My Movies of 2014

Hampir setiap akhir tahun, saya membuat list film terbaik yang saya tonton pada tahun tersebut. Untuk tahun ini, saya membuat list film-film terbaik dan film-film paling mengecewakan sepanjang 2014. Ini dia list-nya:

10 Film Terbaik di Tahun 2014:

1. Boyhood

Film ini akan sangat meninggalkan kesan untuk waktu yang lama dalam diri saya, seperti ketika saya menonton Before Sunset untuk pertama kalinya. Bukan kebetulan jika kedua film tersebut dibesut oleh sutradara yang sama, yaitu Richard Linklater (officially one of the most inspiring personalities for me). Kebanyakan orang mengagumi bagaimana Linklater mempersembahkan 12 tahun hidupnya untuk menyelesaikan film ini. Mengagumkan juga melihat betapa kuatnya komitmen para aktor-aktris yang ambil bagian di proyek ini selama 12 tahun. Di film ini, tidak ada cerita bahwa karakter A kecil diperankan oleh aktor B, sedangkan karakter A dewasa diperankan oleh aktor C. Ethan Hawke, Patricia Arquette, pendatang baru Ellar Coltrane dan sederet pemeran lainnya benar-benar bertambah tua dalam 12 tahun yang dikemas menjadi film berdurasi 3 jam ini.

Namun, bagi saya pribadi, fenomena ’12 years making the movie’ itu adalah daya tarik nomor sekian. Yang terpenting adalah bagaimana Boyhood memberi kita pelajaran tentang kehidupan dengan cara yang sangat sederhana. Ini adalah cerita tentang seorang anak kecil yang tumbuh dewasa, masuk sekolah hingga akhirnya merantau untuk menimba ilmu di bangku kuliah. Ini juga cerita tentang para orangtua yang dengan segala kekurangan mereka berusaha keras mendampingi perjalanan hidup anak-anak mereka.

sumber: curiosityquills.com

sumber: curiosityquills.com

Boyhood adalah cerita tentang saya, Anda, dan kita semua, serta cerminan kehidupan anak-anak kita nantinya.

2Nightcrawler

Maafkan saya jika kembali memulai ulasan dengan suatu perbandingan. Sensasi yang saya rasakan ketika menonton Nightcrawler persis sama ketika saya menonton Taxi Driver (1976). Bukan hanya karena kedua film sama-sama berkisah tentang kehidupan malam hari kota-kota di Amerika Serikat. Kedua karakter sentral kedua film juga sama-sama memorable. Lou Bloom (Jake Gyllenhall) adalah versi modernnya Travis Bickle yang diperankan Robert de Niro. Keduanya punya kendala dalam berbaur dengan masyarakat awam, tapi sukses memikat kita dengan mindset mereka sendiri.

indie ethos wordpress

Nightcrawler bukanlah film action, tapi sensasi tegang yang saya rasakan sama dengan menonton sebuah film action. Endingnya juga membuka diskusi panjang tentang standar moral bagaimana yang masyarakat kita sepakati dalam mengonsumsi sebuah berita criminal. Nightcrawler adalah sebuah film kecil yang luar biasa.

3. The Raid 2: Berandal

The Raid pertama sukses membuat saya tercengang dengan adegan-adegan action over the top dan cukup violent, sekaligus bangga karena akhirnya ada film action Indonesia yang disegani di dunia. Ternyata, itu hanya permulaan. Jilid ke-2 The Raid tidak hanya menawarkan adegan-adegan bela diri, car chase dan tembak-tembakan yang lebih banyak, tapi juga kadar ultra-violence yang rasanya membuat Hollywood iri.

Selain itu, apresiasi tertinggi saya untuk sutradara Gareth Evans dan penulis naskahnya yang dengan berani memasukkan storyline seputar dunia mobster ke film kedua ini. Banyaknya adegan heist, eksekusi dan balas dendam ala film-film mafia old school seperti Donnie Brasco (1996), Goodfellas dan The Godfather berisiko akan membuat banyak penonton bosan. Namun, di situlah bagusnya, karena akting Tio Pakusadewo dan Arifin Putra mengembangkan film ini dari sekadar bak-buk geng silatnya Iko Uwais menjadi adu emosi.

sumber: kapanlagi.com

sumber: kapanlagi.com

Oh, and it was even better with snow.

