Introducing: IBI

Postingan ini masih tentang Sunset Holiday.

Senang rasanya melihat novel baru yang saya tulis bersama Nina Ardianti ini mendapat sambutan yang lumayan bagus. Ini terlihat dari hampir semua review di Goodreads yang (syukurlah) pada umumnya suka. Dari beberapa review yang membahas karakter secara mendalam, saya melihat banyak yang menyukai karakter utama prianya, yaitu Ibrahim Taulani (Ibi).

Nah, di sini, saya ingin cerita sedikit tentang inspirasi utama saya dalam membuat karakter Ibi. Sebenarnya saya jarang banget bikin karakter untuk novel dimulai dari ciri-ciri fisiknya. Satu-satunya karakter di novel-novel saya sebelumya yang saya tonjolkan ciri fisiknya adalah karakter Miguel di Rhapsody. Meski saya gambarkan mirip pesepak bola Fernando Torres, saya tetap permantap dengan kepribadiannya yang kuat, bagaimana Miguel Carrion digambarkan selalu ceria dan menginspirasi.

Khusus karakter Ibi di Sunset Holiday, sebenarnya ia sudah ada di dalam benak saya sejak bertahun-tahun lalu. Jadi ceritanya, beberapa tahun lalu, saya berceloteh di Twitter mengomentari beberapa pemain sepak bola (bukan rahasia lagi, kan, kalau saya penggemar sepak bola). Tiba-tiba, seseorang (entah follower saya atau cuma nyamber aja) ikut berkomentar membahas topik yang sama. Dari percakapan kami, pengguna Twitter itu, yang seorang wanita, menyebut-nyebut nama Ibrahim ‘Ibi’ Afellay sebagai pemain idolanya.

Itu membuat saya sangat tertarik. Pertama, nama Afellay tidaklah sepopuler Cristiano Ronaldo, meskipun kegantengannya bolehlah diadu (just look at the attached pic and tell me what you think!). Pemain berkebangsaan Belanda keturunan Maroko ini memang pernah bermain di klub besar, yaitu Barcelona. Namun, sayang ia bernasib naas karena terkena cedera sehingga absen dari pertandingan apa pun selama dua tahun (kalau tidak salah ingat).

1438079087-Ibrahim-Afellay-Resmi-Berseragam-Stoke-City

sumber foto: Guardian

Sejak momen magisnya di tahun 2011, yaitu memberi umpan matang yang diselesaikan menjadi gol oleh Lionel Messi di semifinal Liga Champions melawan Real Madrid, Afellay pun menghilang akibat cedera. Setelah sembuh, ia jarang sekali diturunkan untuk membela Barcelona, sehingga ia memilih untuk dipinjamkan ke Schalke 04 di Liga Jerman, lalu ke Olympiakos di Liga Yunani. Makin jarang aja wajah ganteng Ibi-di-kehidupan-nyata ini terlihat di televisi, kan? Untungnya, di tahun 2015 ini, ia dikontrak oleh Stoke City, klub papan tengah di Liga Inggris.

Lumayanlah. Bisa sering-sering lihat aksi-aksi Ibi Afellay lagi.

Namun, benak saya tetap menyusun penampilan fisik Ibi Afellay sebagai protagonis utama yang sewaktu-waktu bisa saya keluarkan apabila saya menulis suatu cerita romance yang membutuhkan protagonis pria yang charming dan terlihat pintar. Sex-appeal-nya terasa lumayan menonjol (objectively speaking from a male perspective, lho, hehehe), aura good boy dan bad boy-nya juga cukup seimbang. Ketika Nina dan saya berkomitmen untuk menulis Sunset Holiday, Ibi Afellay pun serta-merta berubah menjadi Ibrahim ‘Ibi’ Taulani. Demi mempertahankan ciri-ciri fisiknya yang berdarah Arab, deskripsinya pun ditambah: Ibi Taulani adalah pemuda Batak keturunan Arab generasi ketiga yang besar di Jakarta dan kuliah di Swiss.

Profesi sambilannya pun tidak jauh-jauh: jurnalis sepak bola freelance. Hahaha.

Saya nggak tau, apakah persepsi kita tentang karakter ganteng kita sama. Lalu, namanya juga karya fiksi, siapa pun berhak berimajinasi tentang penampilan lakon-lakonnya. Tapi, jika saya ditanya siapa yang menjadi dasar inspirasi saya membuat karakter Ibi, jawaban saya adalah: IBI!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s