Football Traveling (2): ‘Home & Away’, Santiago Bernabeu

Dengan terbitnya buku ‘Home & Away’, petualangan saya di Eropa menonton pertandingan-pertandingan sepak bola pun akhirnya berwujud sebuah kumpulan catatan perjalanan. Sebagai pengikut setia Liga Spanyol, sejak kecil saya bermimpi suatu saat nanti saya akan bisa bertualang di negeri matador untuk menyaksikan langsung klub-klub La Liga Primera berlaga di stadion mereka. Mimpi itu baru akhirnya kesampaian dua tahun lalu, tepatnya di bulan April 2012. Saat itu, saya dan seorang teman nekat bertualang di tiga kota Spanyol selama sepuluh hari untuk merasakan langsung atmosfer La Liga.

Sekalian nostalgia, saya akan menuliskan pengalaman tersebut secara berseri di blog ini. Cerita lengkapnya bisa dibaca di ‘Home & Away’ terbitan GagasMedia.

cropped-title-image-mp2.jpg

Awalnya, saya yang kuliah di Swiss dan teman saya yang saat itu kuliah di Italia bernama Rusmin (di Twitter dia beredar dengan akun @mrusmin) menghabiskan hampir seharian menjelajah kota Madrid. Setelah sempat keluar masuk metro (kereta bawah tanah) dan bertanya ke sana ke mari untuk mencari-cari informasi tentang lokasi stadion Santiago Bernabeu, akhirnya kami pun sampai. Kami akhirnya tiba di salah satu ‘tanah suci’ sepakbola dunia itu.

Bangunan Stadion Santiago Bernabeu berdiri gagah di tengah-tengah distrik Chamartin, sebuah wilayah ramai pusat kota Madrid. Di luarnya, beberapa bendera kuning-merah yang melambangkan federasi Spanyol berkibar-kibar ditiup angin musim semi. Stadion itu memang merupakan stadion kebanggaan Spanyol. Nama stadion sendiri diambil dari nama mantan pemain Real Madrid yang juga pernah menjabat menjadi presiden klub, Santiago Bernabeu Yeste. Stadion ini memiliki muatan sejarah yang panjang, salah satunya menjadi penyelenggara pertandingan final Piala Dunia 1982.

Di saat kami berjalan ke ticket box, antrian sudah mengular. Terlihat lebih banyak wisatawan yang mengantri di depan ticket box itu. Bisa dipahami, karena penduduk asli Madrid pasti sudah memiliki tiket terusan atau melakukan online booking. Setelah berhasil melewati antrian dan memperoleh tiket pertandingan sekaligus tiket tur ke museum Real Madrid dan stadion Santiago Bernabeu, akhirnya kami masuk juga ke dalam museum.

20 Euro adalah jumlah yang kami keluarkan untuk tiket museum klub terbesar di dunia tersebut. Kami penasaran, seberapa jauh Real Madrid menyaingi Barcelona dalam urusan sport-tourism mereka. Dengan jumlah uang tersebut, pengunjung bisa masuk mengagumi kemegahan konstruksi dan fasilitas stadion, bahkan duduk-duduk di bangku cadangan pemain. Selain itu, daya tarik utama tentunya El Museo del Madrid (Museum Real Madrid). Museum ini memang merupakan tempat yang wajib dikunjungi oleh penggila sepakbola. Apalagi kalau bukan karena alasan sejarah panjang klub sepakbola nomor satu Spanyol tersebut, ditambah lagi mereka merupakan salah satu klub sepakbola tersukses di dunia dari sisi prestasi maupun finansial.

nllssbm4

Great view!

Selama berpuluh-puluh tahun, Real Madrid memenangi trofi demi trofi bergengsi dan menguasai dunia dengan para jugador zaman dulu mereka, seperti Alfredo di Stefano dan Ferenc Puskas. Isi lemari Real Madrid sudah penuh sesak dengan gelar juara domestik plus 5 trofi Piala Champions yang mereka dominasi dari tahun 1956 sampai 1960.

Maka, jika berkeliling di dalam museum Real Madrid, yang terlihat adalah parade kesuksesan selama berabad-abad. Piala dari tahun 1950-an sampai abad ke-21 menghiasi seluruh ruangan.

Real Madrid juga selalu menjadi salah satu pelaku utama gemerlapnya panggung sepakbola Eropa zaman modern dengan gelimang harta dan pemain-pemain kelas dunia yang seolah sangat gampangnya mereka gaet. Stadion Santiago Bernabeu selalu dipenuhi pemain-pemain sekaliber Ronaldo Luis Nazario da Lima, Luis Figo, Zinedine Zidane, David Beckham, Ruud Van Nistelrooy, hingga nama-nama beken masa kini seperti Cristiano Ronaldo, Kaka dan Mesut Ozil.

Maka, meskipun bukan fans Madrid, namun penggila bola seperti saya dan Rusmin terpesona melihat ‘peninggalan-peninggalan’ beberapa pemain dunia yang masih tersimpan di rak-rak museum Real Madrid.

nllssbm2

Ini foto dua tahun lalu, jadi banyak di antara pemain-pemain di galeri itu yang sudah pindah

Yang unik dari museum Real Madrid adalah mereka membuat museum mereka seperti rumah bagi para pemain yang pernah menghiasi sejarah mereka. Jangan heran jika Anda bisa melihat sepatu-sepatu lama milik Cristiano Ronaldo atau KTP zaman remaja Raul Gonzalez!

***

Matchday: Real Madrid vs Sporting Gijon

Pertandingan dimulai pukul 21:00, namun sejak sore, ribuan pengunjung sudah berbondong-bondong datang ke stadion. Kapasitas stadion yang sekitar 85-ribu itu memang selalu terisi penuh. Terlihat jalan di depan stadion diblokir. Mobil-mobil polisi berjaga di sana-sini. Setiap ada ‘Real Madrid Day’, seluruh daerah di sekitar kawasan stadion Santiago Bernabeu memang seolah berubah menjadi Ka’bah. Lautan manusia menyemut dan mengerubungi stadion bersejarah itu.

Rusmin dan saya masuk ke stadion. Tiket kami seharga 39 Euro itu di-scan oleh sebuah mesin elektronik di pintu masuk. Setelah itu, beberapa petugas memeriksa tas kami masing-masing. Meskipun tergolong salah satu stadion paling aman di dunia, para panitia pertandingan pasti tak mau ambil risiko jika misalnya ada penonton yang cari gara-gara dengan membawa senjata tajam ke dalam stadion. Bahkan, botol minuman plastik pun dicekal. Botol air mineral yang saya beli harus saya relakan untuk dibuang ke tong sampah. Padahal isinya masih penuh. Kirain cuma di Indonesia botol minuman plastik dilarang masuk karena takut dipakai menimpuk pemain.

