Untuk Miss Atomic Bomb, dari Mister Brightside.

Februari.

Kata orang ini bulan penuh cinta. Harusnya ada juga bulan penuh benci, dong? Kan segala sesuatu di dunia ini harus seimbang? Ah sudahlah.

Anyway, surat ini tertuju untuk Miss Atomic Bomb.

You’re gonna miss me when I’m gone…. *yah malah nyanyi*

Okay, here we go,

Dia mendambakanmu, menganggap sosokmu penuh dengan segala wife material yang diinginkannya sebagai pendamping hidupnya di masa depan.

Kau menyukai anak-anak, makanya dia menganggapmu sangat keibuan. Jika anak-anak kecil berada di sekelilingmu, senyumanmu menyatu dengan senyuman mereka. Dia menganggapmu Wendy yang bermain bersama anak-anak dari Wonderland Eh, apa itu Neverland, ya? Atau pabrik coklat Willy Wonka? Ah, peduli amat. Masa kecilku memang tidak bahagia.

Intinya, di imajinasi pria itu, dirimu telah menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya. Anak-anakmu. Anak-anak kalian. Dengan rumah yang besar dipenuhi pepohonan rindang, dengan si sulung dan kelima adiknya sedang bermain petak umpet di balik saung-saung yang menghiasi pekarangan rumah kalian. Hey, ada berapa sebenarnya anak kalian? Ah sudahlah, itu kan imajinasi dia saja. Biar dia saja yang menjelaskan mau punya berapa orang anak dari kamu.

Setiap kali kau dan dia menghadiri acara pernikahan, orang-orang di sekelilingmu pun membantu menggoreskan tinta di kertas naskah imajinasimu. “Kapan kalian menyusul?” “Doakan saja segera, Tante.” Ia pun segera melirik ke arahmu, tapi kamu hanya tersenyum penuh arti. Hatinya pun terasa hangat, dipenuhi dengan harapan-harapan bahwa semakin banyak acara kondangan yang kalian berdua datangi, semakin banyak yang mendoakan agar hubungan kalian berlanjut ke jenjang yang sama.

It feels just like a dagger buried deep in your back
You run for cover but you can’t escape the second attack

Dia mencintai segalanya dari dirimu. Ia selalu mengagumi rambut panjangmu, baik tergerai lurus maupun dikuncir. Ia merasa agak kecewa ketika kau memotongnya sependek model rambut Miley Cyrus, meski kemudian merasa kecantikanmu tak akan bisa dibingkai oleh model rambut apapun. Ia pun berusaha menyukai kulitmu yang lambat laun semakin gelap. Meskipun sebenarnya ia sangat berharap kulitmu akan kembali berubah menjadi kuning langsat seperti ketika ia pertama kali menyukaimu.

Cast out of the night, well you’ve got a foolish heart
So you took your place but the fall from grace was the hardest part

Makanya aku sangat membencinya. Aku membenci lelaki itu.

Dia pikir dia adalah orang yang paling mengagumimu apa adanya. Salah. Aku mencintaimu melebihi siapapun di dunia ini pernah mencintaimu. Darahku yang berdesir setiap kali melihat kulitmu menggelap setiap kali kau telah pulang dari suatu perjalanan. Entah bagian mana lagi dari nusantara ini yang telah kau jelajahi. Hanya lelaki itu saja yang kau kabari, meskipun ia tidak pernah mengerti maksud perjalananmu. Kau wanita penganut prinsip, “high mileage low maintenance”. Tak peduli kehilangan kulit indah kuning langsat yang pernah membuatmu jadi pujaan cowok-cowok di kampus. Kau juga rela memotong rambut panjang yang lebih indah dari rambutnya Annisa Pohan sewaktu masih lajang dan menggantinya dengan model pendek ala Miley Cyrus. Rambut panjang hanya akan menghambatmu dalam perjalanan-perjalananmu ke daerah-daerah lembap dan panas.

Lelaki itu tak pernah mengerti maksud perjalananmu ke pelosok-pelosok negeri kepulauan ini. Ia tak pernah mengerti puluhan pegunungan yang kau daki dan lautan yang kau selami demi menemukan kehidupan ideal yang menyatu dengan alam. Andai saja ia tahu bahwa kehangatanmu setiap kali berada di sekeliling anak-anak adalah buah dari gerakan sukarelawan yang telah kau geluti di desa-desa terpencil di Indonesia bagian timur. Di sana, belasan, mungkin puluhan anak telah kau giring ke bangunan sekolah dan kau ajar menyelam di lautan aksara, sehingga akhirnya mereka terbebas dari buta huruf.