4Edge of Tomorrow

Masuk ke bioskop tanpa ekspektasi mengingat beberapa film terakhir Tom Cruise (Jack Reacher, Lions for Lambs, Oblivion) membuat saya kecewa, Edge of Tomorrow ternyata mempesona. Plot tentang time loop memang sudah saya lihat di Groundhog Day (1993), The Triangle (2009) dan film Spanyol Timecrimes (2007), tapi plot tersebut memang paling pas dipakai di film science fiction seperti ini. Tambahkan beberapa robot, ledakan spektakuler dan sosok sensual Emily Blunt, menurut saya Edge of Tomorrow adalah film musim panas terbaik tahun ini.

PGOyuh5

5The Theory of Everything

Biasanya, saya malas menonton film biografi. Namun, setelah menonton trailernya yang mengharukan, kisah perjalanan hidup fisikawan Stephen Hawking dan istrinya Jane ini tak boleh saya lewatkan. Ternyata saya tidak menyesal, The Theory of Everything terasa seperti A Beautiful Mind tanpa adegan-adegan thriller.

focusfeatures com

sumber: focusfeatures.com

Film ini sangat bersahaja. Alurnya berjalan tenang tapi tidak lambat. Yang paling mencuri perhatian adalah penampilan Eddie Redmayne sebagai Stephen Hawking muda, terutama ketika ia berakting di kursi roda dan menampilkan sosok Hawking yang telah digerogoti penyakit ALS,  Ending film yang bittersweet juga memberi saya pandangan baru, bahwa tidak semua pasangan harus happy ending seperti Habibie & Ainun untuk menjadi pasangan hebat dan suportif satu sama lain.

6. Gone Girl

I’m not sure whether David Fincher is a master of thriller or a master of fine book-to-movie adaptation. Gone Girl adalah film adaptasi dari buku ke-sekian yang dibesutnya dengan sangat keren, setelah Fight Club, The Curious Case of Benjamin Button, Zodiac, The Girl with The Dragon Tattoo, dan The Social Network. Did I miss anything?

gone-girl-affleck

Anyway, Gone Girl sangat memikat karena plotnya yang penuh kejutan di setiap tikungan. Jika kita sebagai penonton terlalu naif dan mengira karakter-karakternya template hitam-putih, maka kita pasti akan kecele, sekaligus terhibur. Penampilan menawan Rosamund Pike (an Oscar-worthy one as Amy Dunne) dan Ben Affleck (sebagai Grant Dunne) membuat kita berada dalam roller-coaster emosi, awalnya bersimpati, lalu benci, lalu bersimpati lagi.

Sebagai take-home ketika selesai menonton filmnya, you will contemplate your marriage life. Or be cautious of getting married if you’re still single.

7. The Hobbit: The Battle of Five Armies

Banyak kalangan menganggap seri middle-earth yang terakhir ini merupakan yang terlemah dari enam film Lord of the Rings dan The Hobbit. Namun bagi saya yang dibesarkan dengan trilogi Lord of the Rings, kisah akhir ini tetaplah spesial.

Adegan perang pamungkasnya tetaplah mengagumkan, dengan special effect dan sinematografi luar biasa. Sejak film pertama, kekurangan yang terasa mungkin pendalaman karakter, apalagi di film ketiga ini ketika Legolas (Orlando Bloom) dari trilogi pertama dipaksakan betul menjadi sosok hero (padahal menurut saya failed). Namun, rasa haru tetap membekas dengan kepulangan Bilbo (Martin Freeman) ke desa Shire beserta pelajaran-pelajaran homecoming yang diusungnya.

sumber: geekadelphia.com

sumber: geekadelphia.com

8. The Babadook

Sebagai penggemar film horor, kekurangan yang sangat terasa dari 2014 adalah tiadanya film horor yang benar-benar berkesan. Berbeda dengan 2013 yang punya The Conjuring dan Insidious 2 sekaligus, 2014 punya Annabelle, Deliver Us from Evil dan Ouija yang semuanya mengecewakan.