Namun, begitu kami baru selesai menaiki tangga untuk naik ke bagian stadion yang lebih tinggi, saya bisa melihat alasan mengapa penonton dilarang membawa minuman dari luar. Ternyata banyak stan makanan dan minuman yang memanfaatkan ruangan-ruangan di dalam stadion. Segala macam makanan bisa ditemui di situ, seperti hot dog, sandwich, kebab, sampai patatas fritas (french fries), termasuk pula berbagai macam minuman ringan. Setiap jeda pertandingan, penonton bisa membeli makanan dan minuman di stan-stan tersebut, tak usah keluar stadion lagi. Jadi, jika semua penonoton membawa minuman mereka sendiri, para penjual ini akan rugi.

Rusmin dan saya akhirnya menemukan tempat duduk kami sebuah tribun yang terletak di belakang gawang. Memang itulah tiket yang paling murah, padahal harganya yang 39 Euro cukup terbilang mencekik. Kocek mahasiswa kami memang belum sanggup membeli tiket tribun yang di tengah, apalagi tribun VIP yang harganya bisa mencapai 300 Euro.

Kemegahan di Santiago Bernabeu sudah terlihat sebelum pertandingan dimulai, penyelenggara pertandingan Real Madrid terlebih dahulu memainkan mars resmi klub yang berjudul ‘Hala Madrid’. Lagu yang dinyanyikan seorang penyanyi tenor laksana Pavarotti itu ternyata diperlakukan seperti lagu kebangsaan jika tim nasional sebuah negara akan bertanding. Hampir seluruh penonton akan berdiri dan mendengarkan dengan khidmat. Mereka sangat menghargai lagu mars yang telah berusia beberapa dekade tersebut. Lagu itu tentunya menjadi teman setia dalam berpuluh-puluh tahun sejarah besar Real Madrid.

Saya memandang ke atas. Seluruh bagian stadion Bernabeu tertutup atap. Saat itu adalah bulan April, yang masih termasuk musim semi. Musim semi di Spanyol berarti curah hujan termasuk tinggi. Maka, udara pun masih tergolong bikin kulit menggigil. Namun, semua itu teratasi oleh fasilitas kelas wahid Stadion Santiago Bernabeu. Semua tribun di stadion kebanggaan Madrid ini tertutup oleh atap dan dilengkapi dengan fasilitas penghangat ruangan.

Sampai sekarang, saya tidak pernah lupa akan fasilitas bintang lima stadion ini. Bisa dibilang, Santiago Bernabeu adalah salah satu stadion paling megah yang pernah saya kunjungi.

***

Real Madrid yang merupakan salah satu klub terhebat dunia dengan salah Cristiano Ronaldo sebagai pemain andalannya terlalu tangguh bagi lawannya, tim liliput bernama Sporting Gijon.

Gijon sempat mengejutkan di babak pertama dengan mencetak gol lewat penalti. Namun, kelas Madrid masih jauh di atas mereka. Keunggulan kualitas pemain membuat Real Madrid menang 3-1. Saat itu, Madrid yang ketinggalam lebih dulu lewat gol pinalti akhirnya membalas dengan gol-gol ketiga penyerang andalan mereka, Gonzalo Higuain, Cristiano Ronaldo dan Karim Benzema. Seluruh penonton di Santiago Bernabeu (95% di antaranya merupakan pendukung Madrid dan 5% turis seperti kami berdua) pun membubarkan diri dengan perasaan senang.

Saya dan Rusmin tidak butuh waktu lama untuk menemukan cara untuk pulang. Yang mengesankan dari Santiago Bernabeu adalah lokasinya yang berada tepat di pusat kota Madrid, tapi tidak sesemrawut Stadion Utama Senayan yang berada di Jakarta. Kita pasti tahu persis, jika ada pertandingan sepakbola berlangsung di Jakarta, maka neraka adalah sebutan yang tepat bagi para pengendara kendaraan bermotor. Mereka akan terjebak kemacetan Senayan yang butuh waktu berjam-jam untuk diatasi, belum lagi potensi kerusuhan oleh suporter.

Di Madrid, semua berlangsung lancar. Tepat di pintu keluar stadion Santiago Bernabeu, terdapat stasiun metro (kereta bawah tanah), sehingga masyarakat bisa langsung mempergunakan transportasi umum tanpa terjebak macet.

*pernah dimuat di website www.bolatotal.com pada bulan Juli 2013*

nllssbm1

kapan lagi bisa selonjoran di bench pemain Real Madrid?

Advertisements

Tentang ‘Home & Away’

Akhirnya, buku yang ditulis dengan penuh perjuangan ini terbit (memangnya ada buku yang nggak pake perjuangan?). Sempat tertunda beberapa bulan karena hal ini-itu, buku memoar perjalanan saya ke beberapa stadion / event sepak bola di benua Eropa akhirnya akan muncul di toko-toko buku seluruh Indonesia.

Oh ya, judul awal yang tadinya ‘Football Traveling’ pun diubah menjadi judul final yang memakai istilah di kompetisi sepak bola:

  • Home & Away

Penerbit GagasMedia pun melabeli buku ini dengan ‘traveling’. Berarti, kemungkinan buku ini akan ditemukan di rak yang berbeda dengan buku-buku saya sebelumnya (novel). Terlepas dari apakah dilabeli ‘traveling’ atau ‘sepak bola’, saya sudah cukup bersyukur buku ini akan beredar dan dibaca orang. Ini juga akan menjadi buku pertama saya yang berdasarkan kisah nyata, karena sebelum-sebelumnya semua buku saya kisah fiksi, hehehe.