Lelaki itu tidak pernah mengerti bahwa dirinya tidak lagi berada di rencana masa depanmu…

Memang keputusan yang tepat bagimu untuk meninggalkan dia.

Ketika ia telah resmi keluar dari kehidupanmu, terasa seperti ada pesta kembang api di dalam hatiku.

Kali ini sudah saatnya bagiku untuk masuk ke dalam kehidupanmu.

…dan berusaha menyamakan frekuensi mimpi-mimpiku dengan mimpi-mimpimu.

I was new in town, the boy with the eager eyes.

Open up my eager eyes

I’m Mr. Brightside.

*inspirasi iseng menjodohkan Mister Brightside dengan Miss Atomic Bomb ini datang dari lagu-lagu yang telah dipopulerkan oleh band The Killers, tentu saja*

Advertisements

Dirgahayu Indonesia ke-68

17 Agustus 2013. Untuk pertama kalinya saya terlibat lagi menjadi panitia pelaksana upacara bendera untuk peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia. Terakhir kali saya mengurus upacara bendera adalah lebih dari sepuluh tahun yang lalu, ketika saya masih duduk di bangku SMA.

Tahun ini, upacara bendera terasa spesial bagi saya karena tidak sedang berada di Indonesia, melainkan di Bern. Sebenarnya, tahun lalu saya juga sudah berada di ibukota Swiss ini. Namun, tahun lalu saya tidak terlibat menjadi panitia upacara karena sebagian besar musim panas saya habiskan di Turki untuk sebuah program volunteer. Alhasil, saat itu saya hanya menjadi peserta upacara biasa. Tahun 2007 lalu, sewaktu menjalani program exchange di Australia, saya juga melaksanakan upacara bendera tapi waktu itu pelaksanaannya sangat mendadak sehingga hanya terlaksana ala kadarnya.

Maka, upacara tahun 2013 inilah yang cukup berkesan bagi saya di usia kepala 20. Usia yang bagi banyak orang sudah cukup mikir secara mendalam akan arti kemerdekaan. Ehem, bagi kebanyakan orang, terutama di social media seperti Facebook dan Twitter, banyak juga di usia segitu yang menyikapi peringatan hari kemerdekaan dengan nyinyiran sinis dan sarkasme yang sebenarnya tidak perlu.

Namun, saya cukup terbantu untuk menyikapi kemerdekaan tahun ini dengan perspektif multi-dimensi. Terutama karena saya dan beberapa teman saya sesama pelajar di Swiss, dimintai tolong oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Bern untuk menjadi panitia pelaksana upacara bendera.

Jadi, begini ceritanya.

Pada awalnya, lima orang pelajar cowok, yaitu saya, Bram, David, dan dua pelajar cewek bernama Aliyya dan Regina, ditunjuk menjadi pasukan pengibar bendera (paskibra). Untuk komposisi paskibra ini, hanya dibutuhkan empat orang, dan keempat teman saya itu sudah berpengalaman menjadi paskibra sebelumnya, baik di Bern tahun-tahun sebelumnya maupun pengalaman di sekolah mereka di Indonesia. Karena saya satu-satunya yang tidak punya pengalaman menjadi paskibra, maka saya harus puas menjadi ajudan pembina upacara (itu lho, petugas yang berdiri di samping pembina untuk menyerahkan teks Pancasila).

Kami pun menjalani empat minggu latihan sejak Juli. Ehm, well, keempat teman saya sih, yang latihan baris-berbaris dan menaikkan bendera. Saya cuma mendampingi mereka di setiap sesi latihan saya, mengingat posisi saya sebagai ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI Swiss). Setelah siap, pada hari H, upacara pun dilangsungkan. Kami berlima pun dipersiapkan dengan seragam putih-putih lengkap dengan peci seperti di Istana Negara. Perasaan deg-degan pun menghinggapi kami, karena selalu ada kekuatiran manusiawi jika bendera terbalik atau kesalahan langkah pada saat baris-berbaris. Selain itu, upacara bendera yang dilangsungkan sejak pukul 9 pagi di Wisma Duta (kediaman Duta Besar RI di Bern) dihadiri kurang lebih dua ratus masyarakat.

