‘APA LIAT-LIAT?’

Saya sebenarnya jarang sekali menulis cerita pendek. Namun, kali ini saya ingin share cerita yang saya tulis secara spontan berdasarkan pengalaman pribadi teman-teman saya. Enjoy!

‘APA LIAT-LIAT?’

oleh Mahir Pradana

Persahabatan memang lebih besar dari kehidupan. Itulah yang terjadi pada Ari, Budi, Herman dan Rizki.

Keempatnya adalah mahasiswa tinggal di kos-kosan yang sama. Kamar keempatnya pun bersebelahan satu sama lain. Karena mereka anak kos, susah senang mereka sering tanggung bersama. Seperti saling meminjamkan uang ketika dana bulanan dari kedua orangtua belum datang. Tidak jarang mereka kelaparan bersama, tapi yang lebih menyenangkan tentu saja jika mereka merasa kenyang bersama.

Seperti ketika mereka diundang pesta pernikahan anak perempuan Pak RT. Undangan itu tentu saja adalah ajang berburu makan siang gratis bagi mereka berempat.

“Hey, Herman! Hati-hati, laukmu sudah hampir tumpah dari piring!”

“Aduh kurang bagus strategi Si Herman! Ngapain ngambil nasi banyak-banyak, padahal berbagai macam lauk ada di sini.”

“Kan memang dia kalo ngambil nasi tidak pernah dalam satuan sendok, tapi BONGKAH. Lihat di piringnya, sepertinya tadi dia ngambil nasi tiga bongkah!”

Ketiga temannya tertawa, tapi Herman dengan cueknya menikmati makanannya tanpa merasa terganggu. Nanti setelah beberapa menit teman-temannya puas tertawa, Herman baru mengangkat pandangan dari piringnya lalu menatap ketiga temannya dengan tampang polos.

“Apa liat-liat?”

Ketiga temannya kembali tertawa.

Dari keempatnya, memang Herman paling sering dijadikan ‘objek penderita’. Ketiga temannya selalu menggodanya dengan apapun, mulai dari sikapnya yang seringkali terlalu polos sampai kosakata Bahasa Indonesianya yang cenderung terbatas.

Seringkali, jika tengah malam dia ditemukan sedang mondar-mandir di koridor kos-kosan karena tidak bisa tidur, penjelasan yang dikemukakannya adalah, “gue amnesia.” Esoknya, ia pasti menjadi bahan tertawaan teman-temannya. “Insomnia kaliii…”

Setelah itu, jika ada pembicaraan yang menyinggung-nyinggung kata ‘insomnia’ atau ‘amnesia’, ketiga temannya pasti akan spontan menoleh kepada Herman. Dengan tatapan polos, Herman pasti hanya akan berujar.

“Apa liat-liat?”

“Liat? Lihat kaliii… Memangnya tanah liat?”

Ketiganya terpingkal-pingkal lagi. Heran menjadi herman. Eh, kebalik. Maksudnya, Herman jadi heran. Kenapa lagi teman-temannya  tertawa seakan tidak ada hari esok?

Ternyata, hari esok justru tidak ada untuk Herman sendiri.

Ia meninggal di suatu hari di bulan Februari. Kata orang, bulan itu adalah bulan kasih sayang, tapi ternyata merupakan bulan duka bagi Ari, Budi dan Rizki. Herman meninggal dunia akibat hepatitis. Ia dikebumikan di kampung halamannya di Kebumen. Diulang, jenazahnya dikebumikan di Kebumen. Tuhan memang Maha Ahli Wordplay.

Sebulan setelah kepergian Herman, kos-kosan mereka terasa sepi. Lelucon demi lelucon di antara mereka bertiga tidak pernah lagi mencapai klimaks, karena si objek penderita telah tiada. Tawa demi tawa pun tak pernah lagi terasa sama.

Begitu pula ketika ketiganya menonton pertandingan bola di tengah malam, tak ada lagi Herman yang sering tertukar antara ‘kick off’ dan ‘offside’. Atau komentar-komentar sederhana yang bisa memancing tawa ketiga sobatnya seperti “gawangnya jago”, padahal yang dimaksudnya jago adalah penjaga gawang. Seseru apapun pertandingan sepakbola akan terasa hambar.