BxqMJyrCAAAAH10

Buku ini akan memuat ringkasan perjalanan saya di Eropa (yang berhubungan dengan sepak bola, tentunya) selama 2 tahun, dari periode 2011-2013. Tidak lupa berbagai cerita menarik dan kontemplasi yang menyertai (jadi bukan cuma jalan-jalan dan foto-foto saja). Adapun beberapa event bola yang saya datangi selama periode itu adalah:

1. FC Zurich vs Vaslui (Stadion Letzigrund, Zurich, November 2011, penyisihan grup Europa League 2011-2012).

2. Swiss vs Argentina (Stade de Suisse, Bern, Februari 2012, international friendly).

3. FC Barcelona vs Getafe (Estadio Camp Nou, Barcelona, April 2012, Liga Spanyol 2011-2012).

4. Valencia vs Rayo Vallecano (Estadio Mestalla, Valencia, April 2012, Liga Spanyol 2011-2012).

5. Real Madrid vs Sporting Gijon (Estadio Santiago Bernabeu, Madrid, April 2012, Liga Spanyol 2011-2012).

6. Rayo Vallecano vs Atletico Madrid (Estadio Vallecas, Madrid, April 2012, Liga Spanyol 2011-2012).

7. Swiss vs Jerman (St. Jakob Park, Basel, Mei 2012, 2012, international friendly).

8. Spanyol vs Korea Selatan (Stade de Suisse, Bern, Mei 2012, international friendly).

9. Italia vs Kroasia (Miejski Stadium, Poznan, Juni 2012, Euro 2012).

10. Galatasaray vs Fiorentina (Turk Telekom Arena, Istanbul, Agustus 2012, international friendly).

11. BSC Young Boys vs FC Midtjylland (Stade de Suisse, Bern, Agustus 2012, Euro League 2012-2013–talking about non-mainstream football, hehehe…).

12. Switzerland vs Norway (Stade de Suisse, Oktober 2012, World Cup Qualifications)

13. BSC Young Boys vs Liverpool (Stade de Suisse, Bern, Oktober 2012, Euro League 2012-2013)

14. BSC Young Boys vs Anzhi Makhachkala (Stade de Suisse, Bern, Desember 2012, Euro League 2012-2013)

15. SC Freiburg vs Greuther Fuerth (Mage Solar Stadium, Freiburg, Desember 2012, Bundesliga 2012-2013)

16. BSC Young Boys vs FC Sion (Stade de Suisse, Bern, Maret 2013, Swiss Super League 2012-2013)

17. FC Basel vs Grasshopper Zurich (St. Jakob Park, Basel, Mei 2013, Swiss Cup Final 2013)

18. Austria vs Sweden (Ernst Happel Stadium, Vienna, Juni 2013, World Cup Qualification)

19. Vfl Wolfsburg vs AS Saint-Etienne (Tourbillon Stadium, Sion, Juli 2013, Valais Cup 2013)

20. FC Sion vs Olympique Marseille (Tourbillon Stadium, Sion, Juli 2013, Valais Cup 2013)

21. FC Basel vs Borussia Dortmund (St. Jakob Park, Basel, Juli 2013, International Club Friendly)

22. AC Milan vs Sao Paolo (Allianz Arena, Muenchen, Agustus 2013, Audi Cup 2013)

23. Bayern Muenchen vs Manchester City (Allianz Arena, Muenchen, Agustus 2013, Audi Cup 2013)

24. Switzerland vs Brazil (St. Jakob Park, Basel, Agustus 2013, International Friendly)

25. FC Basel vs Schalke 04 (St. Jakob Park, Basel, September 2013, Champions League 2013-2014).

Kira-kira, ‘Home & Away’ akan beredar di seluruh jaringan toko buku di Indonesia pada awal Oktober 2014. Mari kita tunggu!

Bagi yang mau ngintip sedikit nukilan bukunya, saya sisipkan di bawah ini:

Akhirnya saya pun duduk kembali di bangku saya, mengamati anak-anak kecil yang memeluk orangtua mereka atau sepasang sahabat yang saling menepuk pundak sambil tertawa riang. Bagi masyarakat Spanyol, bahagia itu sederhana. Menyaksikan kemenangan tim sepak bola favorit bersama orang-orang yang mereka sayangi adalah salah satunya.

Saya memejamkan mata dan membiarkan udara hangat Valencia membelai rambut dan kulit saya, lalu masuk melalui rongga hidung ke dalam paru-paru saya. Telinga saya berusaha menangkap berbagai sorak-sorai dan nyanyian dalam bahasa Spanyol. Meskipun kebanyakan seruan itu saya tidak pahami, luapan ekspresi kegembiraan atas kemenangan itu terekam untuk selamanya di dalam otak saya.

Di stadion, orang-orang menggantungkan harapan, memanjatkan doa-doa, dan memuja-muji nama-nama idolanya. Setelah pertandingan berlangsung, masih ada pula fungsi sosial. Para orangtua berbagi waktu dan kesenangan dengan anak-anaknya. Masyarakat kota bisa bertegur sapa di luar jeratan stres pekerjaan mereka. Stadion adalah monumen yang dibangun khusus untuk masyarakat.

‘I learned about life with ball at my feet’ – Ronaldinho

Concert Hopper

Selain traveling dan nonton bola, salah satu kegemaran saya adalah nonton konser musik. Sewaktu ngubek-ubek blog yang lama, ada beberapa postingan tentang menonton konser musik. Saya share sedikit, ah, hitung-hitung nostalgia:

1. Nonton The Killers di Sydney Entertainment Centre

Finally I got a chance to watch THE KILLERS!

— postingan 13 November 2007

It was Sunday, November 11th at Sydney Entertainment Centre… over a thousand spectators were entertained by the major band from Las Vegas, THE KILLERS… Luckily, i was there to witness Brandon Flowers (Vocals, Synthesizer), David Keuning (Guitars), Mark Stoermer (Bass), and Ronnie Vannucci (Drums)…

it was one of the most beautiful night in my life! They performed almost all their great hits, starting from ENTERLUDE, then WHEN WE WERE YOUNG, BONES, READ MY MIND, MR. BRIGHTSIDE, SOMEBODY TOLD ME, SMILE LIKE YOU MEAN IT, FOR REASONS UNKNOWN, to their new singles from their upcoming B-Sides album, Sawdust, TRANQUILIZE, SHADOWPLAY ME, and then finally sealed by ALL THE THINGS THAT I’VE DONE and EXITLUDE…

PB110042

2. Nonton Gig Superman Is Dead di Newcastle

— postingan 1 November 2007

Sekitar tiga tahun yang lalu, saya BENCI banget ama band yang namanya SUPERMAN IS DEAD… Saya pikir, apaan sih ini band norak banget, pengen ikut-ikutan nge-punk kayak GreenDay. Terus mereka menodai kesakralan pahlawan yg telah memberikan harapan bagi jutaan umat manusia, siapa lagi klo bukan alter-ego si culun Clark Kent, SUPERMAN. Pikir saya, mereka berani-beraninya bilang Superman udah mati… ‘dasar orang-orang gak punya mimpi’, maki saya waktu itu.

