EXPLORE. DREAM. DISCOVER

Jenewa, Sabtu, 5 November 2011.

Pesawat yang membawa saya kembali ke Barcelona dari Jenewa baru saja mendarat di Geneve Aeroport. Seperti reaksi penumpang pesawat pada umumnya, saya langsung menyalakan smartphone begitu tiba di airport. Selama tiga hari liburan di Barcelona, saya memang tidak mengaktifkan layanan Blackberry. Takut dibombardir tagihan karena kena roaming internasional, hehehe…

Tepat ketika mengaktifkan Twitter, perasaan saya seolah melambung ke angkasa. Seolah-olah ada malaikat tak terlihat yang mengajak saya terbang ke langit ketujuh. Penyebabnya adalah sebuah kabar menggembirakan yang masuk.

‘congrats, Here, After’ masuk longlist tahap ke-2 API 2011!’

Sejenak, saya tertegun. Bumi berhenti berputar. Sebuah celetukan konyol menggema di dalam benak saya.

oh, whoa… I never knew I would make it that far

Ya, novel pertama saya yang terbit di penghujung 2010 tersebut masuk daftar 10 besar Anugerah Pembaca Indonesia (API 2011). A reality which is too good to be true. Bahkan bermimpi pun saya tidak pernah berani sejauh ini.

Mendadak, udara dingin Jenewa tergantikan oleh hangatnya perasaan bangga dan berbagai memori yang merasuk kembali ke benak saya.

  • Memori ketika waktu kecil ayah saya dengan sabar mengajarkan saya membaca danmenulis. Memori ketika beliau lebih memilih memanjakan saya dengan buku daripada mainan robot-robotan.
  • Semua puisi yang saya coba-coba untuk tulis di sela-sela pelajaran membosankan di bangku SMA. Memori ketika buku kumpulan puisi tersebut dicuri oleh teman-teman saya yang jahil untuk ditertawakan rame-rame.
  • Memori tentang surat cinta yang saya kerjakan sehari semalam untuk cinta monyet pertama saya. Saya ingat jelas bagaimana kegelian ketika membaca ulang kata-kata gombal tersamarkan oleh kerasnya degup jantung dan perasaan di dalam hati yang berjuang keras untuk diungkapkan lewat bibir, meskipun akhirnya hanya tanganlah yang merealisasikan ungkapan cinta dengan bantuan kertas dan pulpen.
  • Saat-saat pertama saya memutuskan untuk menulis novel pertama tanpa terlebih dahulu mencoba menulis sesuatu yang lebih singkat, seperti cerpen. Saya ingat jelas naskah tersebut sangat buruk sampai akhirnya saya putuskan untuk membuangnya ke tempat sampah dan akhirnya dibakar.
  • Memori empat tahun lalu, ketika saya menulis kata-kata pertama untuk draft Here, After. Tanpa ekspektasi apa-apa. Hanya ingin membuat sesuatu yang berbeda dari yang lain, yaitu plot dan anti-happy ending-nya…
  • Memori tiga tahun lalu ketika saya memutuskan untuk mengirim naskah tersebut ke penerbit GagasMedia. Lagi-lagi, tanpa ekspektasi apa-apa.
  • Memori di tahun 2010, ketika naskah tersebut diputuskan untuk terbit. Saat itu saya sudah senang bukan kepalang. Target realistis saya adalah, terjual 1000 kopi pun sudah bagus. Ternyata, sudah terjual lebih dari 12.000.
  • Memori dua minggu lalu, ketika Here, After masuk longlist tahap pertama API 2011 bersama dua puluh judul lainnya. Saat itu, target saya adalah untuk mengumpulkan vote sebanyak-banyaknya. Supaya nggak malu-maluin di mata orang-orang yang sudah baca novel saya. Ternyata, pada akhirnya masuk longlist tahap II (10 besar). Salah satu kompetitornya adalah Dewi Lestari, yang saya (dan hampir semua orang di Indonesia) kagumi..
  • Beberapa tahun yang lalu, saya melihat buku biografi Valentino Rossi yang berjudul What If I Never Tried It? Kini, kata-kata itu terus-terusan menggema di benak saya.

Ya. Bagaimana jadinya jika saya tidak pernah mencoba untuk merealisasikan mimpi saya? Bayangkan jika Valentino Rossi nggak pernah mencoba untuk memulai balapan motor, maka kita tidak akan mengenal sosok dia yang telah menjadi legenda di dunia otomotif. Apa jadinya seandainya saya tidak pernah menuangkan sedikit usaha tambahan demi melompat lebih tinggi meskipun hanya ‘sejengkal dari tanah’? Minimal, ‘sejengkal dari tanah’ berarti ‘lebih dekat ke langit’, kan?

Then, in the end, I’m glad that I did. Seperti kata-kata di lagunya Coldplay, ‘if you never try, you’ll never know’.

Satu lagi kata-kata yang sering saya ingat. Yaitu petuah bijak dari penulis legendaris Mark Twain:

“Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover.”

Saya tidak berhenti tersenyum. Life has turned unexpectedly fabulous for me. Saya mendapat kabar bahwa novel saya masuk 10 besar penghargaan bergengsi bersama penulis-penulis besar lain, tepat sehari setelah saya mengunjungi kota impian saya sejak kecil, yaitu Barcelona. I couldn’t ask for more.

Mimpi membawa saya ke sini. Tapi, mimpi-mimpi saya tidak akan terbentuk tanpa peranan orang-orang di sekitar saya yang selalu mendukung saya dalam situasi apa pun. Dengan postingan ini, saya ingin berterima kasih kepada semua orang yang terlibat dalam proses hidup saya sampai sekarang. Termasuk Anda yang sedang membaca postingan ini. 🙂

Explore. Dream. Discover.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s