“Nggak seru ah, pertandingannya,” seru Rizki.

“Lah, kenapa lo nggak tidur aja, sana?” Ari menimpali.

“Si Rizki amnesia,” Budi langsung melompat ke dalam pembicaraan singkat itu.

Seakan-akan dikomando, ketiganya langsung menoleh ke kursi kosong tempat Herman biasa duduk. Biasanya, mendiang sobat mereka itu hanya akan menatap mereka dengan pandangan innocent-nya yang khas, lalu berkata dengan suaranya yang cempreng, “apa liat-liat?” Kali ini, hanya ada kursi kosong.

Budi yang pertama tertawa atas leluconnya sendiri. Beberapa detik kemudian, Ari dan Rizki tertawa canggung. Namun tidak lama setelah itu, ketiganya tertawa seperti biasa.

“Ah, Herman.”

“Gue kangen dia,” kata Ari lirih.

Ketiganya kemudian berhenti tertawa. Keheningan sempat mengambil alih selama beberapa saat, sampai akhirnya Rizki berkata, “Gue tidur ah.”

“Gue juga. Ngantuk.” Budi mengikuti Rizki bangkit dari sofa. Ari kemudian mengambil remote dan mematikan TV. Setelah itu, ketiganya masuk ke kamar masing-masing, mematikan lampu, lalu terlelap.

Di tengah malam buta, Rizki terbangun oleh sebuah suara jeritan. Sepertinya jeritan pria muda, mungkin salah satu dari temannya, Ari atau Budi. Ia terbangun di kasurnya lalu terduduk. Namun, suara jeritan itu berhenti, digantikan oleh suara embusan napas berat yang teratur, diselingi sesekali suara geraman pelan. Dipandangnya sekeliling ruangan, dan alangkah terkejutnya ketika ia melihat sebuah sosok duduk di atas kursi belajarnya.

Sosok itu adalah Herman!

Kedua mata Rizki membelalak, tak percaya apa yang dilihatnya. Herman menatap tajam ke arahnya. Pakaiannya lusuh, dan ia terlihat lebih kurus dari biasanya, dengan kedua pipi yang terlihat lebih cekung dan dagu yang seakan tergantung lemas di bawah bibirnya. Dalam kegelapan, pandangan mata Herman yang biasanya terlihat lugu kini menyala merah, sehingga Rizki tidak bisa mengingat bisa melihat titik hitam di pupil mata temannya atau entah makhluk apa itu.

Seluruh punggung Rizki terasa dingin. Kedua tangan dan kakinya kaku. Mulut Rizki kini membuka lebar, tapi suara jeritannya tidak bisa keluar. Suaranya tercekat di tenggorokan.

Menyusul suara napas berat yang diembuskan makhluk menyerupai Herman itu, perlahan mulutnya membuka lalu terdengar ucapan.

“APA LIAT-LIAT?”

Kali ini jeritan Rizki lepas tak terkendali, sebelum ia jatuh tak sadarkan diri di tempat tidurnya.

***

“Gue mimpi aneh semalam, gue didatangi almarhum Herman.”

Perkataan Ari itu membuat Rizki tercengang, sehingga langkah kakinya yang tadinya mengarah ke kamar mandi terhenti di koridor.

“Gue… juga.”

Kali ini ekspresi Ari berubah terkejut mendengar jawaban Rizki.

“Dia terlihat serem dengan pakaian lusuh dan mata merah menyala…”

“Persis!” potong Rizki. “Gue juga lihat itu.”

“Yang gue ingat, gue sempat menjerit, setelah itu langsung gelap.”

“Persis seperti yang terjadi ama gue. Entah gue pingsan atau mimpinya berhenti.”

Saat itu sudah pagi dan matahari sudah cukup tinggi, tapi Ari dan Rizki saling bertukar pandangan ketakutan.

Keheningan yang mencekam itu dikagetkan oleh suara pintu membuka. Keduanya tersentak, dengan jantung hampir copot. Ternyata Budi melangkah keluar dari pintu kamarnya, dengan ekspresi ketakutan yang sama.

