RIP Robin Williams

Dalam suatu tahap dalam kehidupan, kita akan menghadapi saat-saat yang lebih buruk daripada kematian kita sendiri, yaitu kematian orang-orang yang kita sayangi. Di usia saya yang sudah menginjak penghujung usia 20-an, saya masih tergolong beruntung. Kedua orangtua saya masih lengkap dan masih sehat walafiat. Saya juga bersyukur nenek saya tercinta masih hidup meski kesehatan beliau sudah jauh menurun. Meski demikian, kenyataan bahwa masih ada sosok fisik beliau untuk memeluk dan mencium saya cukup menyenangkan dan menenangkan.

Namun, seiring dengan tumbuhnya saya menjadi semakin dewasa, beberapa teman saya dijemput lebih awal oleh Yang Maha Kuasa. Seperti seseorang pernah berkata kepada saya, ‘Manusia itu seperti tanah liat. Ia dibentuk oleh manusia-manusia lain yang datang dan menyentuhnya.’ Maka, ketika mengetahui teman-teman dekat saya telah tidak ada lagi di dunia ini, kesedihan mengusik diri saya, seakan bagian di dalam hidup saya yang telah disentuh mendiang teman saya ikut mati.

Di tulisan ini saya tidak akan membahas teman-teman saya yang telah meninggal. Too depressing. I’ll talk to you in person if you want to talk about them. Kali ini, saya hanya ingin menulis tribut kepada seorang aktor yang meninggal dua hari yang lalu. Seorang komedian hebat yang telah menyentuh jutaan hidup di dunia ini.

Robin Williams.

images

Salah satu film layar lebar pertama yang saya tonton semasa kecil adalah Aladdin, produksi Disney di awal dekade 90-an. Film yang saya tonton lewat teknologi Laser Disc itu sangat berkesan, terutama karakter jin botol bertubuh biru yang penuh humor. Ditambah dengan soundtrack ‘A Whole New World’-nya Peabo Bryson dan Regina Belle yang mendunia, Aladdin adalah film fenomenal di masa kecil saya.

Beberapa tahun kemudian baru saya ketahui bahwa pengisi suara sang Jin adalah pria yang sama dengan pemeran utama Jumanji (1995), yaitu Robin Williams. Film Jumanji cukup mind-blowing juga bagi saya yang saat itu masih berusia di bawah 10-tahun. Cerita karakter Williams yang terjebak di alternate reality selagi kehidupan nyatanya terus berjalan cukup menghantui saya. Bayangin, gara-gara kalah di permainan mistis Jumanji, karakter anak kecil seumuran saya itu harus terdampar di hutan rimba selama lebih dari 20 tahun. Ketika permainan itu diteruskan 20 tahun kemudian, ia kembali ke dunia nyata. Namun, segala sesuatu di sekelilingnya telah berubah. Semua orang yang ia kenal tidak lagi muda, dan beberapa malah sudah meninggal.

Depressing, kan?

Untungnya, Williams punya banyak film menyenangkan yang mewarnai perjalanan hidup saya tumbuh dewasa. Berhubung saya juga seorang moviegoer, saya tidak ingin ketinggalan film-film sang maestro. Ada film-film Flubber dan Patch Adams, serta seri-seri Night at the Museum sebagai film-film keluarga yang menyenangkan. Dari ranah film-film serius, Williams juga bermain di film-film inspiratif seperti Dead Poets Society, Bicentennial Man dan Good Will Hunting.

Dari semua judul itu, Dead Poets Society termasuk yang paling intriguing, karena saya tonton sewaktu tahun-tahun pertama kuliah. Sebagai seorang pemuda yang sedang mencari jati diri, peran Williams sebagai seorang guru bernama John Keating cukup kontroversial, sekaligus menginspirasi. Pak Guru Keating menggunakan puisi sebagai landasan ajarannya, sehingga menumbuhkan pandangan free spirit dan eksistensialisme dalam diri murid-muridnya. Ia mengajarkan agar generasi muda tidak begitu saja tunduk pada kenyataan dan selalu percaya pada mimpi-mimpi mereka.

No matter what anybody tells you, words and ideas can change the world.” – John Keating (Robin Williams), DEAD POETS SOCIETY

Selain itu, sebuah scene memorable dalam Dead Poets society menunjukkan salah satu metode Keating yang sama sekali tidak biasa. Ia berdiri di atas meja dan bertanya kepada murid-muridnya.

John Keating: “Why do I stand up here? Anybody?” (Ada yang tahu kenapa saya berdiri di atas meja?)

Salah seorang murid menjawab: “To feel taller! (Supaya lebih tinggi!)

John Keating: “No!” (Bukan!)

I stand upon my desk to remind myself that we must constantly look at things in a different way.”

(Tujuan saya berdiri di atas meja adalah mengingatkan diri saya untuk selalu melihat segala sesuatu dari sisi yang berbeda)

Dialog-dialog itu sangatlah menggugah. Meski kita harus mengacungi jempol kepada para penulis naskah, tanpa penjiwaan karakter Keating yang dilakukan Robin Williams, efeknya tidak akan sedalam itu.

Maka, ketika mendengar Robin Williams meninggal karena bunuh diri, saya bergabung dengan jutaan orang di dunia ini yang ikut bersedih. No, I don’t know him personally. No, I’ve never met him in person. But there are so many things inside me that he contributed in shaping.

Rest in peace, Robin. You’ll be remembered. 

…and, it’s not your fault.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s