Di sinilah saya mendapatkan banyak kontemplasi baru tentang makna Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Yang pertama adalah ketika sebelum upacara dimulai, seorang pria yang sudah berusia tua tetapi berpenampilan masih tegap dan sehat menghampiri saya. Kami pun mengobrol beberapa lama. Si Bapak ternyata seorang pebisnis yang sudah sejak tahun 1960-an tinggal di Swiss. Saya pun memperkenalkan diri sebagai pelajar yang baru dua tahun menetap di Negara konfederasi itu. Ketika mengetahui asal saya dari Makassar, bapak itu menjadi antusias ternyata beliau berasal dari Manado. Setelah mengobrol beberapa saat, Si Bapak (yang saya lupa namanya itu) mengungkapkan bahwa meskipun tinggal di kota Fribourg (sekitar 40 menit perjalanan menggunakan mobil dari Bern), ia tidak pernah melewatkan sekali pun upacara bendera di KBRI. Satu kali pun. Selama hampir lima puluh tahun.

‘Karena upacara bendera itu sakral. Setiap kali mendengar lagu Indonesia Raya dilantunkan, di telinga saya rasanya masih terdengar suara Pak Sukarno membacakan teks proklamasi. Saat itu adalah salah satu saat terindah di hidup saya,’ kata bapak itu mengenang. Kedua matanya pun menerawang. Bisa dipastikan, proyektor di dalam otaknya sedang memutar gambar-gambar Bung Karno.

Setelah itu, upacara pun dilangsungkan. Bapak tadi ikut bergabung dengan barisan masyarakat yang menjadi peserta upacara. Saya mengambil posisi di atas panggung, tepat di samping Pak Djoko Susilo, Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Swiss dan Liechtenstein. Prosesi pun berjalan lancar (Alhamdulillah). Keempat teman paskibra saya berhasil mengibarkan bendera dengan mulus. Nah, tepat pada saat mereka sedang baris-berbaris untuk kembali ke posisi semula, kedua mata saya menangkap sebuah pemandangan haru.

Di suatu sudut lapangan, dua orang wanita berusia sekitar empat puluhan – lima puluhan tahun sedang berpelukan. Satu orang berdiri dan satu orang lagi duduk di kursi. Bahkan dari sudut kacamata saya, terlihat jelas mereka menitikkan air mata. Saya mengenal keduanya. Yang berdiri adalah Ibu Fifi, ibunda dari salah satu anak perempuan yang menjadi pengibar bendera, yaitu Aliyya. Ibu Fifi sudah lebih sepuluh tahun tinggal di Swiss karena ikut suaminya yang bertugas di negara penghasil coklat ini. Anaknya, Aliyya, tahun ini masuk gymnasium (sekelas SMA kalo di Swiss). Saya cukup akrab dengan keluarga Ibu Fifi, dan sering berkunjung ke apartemen mereka. Meskipun sudah lebih satu decade tinggal di Eropa, tapi kebiasaan mereka masih ‘Indonesia banget’, mulai dari rutinitas membuat empek-empek hingga mengikuti perkembangan gossip dan sinetron Indonesia. Aliyya, meskipun sudah ber-mother tongue bahasa Schwizerduutch (Swiss-German), tapi kemampuan bahasa Indonesia-nya nyaris tanpa cela, tanpa ternoda aksen ala Cinta Laura. Padahal sejak bangku sekolah dasar, ia sudah dibawa ayah-ibunya ke Swiss. Seringkai Aliyya mengungkapkan kepada saya betapa ia pengen ngerasain memakai pakaian putih abu-abu ala siswa-siswi SMA yang sering dilihatnya di sinetron-sinetron pujaannya. Maka, menjadi paskibra di acara 17an adalah perwujudan terdekat dari impian itu.

Satu wanita lagi yang menangis terharu adalah Ibu Dewi, wanita yang sudah hampir tujuh belas tahun tinggal di negaranya Roger Federer ini. Ibu Dewi adalah ibunya Regina, salah satu anggota paskibra yang lain. Regina berusia yang sama dengan Aliyya, tapi kedua gadis ini cukup berbeda satu sama lain. Tidak seperti Aliyya, Regina tidak memiliki pengalaman bersekolah di Indonesia karena lahir dan dibesarkan di Swiss. Alhasil, kemampuan bahasa Indonesia-nya masih patah-patah. Sudah hampir setahun terakhir, keluarga Regina dirundung kesedihan. Ibu Dewi didiagnosa menderita kanker sehingga harus menjalani kemoterapi secara rutin. Inilah penyebabnya mengapa beliau tidak bisa mengikuti jalannya upacara sambil berdiri sehingga butuh sebuah kursi untuk menopang tubuhnya. Meski demikian, Ibu Dewi bersikukuh untuk menghadiri upacara bendera di Wisma Duta Bern untuk menyaksikan langsung performa anak gadisnya. Anak gadis yang memiliki kebanggaan besar di dalam hatinya untuk mengusung bendera suci merah putih, walaupun hanya memiliki sepersekian persen keterikatan dengan negara tempat asal ayah-ibunya.

