Dibuang Sayang: Adegan dalam Rhapsody yang Kena Gunting Editor

Halo, semuanya! Pasti ada beberapa di antara kalian yang sudah membaca ‘Rhapsody‘. Nah, dari novel terbaru saya yang tebalnya 324 halaman itu, tentunya ada beberapa bagian yang tidak termasuk ke draft final. Termasuk adegan di bawah ini.

Adegan ini sedianya menjadi kelanjutan malam ulang tahun Bebi, dan pada saat Al menyadari Sari pergi diving ke Pulau Selayar bersama Miguel. Karena sayang jika dibuang, saya post adegan ini sebagai persembahan untuk para fans segenap hostel Makassar Paradise, terutama yang pengen baca pembicaraan-pembicaraan kocak antara Bebi dan Simon.

BZUuu_9CIAEPFax.jpg largeSelamat membaca! 🙂

Lesson of Life no.6:

Everybody loves a joker, but nobody likes a fool.

Pagi itu cerah, seperti hari-hari biasa di musim kemarau ini. Waktu menunjukkan pukul 10, tapi suhu sudah panas menyengat. Aku baru selesai mandi dan berpakaian untuk memulai tugas sehari-hariku menjadi resepsionis. Di meja resepsionis sudah ada Bebi melayani beberapa bule yang hendak check out.

Good morning, guys!’ sapaku ramah kepada tiga orang bule yang hendak check out itu. Mereka membalas sapaanku dan akhirnya aku menghabiskan sekitar satu menit berbasa-basi dengan mereka. Dua pria dan seorang wanita yang berasal dari Swedia ini ternyata tidak bisa ngobrol berlama-lama karena mereka harus mengejar flight mereka jam 12.

’11 o’clock? That’s one hour from now! You guys need to hurry!’

Cewek pirang yang berkulit pucat baru akan menjawab, tapi dipotong oleh perkataan Bebi.

‘Sudah mi saya telepong taksi, tapi sibuk semua taksi katanya.’

‘Yah, gimana dong?’ aku garuk-garuk kepala. ‘Waktunya mepet banget. Flight mereka tinggal sejam lagi. Padahal dari sini ke airport butuh sekitar empat puluh menit. Belum lagi check in dan nitip bagasi.’

Bebi mengangkat bahu. Ketiga turis Swedia itu hanya saing berpandangan. Dalam hati aku menyayangkan kurangnya sarana transportasi di Indonesia, termasuk di Makassar. Di kota manapun, belum terdapat transportasi praktis yang menghubungkan ke airport atau stasiun kereta. Padahal keberadaan transportasi semacam itu sangat penting bagi mobilitas wisatawan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke negara kita.

Akhirnya, aku memutuskan untuk berlari ke luar, guna menyetop taksi di jalan raya. Namun, semenit dua menit berlalu dan tidak satu pun taksi yang lewat. Aku melirik ke arah hostel. Ketiga warga Swedia itu terlihat gelisah.

‘Ojek, Bos?’

Aku tersentak kaget. Ternyata seorang pria berjaket kulit menghampiriku. Aku mengenalnya, dia adalah penarik ojek yang sering mangkal di warung kopi yang terletak beberapa rumah dari hostel.

Aku memutar otak. Mungkin aku bisa naik ojek ke sekitar kawasan MTC Karebosi atau Menara Bosowa untuk memanggil taksi di sana. Kedua tempat itu terletak di pusat kota yang sangat sibuk, sehingga pasti tidak susah menemukan taksi di sana.

‘Ke MTC Karebosi berapa, Daeng?’ tanyaku.

‘Sepuluh ribu, Bos!’

‘Idih, mahal kamma, Daeng!’ aku mencoba berbicara dengan dialek Makassar sebaik mungkin. Sesuatu yang sangat jarang kulakukan. ‘Padahal MTC Karebosi kan kelihatan dari sini.’

Si abang ojek itu menjawab cuek, ‘yah, Bos. Itu awan di atas juga kelihatan dari sini, Bos! Sepuluh ribu itu murah sekali mi, Bos!’

Aku langsung garuk-garuk kepala. Susah memang berdebat dengan logika raja jalanan.

‘Gimana, Bos? Jadi ndak?’

Aku menoleh. Si Abang Ojek ternyata sudah naik ke atas motornya. Aku menoleh lagi ke hostelku di seberang jalan. Ketiga orang Swedia hanya balas memandangiku dari balik pintu kaca. Salah satu dari mereka bolak-balik mengecek jam tangan. Tampak jelas mereka semakin gelisah.

Mendadak, sebuah ide cemerlang mampir ke otakku.

***

‘Iih, Al! Semoga ketiga orang Swedia itu sampai di airport tepat waktu. Kamaseang[1] ki kalo ketinggalang pesawat.’