Tapi pada malam hari yang dingin-dingin gerah (lho…?) di kota Newcastle, tepatnya di Croatian Club Wickham, tanggal 26 Oktober 2007, pemikiran sembrono saya itu sirna. Saya dibuat kagum oleh betapa friendly dan down to earth-nya mereka bertiga. BOBBY KOOL (vokal+gitar), EKA ROCK (bass+vokal), dan JRX (drum) dengan santainya ngelayanin saya ama temen-temen gue, Fikar, Johnny ama Lele, secuil orang-orang Indonesia yang menonton mereka perform pada malam itu. Mereka bertiga tertawa-tawa dan bercanda seolah bertemu teman-teman lama.

PA260055

Dan satu hal berhasil nge-twist 180 derajat penilaian saya terhadap mereka adalah betapa mereka sanggup menjalani cobaan terjal dan berbatu (ceileh) yang menerpa selama mereka berjuang mempromosikan ‘Punk Rock’ ke masyarakat. Masyarakat Indonesia yg majemuk dan masih gampang terprovokasi ternyata membuat lagu-lagu SID masih sulit diterima oleh mereka.Padahal lagu-lagu mereka selalu berniat baik, seperti mengajak kita untuk hidup bersih dari drugs dan alkohol, meniupkan spirit generasi muda, serta mempromosikan budaya Indonesia, seperti tujuan mereka melakukan Australian Tour 2007 ini…

Anyways, here are some pics of these three fabulous energetic men. One lesson to me : SID are not Greenday. SID is SID, GreenDay is GreenDay. but their missions are the same… proliferating both punk-rock and peace as a culture

(setelah nge-blog tentang ini, Bobby Si Vokalis SID ngasih comment di blog gue dan berkata: ‘Thanks atas postingannya, man! Sama, gue juga dulu nggak suka sama Adon Base Jam, tapi setelah ngobrol langsung, ternyata orangnya keren’. Ups…)

3Nonton Dashboard Confessional, Stereophonics, The Vines sama Wolfmother di Java Rocking Land 2010:

— postingan Oktober 2010

Tanggal 8,9,10 Oktober 2010, konser rock Java Rocking Land diadakan lagi di Pantai Karnaval Ancol. This time, I have promised myself long before the D-Day not to miss it. Tahun lalu, saya nyesel banget karena ga nonton event yang sama (karena ada…ehm, masalah pribadi yg harus diselesaikan). Padahal tahun lalu, one of my most favorite bands ever manggung di sana. Third Eye Blind!

Tahun ini, nggak ada ceritanya deh saya bakalan ngelewatin another my favorite bands manggung. Saya dari dulu suka sama band Brit bernama Stereophonics. Yep, pasti kalian juga pada tau. Band ini mulai angkat nama setelah mempopulerkan lagu ‘Maybe Tomorrow’ yang dijadiin soundtrack 2 film kerensekaligus, Wicker Park (2004) dan Crash (2005). Meskipun mereka sendiri sudah eksis di Eropa sejak satu dasawarsa sebelumnya.

Nah, demi ngejar Stereophonics, saya bela-belain nyari tiket harga mahasiswa (lucky me, I still had my student card :D). Akhirnya saya dapat tiket untuk hari ke-2, dimana Stereophonics manggung bersama Arkarna dan Dashboard Confessional. I like the other 2 bands, tapi saya nggak terlalu antusias mau ngeliat mereka (saya udah liat Dashboard di bulan Juni tahun ini dan Arkarna di acara pre-event di Bandung). Karena keterbatasan budget, saya nggak sanggup beli satu tiket lagi yang di hari ke-3, meskipun salah satu band cadas yang saya pengen nonton, Wolfmother, manggung di hari itu.

Namun, rejeki ternyata nggak lari kemana-mana. Salah satu temen saya yang jatuh sakit ngerelain tiket hari ke-3-nya buat gue. Asyik! Akhirnya saya bisa nonton hari ke-3 FOR FREE!!!

Anyways, berikut ini track list saya terhadap international performers di Java Rocking Land hari ke-2 dan 3. Sebelum kalian bertanya-tanya, track list ini saya tulis lagu-lagu yang saya nikmatin dari para performers-nya aja (baca: yang lagu-lagunya saya tahu dan bisa sing-along, hahaha)

 

DASHBOARD CONFESSIONAL

1. Don’t Wait

2. Saints and Sailors

3. As Lovers Go

4. Vindicated

5. Stolen

6. Belle of the Boulevard

7. Hands Down

ARKARNA

1. Insomnia

2. Your Psycho

3. Stoned

4. Eat Me

5. Life is Free

6. Rehab

7. So Little Time

stereophonics__jrl_2010_by_tr4y4-d30zwoo

STEREOPHONICS

1. Bank Holiday Monday

2. A Thousand Trees

3. Innocent

4. Pick A Part That’s New

5. Local Boy in the Photograph

6. Have A Nice Day

7. More Life in A Tramp’s Vest

8. Mr. Writer

9.Superman

10. Just Looking

11. Maybe Tomorrow

12. Dakota

THE VINES

1. Winning Days

2. Ride

3. Get Free

4. Ms. Jackson

5. Fuck the World

WOLFMOTHER

1. Woman

2. Vagabond

3. The Joker and the Thief

MUTEMATH

1. Chaos

2. Clipping

 

Whatta weekend I had! :))

4. Nonton Neon Trees, The Cranberries, dll di Java Rocking Land 2011

Just realized I haven’t blogged about this.

5. Nonton Lifehouse dan Rivermaya di Guinness Arthur’s Day 2010

Sama, ngeblog tentang ini nanti aja, ya! :p

6. Nonton Incubus di Hallenstadion Zurich 2011

Sial, banyak ternyata yang belum gue blog

7. Nonton Bon Jovi di Stade de Suisse, Bern, 2013

Oke, sepertinya harus ada postingan khusus tentang empat poin terakhir :))

8. Nonton Imagine Dragons di Gurtenfestival Bern, Swiss 2013

Nah, yang ini sudah ada postingannya di https://mahir-pradana.com/2013/08/13/down-to-earth-top-of-the-world-ala-imagine-dragons/

2014 Upcoming Project (2)

Saya punya sebuah naskah lain yang rencananya akan terbit juga di tahun 2014, yaitu sebuah naskah non-fiksi tentang perjalanan saya ber-football traveling di Eropa dalam periode 2011-2013 lalu. Berikut ini cuplikannya:

2012-04-09 13.07.21

Saya tinggal di sebuah student house (asrama mahasiswa) yang dipenuhi sekelompok mahasiswa Eropa yang gila sepakbola. Gedung asrama itu disebut Studenthouse Tscharnergut, sesuai dengan nama jalan bangunan itu berada.