1185662_10151868220709612_225077260_n

Paskibra PPI Swiss

Maka, melihat kedua wanita itu menangis terharu, hati saya ikut terenyuh. Saya hanya bisa membayangkan sebagian kecil dari kebanggaan mereka sebagai ibu-ibu perkasa yang membesarkan anak-anak gadis mereka di negara yang sama sekali asing. Pada saat itu, dari atas panggung, saya seperti melihat ibu pertiwi sedang menjelma menjadi wujud dua wanita Indonesia dalam diri Ibu Fifi dan Ibu Dewi.

Yang terakhir, ketika prosesi upacara bendera telah selesai, Bapak Dubes memberi tambahan sambutan  untuk masyarakat Swiss yang datang khusus untuk mengikuti upacara bendera di pagi hari musim panas yang cerah itu. Mewakili KBRI, beliau juga memberi beberapa penghargaan kepada beberapa pihak yang dianggap berjasa dalam menyebarkan kebudayaan Indonesia di Swiss. Di sinilah saya takjub ketika melihat beberapa orang maupun komunitas yang saya tidak pernah terpikirkan ada sebelumnya.

Dimulai dari komunitas-komunitas bernama ‘1,2,3 Musique’ yang mengkhususkan diri sebagai pusat pelatihan alat musik gamelan, ‘Grup Angklung Padasuka’ yang berfokus ke alat musik angklung, dan Pencak SIlat Verband yang merupakan perguruan bela diri Pencak Silat yang berlokasi di Swiss. Semua komunitas tersebut dijalankan dan diurus oleh orang-orang asli Swiss, dilandasi atas kecintaan mereka terhadap kekayaan budaya negara kita. Lalu yang kembali membuat saya merinding adalah ketika seorang pria yang sudah tua renta, diberi penghargaan khusus oleh Pak Dubes. Saking rentanya, pria tua tersebut hanya bisa bergerak menggunakan kursi roda yang bisa digerakkan secara elektronik.

Setelah bertanya ke seorang staf KBRI kenalan saya, beliau ternyata bernama Bapak Haka Tahir. Beliau adalah pria berusia 95 tahun yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mengembangkan Pencak Silat. Pasca Perang Dunia ke-2, beliau pindah ke Swiss demi menyebarluaskan ilmu bela diri tradisional nusantara ini. Selama lebih dari enam puluh tahun petualangan di negeri yang terletak di pegunungan Alpen ini, lebih dari sepuluh perguruan telah didirikan serta ratusan orang telah menjadi anak didik beliau.

Di abad ke-21, sosok itu memang telah menyerahkan kendali fisiknya ke kursi roda elektronik yang membawanya ke mana-mana. Namun, terlihat jelas dari sorot matanya, beliau adalah pribadi luar biasa yang masih memiliki semangat hidup dan kecintaan yang sangat besar kepada tanah air. Ini terlihat dari kesediaan beliau menghadiri upacara bendera dengan mengenakan batik dan peci hitam khas Indonesia.

1081306_10153122582705596_1190321003_n

Sehabis upacara, barulah pesta rakyat Indonesia-Swiss dimulai!

Saya menulis pengalaman upacara bendera saya di Bern, Swiss, pada 17 Agustus 2013 ini atas dua alasan. Yang pertama karena saya merasakan semacam euforia di dalam diri saya, karena sudah bertahun-tahun tidak mengikuti langsung upacara bendera peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia. Yang kedua, bisa dibilang sebagai semacam counter atas pesimisme dan negativisme yang akhir-akhir ini merajalela di rekan-rekan sebaya saya, terutama yang atas pengamatan saya banyak menyebar di Facebook dan Twitter. Ironis saja rasanya jika melihat banyak anak muda Indonesia menanggapi peringatan Hari Kemerdekaan kita dengan sinis, sedangkan ribuan kilometer di Eropa sana, ribuan masyarakat Indonesia yang sedang kangen-kangennya pada kampung halaman mereka, justru sampai harus menempuh jarak jauh demi menghadiri upacara bendera.

Banyak yang menggugat makna kemerdekaan, tanpa mengingat sudah banyak perubahan ke arah positif yang lebih layak kita hargai. Toh, Indonesia tidak akan maju jika generasi mudanya dipenuhi negativisme. Indonesia adalah negara yang dibentuk dan digerakkan oleh kebanggaan dan perjuangan.

