GagasMedia’s Bests

Masih dalam suasana ulang tahun ke-10 Penerbit GagasMedia. Kemarin, saya lihat berbagai kalangan menulis sepuluh buku favorit mereka yang dirilis oleh GagasMedia. Saya pikir, lucu juga kayaknya kalau saya membuat list top 10 buku GagasMedia favorit saya sendiri. Ini dia daftarnya:

1. Kisah Langit Merah oleh Bubin Lantang (Novel)

http://www.goodreads.com/book/show/6304039-kisah-langit-merah

Menurut saya, ini adalah novel dengan cerita paling apik. Berkisah tentang seorang pemuda bernama unik, Langit Merah, dengan lika-liku perjalanan hidupnya, baik cinta, perjuangan maupun pengorbanan. Disusun dengan bahasa dan cara bertutur yang tidak kalah apiknya. Hal lain yang membuat saya tertarik adalah kehidupan pribadi penulisnya yang konon katanya sangat misterius.

2. Jomblo oleh Adhitya Mulya (Novel)

http://www.goodreads.com/book/show/3029362-jomblo

Novel komedi ini akan selalu berada di dalam daftar all-time-favorite saya. Kisahnya seru dan dekat dengan kehidupan sehari-hari: tentang empat cowok bersahabat yang kuliah di Bandung. Hype-nya sangat terasa di zaman saya masih kuliah dulu. Sampai-sampai syuting filmnya di tahun 2005 kebanyakan dilakukan di gang dan jalan-jalan dekat tempat tinggal saya di Bandung dulu. I love everything about this book: the humour, the plot, and the ending. A masterpiece.

3. What’s Left of Us oleh Richard Farrell (Memoar, Terjemahan)

http://www.goodreads.com/book/show/6584715-what-s-left-of-us

Mungkin banyak yang tidak tahu buku ini. Buku ini adalah kisah nyata Richie Farrell, seorang mantan pecandu narkoba yang berhasil sembuh total. Saya menganggap buku ini spesial karena yang menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia adalah… saya sendiri! Hehehe. Nyaris setahun saya habiskan demi menerjemahkan memoar tragis tersebut. Saking sedihnya cerita di buku ini, beberapa kali saya menitikkan air mata dan bersyukur dilahirkan di keluarga baik-baik dan penuh kasih, tidak seperti keluarga Farrell yang penuh prahara.

4. Bintang Bunting oleh Valiant Budi (Novel)

http://www.goodreads.com/book/show/5669291-bintang-bunting

Orang-orang mungkin mengenal Valiant Budi lewat Joker atau Kedai 1001 Mimpi. Saya sendiri mengagumi karya-karyanya tersebut, tapi yang satu ini adalah top-notch. Bintang Bunting adalah petualangan seru dan asik bagi pecinta thriller psikologis seperti saya. Semua terasa pas, teka-teki berpadu permainan kata-kata yang keren plus twist dan ending yang sama sekali sukar ditebak.

5. Unforgettable oleh Winna Efendi (Novel)

http://www.goodreads.com/book/show/13409193-unforgettable

Selama ini, WInna dikenal orang dengan novel-novelnya yang bertema remaja. Khusus untuk Unforgettable, ia mencoba sesuatu yang baru. Tema dua sejoli yang sederhana sudah sering diangkat, tapi ia mengemasnya dengan seting, ambience, dan permainan plot yang tertata rapi bin seru. Permainan diksi dan flow narasinya yang keren juga membuat saya hanya bisa berdecak kagum. Winna at her best!

6. Life Traveler oleh Windy Ariestanty (Travel)

http://www.goodreads.com/book/show/12698470-life-traveler

Gaya baru travel-writing diperkenalkan oleh Windy lewat buku yang disusunnya selama kurang lebih dua tahun ini. Hasilnya memang merupakan sebuah pengalaman travelling yang sangat enak dibaca dan memberi kesan hangat. Berkat buku ini pula, sekarang tiap kali saya travelling, saya lebih membiasakan diri untuk berfokus kepada ‘manusia’, tak peduli apa pun tempat-tempat yang menjadi tujuan saya.

