GagasMedia: UnforgotTEN & Bittersweet

80b7eed19e034b99feb379944d971dc4

Postingan ini saya tulis khusus untuk memperingati ulang tahun @GagasMedia yang ke-10, pada tanggal 4 Juli 2013.

Happy Birthday, Gagas!

Sepuluh tahun belumlah usia yang bisa dibilang dewasa, tapi mungkin di situlah penjelasan mengapa banyak yang merasa fun ber-hang-out bersama GagasMedia. Soalnya ia lagi lucu-lucunya dan senang bermain, hehehe.

Saya menjawab ajakan relation officer GagasMedia, Mudin Em, (@omemdisini) tentang memeriahkan ultah ke-10 ini dengan tulisan. Maka, baiklah, saatnya saya mengeluarkan unek-unek seputar penerbit kesayangan banyak orang ini.

Pada suatu hari di tahun 2010, para editor GagasMedia, Christian Simamora (@09061983) dan Windy Ariestanty (@windyariestanty) mengajak saya bertemu untuk membahas naskah novel saya yang masuk ke redaksi mereka. Mereka merasa naskah saya itu potensial untuk diterbitkan, tetapi dengan beberapa perbaikan. Mereka berdua mengajukan pilihan, apakah saya ingin menarik naskah tersebut untuk direvisi sebelum diajukan lagi ke penerbit ataukah langsung saja dicemplungkan ke metode market test mereka, yang dikenal juga dengan nama ‘first reader’.

Bagi saya, saat itu, saya seolah diberi tantangan, seperti halnya karakter Neo yang diajukan dua pilihan berupa pil merah atau pil biru oleh Morpheus di film The Matrix. Seperti yang dilakukan Neo, saya tidak sabar ingin melihat kenyataan sebenarnya seorang penulis dalam memperjuangkan naskah novelnya. Maka, saya nekat memperbolehkan mereka mengetes naskah yang masih sangat mentah itu ke kelompok ‘first reader’ yang beranggotakan sepuluh orang. Jika di-break down lagi, kesepuluhnya terdiri dari lima orang reviewer naskah khusus remaja, dan lima orang reviewer naskah dewasa.

Beberapa bulan kemudian, saya menerima sebuah kabar baik. Naskah saya yang berjudul sementara ‘Diana’ itu disukai oleh para first readers, sehingga memenuhi syarat untuk diterbitkan. Tentu saja, saya girang sekali. Salah satu impian saya terwujud. Namun, yang lebih menyenangkan lagi, bukan hanya saya yang waktu itu mewujudkan impian dengan diberi kesempatan menerbitkan novel pertama di GagasMedia. Dua penulis muda lain yang seingat saya ditelurkan oleh para first reader ketika itu adalah Prisca Primasari (@priscaprimasari) dan Morra Quatro (@miss_morra).

Pada akhirnya, di bulan November 2011, novel pertama saya yang diberi judul Here, After pun terbit. Nyaris seangkatan dengan novelnya Prisca (Eclair) dan Morra (Forgiven). Resminya saya menjadi penulis GagasMedia ternyata membawa banyak keuntungan, salah satu di antaranya, saya bisa mengenal rekan-rekan lain sesama penulis muda yang rata-rata berusia tidak jauh berbeda dengan saya. Selain Prisca, Morra, Christian dan Windy yang juga penulis, lambat laun saya menjadi kenal dan berkorespondensi dengan Valiant Budi (@vabyo), Sefryana Khairil (@sefryanakhairil), Winna Efendi (@winnaefendi), dan banyak lagi.

Keuntungan berkenalan dengan para penulis ini banyak banget. You see, semuanya adalah penulis yang mulai dari bawah, dan tidak lebih dari your-next-door-neighbours yang bekerja keras mewujudkan mimpi mereka. Mereka menulis karena passion, tanpa ada tendensi dan pretensi apa-apa. Saya pun mempelajari suatu hal, bahwa untuk menjaga mimpi kita tetap hidup, kita harus banyak-banyak bergaul dengan orang-orang yang mempunyai mimpi yang sama. Dengan membicarakan seputar mimpi kita dengan sesama pemimpi, kita akan memperoleh motivasi lebih untuk mewujudkan mimpi kita. Apalagi jika teman kita sudah berhasil merealisasikan mimpi-mimpi lainnya.

Thanks to GagasMedia juga, petualangan baru saya dimulai. Saya jadi rajin berkeliling ke berbagai toko buku di berbagai kota sepanjang tahun 2010 sampai pertengahan 2011 untuk mempromosikan Here, After. Hasilnya terbilang manis, sampai sekarang, Here, After sudah dicetak sebanyak lima kali. Tentunya bukan prestasi yang buruk untuk ukuran novel debut. Puncaknya, ketika komunitas pembaca Goodreads Indonesia (@bacaituseru) mengadakan semacam award untuk memilih buku-buku favorit mereka sepanjang tahun 2010-2011, saya bagaikan terbang ke langit ketujuh begitu mengetahui Here, After masuk lima besar Buku Fiksi Terbaik, bersaing dengan karya-karya dari nama-nama besar seperti Dewi Lestari dan Asma Nadia. Kesempatan itu mungkin hanya terjadi sekali seumur hidup bagi saya!