Dirgahayu Indonesia ke-68!

Proud to be Indonesian!

MP

*foto-foto: Budiman Wiriakusumah & Etty Muller

GagasMedia: UnforgotTEN & Bittersweet

80b7eed19e034b99feb379944d971dc4

Postingan ini saya tulis khusus untuk memperingati ulang tahun @GagasMedia yang ke-10, pada tanggal 4 Juli 2013.

Happy Birthday, Gagas!

Sepuluh tahun belumlah usia yang bisa dibilang dewasa, tapi mungkin di situlah penjelasan mengapa banyak yang merasa fun ber-hang-out bersama GagasMedia. Soalnya ia lagi lucu-lucunya dan senang bermain, hehehe.

Saya menjawab ajakan relation officer GagasMedia, Mudin Em, (@omemdisini) tentang memeriahkan ultah ke-10 ini dengan tulisan. Maka, baiklah, saatnya saya mengeluarkan unek-unek seputar penerbit kesayangan banyak orang ini.

Pada suatu hari di tahun 2010, para editor GagasMedia, Christian Simamora (@09061983) dan Windy Ariestanty (@windyariestanty) mengajak saya bertemu untuk membahas naskah novel saya yang masuk ke redaksi mereka. Mereka merasa naskah saya itu potensial untuk diterbitkan, tetapi dengan beberapa perbaikan. Mereka berdua mengajukan pilihan, apakah saya ingin menarik naskah tersebut untuk direvisi sebelum diajukan lagi ke penerbit ataukah langsung saja dicemplungkan ke metode market test mereka, yang dikenal juga dengan nama ‘first reader’.

Bagi saya, saat itu, saya seolah diberi tantangan, seperti halnya karakter Neo yang diajukan dua pilihan berupa pil merah atau pil biru oleh Morpheus di film The Matrix. Seperti yang dilakukan Neo, saya tidak sabar ingin melihat kenyataan sebenarnya seorang penulis dalam memperjuangkan naskah novelnya. Maka, saya nekat memperbolehkan mereka mengetes naskah yang masih sangat mentah itu ke kelompok ‘first reader’ yang beranggotakan sepuluh orang. Jika di-break down lagi, kesepuluhnya terdiri dari lima orang reviewer naskah khusus remaja, dan lima orang reviewer naskah dewasa.

Beberapa bulan kemudian, saya menerima sebuah kabar baik. Naskah saya yang berjudul sementara ‘Diana’ itu disukai oleh para first readers, sehingga memenuhi syarat untuk diterbitkan. Tentu saja, saya girang sekali. Salah satu impian saya terwujud. Namun, yang lebih menyenangkan lagi, bukan hanya saya yang waktu itu mewujudkan impian dengan diberi kesempatan menerbitkan novel pertama di GagasMedia. Dua penulis muda lain yang seingat saya ditelurkan oleh para first reader ketika itu adalah Prisca Primasari (@priscaprimasari) dan Morra Quatro (@miss_morra).

Pada akhirnya, di bulan November 2011, novel pertama saya yang diberi judul Here, After pun terbit. Nyaris seangkatan dengan novelnya Prisca (Eclair) dan Morra (Forgiven). Resminya saya menjadi penulis GagasMedia ternyata membawa banyak keuntungan, salah satu di antaranya, saya bisa mengenal rekan-rekan lain sesama penulis muda yang rata-rata berusia tidak jauh berbeda dengan saya. Selain Prisca, Morra, Christian dan Windy yang juga penulis, lambat laun saya menjadi kenal dan berkorespondensi dengan Valiant Budi (@vabyo), Sefryana Khairil (@sefryanakhairil), Winna Efendi (@winnaefendi), dan banyak lagi.

Keuntungan berkenalan dengan para penulis ini banyak banget. You see, semuanya adalah penulis yang mulai dari bawah, dan tidak lebih dari your-next-door-neighbours yang bekerja keras mewujudkan mimpi mereka. Mereka menulis karena passion, tanpa ada tendensi dan pretensi apa-apa. Saya pun mempelajari suatu hal, bahwa untuk menjaga mimpi kita tetap hidup, kita harus banyak-banyak bergaul dengan orang-orang yang mempunyai mimpi yang sama. Dengan membicarakan seputar mimpi kita dengan sesama pemimpi, kita akan memperoleh motivasi lebih untuk mewujudkan mimpi kita. Apalagi jika teman kita sudah berhasil merealisasikan mimpi-mimpi lainnya.