Bangunan Tscharnergut tersebut adalah sebuah bangunan berlantai 19. Kamar saya terletak di lantai dua belas. Tetangga di samping kamar saya adalah seorang mahasiswa teologi asal Romania bernama Csongor Kelemen, biasa dipanggil Chongi.

Menariknya, meskipun kuliah di bidang teologi, Chongi justru termasuk salah seorang yang menge-Tuhan-kan sepakbola. Pada awalnya, begitu mendengar penghuni sebelah kamar saya adalah mahasiswa teologi alias calon pendeta, saya mengira dia adalah seseorang yang super-serius dan tertutup. Ternyata saya salah.

Chongi punya karakter periang dan sangat ramah. Setiap kali ada acara kumpul-kumpul seperti barbeque, tur atau acara-acara get together lainnya, Chongi pasti tidak pernah ketinggalan. Namun, lain cerita jika weekend datang. Biasanya, pada Jumat malam atau Sabtu malam, Chongi akan mengurung diri di kamarnya. Dia akan khusyuk duduk di depan computer untuk menonton tayangan streaming Liga Sepakbola Romania untuk menyaksikan klub kesayangannya bertanding.

Klub kesayangan Chongi bernama CFR Cluj. Klub tersebut merupakan kebanggaan kota Cluj, kampung halaman sekaligus kota kelahirannya.

***

Pada suatu hari, saya dan Chongi sedang mengobrol santai di dalam kamarnya. Kami bertukar cerita tentang kampung halaman kami masing-masing. Saya baru saja selesai bercerita padanya tentang kota-kota di Indonesia.

‘Ceritakan padaku tentang Cluj,’ pinta saya. Mata pria berambut pirang itu langsung menerawang ke beberapa tahun ke belakang.

‘Cluj-Napoca adalah nama lengkap kota itu, tapi kamu bisa menyebutnya Cluj. Kota itu merupakan salah satu kota terpenting di Transylvania.’

‘Daerah asal para vampir?’ aku melontarkan komentar bercanda.

‘Yeah, vampires.’ Chongi tertawa mendengarnya. Kemudian ia melanjutkan, ‘Meski demikian, kota itu tidak sebesar Bucharest.’

‘Bucharest,’ saya mengangguk pertanda saya paham kota itu merupakan ibukota Rumania. Banyak orang yang tertukar menyebut nama kota itu dengan Budapest, ibukota Hungaria.

‘Chongi mengangguk. Pada akhir 80-an, sewaktu saya masih kecil, saya ingat, kota kami sangat miskin. Mungkin kamu juga tahu, saat itu Romania masih berada di bawah kendali komunis.’

‘Oh ya, I see…’ benak saya mulai membuka-buka lagi pengetahuan sejarah yang saya pelajari di SMA.

‘Selain pengaruh Uni Sovyet, di Rumania sendiri ada Nicolae Ceauşescu, sang pemimpin diktator. Pokoknya kehidupan kami sempat berada di masa-masa sulit. Ditambah lagi dengan Revolusi Romania, hidup semakin susah saja.’

Saya tidak mengatakan apa-apa. Sulit memang membayangkan kehidupan yang tidak pernah saya jalani.

‘Di bawah kendali komunis, kamu bisa bayangkan. Tidak ada hiburan. Tidak ada kehidupan modern seperti sekarang. Bioskop dilarang memainkan film-film seru buatan Amerika. Konser-konser musik pun terbatas. Maka, satu-satunya hiburan masyarakat Cluj hanyalah sepakbola. Jadi bisa dibilang CFR Cluj adalah satu-satunya grup entertainer di kota kami saat itu.’

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa fungsi stadion pun menjelma menjadi ‘agora’, yaitu ruang berkumpul bagi publik dalam mitologi Yunani. ‘Setelah rezim komunis runtuh, barulah kehidupan di Romania perlahan bangkit. Termasuk di Cluj. Akhirnya sekarang kami bisa menikmati kehidupan normal.’

‘Dan selama ini CFR tetap menjadi kebanggaan masyarakat kalian?’

Exactly,’ mata Chongi berkilat-kilat. Sepertinya dia excited karena aku menangkap arah ceritanya. ‘Bayangkan, di akhir 80-an, CFR hanyalah klub kecil yang hampir bangkrut. Sekarang, mereka sudah berkompetisi di Liga Champions Eropa!’

Cerita pun berlanjut. Klub asal kota kelahirannya itu kini merupakan contender serius dalam pengejaran gelar juara Liga Romania setiap tahun. Maka, di mata Chongi dan ribuan penduduk kota Cluj lainnya, CFR Cluj bukan sekadar klub sepakbola, melainkan simbol perjuangan rakyat Romania dari keterpurukan di bawah paham komunisme menjadi salah satu kota berpengaruh di Eropa.

Setiap kali membicarakan tentang sepakbola dengan pria ini, saya memang pasti menghabiskan waktu paling sedikit tiga puluh menit.

‘Jadi, kamu nggak pernah melewatkan sekali pun pertandingan CFR Cluj?’

Chongi tertawa. ‘Yah, nggak juga sih. Kecuali kalau ada acara penting. Tapi, sebisa mungkin kalau CFR main, saya pasti nonton. Rumah saya di Cluj tepat di belakang stadion CFR. Jadi, setiap mereka main pasti saya nonton.’

Saya memandangi poster-poster dan syal CFR Cluj yang memenuhi dinding kamar pria Romania itu. CFR Cluj nampaknya memang sudah menjadi darah-dagingnya.

‘Lagipula saya dan ayah saya tiap awal musim kompetisi dimulai pasti membeli tiket terusan. Kalau nggak dipake nonton langsung di stadion, mubazir kan? Makanya nonton langsung CFR Cluj menjadi prioritas di jadwal mingguan saya.’

‘Kalau begitu pasti kamu kangen rumah,’ aku menimpali. ‘Di sini kamu nggak bisa ngerasain langsung suasana stadion tiap CFR main.’

‘Untungnya ada teknologi,’ Chongi menepuk-nepuk laptopnya. Dia memang selalu mengikuti sepak terjang CFR lewat streaming internet. ‘Jadi, kamu tahu kapan sebaiknya kamu tidak mengganggu saya. Yaitu setiap kali CFR bertanding.’

