Gratitude to My ‘Publicists’

Bagi seorang penulis buku, siapa orang-orang paling berperan dalam hal-hal teknis mempromosikan buku? Penerbit, tentu saja. Tapi jika di-breakdown lagi, siapa ‘aktor’ di dalam penerbit yang bertanggung jawab dalam promosi sebuah buku? Jika ada yang menjawab editor, bisa ya bisa tidak. Editor memang berperang sangat penting dalam membuat konsep buku bersama-sama dengan penulis dan bertanggung jawab sampai naskah itu terbit. Namun, untuk urusan memasarkan, ada pihak-pihak lain yang lebih berperan. Siapa mereka?

Di film-film Hollywood, kita mengenal istilah publicist atau agen penulis, yaitu seseorang yang mengatur jadwal promosi si penulis itu. Kebanyakan, para publicist hanya jadi figuran, dan seingat saya tidak ada publicist di film yang berakhir enak. Di film Before Sunset, agen yang mengurusi promosi Jesse (Ethan Hawke) di Paris sudah memesan penerbangan penulis tersebut untuk pulang ke Amerika, tapi sang protagonis malah asik mengejar rasa penasaran akan cinta masa lalunya sehingga mengabaikan pesawat yang seharusnya ditumpanginya. Sedangkan di Scream 4 lebih mengerikan, publicist-nya karakter Sidney Prescott (Neve Campbell) menjadi salah satu korban pertama yang terbunuh. *maaf spoiler*

Lah, malah jadi ngebahas pilem?

Di Indonesia, istilah agen penulis mungkin masih asing. Di penerbit saya, GagasMedia, terdapat personil sendiri yang mengurusi kegiatan-kegiatan promosi penulis. Terdapat dua jenis kegiatan promo yang bisa dilakukan oleh penulis, yaitu promosi on-air dan off-air, atau di zaman digital ini, online dan offline. Promosi on-air contohnya siaran di radio atau televisi. Promosi online, seperti namanya, bisa dilakukan dengan membuat kuis di social media atau sekadar meng-update status tentang buku. Promosi off-air dan offline adalah kegiatan yang turun langsung bersentuhan dengan pembaca, seperti talkshow di toko buku atau sekolah-sekolah.

Sejak buku pertama saya, Here, After terbit, hingga akhirnya novel terbaru saya Rhapsody beredar di pasaran, saya banyak terbantu oleh kehadiran para staf promosi di GagasMedia. Singkatnya, mereka adalah orang-orang yang mengatur event di mana saya harus tampil, lalu menjemput saya di rumah. Dengan sabar, mereka menanti saya selesai talkshow, mengambil dokumentasi selama acara dan menyampaikan update-nya lewat media sosial. Selesai? Belum. Mereka masih harus mengantar saya sampai kembali ke rumah, safe and sound. Meskipun pada akhirnya mereka sendiri baru sampai di rumah masing-masing larut malam dalam kondisi kurang istirahat.

Di luar itu, mereka masih harus bertugas mempromosikan karya-karya para penulis baru dan lama, tua dan muda, laris dan kurang laris dalam porsi yang sama. Mereka membangun relasi dengan rekan-rekan sejawat di media-media lain, dengan tujuan agar buku-buku penulis bisa dimuat di majalah, koran, atau mendapat jadwal interview di radio.

Sayangnya, seringkali orang-orang ini off-radar. Banyak yang tidak menyadari andil mereka. Namanya juga figuran, toh?

Padahal, saya merasa sangat, sangat terbantu oleh kehadiran para staf promo ini. Sebagai ‘orang biasa yang menerbitkan buku’, bukan ‘public figure yang menerbitkan buku’, saya tidak punya manajer. I am my own manager. Tapi tetap saja, untuk urusan dengan para pihak eksternal demi promo, saya butuh bantuan dari para staf promo.

Di sinilah mereka sangat membantu saya. Dari hal-hal kecil seperti memasukkan nama saya sebagai pengisi acara di suatu event, memesan mobil travel untuk transportasi saya (tidak jarang malah merangkap sopir, nyetir sendiri), mengurus banner dan materi promosi lainnya, hingga melipat kembali banner atau mengatur display buku saya di lokasi promo. Kadang-kadang, para ‘unsung heroes‘ ini malah harus melawan their own biggest fear showing up in public dengan cara menjadi MC acara talkshow.

Ladies and gentlemen, please give applause to these people.

Nah, tiap pekerjaan pasti ada tantangan dan sisi nggak enaknya. Jika saya meluangkan waktu untuk berada di perspektif para staf promo, maka saya akan menyebutkan satu saja hal yang tidak menyenangkan: being disrespected.

Tidak jarang, ada penulis yang tidak mengerti konsep promosi dari penerbit ini. Dianggapnya para staf promo ini adalah pelayan yang siap membantu dengan sikap ‘at-your-service, Your Highness’. Akhirnya si penulis mengabaikan semua atau beberapa konsep atau jadwal promo dari para staf promo.

Pernah kejadian, para staf promo sudah bekerja keras membuatkan event promo untuk si penulis, eh si penulis malah telat datang. Bukan begitu saja, si penulis, entah menganggap dirinya-lah center of the world atau bagaimana, nyaris tidak pernah ngobrol sambil menatap mata si staf promo. Baginya, para staf promo tidak lebih dari sekadar pelayan, sopir, sekretaris, tukang lipat banner, dan semacamnya.

Padahal, staf promo adalah perwakilan dari penerbit. Ini konsep yang sudah umum: penulis dan penerbit memiliki posisi yang setara. Tidak ada yang lebih di atas atau lebih di bawah.

Atau, nggak usah dulu ngomongin konsep apapun deh. Sikap menghargai orang lain itu kan sebenarnya tata krama yang paling dasar. Bagaimana kita saling menghargai sesama manusia. Pelajaran PPKN, anybody?

Jadi, jika ada penulis yang semena-mena pada staf promo karena ngerasa dirinya superstar atau sedang naik daun seperti ulat sagu, send them back to elementary school untuk ngulang PPKN aja lah.

Sorry for getting emotional, but I have spent time, maybe too much time with my friends from staf promosi GagasMedia, and I must say that they are some of the coolest people in the world. Jika postingan ini belum bisa mengerakkan orang-orang untuk lebih menyadari jasa-jasa staf promosi, minimal anggap saja sebagai pernyataan mengapresiasi dan mega-apresiasi kehadiran teman-teman baik yang telah mewarnai hidup saya tersebut.

Ladies and gentlemen, I give you, my great friends (and ‘promo people’ of GagasMedia):

–          Aveline Agrippina (@_agrippina)

–          Mudin Em (@omemdisini)

–          Chyntia Kartika Sari (@ciboaccy)

–          Tasya Anugerah (@tasyaugie)

–          Badru Alwahdi (@badrualwahdi)

BhFRPt0CAAI74np

Teppy (paling kiri), Nina (ketiga dari kanan) dan saya (kedua dari kanan), bersama para ‘publicist: Chyntia (paling kanan), Bedu (kedua dari kiri) dan Ugi (ketiga dari kiri)

 

Advertisements

One thought on “Gratitude to My ‘Publicists’

  1. Membaca postingan ini lalu lanjut membaca live tweet WIndy tentang #EditorStory benar2 membuat terharu sekaligus berpikir.
    Terimakasih sudah berbagi 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s