Thanks to GagasMedia juga, petualangan baru saya dimulai. Saya jadi rajin berkeliling ke berbagai toko buku di berbagai kota sepanjang tahun 2010 sampai pertengahan 2011 untuk mempromosikan Here, After. Hasilnya terbilang manis, sampai sekarang, Here, After sudah dicetak sebanyak lima kali. Tentunya bukan prestasi yang buruk untuk ukuran novel debut. Puncaknya, ketika komunitas pembaca Goodreads Indonesia (@bacaituseru) mengadakan semacam award untuk memilih buku-buku favorit mereka sepanjang tahun 2010-2011, saya bagaikan terbang ke langit ketujuh begitu mengetahui Here, After masuk lima besar Buku Fiksi Terbaik, bersaing dengan karya-karya dari nama-nama besar seperti Dewi Lestari dan Asma Nadia. Kesempatan itu mungkin hanya terjadi sekali seumur hidup bagi saya!

Sampai di sini, semua kenangan saya bersama GagasMedia terbilang manis. Namun, saya lupa bilang di awal bahwa sebenarnya, kenangan saya bersama GagasMedia itu… bittersweet. Sebagian besar sih sweet, tapi ada beberapa juga yang bitter. Yah, seperti halnya lika-liku kehidupan itu sendiri.

Di beberapa bulan awal setelah Here, After terbit sebagai novel debut saya, Christian sebagai editor fiksi GagasMedia sempat mengingatkan, bahwa ada semacam sindrom yang menimpa sebagian besar penulis debutan. Jika karya debutnya terbilang sukses, maka tekanan pada dirinya untuk berkarya akan semakin besar lagi. Christian malah sering meledek saya dengan sebutan ‘Milli Vanili’, mengacu pada nama sebuah grup musik yang populer di akhir 1980-an, tapi pada akhirnya menghilang tak berbekas. Ia tidak ingin saya berakhir menjadi one-hit wonder seperti Milli Vanili.

Pada awalnya, saya cuek saja. Namun, ternyata, apa yang dikatakannya make sense. Saya tidak menulis naskah novel apapun selama dua tahun lebih, boro-boro nerbitin novel. Saya memang sempat menyumbangkan cerita-cerita pendek untuk project buku Menujuh (2012) dan Dongeng Patah Hati (2013), tapi entah kenapa, menulis suatu cerita dengan frame sebesar novel mendadak jadi sulit bagi saya.

Jika boleh beralasan, pindahnya saya ke Swiss sejak pertengahan 2011 untuk melanjutkan kuliah adalah salah satu penyebab. Saya menjadi sibuk dengan tugas-tugas kuliah, dan di waktu senggang saya menyempatkan diri untuk travelling baik ke kota-kota lain di Swiss maupun kota-kota di negara lain.
Namun, saya bukannya tidak menulis sama sekali. Sedikit demi sedikit, saya mencoba menulis cerita-cerita travelling saya sekaligus merangkai semuanya menjadi sebuah cerita novel. Akhirnya, naskah itu pun jadi di bulan Juni 2012 (fiuh), dan saya beri working titleDream Together’. Dengan bantuan beberapa orang teman di Indonesia, naskah itu pun masuk ke meja redaksi GagasMedia. Dalam waktu sekitar dua setengah bulan, Dream Together disetujui untuk terbit. Saya pun senang sekali. Akhirnya saya bisa mematahkan ‘kutukan Milli Vanili’. 😀

Lantas, kenapa bitter? Karena… yah, karena sekarang sudah memasuki Juli 2013 dan naskah tersebut belum juga diterbitkan. Naskah tersebut sebenarnya sudah di-finalized dan bahkan sudah memperoleh judul resmi (judulnya berubah menjadi Rhapsody). Bukan masalah telatnya jadwal terbit yang sering mengusik saya, bahkan saya akan sangat senang jika novel saya kelak terbit tepat di saat saya sudah kembali ke Indonesia, agar saya bisa kembali aktif mempromosikannya. Saya cuma sering merasa tidak sabar jika melihat rekan-rekan penulis lain sudah merilis karya-karya baru mereka. Bahkan, sudah banyak juga penulis-penulis baru yang merilis karya-karya mereka di Gagas. Meskipun jauh di Eropa, semua perkembangan itu saya ikuti dari info-info yang berseliweran di Facebook, Twitter, bahkan website GagasMedia. Lama-lama, saya sedikit merasa malu karena sekarang saya tertinggal sangat jauh di belakang penulis-penulis lain. Saya pun dibuat bertanya-tanya, dua tahun terakhir saya ngapain aja, sih?