Kami berdua tertawa.

‘Jadi CFR sudah menjadi tempat ibadah kedua bagimu setelah gereja?’ saya menggodanya. Tak disangka, raut wajah Chongi kembali berubah serius.

Homo pedifollium.’

‘Apa?’

‘Saya mendengar istilah itu disebutkan oleh dosen teologi saya. Istilah itu sebenarnya buatannya sendiri, berasal dari bahasa latin, seperti homo sapiens atau homo economicus. Saya dan teman-teman sering membahas hal ini. Bahwa banyak golongan manusia yang menuhankan sepakbola. Homo adalah manusia, dan pedifollium adalah sepakbola.’

‘Oh,’ aku mengangguk tanda mengerti. ‘Homo pedifollium.’

Kali ini Chongi tersenyum. ‘Ya. Istilah itu awalnya hanya sebagai ucapan iseng, lama kelamaan istilah iseng itu jadi familiar di Eropa sini untuk menyebut para fans sepakbola. Bagi kami di kota Cluj, semuanya masuk akal karena kami sempat melihat pengaruh langsung sepakbola terhadap masyarakat kami. Akibat pengaruh rezim komunis, sempat banyak rakyat kami yang tidak percaya Tuhan. Mereka hanya mempercayai kekuatan magis para seniman sepakbola yang bisa memberi mereka kegembiraan walaupun sesaat.’

Saya tercenung. Saya langsung jadi teringat beberapa golongan di Argentina yang sampai membangun gereja untuk memuja Diego Maradona, legenda sepakbola mereka.

Chongi benar. Sepakbola selalu memiliki sentuhan ajaib yang membawa kegembiraan ke masyarakat.

Okay then,’ saya bangkit dari kursi saya karena harus mengerjakan tugas.  ‘Terima kasih atas cerita menarik tentang CFR Cluj ya.’

No problem,’ balas Chongi. ‘Lain kali mungkin kamu yang harus bercerita kepada saya tentang Gonzales.’

Saya hanya tertawa mendengarnya.

***

43dff5a3e3af91335caf51008a7a5373

2014 Upcoming Project (1)

Selamat tahun baru 2014!

Sebelum ada yang nanya, apakah saya ada rencana nerbitin novel baru di 2014, saya jawab saja dulu: iya.

Nukilan di bawah ini adalah sedikit dari naskah saya berjudul tentatif ‘Distorsi‘. Sudah disetujui untuk terbit oleh GagasMedia, dan sekarang sedang dalam proses pengeditan.

Oh ya, gara-gara novel pertama saya, ‘Here, After‘ yang bertaburan adegan-adegan tragis, banyak yang mengira novel kedua saya, ‘Rhapsody‘, juga akan bernuansa suram. Ternyata tidak. Banyak yang kaget karena Rhapsody lebih ceria dan inspiratif. Nah, khusus bagi mereka yang menyukai tone-nya Here, After, boleh berharap pada naskah baru ini.

Hope it will live up the expectations! 🙂

Selamat membaca!

DISTORSI

Pada suatu hari, ketika hari di luar sudah mulai gelap, Satria memutuskan untuk masuk ke ruangan perpustakaan mencari Lara. Ruangan itu sudah sepi. Satria hanya melihat punggung Lara dari belakang dan rambut panjangnya yang tergerai. Dia berada di ujung ruangan, sehingga terlihat seolah ditelan oleh jejeran rak penuh buku. Perlahan, Satria berjalan menghampirinya.

Namun, seiring dengan langkah kakinya menyusuri deretan rak buku, ia menyadari bahwa ada yang berbeda dari gelapnya ruangan itu. Hanya ada secuil cahaya matahari sore yang menyelinap dari celah jendela. Rambut panjang Lara terlihat seperti sosok hantu di film-film horor Jepang.

Bukan, itu bukan Lara.

Itu adalah… sosok hantu berambut panjang itu lagi!

Bulu kuduk Satria berdiri. Suasana ini memang cukup horor. Meskipun suara langkah kakinya cukup jelas terdengar di lantai, sosok berambut panjang itu tidak menoleh sedikitpun.

Satria memutuskan untuk memperlambat langkahnya. Tiba-tiba terdengar suara isak tangis perempuan.

Kali ini seluruh urat syaraf di tubuhnya menegang.

Langkahnya sedikit demi sedikit semakin mendekati perempuan berambut panjang itu. Rambut hitam legamnya yang sedikit berombak itu ternyata basah. Punggungnya bergerak-gerak. Suara isak tangis lama-kelamaan semakin terdengar jelas.

Satria mengulurkan tangannya yang bergetar hebat untuk menyentuh punggung wanita itu. Namun seketika dia terhenti.

Sesuatu yang basah dari balik rambut panjangnya meninggalkan noda berwarna gelap di punggungnya. Noda itu perlahan semakin membesar. Lalu semakin besar.

Barulah ia menyadari bahwa noda berwarna merah tua itu adalah…

Darah.

Napas Satria tertahan. Ia menatap sosok itu tak berkedip.

‘La…ra?’ panggilnya lirih.

Sosok itu berhenti terisak. Lalu, dengan sebuah gerakan berkelebat, sosok itu memutar tubuhnya.

Satria menjerit.

***

Football Travelling

IMG-20120615-01654

Fan Zone Euro 2012 di Poznan, Polandia

Tidak terasa, sudah hampir dua tahun sudah sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di benua Eropa. Saya telah memenuhi sebagian besar impian yang pada mulanya mendasari saya untuk memilih Eropa sebagai tujuan untuk melanjutkan kuliah.

Hidup di Swiss, sebuah negara yang bahasa nasionalnya bukan bahasa Inggris (walaupun sebagian besar penduduknya bisa berbahasa Inggris) adalah tantangan tersendiri. Untuk menyesuaikan diri, saya harus mempelajari bahasa yang digunakan penduduk setempat, makanya saya sedang mempelajari bahasa Jerman dan Prancis. Saya sering memperoleh kepuasan sendiri dalam belajar bahasa. Maka, rasanya tidak salah pilih saya mendarat di Swiss, dan bukannya memilih negara tujuan lain yang berbahasa Inggris seperti UK, Australia atau USA.

