!’

Sejenak, saya tertegun. Bumi berhenti berputar. Sebuah celetukan konyol menggema di dalam benak saya.

oh, whoa… I never knew I would make it that far

Ya, novel pertama saya yang terbit di penghujung 2010 tersebut masuk daftar 10 besar Anugerah Pembaca Indonesia (API 2011). A reality which is too good to be true. Bahkan bermimpi pun saya tidak pernah berani sejauh ini.

Mendadak, udara dingin Jenewa tergantikan oleh hangatnya perasaan bangga dan berbagai memori yang merasuk kembali ke benak saya.

  • Memori ketika waktu kecil ayah saya dengan sabar mengajarkan saya membaca danmenulis. Memori ketika beliau lebih memilih memanjakan saya dengan buku daripada mainan robot-robotan.
  • Semua puisi yang saya coba-coba untuk tulis di sela-sela pelajaran membosankan di bangku SMA. Memori ketika buku kumpulan puisi tersebut dicuri oleh teman-teman saya yang jahil untuk ditertawakan rame-rame.
  • Memori tentang surat cinta yang saya kerjakan sehari semalam untuk cinta monyet pertama saya. Saya ingat jelas bagaimana kegelian ketika membaca ulang kata-kata gombal tersamarkan oleh kerasnya degup jantung dan perasaan di dalam hati yang berjuang keras untuk diungkapkan lewat bibir, meskipun akhirnya hanya tanganlah yang merealisasikan ungkapan cinta dengan bantuan kertas dan pulpen.
  • Saat-saat pertama saya memutuskan untuk menulis novel pertama tanpa terlebih dahulu mencoba menulis sesuatu yang lebih singkat, seperti cerpen. Saya ingat jelas naskah tersebut sangat buruk sampai akhirnya saya putuskan untuk membuangnya ke tempat sampah dan akhirnya dibakar.
  • Memori empat tahun lalu, ketika saya menulis kata-kata pertama untuk draft Here, After. Tanpa ekspektasi apa-apa. Hanya ingin membuat sesuatu yang berbeda dari yang lain, yaitu plot dan anti-happy ending-nya…
  • Memori tiga tahun lalu ketika saya memutuskan untuk mengirim naskah tersebut ke penerbit GagasMedia. Lagi-lagi, tanpa ekspektasi apa-apa.
  • Memori di tahun 2010, ketika naskah tersebut diputuskan untuk terbit. Saat itu saya sudah senang bukan kepalang. Target realistis saya adalah, terjual 1000 kopi pun sudah bagus. Ternyata, sudah terjual lebih dari 12.000.
  • Memori dua minggu lalu, ketika Here, After masuk longlist tahap pertama API 2011 bersama dua puluh judul lainnya. Saat itu, target saya adalah untuk mengumpulkan vote sebanyak-banyaknya. Supaya nggak malu-maluin di mata orang-orang yang sudah baca novel saya. Ternyata, pada akhirnya masuk longlist tahap II (10 besar). Salah satu kompetitornya adalah Dewi Lestari, yang saya (dan hampir semua orang di Indonesia) kagumi..
  • Beberapa tahun yang lalu, saya melihat buku biografi Valentino Rossi yang berjudul What If I Never Tried It? Kini, kata-kata itu terus-terusan menggema di benak saya.

Ya. Bagaimana jadinya jika saya tidak pernah mencoba untuk merealisasikan mimpi saya? Bayangkan jika Valentino Rossi nggak pernah mencoba untuk memulai balapan motor, maka kita tidak akan mengenal sosok dia yang telah menjadi legenda di dunia otomotif. Apa jadinya seandainya saya tidak pernah menuangkan sedikit usaha tambahan demi melompat lebih tinggi meskipun hanya ‘sejengkal dari tanah’? Minimal, ‘sejengkal dari tanah’ berarti ‘lebih dekat ke langit’, kan?

Then, in the end, I’m glad that I did. Seperti kata-kata di lagunya Coldplay, ‘if you never try, you’ll never know’.

Satu lagi kata-kata yang sering saya ingat. Yaitu petuah bijak dari penulis legendaris Mark Twain:

“Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover.”

Saya tidak berhenti tersenyum. Life has turned unexpectedly fabulous for me. Saya mendapat kabar bahwa novel saya masuk 10 besar penghargaan bergengsi bersama penulis-penulis besar lain, tepat sehari setelah saya mengunjungi kota impian saya sejak kecil, yaitu Barcelona. I couldn’t ask for more.

Mimpi membawa saya ke sini. Tapi, mimpi-mimpi saya tidak akan terbentuk tanpa peranan orang-orang di sekitar saya yang selalu mendukung saya dalam situasi apa pun. Dengan postingan ini, saya ingin berterima kasih kepada semua orang yang terlibat dalam proses hidup saya sampai sekarang. Termasuk Anda yang sedang membaca postingan ini. 🙂

Explore. Dream. Discover.

Here, After in the Eyes of Fellow Author

Dikutip dari www.goodreads.com, ini adalah review novel Here, After dari Winna Efendi, salah satu penulis yang saya kagumi. Penulis muda ini telah menghasilkan beberapa novel laris, di antaranya Refrain dan Unforgettable.

‘It’s been quite some time since I’ve encountered a book I call ‘mellow’. This is one of them.

The thing is, most of the book feels real in terms of everyday life scenes, dialogue, the characters.. I don’t find the characters likable, but I have to say that real characters are flawed. I like the fact that the writer puts forward truth in his book, instead of writing about something extremely dramatic and unreasonable (though the book, in its latter chapters, do become more dramatic).

Most of all, I like Mahir’s writing style. His book is something I’d like to write myself, in the future, and that’s the biggest compliment a writer can give to another 🙂

Although I find myself getting depressed from time to time when reading this book, it’s nice to get an ounce of reality, sometimes.’

Kata-kata Winna membuat saya tersanjung, ‘…his book is something I’d like to write myself, in the future, and that’s the biggest compliment a writer can give to another…’ . Mengingat dirinya sendiri adalah penulis yang produktif dan memiliki fan-base yang sangat besar.

Saya juga sudah lama mengagumi penulis yang satu ini, selain kemampuan menulisnya yang semakin lama semakin meningkat, Winna juga selalu menjaga kedekatan dengan para pembaca. Ini membuat mereka menyayanginya serta selalu setia menunggu karya demi karya barunya. Silakan mengunjungi Winna juga di blog-nya, http://winna-efendi.blogspot.com/

Thanks, Winna!