Memuja Sosok Alfred

Di balik pria jagoan terdapat pria yang hebat.

Tunggu sebentar, itu terdengar salah.

Kalimat pembuka postingan ini saya ulangi, ya:

Di balik pria hebat terdapat pendukung yang luar biasa.

Ini sedikit banyak berkaitan dengan Batman v Superman. Yap, film yang membuat para kritikus maupun penonton awam terbelah antara suka banget dan benci banget. Antara yang memuji filmnya bagus sekali atau mengutuknya karena dianggap jelek mampus.

Tapi di sini, saya tidak ingin mengomentari film superhero mengecewakan ke-dua dari Zack Snyder setelah Man of Steel (2013) itu. Ke-tiga, jika menghitung Sucker Punch (2007) yang juga saya anggap jelek. Saya ingin sedikit membahas hal yang banyak dikesampingkan orang. Yaitu tentang sosok pendukung yang selalu ada di belakang sosok Batman.

Alfred Pennyworth.

Pertama, saya harus mengatakan ini keras-keras: hal terbaik dari film Batman v Superman yang mengecewakan tersebut adalah karakter Alfred yang diperankan oleh Jeremy Irons. Sosok pengawal, atau bahkan mungkin bisa dibilang asisten rumah tangga Bruce Wayne ini, menjadi sangat berbeda di bawah penghayatan Mister Irons. Aktor watak Inggris ini menyulap Alfred menjadi bukan hanya sekadar asisten, melainkan juga sidekick bagi sang manusia kelelawar.

Saya paling ingat penampilan Irons ketika memerankan Simon Gruber, penjahat dalam Die Hard with A Vengeance (1995) dan sebagai Aramis, salah satu ksatria Musketeer dalam The Man in the Iron Mask (1998). Dalam BvS, Alfred versi Irons menjadi scene stealer dengan perkataannya yang seringkali sarkastis, tapi masih terbalut sopan-santun aristokrat. Contohnya ketika adegan Alfred membereskan botol wine yang dihabiskan oleh Bruce. Ia berucap setengah menggerutu kepada tuannya itu:

I hope the next generation of Waynes won’t inherit an empty wine cellar. Not that there’s likely to be a next generation…

Sampai sekarang saya masih terkikik geli jika mengingat adegan tersebut.

Alfred Versi Michael Gough dan Michael Caine

Jauh sebelum BvS, karakter Alfred diperankan oleh almarhum Michael Gough dalam empat seri film Batman, yaitu Batman (1988), Batman Returns (1989), Batman Forever (1995) dan Batman & Robin (1998). Di keempat seri ini, karakter Alfred tidak terlalu menonjol. Selain pemerannya, Michael Gough, memang sudah berusia renta, naskah di keempat film tersebut memang sepertinya tidak memberi ruang bagi karakter sang pelayan untuk berkembang.

Meski demikian, ada satu adegan yang saya selalu ingat di film Batman & Robin. Meski film tersebut dikritik sana-sini karena kualitasnya yang dianggap berantakan, porsi subplot tentang Alfred paling banyak justru di film ini.

Ini juga cerita paling mengharukan karena membahas hubungan Bruce (George Clooney) dan Alfred yang cukup jarang diangkat. Sedihnya lagi, di film ini Alfred dikisahkan sakit parah tapi berusaha keras menyembunyikan sakitnya dari orang-orang yang dicintainya.

Sedangkan perkataan dari seorang Alfred yang berkesan bagi saya dan mungkin ribuan penonton lain adalah dalam Batman Begins, di mana Alfred diperankan oleh Michael Caine.

Why do we fall sir? So that we can learn to pick ourselves up.

Terakhir, versi Alfred yang juga cukup keren adalah versi Sean Pertwee di serial Gotham. Di serial tersebut, Mr. Pennyworth dikisahkan baru saja pensiun dari militer Inggris, dan masih shock akan terbunuhnya majikannya, Thomas Wayne. Namun, ia harus bertindak sebagai pengasuh sekaligus mentor bagi Bruce Wayne yang masih sangat muda.

gallery-ustv-gotham-s01e05-viper-03

Alfred dan Bruce Wayne muda di serial Gotham (foto dari digitalspyuk.net)

Ah, saya jadi ingin punya sosok teman atau mentor seperti Alfred!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s