Sampai di sini, semua kenangan saya bersama GagasMedia terbilang manis. Namun, saya lupa bilang di awal bahwa sebenarnya, kenangan saya bersama GagasMedia itu… bittersweet. Sebagian besar sih sweet, tapi ada beberapa juga yang bitter. Yah, seperti halnya lika-liku kehidupan itu sendiri.

Di beberapa bulan awal setelah Here, After terbit sebagai novel debut saya, Christian sebagai editor fiksi GagasMedia sempat mengingatkan, bahwa ada semacam sindrom yang menimpa sebagian besar penulis debutan. Jika karya debutnya terbilang sukses, maka tekanan pada dirinya untuk berkarya akan semakin besar lagi. Christian malah sering meledek saya dengan sebutan ‘Milli Vanili’, mengacu pada nama sebuah grup musik yang populer di akhir 1980-an, tapi pada akhirnya menghilang tak berbekas. Ia tidak ingin saya berakhir menjadi one-hit wonder seperti Milli Vanili.

Pada awalnya, saya cuek saja. Namun, ternyata, apa yang dikatakannya make sense. Saya tidak menulis naskah novel apapun selama dua tahun lebih, boro-boro nerbitin novel. Saya memang sempat menyumbangkan cerita-cerita pendek untuk project buku Menujuh (2012) dan Dongeng Patah Hati (2013), tapi entah kenapa, menulis suatu cerita dengan frame sebesar novel mendadak jadi sulit bagi saya.

Jika boleh beralasan, pindahnya saya ke Swiss sejak pertengahan 2011 untuk melanjutkan kuliah adalah salah satu penyebab. Saya menjadi sibuk dengan tugas-tugas kuliah, dan di waktu senggang saya menyempatkan diri untuk travelling baik ke kota-kota lain di Swiss maupun kota-kota di negara lain.
Namun, saya bukannya tidak menulis sama sekali. Sedikit demi sedikit, saya mencoba menulis cerita-cerita travelling saya sekaligus merangkai semuanya menjadi sebuah cerita novel. Akhirnya, naskah itu pun jadi di bulan Juni 2012 (fiuh), dan saya beri working titleDream Together’. Dengan bantuan beberapa orang teman di Indonesia, naskah itu pun masuk ke meja redaksi GagasMedia. Dalam waktu sekitar dua setengah bulan, Dream Together disetujui untuk terbit. Saya pun senang sekali. Akhirnya saya bisa mematahkan ‘kutukan Milli Vanili’. 😀

Lantas, kenapa bitter? Karena… yah, karena sekarang sudah memasuki Juli 2013 dan naskah tersebut belum juga diterbitkan. Naskah tersebut sebenarnya sudah di-finalized dan bahkan sudah memperoleh judul resmi (judulnya berubah menjadi Rhapsody). Bukan masalah telatnya jadwal terbit yang sering mengusik saya, bahkan saya akan sangat senang jika novel saya kelak terbit tepat di saat saya sudah kembali ke Indonesia, agar saya bisa kembali aktif mempromosikannya. Saya cuma sering merasa tidak sabar jika melihat rekan-rekan penulis lain sudah merilis karya-karya baru mereka. Bahkan, sudah banyak juga penulis-penulis baru yang merilis karya-karya mereka di Gagas. Meskipun jauh di Eropa, semua perkembangan itu saya ikuti dari info-info yang berseliweran di Facebook, Twitter, bahkan website GagasMedia. Lama-lama, saya sedikit merasa malu karena sekarang saya tertinggal sangat jauh di belakang penulis-penulis lain. Saya pun dibuat bertanya-tanya, dua tahun terakhir saya ngapain aja, sih?

On second thought, saya menyadari, bahwa seperti halnya hubungan antar-manusia, hubungan saya dan GagasMedia toh merupakan sebuah long-term commitment. Penerbit tidak hanya ada pada saat kita ingin menerbitkan buku, tapi juga memotivasi kita untuk berkarya lagi. Itulah yang saya dapatkan dari GagasMedia. Pada akhirnya, saya disadarkan untuk tidak cepat puas, karena berkarya sebaiknya tidak berhenti di satu titik saja. Saya pun akhirnya bisa move-on dari kenangan manis Here, After, dan diberi pelajaran berani menempuh berbagai tantangan untuk menelurkan karya-karya berikutnya. Satu naskah lain pasca-Rhapsody pun sudah masuk dapur GagasMedia, lho, hehehe. Working title-nya ‘Distorsi’, dan sudah disetujui untuk terbit. :p

Ah, memang tidak salah jika banyak penulis yang bilang, berhati-hatilah dalam memilih penerbit. Dalam kasus saya, saya cukup beruntung pernah memilih GagasMedia.

Dan pada akhirnya… satu-satunya yang terasa bitter adalah, saya tidak bisa berada di sisi GagasMedia ketika mereka sedang bersuka-cita merayakan usia satu dasawarsa.

Whatever it takes, mudah-mudahan usia ke-10 ini terasa sweet buat GagasMedia dan teman-teman yang berada dalam naungan keluarga besarnya.

Peluk hangat dari Swiss. See you guys soon! 🙂

@maheeer

Advertisements

4 thoughts on “GagasMedia: UnforgotTEN & Bittersweet

  1. Mahir,

    Very inspiring! Aku pun terjebak dua tahun tanpa menghasilkan naskah paska Refrain dan Unbelievable 😀

    Glad you (and me) broke our stride and went on writing!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s