On second thought, saya menyadari, bahwa seperti halnya hubungan antar-manusia, hubungan saya dan GagasMedia toh merupakan sebuah long-term commitment. Penerbit tidak hanya ada pada saat kita ingin menerbitkan buku, tapi juga memotivasi kita untuk berkarya lagi. Itulah yang saya dapatkan dari GagasMedia. Pada akhirnya, saya disadarkan untuk tidak cepat puas, karena berkarya sebaiknya tidak berhenti di satu titik saja. Saya pun akhirnya bisa move-on dari kenangan manis Here, After, dan diberi pelajaran berani menempuh berbagai tantangan untuk menelurkan karya-karya berikutnya. Satu naskah lain pasca-Rhapsody pun sudah masuk dapur GagasMedia, lho, hehehe. Working title-nya ‘Distorsi’, dan sudah disetujui untuk terbit. :p

Ah, memang tidak salah jika banyak penulis yang bilang, berhati-hatilah dalam memilih penerbit. Dalam kasus saya, saya cukup beruntung pernah memilih GagasMedia.

Dan pada akhirnya… satu-satunya yang terasa bitter adalah, saya tidak bisa berada di sisi GagasMedia ketika mereka sedang bersuka-cita merayakan usia satu dasawarsa.

Whatever it takes, mudah-mudahan usia ke-10 ini terasa sweet buat GagasMedia dan teman-teman yang berada dalam naungan keluarga besarnya.

Peluk hangat dari Swiss. See you guys soon! 🙂

@maheeer

Blogs I Manage

Blog yang domainnya saya modifikasi ini sebenarnya bertujuan untuk berbagi info mengenai dunia kepenulisan saya. Berbagai info mengenai karya tulis baru saya akan saya share di sini.

Meski demikian, sejak tahun 2007, saya sudah memiliki blog pribadi. Blog tersebut masih aktif saya update sampai akhir 2012 lalu. Isinya macam-macam, dari hobi saya menonton film, membaca novel, hingga pertandingan sepak bola dan musik yang saya gemari. Namun sekarang, dengan banyaknya kesibukan dan deadline yang saya hadapi, blog tersebut jarang saya update lagi. Mungkin suatu saat akan saya perbarui. Jika ada yang ingin baca-baca blog pribadi saya tersebut, silakan loncat ke sini: http://maheergrant.blogspot.com

Pernah juga saya coba-coba mengelola suatu blog tentang film. Isinya tentang info non-mainstream seputar film (non-review maupun preview). Sayang, saya agak malas untuk meng-update-nya. Apalagi dengan menjamurnya kritikus-kritikus film resmi maupun nggak resmi di Twitter. Jika ingin melihat celoteh film saya tersebut, silakan dicek di http://movie-mindset.blogspot.com

Lalu, ada blog yang saya persiapkan untuk menjadi promotional tool novel saya yang akan segera terbit, berjudul Dream Together. Segala macam dari behind the scene sampai di balik karakter novel tersebut ada di sini: http://www.mphostel.com

Terakhir, tentu saja website/blog yang sedang Anda baca ini. http://mahir.pradana.com. Sederhana saja, saya tidak bisa berhenti menulis.

MP

EXPLORE. DREAM. DISCOVER

Jenewa, Sabtu, 5 November 2011.

Pesawat yang membawa saya kembali ke Barcelona dari Jenewa baru saja mendarat di Geneve Aeroport. Seperti reaksi penumpang pesawat pada umumnya, saya langsung menyalakan smartphone begitu tiba di airport. Selama tiga hari liburan di Barcelona, saya memang tidak mengaktifkan layanan Blackberry. Takut dibombardir tagihan karena kena roaming internasional, hehehe…

Tepat ketika mengaktifkan Twitter, perasaan saya seolah melambung ke angkasa. Seolah-olah ada malaikat tak terlihat yang mengajak saya terbang ke langit ketujuh. Penyebabnya adalah sebuah kabar menggembirakan yang masuk.

‘congrats, Here, After’ masuk longlist tahap ke-2 API 2011!’

Sejenak, saya tertegun. Bumi berhenti berputar. Sebuah celetukan konyol menggema di dalam benak saya.

oh, whoa… I never knew I would make it that far

Ya, novel pertama saya yang terbit di penghujung 2010 tersebut masuk daftar 10 besar Anugerah Pembaca Indonesia (API 2011). A reality which is too good to be true. Bahkan bermimpi pun saya tidak pernah berani sejauh ini.