Namun ternyata spotlight untuk horor tahun ini dicuri oleh sebuah film indie buatan Australia berjudul unik, The Babadook. Film ini dengan sabarnya menapaki screening dan festival demi festival sampai akhirnya memperoleh pengakuan sebagai sleeper hit of the year. Ceritanya tentang seorang single mother yang berusaha melindungi anak tunggalnya yang diincar makhluk gaib bernama ‘Babadook’ setelah membaca sebuah buku aneh. Premis sederhana itu dipermantap penampilan apik Essie Davis dan Noah Wiseman sebagai ibu dan anak dysfunctional.

c9e4fc69280925ccd0b441c5a5498b85_large

sumber: kickstarter.com

9. Godzilla

Monster legendaris Jepang ini akhirnya memperoleh treatment yang layak dari Hollywood. Godzilla 2014 ini benar-benar berbeda dari Godzilla 1998 yang komikal dan terasa seperti jiplakan Jurassic Park: The Lost World. Apalagi diperkuat plot apik dan aktor-aktor serius seperti Ken Watanabe, Bryan Cranston (dari serial Breaking Bad) dan pemeran Kick-Ass, Aaron Taylor-Johnson dalam penampilannya yang serius.

godzilla-movie-photo

sumber: moviefanatic.com

Penanganan Godzilla ini cukup terasa mewah di bawah arahan Gareth Edwards, pembuat film indie Monsters (2010) (yang ketika saya tonton, saya langsung nggak ngerti poinnya apa, tapi kagum sama special effect-nya). I will wait for any possible sequels!

10. 22 Jump Street

sumber: hellogiggles.com

sumber: hellogiggles.com

Nggak pernah terpesona dengan 21 Jump Street versi TV maupun versi bioskop 2012-nya. Namun, low expectation itu justru yang membuat 22 Jump Street terasa sangat ‘penuh’ bagi saya. Banyaknya lawakan ‘gila’ plus acting bloonnya Channing Tatum yang semakin terasa natural, membuat momen saya menonton 22 Jump Street termasuk pengalaman menonton di bioskop terbaik saya tahun lalu.

Selain itu, saya juga membuat list untuk ’10 Film Paling Mengecewakan Tahun 2014 versi saya’: (catatan: paling mengecewakan belum tentu buruk. Mungkin hanya tidak sesuai ekspektasi atau selera saya)

10 film paling mengecewakan di 2014:

1Transcendence

ct-cth-transcendence-jpg-b-jpg-20140416

sumber: chicagotribune.com

Menurut saya inilah film terburuk tahun 2014 lalu. Ide ceritanya sebenarnya cukup dalam, tentang kemungkinan mengunggah kecerdasan manusia ke perangkat teknologi. Sayang, penanganan yang buruk dari sutradara debutan Wally Pfister membuat film ini jatuh ke klise ‘teknologi yang ingin menguasai dunia’, premis yang sudah sering kita lihat di seri Terminator atau cerita-cerita Isaac Asimov.

2. RoboCop

Masa kecil saya dipenuhi gambaran polisi setengah manusia-setengah robot yang gagah berani ini. Film-film bioskopnya yang sempat dibuat beberapa seri juga cukup oke untuk ditonton oleh saya yang waktu itu masih kecil. Sewaktu membaca info-info bahwa RoboCop akan di-remake dengan pendekatan sci-fi zaman sekarang, tentu saja saya menyambut antusias. Kostum dan gadgetnya pun terlihat keren di trailer yang sudah rilis sejak akhir tahun lalu.

images

sumber: memespp.com

It turned out to be a big disappointment. RoboCop 2014 ini sebenarnya tidak buruk, tapi pengaturan klimaks dan ending-nya yang terburu-buru membuatnya terlupakan. Filmnya saja, tentunya, karena di benak saya, sosok RoboCop sejajar dengan para superhero lain seperti Batman dan Kura-Kura Ninja.

3. 300: The Rise of An Empire

Film pertama 300 yang dikomandoi Gerard Butler (2006) telah menjadi cult-classic dan cukup berkesan bagi saya. Ketika mengetahui Butler dan sutradara Zack Snyder tidak kembali untuk sekuelnya, ekspektasi pun saya turunkan. Ternyata, pihak studio makin memperparahnya dengan pemilihan leading actor yang sama sekali tidak berkarisma, Sullivan Stapleton. Eva Green cukup menyelamatkan film ini, tapi tiadanya adegan perang dan duel berkesan membuat film ini menjadi sekuel yang cukup dilupakan saja.