Selain itu, alasan saya memilih untuk melanjutkan pendidikan di Eropa adalah untuk merasakan langsung atmosfer fenomena massa terbesar di dunia: yaitu sepakbola. Enaknya tinggal di Eropa adalah dengan gampangnya kita bisa bepergian ke negara satu ke negara lain dengan menempuh jalur darat. Dalam setahun terakhir, saya dengan modal nekat sudah berkelana untuk nonton bola di Swiss, Spanyol, Polandia (pagelaran Euro 2012), Jerman, bahkan Austria dan Turki. Pengalaman nonton sepakbola saya di stadion pun semakin bertambah dari waktu ke waktu:

1. FC Zurich vs Vaslui (Stadion Letzigrund, Zurich, November 2011, penyisihan grup Europa League 2011-2012).

2. Swiss vs Argentina (Stade de Suisse, Bern, Februari 2012, international friendly–pertama kalinya saya nonton langsung aksi Lionel Messi!!!).

3. FC Barcelona vs Getafe (Estadio Camp Nou, Barcelona, April 2012, Liga Spanyol 2011-2012–dreams came true! Akhirnya nonton langsung Barca di Camp Nou!!!).

4. Valencia vs Rayo Vallecano (Estadio Mestalla, Valencia, April 2012, Liga Spanyol 2011-2012).

5. Real Madrid vs Sporting Gijon (Estadio Santiago Bernabeu, Madrid, April 2012, Liga Spanyol 2011-2012).

6. Rayo Vallecano vs Atletico Madrid (Estadio Vallecas, Madrid, April 2012, Liga Spanyol 2011-2012).

7. Swiss vs Jerman (St. Jakob Park, Basel, Mei 2012, 2012, international friendly).

8. Spanyol vs Korea Selatan (Stade de Suisse, Bern, Mei 2012, international friendly).

9. Italia vs Kroasia (Miejski Stadium, Poznan, Juni 2012, Euro 2012).

10. Galatasaray vs Fiorentina (Turk Telekom Arena, Istanbul, Agustus 2012, international friendly).

11. BSC Young Boys vs FC Midtjylland (Stade de Suisse, Bern, Agustus 2012, Euro League 2012-2013–talking about non-mainstream football, hehehe…).

12. Switzerland vs Norway (Stade de Suisse, Oktober 2012, World Cup Qualifications)

13. BSC Young Boys vs Liverpool (Stade de Suisse, Bern, Oktober 2012, Euro League 2012-2013)

IMG_1015

Stade de Suisse, Maret 2013. Dua orang Indonesia: saya dan Edo, serta Daniel, teman kami orang Spanyol… eh bukan, Catalunya

14. BSC Young Boys vs Anzhi Makhachkala (Stade de Suisse, Bern, Desember 2012, Euro League 2012-2013)

15. SC Freiburg vs Greuther Fuerth (Mage Solar Stadium, Freiburg, Desember 2012, Bundesliga 2012-2013)

16. BSC Young Boys vs FC Sion (Stade de Suisse, Bern, Maret 2013, Swiss Super League 2012-2013)

17. FC Basel vs Grasshopper Zurich (St. Jakob Park, Basel, Mei 2013, Swiss Cup Final 2013)

18. Austria vs Sweden (Ernst Happel Stadium, Vienna, Juni 2013, World Cup Qualification)

19. Vfl Wolfsburg vs AS Saint-Etienne (Tourbillon Stadium, Sion, Juli 2013, Valais Cup 2013)

20. FC Sion vs Olympique Marseille (Tourbillon Stadium, Sion, Juli 2013, Valais Cup 2013)

21. FC Basel vs Borussia Dortmund (St. Jakob Park, Basel, Juli 2013, International Club Friendly)

22. AC Milan vs Sao Paolo (Allianz Arena, Muenchen, Agustus 2013, Audi Cup 2013)

23. Bayern Muenchen vs Manchester City (Allianz Arena, Muenchen, Agustus 2013, Audi Cup 2013)

24. Switzerland vs Brazil (St. Jakob Park, Basel, Agustus 2013, International Friendly)

and the list goes on

Sebagian besar pertandingan yang saya saksikan langsung di stadion adalah yang dilangsungkan di Swiss. Saya cukup beruntung karena negeri penghasil jam tangan dan coklat ini lumayan diminati sebagai penyelenggara pertandingan-pertandingan kelas dunia, meskipun animo sepakbolanya masih kalah dari negara-negara tetangganya, seperti Jerman atau Italia. Selain itu, saya sering nekat travelling dengan beberapa orang teman untuk memuaskan rasa penasaran menonton pertunjukan sepakbola yang semasa kecil hanya kami saksikan di kotak televisi. Tidak kurang dari Spanyol, Jerman dan Italia sudah kami jelajahi. Memakai kiat grup travelling supporter tertua di Indonesia, bonek (bondo nekat alias modal nekat), kami juga mengarungi negara-negara di Eropa dengan modal seadanya. Numpang di rumah kenalan, nginap di hostel murah, bahkan tidur di stasiun kereta dan airport demi menghemat biaya penginapan, sudah pernah saya dan teman-teman saya alami.

Sejauh ini, banyak teman yang nyindir saya di Twitter atau Facebook, ‘Kamu itu ke Eropa buat sekolah atau nonton bola, sih?’ Toh, selama saya bisa me-manage keseimbangan studi saya dengan dengan football travelling yang saya lakukan, kenapa tidak? Lagipula, alasan saya untuk ber-football traveling ria di Eropa adalah quote terkenal Mark Twain: ‘Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn’t do than by the things you did do.’ Yap, saya berusaha sebisa mungkin meraih momen-momen itu sekarang, sebelum menyesal di kemudian hari kelak.

Selain itu, sebenarnya toh saya hanya melakukan hal-hal yang bagi masyarakat Eropa dianggap wajar. Jika kata orang-orang bijak, manusia adalah makhluk yang berbudaya dan selalu berpindah-pindah, maka sepakbola menjadi alasan saya untuk menjalani kedua ‘kodrat’ itu. Tidak ada tempat yang lebih tepat untuk memahami sepakbola sebagai warisan budaya dunia selain negara-negara di Eropa.

43dff5a3e3af91335caf51008a7a5373

Travelling terbaru saya: Allianz Arena, Agustus 2013. Audi Cup.