Mendadak, udara dingin Jenewa tergantikan oleh hangatnya perasaan bangga dan berbagai memori yang merasuk kembali ke benak saya.

  • Memori ketika waktu kecil ayah saya dengan sabar mengajarkan saya membaca danmenulis. Memori ketika beliau lebih memilih memanjakan saya dengan buku daripada mainan robot-robotan.
  • Semua puisi yang saya coba-coba untuk tulis di sela-sela pelajaran membosankan di bangku SMA. Memori ketika buku kumpulan puisi tersebut dicuri oleh teman-teman saya yang jahil untuk ditertawakan rame-rame.
  • Memori tentang surat cinta yang saya kerjakan sehari semalam untuk cinta monyet pertama saya. Saya ingat jelas bagaimana kegelian ketika membaca ulang kata-kata gombal tersamarkan oleh kerasnya degup jantung dan perasaan di dalam hati yang berjuang keras untuk diungkapkan lewat bibir, meskipun akhirnya hanya tanganlah yang merealisasikan ungkapan cinta dengan bantuan kertas dan pulpen.
  • Saat-saat pertama saya memutuskan untuk menulis novel pertama tanpa terlebih dahulu mencoba menulis sesuatu yang lebih singkat, seperti cerpen. Saya ingat jelas naskah tersebut sangat buruk sampai akhirnya saya putuskan untuk membuangnya ke tempat sampah dan akhirnya dibakar.
  • Memori empat tahun lalu, ketika saya menulis kata-kata pertama untuk draft Here, After. Tanpa ekspektasi apa-apa. Hanya ingin membuat sesuatu yang berbeda dari yang lain, yaitu plot dan anti-happy ending-nya…
  • Memori tiga tahun lalu ketika saya memutuskan untuk mengirim naskah tersebut ke penerbit GagasMedia. Lagi-lagi, tanpa ekspektasi apa-apa.
  • Memori di tahun 2010, ketika naskah tersebut diputuskan untuk terbit. Saat itu saya sudah senang bukan kepalang. Target realistis saya adalah, terjual 1000 kopi pun sudah bagus. Ternyata, sudah terjual lebih dari 12.000.
  • Memori dua minggu lalu, ketika Here, After masuk longlist tahap pertama API 2011 bersama dua puluh judul lainnya. Saat itu, target saya adalah untuk mengumpulkan vote sebanyak-banyaknya. Supaya nggak malu-maluin di mata orang-orang yang sudah baca novel saya. Ternyata, pada akhirnya masuk longlist tahap II (10 besar). Salah satu kompetitornya adalah Dewi Lestari, yang saya (dan hampir semua orang di Indonesia) kagumi..
  • Beberapa tahun yang lalu, saya melihat buku biografi Valentino Rossi yang berjudul What If I Never Tried It? Kini, kata-kata itu terus-terusan menggema di benak saya.

Ya. Bagaimana jadinya jika saya tidak pernah mencoba untuk merealisasikan mimpi saya? Bayangkan jika Valentino Rossi nggak pernah mencoba untuk memulai balapan motor, maka kita tidak akan mengenal sosok dia yang telah menjadi legenda di dunia otomotif. Apa jadinya seandainya saya tidak pernah menuangkan sedikit usaha tambahan demi melompat lebih tinggi meskipun hanya ‘sejengkal dari tanah’? Minimal, ‘sejengkal dari tanah’ berarti ‘lebih dekat ke langit’, kan?

Then, in the end, I’m glad that I did. Seperti kata-kata di lagunya Coldplay, ‘if you never try, you’ll never know’.

Satu lagi kata-kata yang sering saya ingat. Yaitu petuah bijak dari penulis legendaris Mark Twain:

“Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover.”

Saya tidak berhenti tersenyum. Life has turned unexpectedly fabulous for me. Saya mendapat kabar bahwa novel saya masuk 10 besar penghargaan bergengsi bersama penulis-penulis besar lain, tepat sehari setelah saya mengunjungi kota impian saya sejak kecil, yaitu Barcelona. I couldn’t ask for more.

Mimpi membawa saya ke sini. Tapi, mimpi-mimpi saya tidak akan terbentuk tanpa peranan orang-orang di sekitar saya yang selalu mendukung saya dalam situasi apa pun. Dengan postingan ini, saya ingin berterima kasih kepada semua orang yang terlibat dalam proses hidup saya sampai sekarang. Termasuk Anda yang sedang membaca postingan ini. 🙂

Explore. Dream. Discover.