4. Divergent

Saat ini adalah masa tren novel-novel sci-fi young adult diadaptasi menjadi film. Saya bukan penggemar trilogi Hunger Games, tapi saya mengakui adaptasi filmnya cukup apik. Maka, saya mencoba Divergent. Mengecewakan! Plot yang sebenarnya menarik dieksekusi dengan memble oleh sutradara Neil Burger (yang sebenarnya cukup keren ketika mengarahkan The Illusionist dan Limitless). Adegan-adegan aksinya cukup nanggung, penonton dewasa dan remaja takkan terkesan, sedangkan anak kecil akan bingung dengan plot dystopian future-nya yang suram. Pemilihan pemain-pemainnya pun memprihatinkan. Shailene Woodley menurut saya sangat SANGAT annoying, tidak kelihatan smart dan tidak punya sex-appeal sama sekali, apalagi jika dibandingkan dengan Jennifer Lawrence di Hunger Games.

5. The Amazing Spider-Man 2

Film kedua dari reboot manusia laba-laba ini sebenarnya terasa oke bagi saya. Namun, karena sejak awal saya tidak sepaham dengan ide pembuatan Spiderman versi baru ini, tetap saja petualangan kedua Andrew Garfield sebagai Peter Parker saya anggap buruk.

tumblr_n5y56je3Dm1tt88v8o2_500

Yang menjengkelkan dari film kedua ini adalah karakter supervillain Electro (Jamie Foxx) yang terasa annoying. Bukan hanya tampilan special effect-nya yang terasa film kartun banget, tapi juga transisi karakternya dari baik ke jahat yang terasa too much. Jamie Foxx sebagai Max Dillon yang kekurangan kepercayaan diri nggak ada masalah, tapi ketika menjadi Electro, karakternya mendadak terlalu banyak mengeluh dan menjerit seperti gadis abege.

Better stick to Sam Raimi’s version, then!

6. The Expendables 3

Untuk film action, saya sangat suka dengan film-film lawas seperti Lethal Weapon, Die Hard, dan bahkan Universal Soldier. Ketika versi pertama Expendables dirilis, saya girang bukan main. Film keduanya adalah yang paling saya suka. Kolaborasi Sylverster Stallone – Arnold Schwarzenegger – Bruce Willis, karakter penjahat Jean Claude van Damme, super-cameo Chuck Norris, dan humor-humor penuh referensi ke film masing-masing membuat saya ‘nerdgasm‘.

Maka, saya penuh semangat menanti film ketiga, apalagi setelah mendengar Harrison Ford joins the squad dan Mel Gibson muncul sebagai antagonis. Alangkah kecewanya saya ketika Stallone sebagai sutradara memilih untuk mengurangi adegan-adegan kekerasan (ratingnya diturunkan dari R, yaitu dewasa ke PG-13, remaja) dan memilih untuk mengekspos para karakter baru yang terdiri dari anak-anak muda.

7X-Men: Days of Future Past

Saya sadar, ini adalah controversial pick saya yang pertama di list 10 Worst Movies. Namun, saya punya alasan. Sebagai pengikut setia kartun X-Men dan film-film layar lebarnya, perasaan saya menunggu X-Men ini sama ketika saya menanti rilisnya Expendables 3. Ternyata saya kecewa juga.

Ketika banyak pihak memuji-muji X-Men: DOFP ini sebagai film superhero jenius, saya justru tidak suka. Ide penggabungan karakter-karakter dari universe masa lalu dan masa depan membuat banyaknya karakter favorit saya di X-Men: First Class (2011) tersingkir. Padahal, First Class adalah karya klasik yang bisa menjadi suatu awal yang fresh bagi saya, yang berharap cerita baru X-men akan dimulai di sini.

sumber: comic-vine.com

sumber: comic-vine.com

Sayang, Bryan Singer tetap mempertahankan karakter Wolverine (Hugh Jackman) sebagai sentral cerita. Padahal menurut saya, we’ve seen enough of him, haven’t we? Tiga film X-Men dan dua film solo Wolverine memangnya nggak cukup? Klimaks film juga terasa boring, dan saya ketiduran tepat di tengah-tengah ‘konflik keluarga’ Magneto – Mystique dan –Professor X. Padahal, saat itu Magneto sedang menerbangkan seisi stadion.