“Semalam aku kebangun setelah mendengar dua jeritan. Satu suara kamu,” ia menunjuk ke Ari, kemudian Rizki. “Satunya lagi kamu.”

Kedua teman yang ditunjuknya hanya diam mematung, sehingga Budi berkata lagi.

“Kalian melihatnya juga?”

Ari dan Rizki mengangguk bersamaan.

“Kita bertiga bermimpi hal yang sama di malam yang sama?” Ari akhirnya bersuara. “Aneh sekali.”

“Bagaimana jika itu bukan mimpi?” Budi balik bertanya. “Bagaimana jika itu memang Herman?”

Ari tertawa canggung. “Jangan bercanda…”

Budi menggeleng. “Ini serius. Kalau tadi aku dengar pembicaraan kalian, sepertinya kalian berdua benar-benar melihat Herman. Tapi saking ketakutannya, kalian langsung pingsan.”

Setelah mengatakan itu, Budi melangkah ke kamarnya. Kedua temannya mengikuti.

“Sepertinya yang pertama didatangi itu Ari, lalu kamu, Ki,” sambung Budi sambil menatap Rizki.

“Berarti yang gue denger itu suara jeritan Ari?”

Budi mengangguk. “…aku juga terbangun pas Ari menjerit. Aku terduduk di tempat tidur, kukira suara itu dari luar. Tapi beberapa saat kemudian, aku dengar giliran kamu yang menjerit.”

Kali ini Ari dan Rizki diserang perasaan dingin merinding yang sama dengan yang mereka rasakan di ‘mimpi’ semalam.

“Aku baru mau bangkit dari tempat tidur untuk melihat keluar, tapi tiba-tiba aku melihat Herman berdiri di depan pintuku,” Budi menyambung ceritanya, kali ini dengan suara bergetar. “Matanya yang merah menyala menatap tajam kepadaku sambil berkata…”

“APA LIAT-LIAT?”

Ketiganya berseru berbarengan. Setelah itu ketiganya langsung menahan napas.

“Berarti kita bertiga bermimpi yang sama di waktu yang hampir sama,” Ari bersikeras, tapi Budi menggeleng cepat.

“Seperti yang aku bilang, itu bukan mimpi,” sanggah Budi lalu berhenti di depan pintu kamarnya. “Berbeda dengan kalian, aku tidak pingsan. Aku malah berdiri dan melangkah menghampiri sosok Herman itu. Namun, begitu aku berdiri, dia tiba-tiba menghilang. Padahal pintu tertutup rapat.”

“Jadi maksud lo…” Rizki ingin melontarkan kesimpulan menyeramkan di benaknya. “Yang kita lihat itu adalah han…”

Budi memotong perkataan itu, “Penasaran, aku berjalan ke arah pintuku, dan memang pintu tertutup rapat dan tidak ada orang di situ. Tapi alangkah kagetnya aku ketika melihat di lantai…”

Ia membuka pintu kamarnya lalu menunjuk ke arah sesuatu berwarna kecokelatan berceceran di sekitar pintunya.

“Itu… tanah?”

“Ceceran tanah, berbentuk tapak kaki.”

Budi dan Rizki menahan napas.

“Di kamar gue juga ada!” terdengar suara Ari di kamarnya. “Bentuk tapak kaki telanjang manusia dari tanah.”

Penasaran, Rizki bergegas ke kamar tidurnya untuk memeriksa. Ternyata ia juga menemukan ceceran tanah di sekitar meja belajarnya.

“Ini tanah dari mana…”

Ketiganya langsung tidak habis pikir. Jalan-jalan di gang sekitar rumah kos mereka merupakan aspal beton, sehingga bekas tanah itu merupakan misteri besar. Satu-satunya kesimpulan yang mereka bisa pikirkan adalah…

Tanah itu adalah tanah kuburan.

Ari, Rizki, dan Herman lalu saling bertukar pandangan penuh rasa takut. Di dalam benak mereka terdapat pikiran yang sama.

Persahabatan memang lebih besar dari kehidupan.

…juga melibatkan kematian.

***

*Terinsipirasi oleh kejadian nyata. Nama-nama karakter disamarkan*

Advertisements

One thought on “‘APA LIAT-LIAT?’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s