The Dim Reading Lights

Screen Shot 2016-08-27 at 4.30.30 PM

Ketika menemukan pengumuman di atas lewat Facebook, rasa sedih memenuhi diri saya. Reading Lights, kafe-buku tempat saya membaca, menulis, melamun, berdiskusi dengan rekan-rekan ‘sefrekuensi’, membeli buku bekas, serta menggantungkan impian selama kurang lebih 10 tahun terakhir.

Reading Lights bukan tempat asing bagi warga Bandung, khususnya para pecinta buku. Nama tempat ini bahkan terkenal juga sampai ke Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia. Alasannya adalah tempat yang cukup cozy bahkan terbilang homey, koleksi buku asing yang cukup banyak, ruang berkembang bagi komunitas, juga pilihan minuman kopi yang membuat banyak orang jatuh cinta.

Bagi saya pribadi, Reading Lights adalah tempat yang menyisakan banyak memori. Poin terakhir di pengantar tulisan ini adalah sebab utama. Ketika saya masih duduk di bangku kuliah, ke sinilah tujuan saya melarikan diri dari hiruk-pikuknya lalu lintas di luar. Dengan membaca buku-buku traveling dan edisi lama majalah National Geographic yang tersusun rapi di rak-rak kafe-buku ini, saya mulai merajut mimpi untuk berpetualang ke luar negeri. The rest was history. Efek nama yang diusungnya ternyata jauh lebih besar. Reading Lights seolah berubah menjadi ‘mercusuar’ bagi saya.

Tidak lama setelah sering menghabiskan waktu di tempat ini, kesempatan untuk menjelajahi dunia mulai terbuka bagi saya. Dimulai oleh tawaran beasiswa pertukaran pelajar selama 6 bulan di Australia pada tahun 2007. Hubungannya dengan Reading Lights? Saya menghabiskan berjam-jam menulis esai aplikasi beasiswa itu di meja bundar, dengan bermodal segelas kopi Neil Gaiman (nama salah satu menu kopi di sana)  dan deretan buku-buku menjadi saksinya.

Setelah sempat meninggalkan Bandung untuk bekerja di Jakarta selama kurang lebih 2 tahun, lalu lanjut kuliah S2 di Swiss juga 2 tahun, sampai akhirnya saat ini menetap untuk bekerja di Bandung, saya selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke Reading Lights selama satu-dua tahun terakhir. Meski koleksi majalah dan bukunya sudah tidak sebanyak 8-9 tahun lalu, sesekali saya masih menemukan ‘harta karun’ di sini. Beberapa favorit saya adalah biografi Ingrid Bergman, edisi paperback ‘Fight Club‘-nya Chuck Palahniuk (salah satu penulis yang akhirnya menjadi favorit saya), juga buku langka ‘The Beach‘ karangan Alex Garland (yang segera menjadi novel thriller bertema traveling favorit saya). Ketiga buku bekas tersebut saya beli dengan harga tak lebih dari 40-ribu rupiah per buku.

Saat ini, saya menulis postingan blog ini di salah satu meja berbentuk bulat yang terletak di sudut ruangan Reading Lights. Tempat ini sudah menjadi semacam tempat wajib saya jika berkunjung ke sini selama 3-4 tahun terakhir. Saat ini, suasana kafe yang biasanya sepi kini ramai pengunjung. Dari hasil menguping, saya berkesimpulan kebanyakan dari mereka datang ke Reading Lights karena tergerak oleh pengumuman di Facebook. Semua pengunjung ingin menawarkan rumah bari bagi ‘serpihan-serpihan’ Reading Lights yang beberapa hari ke depan akan segera tutup. Berbagai perabot dari kursi, meja, lampu ruangan hingga rak buku dijual dengan harga miring. Berbagai variasi buku dari novel, biografi sampai buku anak juga didiskon 25 sampai 70 persen. Saya sendiri memungut dua ‘harta karun’ terakhir berupa dua buku biografi tokoh ternama, antara lain Russel Crowe dan Truman Capote, serta salah satu masterpiece Mario Puzo berjudul ‘The Family’. Total yang saya habiskan untuk membeli ketiga buku itu hanya 30-ribu rupiah!

Entah minggu depan bekas ruangan yang dulunya Reading Lights ini akan berubah menjadi tempat apa. Saya hanya bisa menikmati sore terakhir Reading Lights di meja bundar tempat biasa, sambil berusaha menuliskan berjuta kesan dan kenangan yang mustahil tertampung di satu postingan blog ini saja.

IMG_20160827_160437

Buku terakhir yang saya beli di Reading Lights. Lihat tulisan ‘terjual’ di meja.

IMG_20160827_162736

Rak Buku di Reading Lights yang mulai terlihat kosong

Beberapa cerita penikmat buku dan kopi lain tentang Reading Lights bisa dibaca di sini:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s