8. Hercules

Terus terang, saya bosan melihat seringnya Dwayne Johnson / The Rock di berbagai film Hollywood. Ketika mendengar dia akan memerankan salah satu karakter TV favorit saya (maklum, penggemar serial Hercules-nya Kevin Sorbo), saya pun menghela napas.

Hercules

Namun, saya memaksakan diri menontonnya. Plotnya yang berusaha menceritakan versi lain legenda Hercules patut diapresiasi. Tetap saja, naskah yang buruk membuat film ini sebaiknya cepat kita lupakan saja. Karakter Hercules versi Kevin Sorbo pun terasa jauh lebih berkarisma daripada si mantan pegulat WWE.

9. Annabelle

annabelle-couple

Seperti yang sudah saya ulas di atas, 2014 kekeringan film horor bermutu. Saya bukan pengikut seri Paranormal Activity, sehingga saya skip filmnya yang terbaru (yang entah sudah jilid ke-berapa). Spin-off dari The Conjuring berupa boneka mistis Annabelle sempat memberi saya harapan. Namun sewaktu menontonnya di bioskop, cukup 30 menit saya antusias melihat filmnya. Sisanya adalah usaha menyedihkan dalam membuat penonton ketakutan dan mendulang jutaan dolar dengan memanfaatkan demam Conjuring. Yap, segitu menyedihkannya.

10Interstellar

Baiklah, saya akan menutup daftar-daftaran ini dengan controversial pick no. 2. Di saat penonton terbelah antara mereka yang mengagumi dan membenci film terbaru Christopher Nolan ini, saya termasuk golongan yang ke-2. Terus terang, kekaguman saya terhadap Nolan setelah mengikuti semua filmnya (dari Following, Memento, trilogi Batman sampai Inception) tidak berubah meski kecewa dengan sci-fi besutannya ini. Namun, setelah menonton Interstellar, saya disadarkan akan sesuatu. Nolan bersaudara (saudaranya, Jonathan adalah penulis skripnya) ternyata kadang hanya bombastis di konsep tapi mengabaikan logika cerita.

Saya tidak ingin membahas teori kuantum fisika dan time-travel di Interstellar yang dikagumi sekaligus didiskusikan banyak orang. Toh, menurut saya penggunaan teori-teori tersebut hanya mengulang-ulang yang telah diangkat di 2001: A Space Odyssey (1968), trilogi Back to the Future, Primer (2004), dan bahkan di berbagai episode Doraemon.

sumber: reddit.com

sumber: reddit.com

Kelemahan paling mendasar Interstellar menurut saya adalah logika sederhana yang juga berkaitan dengan ‘rasa’. Karakter Cooper (Matthew McConaughey) kok mau-maunya dibujuk melakukan perjalanan yang tidak jelas ujungnya ke mana? Padahal build-up film tersebut menunjukkan bahwa Cooper adalah seorang family man yang menyayangi anak-anaknya, terlebih lagi kedua anaknya, Murph dan Tom, tidak punya apa-apa lagi selain kakek mereka yang sudah tua dan sebuah rumah tua pertanian reyot. Janggal rasanya Murph langsung memutuskan untuk pergi. Ditunjuknya Murph sebagai agent of change juga janggal. Masa tim astronot profesional yang terdiri dari Prof. Brand (Michael Caine) dan kawan-kawan langsung memercayai Murph, mantan pilot yang sudah lama tidak menerbangkan pesawat dan seorang petani?

Motif time-travelnya juga sangat janggal. Jika manusia (atau alien) di masa depan memiliki kemampuan untuk mengirimkan pesan ke masa lalu demi menyeamatkan manusia dari planet bumi yang sudah tidak layak huni, mengapa tidak sekalian mengirim sebuah ‘pesan besar’ seperti sumber makanan atau cara mengatasi badai pasir, misalnya? Saya tahu, ini adalah hak prerogatif pembuat film, tapi gatal saja rasanya mengomentari. Dalam hal motif ini, saya pikir film bertema time-travel yang kurang diekspos dan rilis juga tahun lalu, Predestination, lebih bisa diterima. Selain itu, faktor minusnya adalah pace Interstellar yang berjalan lambat sehingga menjadi teramat sangat membosankan.

