Introducing, THE WAY WE WERE by Sky Nakayama

Terbitnya sebuah naskah debut adalah suatu momen yang life-changing. Saya pernah merasakannya sebelumnya, ketika naskah novel saya diputuskan terbit oleh GagasMedia untuk pertama kalinya 3 tahun lalu.

Sekarang, saatnya saya memperkenalkan seorang penulis yang juga baru menerbitkan novel pertamanya di GagasMedia, dia adalah Sky Nakayama dengan novelnya, The Way We Were. Silakan dibaca pesan dan kesan penulis:

BN0alGtCIAEMNjE.jpg large

cover The Way We Were (sumber: twicsy.com)

If you have been able to take anything away from my writing thus far it should be that young adult’s life is insane. Everything spins so fast. Before you can really grasp what is currently going on with your life, you find yourself waking up one morning, helplessly watch people move away from your life without bothering to give you a decent notice first. Cast and locations change, and suddenly it’s a whole new story.

The Way We Were adalah naskah yang tumbuh dan berevolusi seirama dengan ritme hidup saya. Ini adalah naskah yang saya tulis ketika saya sedang berjuang melawan writer’s block yang ketika itu sudah menghantui saya selama empat tahun. Karakter yang ada dalam novel ini pun tumbuh, seiring dengan pemahaman saya tentang hidup mulai berevolusi.
Seringkali, kita harus bisa merelakan sesuatu yang tidak bisa kita ubah. Hidup adalah pembelajaran untuk menerima dan merelakan, menurut saya, dan itulah yang ingin saya cerminkan lewat karakter Laut Senja.

Laut berada dalam masa di mana pertanyaan ‘kenapa’ banyak menerpa dirinya. Sayangnya, ia tidak selalu bisa menemukan jawaban yang tepat untuk menghapus jutaan pertanyaan yang mengelilingi dirinya. Hingga pada akhirnya, ia bertemu dengan seseorang yang menggantikan keinginannya untuk menemukan semua jawaban atas pertanyaannya dengan kemampuan untuk merelakan semua pertanyaan yang tidak memiliki jawaban.

To go with the flow.

Belajar untuk melihat bahwa bahkan dalam situasi seburuk apapun, kamu bisa menemukan kebahagiaan kecil terselip di sana-sini. Seringkali manusia terlalu fokus akan rasa sakit yang menerpa mereka hingga mereka lupa bahwa masih banyak hal indah di muka bumi ini.

Jujur, karena saya sudah sangat lama sekali tidak menulis, proses penulisan The Way We Were merupakan sebuah proses yang dipenuhi oleh keraguan. Saya tidak yakin bahwa penyampaiannya tepat. Saya ragu orang lain bisa melihat Laut seperti saya melihat dirinya.

Namun pada akhirnya saya ingat akan tema tulisan saya. Perlahan-lahan saya memupuk rasa berani selagi berusaha mengalihkan pikiran saya dari keraguan yang tidak bisa saya jawab. Saya terus mengingatkan diri saya bahwa menulis adalah hal yang saya cintai, hingga saya bisa menaruh hati saya di setiap kalimat yang saya tuangkan dalam novel ini.

Jikalau saya tidak memupuk keberanian dari sekarang, selamanya saya akan terus berada dalam zona aman tanpa pernah mengizinkan tulisan saya untuk berkembang. Dan itu juga berarti saya telah membiarkan rasa takut untuk gagal menguasai saya. Sungguh berkebalikan dengan pesan yang ingin saya titipkan dalam karakter-karakter saya.

Gagal atau sukses—sedih atau senang—adalah fase yang diperlukan untuk berkembang. Saya berharap The Way We Were bisa menjadi titik awal perjalanan menulis saya. Sebuah awal yang mempertemukan saya dengan kalian, pembaca-pembaca saya, sebuah awal yang bisa saya jadikan patokan untuk menjadi lebih baik di masa depan.

Semoga kalian mendapatkan inspirasi juga dalam menulis setelah membaca tulisan Sky di atas. Tetap semangat menulis, ya! 🙂

Advertisements

One thought on “Introducing, THE WAY WE WERE by Sky Nakayama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s