Terasa betul bahwa dalam dua tahun ini saya mengalami berbagai perubahan sudut pandang. Selain karena travelling membantu wawasan saya hingga semakin terbuka, saya juga semakin mencintai sepakbola tanpa harus membeda-bedakan apakah tontonan sepakbola itu melibatkan tim-tim dan pemain-pemain ternama atau tidak. Saya tidak peduli lagi apakah yang main merupakan klub terkenal seperti Barcelona atau Bayern Muenchen, atau klub tidak ternama dari Swiss seperti FC Sion. Apakah yang saya tonton merupakan pertandingan kelas dunia dengan harga tiket mahal seperti Liga Champions atau sekadar pertandingan knock-out Piala Swiss. Yang terpenting bagi saya adalah belajar menikmati sepakbola apa adanya, sebagai sebuah permainan yang indah, tanpa memberi label atau embel-embel pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Bisa berada di dalam stadion bersama ribuan pasang mata yang memiliki passion yang sama sudah merupakan kepuasan luar biasa.

Maka, dalam setahun terakhir, saya merekam jejak-jejak perjalanan saya di berbagai stadion di Eropa dalam bentuk tulisan. Hopefully, suatu hari nanti akan menjadi sebuah buku. Sudah ada rekan penerbit yang mengutarakan niat ingin menerbitkan cerita saya, tapi saya masih belum pede. Keinginan saya adalah menjadikan buku ini sebagai perpaduan cerita travelling dan passion tentang sepakbola. Tidak melulu soal sepakbola. Saya ingin hasil tulisan ini bisa dinikmati semua kalangan, bahkan non-fans sepakbola sekalipun.

Untuk mencapai tujuan itu, saya mendalami berbagai literatur yang mengangkat fenomena sepakbola. Beberapa buku bertema sepakbola saya lahap. Beberapa di antaranya adalah:

Fever Pitch by Nick Hornby (my favorite author!).

A Life Too Short: The Story of Robert Enke by Ronald Reng (semacam biografi Ronald Enke, kiper nasional Jerman yang tewas bunuh diri).

Barca: The Making of The Greatest Team in the World by Graham Hunter.

How Soccer Explains the World by Franklin Foer.

Messi: The Story of A Boy Who Became A Legend by Luca Caioli.

– …dan buku favorit saya: The Miracle of Castel di Sangro by Joe McGinniss

Beberapa hasil ‘latihan’ football-travel-writing ini sudah saya kirimkan untuk di-publish di website Bola Total. Jika ingin membacanya, silakan ikuti link ini: http://www.bolatotal.com/jurnalbotoligans-maheeer.html

Saya pun semakin mantap menyebut diri saya sebagai football traveler. I’m living the passion of the most beautiful game in the world! 🙂

1014017_704147559602420_1944727412_n

MP

Oleh-Oleh dari Budapest

How’s life?

Kalau pertanyaan itu diajukan kepada saya, tentu saja saya akan menjawab ‘life’s good’. Yah, dengan kuliah saya di Swiss yang memasuki tahun ke-dua, tentunya tidak semua berjalan baik-baik saja. Namun, jawaban ‘life’s good’ adalah jawaban terbaik yang bisa saya berikan, daripada harus bercerita panjang lebar tentang stress pasca ujian dan tidak enaknya menanti kepastian kapan lulus.

Maka, saya mau bercerita sedikit tentang travelling terakhir saya. Pada akhir Mei lalu, saya mengambil one week breakaway pasca ujian dan di tengah-tengah master thesis yang menunggu untuk diselesaikan. Kota tujuan saya adalah Budapest, ibukota Hungaria.

Jujur, sebelum ke sana, saya tidak tahu banyak tentang Budapest. Saya hanya dengar cerita beberapa teman yang berasal dari Hungaria, atau teman-teman Indonesia yang pernah berkunjung ke kota tersebut. Secara umum, saya hanya tahu bahwa Budapest berasal dari nama ‘Buda’ dan ‘Pest’. Keduanya merupakan daerah yang dipisahkan oleh Sungai Donau (Danube). Sungai ini merupakan salah satu yang terbesar di Eropa, juga mengalir melewati beberapa Negara, antara lain, Austria, Jerman, Republik Ceko dan Slovakia.

Setelah sight-seeing mengunjungi berbagai landmark terkenal seperti Charles Bridge yang melintasi Sungai Donau dan menghubungkan Buda dan pest, atau hiking ke atas bukit Cittadella dan menikmati makanan khas Hungaria di pasar tradisional mereka, hati saya tertambat pada satu karakteristik Budapest. Kota ini terkenal dengan toko-toko buku bekasnya, yang dikenal dengan istilah ‘antikuarium’.

Pada awalnya, saya hanya iseng berkunjung ke salah satu antikuarium terbesar yang saya lewati. Beberapa review di website traveller membuat saya penasaran bagaimana masyarakat Budapest mengatur toko-toko buku bekas mereka. Dalam hati saya, ‘ah, paling sama saja dengan Kwitang dulu atau Palasari di Bandung’. Ternyata saya salah. Antikuarium di Budapest terkenal dengan penataan ruangan yang rapi dan buku-buku yang meskipun tua, namun terawat baik.

Yang paling membuat saya tercengang adalah… harganya! Sebagian besar buku yang terjual tentu saja buku-buku dalam bahasa Magyar (bahasa Hungaria), tapi ternyata banyak juga buku dalam bahasa Inggris. Sebagai pecinta novel, saya langsung mengincar beberapa judul yang menarik perhatian saya. Namun ketika iseng menanyakan harga, saya dibuat kaget bukan kepalang.

Bukan karena mahal, melainkan karena… murahnya yang keterlaluan! Bayangkan, novel Night Train to Lisbon yang merupakan salah satu novel popular di Eropa, dijual dengan harga 1000 Forint saja (jika dikonversi ke Euro, sekitar 3 Euro). Murah banget! Padahal, novel tersebut baru saja diterbitkan ulang untuk menyambut perilisan film adaptasinya yang dibintangi Jeremy Irons.

Mendengar betapa murahnya harga tersebut, naluri shopping saya terpancing. Total, enam buah novel menarik perhatian saya. Pada akhirnya, saya merogoh kocek untuk membawa pulang keenam buku yang masih dalam kondisi terawat. Keenam novel itu adalah:

ImageDan siapa yang menyangka jumlah uang yang saya habiskan hanya 6.600 Forint alias sekitar 22 Euro saja! Jumlah segitu biasanya hanya bisa membeli maksimal dua buah novel berbahasa Inggris di toko-toko buku biasa.

Kini, setiap saya menghabiskan waktu membaca buku-buku tersebut, saya akan teringat pesona antikuarium Budapest dengan rak-raknya yang penuh dengan ide-ide para penulis zaman dulu, dan telah tertuang dalam bentuk ribuan buku.

MP