Terakhir, film sci-fi yang baik menurut saya harus bisa ‘menggandeng’ penonton untuk sama-sama (berusaha) menjawab pertanyaan-pertanyaan besar tentang alam semesta. Di kehidupan nyata toh, pertanyaan-pertanyaan itu cukup memusingkan dan tak ada habisnya, tapi 2001: A Space Odyssey, Contact (2006) Prometheus (2012) , dan bahkan film-film sci-fi gagal seperti Mission to Mars (2000) dan A Sound of Thunder (2005) sukses ‘mendampingi’ kita. Di Interstellar, saya merasa ‘digiring secara paksa’ oleh Nolan dan tim penulisnya untuk menelan bulat-bulat konsep alam semesta ala mereka. Para penonton yang bisa menerima akan terkagum-kagum, tapi mereka yang tidak tahan akan berontak dan tidak akan sudi menontonnya lagi. Seperti saya bilang tadi, saya termasuk golongan yang kedua.

Beberapa film yang penasaran mau nonton tapi belum sempat:

  • The Grand Budapest Hotel
  • Let’s Be Cops
  • Snowpiercer
  • Exodus: Gods and Kings
  • Birdman
  • Imitation Game
  • How to Train Your Dragon 2

Bagaimana dengan list versi kamu?

Movies vs Novels: The Change of Mindset

Mungkin ini perdebatan klasik yang akan selalu ada. Kebanyakan pembaca setia novel akan kecewa setelah melihat novel kesayangannya diangkat ke layar lebar. Pasti ada saja yang tidak sesuai dengan imajinasi si pembaca.

Saya punya teman fanatik Harry Potter yang protes ketika film pertamanya dirilis pertama kali di tahun 2001 lalu. Ia protes karena sosok Harry yang diperankan oleh Daniel Radcliffe memiliki perbedaan mendasar dengan Harry di buku, yaitu: warna matanya! OMG, when she was saying that, I rolled my eyes.

Tapi iya sih, saya sempat membaca beberapa jilid Harry Potter, meskipun nggak pernah menjadi seorang fan apalagi loyalis J.K. Rowling. Dua adegan yang paling berkesan ketika membaca kisah sekolah penyihir itu malah tidak membekas sama sekali ketika diangkat menjadi film. Adegan favorit saya adalah ketika si kembar pemberontak Fred dan George Weasley kabur dari sekolah Hogwarts dengan sebuah farewell yang fenomenal. Di film, adegan tersebut hanya selewat saja. Momen lain yang menurut saya perlu dramatisasi lebih dalam adalah ketika kepala sekolah bijak nan simpatik Albus Dumbledore diceritakan terbunuh. Di pikiran saya, jika filmnya keluar, adegan ini minimal harus sama mengharukannya ketika saya menonton Lord of the Rings jilid I, yaitu ketika sosok penyihir Gandalf jatuh ke jurang bersama monster api. Adegan itu sangat mengharukan, sehingga membuat mata saya agak basah. Eh ternyata Gandalf saat itu toh belum mati. Makanya, kematian Dumbledore di film ke-6 Harry Potter yang flat dan tidak berasa, membuat saya jengkel.

*by the way, maaf ya, kalo sampai sekarang saya banyak menebar spoiler tentang siapa yang mati, siapa yang tidak. Jika ada yang terganggu, yaa, salah kalian sendiri sih, hari gini belum nonton se-populer Harry Potter dan Lord of the Rings. HAHAHA.*

awesome-book-book-vs-movie-harry-potter-judge-Favim.com-145650_large

Nah, kembali ke pembahasan tadi. Tapi, jika begini adanya, film yang diangkat dari novel tidak akan berpeluang besar memuaskan pembacanya, dong? Jika ditelaah, saya pikir memang masuk akal jika sebagian besar film dari novel akan mengecewakan. Bayangkan saja, bagaimana cara mengadaptasi novel setebal 400-500 halaman ke durasi film hanya 2 atau  jam? Pastilah ada adegan-adegan yang dianggap tidak mendukung jalannnya film sehingga tidak perlu diadaptasi ke film. Namun, bagi yang namanya pembaca fanatik, justru adegan-adegan dan detil-detil kecil itulah yang membuat kita terhubung secara lebih emosional dengan cerita, kan?

Baiklah.

