The Perks of Being A Lecturer

“Kamu sadar kan, kalau dengan berkarir sebagai dosen, penghasilan kamu akan jauh di bawah kalau kamu kerja di corporate?”

Saya mengangguk mendengar pertanyaan itu. Ya, mau gimana lagi? Itu kan sudah fenomena umum di Indonesia. Bapak yang meng-interview saya kayaknya masih belum puas.

“Sebagai lulusan S2 dari luar negeri, kenapa memangnya kamu ingin jadi dosen?”

Saya menarik napas dalam-dalam. Saya sudah siap dengan pertanyaan ini. “Saya senang berada di lingkungan generasi muda, karena saya ingin membentuk cara berpikir mereka ke arah yang lebih positif.”

Ekspresi Si Bapak interviewer terlihat semakin skeptis. Alisnya terangkat.

“Yakin kamu? Meskipun ini berarti dengan mengabdi sebagai dosen, kamu nggak akan bisa jadi orang kaya?”

Jadi orang kaya kan bukan cuma bergelimang harta, Pak. Tapi juga kebahagiaan. Ah, tapi saya mengurungkan niat mengeluarkan kata-kata itu. Soalnya pasti akan terdengar cheesy dan membuat si Bapak makin skeptis.

“Saya yakin, Pak.”

“Tadi apa alasan kamu mau jadi dosen?” Si Bapak mengulangi pertanyaannya, atau ingin mengetes lagi. Saya kembali menarik napas dalam-dalam.

Saatnya mengeluarkan jawaban pamungkas setiap kali ada yang nggak puas dengan alasan idealistis saya ingin berkarir sebagai dosen.

“Bapak saya juga dosen, Pak.”

Si Bapak lalu menyilangkan tangan dan memasang ekspresi puas, seakan sudah menemukan sesuatu yang sejak tadi susah-payah dicarinya.

***

Sudah hampir satu setengah tahun sejak kembali ke Indonesia pasca lulus kuliah dan mengikuti interview itu, kini saya berkarir di sebuah universitas swasta di Bandung, Indonesia. Minggu depan, Ujian Akhir Semester genap akan berlangsung, sekaligus menandai dua semester saya berkarir di universitas tersebut.

Saya cukup bersyukur, karena meskipun universitas ini tergolong baru, reputasi universitas ini sudah cukup terkenal. Maklum, universitas ini berdiri di bawah yayasan salah satu BUMN terbesar Indonesia. Satu hal yang perlu disyukuri pula bahwa besarnya kompensasi yang saya terima cukup di atas rata-rata tenaga pengajar pada umumnya di kota ini. Apa yang saya cari pun sedikit banyak tercapai. Punya desk sendiri? Check. Kesempatan mengajar dengan materi out-of-the-box, pengembangan dari materi kuliah yang biasanya membosankan (setidaknya menurut saya pribadi)? Check. Berpartisipasi di seminar-seminar nasional dan internasional? Check. Doktrinasi mahasiswa agar tidak hanya academically smart tapi juga socially smart? Check. Err, at least I hope so.

Namun, selain semua sisi menyenangkan di atas, kadang-kadang sedih juga karena seringkali menemukan kenyataan-kenyataan seperti ini:

– Dosen sering dianggap sebagai pekerjaan nyantai. Memang tidak semuanya, tapi banyak orang yang baru memilih jadi dosen setelah sudah merasa letih bekerja di korporat. Akibatnya, fresh graduate S2 seperti saya dianggap aneh ketika di usia kepala dua lebih memilih jadi dosen daripada bertarung di dunia korporasi, seperti terlihat di adegan wawancara di pembukaan postingan ini

– Mahasiswa terlantar karena dosen-dosennya terlalu sibuk nyari duit di luar. Deja vu sewaktu saya kuliah S1 nih. Nggak ada salahnya sih, toh apa saja diperbolehkan asal halal. Sayangnya, kadang masih ada aja dosen yang gagal berkomitmen dengan jadwalnya, sehingga kasihan mahasiswa udah datang ke kampus buat kuliah, bimbingan, atau bahkan sidang, tapi dosennya nggak ada.

– Mahasiswa malas membaca. Buat saya, this is intolerable. Zaman sekarang mahasiswa terbuai oleh kecanggihan teknologi sehingga jadi malas membuka-buka buku atau jurnal. Padahal, membaca kan bukan hanya untuk bisa menjawab soal-soal ujian atau pertanyaan dosen, melainkan juga untuk membuka wawasan seluas-luasnya.

– Dosen malas menulis. Nah, biasanya disebabkan juga karena malasnya para dosen membaca. This is super-pathetic. Padahal mahasiswa kan harus mencontoh dosennya?

– Bantuan publikasi kurang. Poin sebelumnya biasanya disebabkan juga oleh alasan ini. Dosen-dosen harus menulis dan mempublikasikan karya ilmiah mereka agar bisa didiskusikan di lingkungan akademik. Tapi publikasi, baik berupa pemuatan di jurnal maupun presentasi di seminar atau konferensi, kan butuh dana tidak sedikit. Seringkali, kampus maupun pemerintah kurang concern dengan masalah ini. Akibatnya, banyak dosen yang sangat potensial tapi tidak memperoleh kesempatan karena sulitnya pendanaan.

Dodosenan. Istilah ini dikeluarkan oleh rekan saya sesama dosen. Bitter truth yang sudah umum terjadi di Indonesia adalah jika seseorang susah dapat kerja profesional di korporat-korporat atau terlalu malas untuk berwirausaha, pemecahannya adalah dengan mendapatkan status dosen. Toh dengan modal duduk di depan kelas, slide usang yang sudah dipakai bertahun-tahun atau terkadang copy dari internet, lalu menjelaskan materi selama satu-dua jam, bisa dapat duit. Jadinya asal-asalan deh. Padahal, ya, itu tadi, dosen atau tenaga pengajar, selain menjadi penyampai materi, seharusnya juga bisa meneruskan inspirasi dan membuka wawasan para mahasiswa. Demikianlah refleksi kurang-lebih setahun saya berkarir sebagai tenaga pengajar di sebuah universitas. Ada yang bernasib sama?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s