Aku sudah duduk-duduk santai di balik meja resepsionis bersama Bebi. Aku melahap sebuah jalangkote[2] sebagai sarapan. Late breakfast, tepatnya. Mengingat ini sudah hampir jam 11 siang.

‘Pasti tepat waktu kok,’ kataku santai. ‘Yang gue kuatir hanyalah semoga tukang-tukang ojek itu nggak kebut-kebutan. Kasihan bule-bule itu. Jarak dari sini ke airport tanpa lewat tol itu hampir dua puluh kilometer. Kalau jaraknya jauh dan mereka harus berada di atas motor yang kencang, bisa-bisa mereka jantungan.’

Aku tersenyum-senyum sendiri membayangkannya. Jadi, pada akhirnya tadi aku menyuruh si tukang ojek untuk memanggil dua orang temannya sesama penarik ojek. Daripada ketiga bule Swedia itu ketinggalan pesawat, akhirnya aku menyarankan kepada mereka untuk menumpang ojek sampai airport. Keputusan itu pasti akan lebih menghemat banyak waktu.

‘Kalo tiga bule itu ndak mau lagi kembali ke Indonesia, itu salahmu,’ kata Bebi lagi. ‘Pasti karena mereka kapok dibonceng naik ojek kebut-kebutang kayak dikejar setang.’

‘Ah, santai aja! Bule justru suka tantangan!’

‘Aih tantangang apa anjo[3]! Dibonceng naik motor baku balap-balap sama truk gandeng di jalan raya? Paka dumba’-dumba’ na[4]!’

Aku hanya tertawa mendengar gerutuan Bebi. Setidaknya, pagi ini dia kelihatan segar. Tidak ada tanda-tanda hangover dari maboknya tadi malam. Namun, untuk memastikan, aku bertanya padanya, ‘gimana kepala lo? Pusing nggak?’

‘Iyo, masih pusin. Ta’putar-putar ini dunia sa lihat. Seperti dikocok-kocok isi kepalaku.’

‘Udah, yang penting jadi artis, terkenal di kalangan bule-bule.’

Pintu hostel terbuka. Simon melangkah masuk. Tampang bocah chubby itu terlihat cerah. Aku menebak, pasti disebabkan oleh beberapa jilid komik One Piece terbaru yang berada di dalam genggamannya.

‘Selamat pagi, semuanya! Simon pikir hari ini sangat cerah, tidakkah kalian berpikir seperti itu?’

‘Apa tong kau, battala’![5]’ sindir Bebi. Aku langsung tergelak melihat tingkah keduanya.

‘Ih, Nona Bebi, kok marah-marah, sih? Marah-marah itu nggak baik, you know? Cepat tua kamu nantinya.’

‘Ededeh, ndak bisa ko bicara seperti manusia normal kah?’

Tawaku semakin keras. ‘Look who’s talking!’

Simon menarik sebuah kursi lalu duduk di samping Bebi. ‘Tau deh, tadi malam yang have a good time. A good birthday party, was it not? Ngabisin lima botol vodka? Kamu masih hangover sekarang, aku bisa pastiin.’

‘Duuh! Jauh-jauh ko deh, battala’! Bumi sudah panas kau datang lagi dekat-dekat. Tambah panas mi saya rasa!’

‘Yaa, apa gunanya AC? Dinyalain dong!’

‘Eh, sudah-sudah!’ aku melerai pertengkaran konyol itu. ‘Malu kalo ada guest dan kalian bertengkar kayak kucing sama anjing.’

Aku sudah selesai menyantap sarapanku. Setelah menghabiskan segelas susu, aku menyadari sesuatu.

‘Eh, Miguel mana ya? Kok nggak kelihatan?’

Simon hanya angkat bahu, pertanda dia tidak tahu. Wajar sih, karena dia baru datang. Aku berpaling ke Bebi. Anak itu hanya diam.

‘Beb, lo liat Miguel nggak?’

Perlahan, dia menjawab, ‘emm… katanya sih, pagi ini dia ke Selayar.’

‘Selayar? Ngapain? Untuk berapa hari?’

‘Katanya mau diving. Nginap di sana tiga hari.’

‘Oh gitu. Ya sudah. Aneh juga karena dia nggak ngomong sebelumnya sama gue.’ Tiba-tiba aku menyadari sesuatu. ‘Eh ya, Sari kan juga mau diving di Selayar hari ini. Selama tiga hari juga.’

Hening sebentar. Lalu, dengan nada bicara sangat hati-hati, Bebi menjawab.

‘Emm.. mereka memang berangkat berdua. Tadi pagi.’

***

Keterangan dialog bahasa daerah:


[1] Kasihan

[2] Kue pastel khas Makassar

[3] Tantangan macam apa itu

[4] Bikin tegang aja

[5] Ngomong apa sih, gendut?

Advertisements

One thought on “Dibuang Sayang: Adegan dalam Rhapsody yang Kena Gunting Editor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s