Kalau begitu, coba kita lihat kasus-kasus lain. Ada beberapa film yang sebenarnya diadaptasi dari novel, tapi justru tidak pernah dibanding-bandingkan dengan bukunya, yang notabene terbit sebelum filmnya rilis. Psycho arahan Alfred Hitchcock yang fenomenal itu jarang dibandingkan dengan novelnya yang dikarang oleh Robert Bloch. Bahkan, zaman sekarang, jika kita membahas judul ‘Psycho‘, orang-orang lebih familier dengan nama Hitchcock sebagai sutradara daripada Bloch yang justru merupakan pencetus idenya.

Kenapa bisa demikian? Kalau menurut film Hitchcock (2012) yang diarahkan oleh sutradara Sacha Gervasi, pada saat memutuskan untuk membuat adaptasi filmnya di tahun 1959 lalu, Sir Alfred Hitchcock memborong semua buku Psycho dari pasaran agar pembaca tidak mengetahui ending ceritanya terlebih dulu.

Nah, sekarang, kita tahu kata kuncinya: ekspektasi!

Novel, adalah kunci ekspektasi kita dalam menilai suatu film. Makanya, sering tidak adil bagi film karena pasti akan dibanding-bandingkan dengan novel, padahal novel lebih bisa bercerita lebih detil dan mempermainkan imajinasi pembaca.

*sebelum lanjut, orang-orang yang hanya suka nonton film dan tidak suka membaca novel, tidak perlu mengikuti tulisan ini sampai habis, lho. Karena tulisan ini toh tidak melibatkan kepentingan kalian.*

Makanya, beberapa tahun terakhir, saya mengembangkan sebuah mindset baru. Malah bisa dibilang suatu gerakan baru, yaitu: Dahulukan Menonton Film Sebelum Membaca Novelnya! Saya sebut ‘gerakan’ karena saya berhasil mempengaruhi beberapa teman dalam mengikuti langkah saya ini, hehehe.

Kiat ini cukup berhasil. Saya tidak lagi judgmental dalam menilai suatu film yang diadaptasi dari novel, karena saya masuk ke dalam ruangan bioskop tanpa ada ekspektasi apa pun. Akhirnya, saya lebih bisa menikmati film tersebut, terlepas dari konsensus kritik yang menilai film tersebut bagus atau jelek. Terhitung dalam beberapa tahun terakhir, saya sangat menikmati Hugo (diadaptasi dari novel grafis The Adventure of Hugo Cabret), Warm Bodies (judul sama), The Hunger Games (judul sama), The Hobbit 1 dan 2 (judul sama, film ke-2 diberi judul Desolation of Smaug), dan favorit saya dalam 2 tahun terakhir: Extremely Loud and Incredibly Close. Judul terakhir malah membuat saya kepengen banget membaca novelnya, dan memang tidak mengecewakan. Extremely Loud pun menjadi salah satu novel favorit saya, padahal saya terlebih dulu dipuaskan oleh filmnya.

Untuk menambah panjang daftar, saya terpikat oleh The Perks of Being A Wallflower, yang film maupun bukunya dibuat oleh orang yang sama, yaitu Stephen Chbosky. Lalu ada Let The Right One In (versi aslinya yang buatan Swedia ya, bukan Let Me In buatan Hollywood) dan The Help. Terakhir, saya terpuaskan oleh karya-karya anak bangsa, yaitu 5 cm (saya tidak menyukai novelnya, jadi saya tidak selesai membacanya. Tapi saya terhibur banget oleh filmnya!), Negeri 5 Menara, dan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck.

Untuk yang masuk kategori mengecewakan, saya punya daftar Jack Reacher, Perahu Kertas dan The Mortal Instruments: City of Bones. Nah, bagusnya, dengan pembalikan mindset seperti ini, kita akan dapat keuntungan. Di mindset sebelumnya, jika novelnya mengecewakan, besar kemungkinan kita tidak akan mau nonton filmnya. Namun jika filmnya mengecewakan, selalu terbuka kesempatan untuk kita membaca bukunya. Apalagi jika filmnya sangat memuaskan, besar kemungkinan bukunya akan meningkatkan kepuasan kita dengan menyelami setiap detil cerita yang terlewat oleh filmnya.

Perubahan mindset ini cukup membantu saya meninggalkan debat klasik yang cenderung membosankan bahwa ‘mana yang lebih baik, novelnya atau bukunya?’ Terserah kalian mau mengikuti kiat saya ini atau tidak. 🙂

Selamat menonton dan membaca!

MP