7. Test Pack oleh Ninit Yunita (Novel)

http://www.goodreads.com/book/show/1242932.Test_Pack

Pas pertama kali baca novel ini, kesan saya adalah, ‘kok serasa déjà vu tulisannya Adhitya Mulya, ya?’ Eh ternyata mereka memang suami-istri, saudara-saudara! Awalnya rada males membaca karena mengira buku ini bakalan ‘cewe banget’, ternyata lama-lama saya enjoy karena cara nulisnya yang asik dan konfliknya yang semua orang bisa relate. Ehm, catet dulu di awal bahwa temanya dewasa banget. Ending-nya juga pas dan meninggalkan kontemplasi yang dalam.

8. Delete Me Not oleh Alip Yog Kunandar (Novel)

http://www.bukabuku.com/browse/bookdetail/65954/delete-me-not.html (link Goodreads-nya nggak ada!)

Novel yang sebenarnya kurang sukses dan kurang populer ini menjadi salah satu favorit saya karena dua alasan utama. Yang pertama, karena karakter utama cerita novel ini berasal dari Makassar. Sebagai orang Makassar, tentu saya jadi bangga, dong. Yang kedua, blurb di cover depan dan belakang novel ini adalah buah pikiran saya, hehehe. Tapi bukan cuma itu saja alasannya. Novel ini sangat fresh dalam hal komedi, selain deskripsi tempatnya yang matang. Delete Me Not adalah salah satu novel yang bisa membuat saya tertawa ngakak selain Jomblo dan Test Pack.

9. Menujuh oleh tujuh penulis hari (Kumpulan Cerita)

http://www.goodreads.com/book/show/16078317-menuju

Saya memasukkan buku ini ke dalam list bukan karena saya termasuk dari tujuh penulis di dalamnya, melainkan karena cerita-cerita di dalamnya memang sangat apik. Kami mengembangkan konsep sederhana, yaitu masing-masing penulis mengambil satu hari dalam seminggu untuk diceritakan dalam dua sisi cerita. Bentuk eksplorasinya dibebaskan, sehingga pada akhirnya, kita bisa melihat gaya menulis yang berbeda-beda dari penulis yang memang memiliki spesialisasi genre yang berbeda-beda pula.

10. Love for Show oleh Andi Eriawan (Novel)

http://www.bukabuku.com/browse/bookdetail/24203/love-for-show.html (nggak ketemu juga link Goodreads-nya)

Cukup disayangkan juga karena banyak yang tidak mengetahui keberadaan novel terbitan (kalau tidak salah) tahun 2005 ini. Sebagai penikmat novel dan film, saya terpuaskan oleh novel ini. Berbagai twist dan trick yang terkadang hanya bisa dilakukan di dalam film, diaplikasikan dengan sangat baik oleh penulis di novel ini.

Selain membahas novel-novel favorit, saya juga pengen bikin list cover buku GagasMedia favorit saya:

1. Cinta Mati

Image

2. Heaven on Earth

Image

No further comment. Keren!

3. Baby Proposal

Image

4. Heart Block

Image

5. Here, After

Image

Advertisements

GagasMedia: UnforgotTEN & Bittersweet

80b7eed19e034b99feb379944d971dc4

Postingan ini saya tulis khusus untuk memperingati ulang tahun @GagasMedia yang ke-10, pada tanggal 4 Juli 2013.

Happy Birthday, Gagas!

Sepuluh tahun belumlah usia yang bisa dibilang dewasa, tapi mungkin di situlah penjelasan mengapa banyak yang merasa fun ber-hang-out bersama GagasMedia. Soalnya ia lagi lucu-lucunya dan senang bermain, hehehe.

Saya menjawab ajakan relation officer GagasMedia, Mudin Em, (@omemdisini) tentang memeriahkan ultah ke-10 ini dengan tulisan. Maka, baiklah, saatnya saya mengeluarkan unek-unek seputar penerbit kesayangan banyak orang ini.

Pada suatu hari di tahun 2010, para editor GagasMedia, Christian Simamora (@09061983) dan Windy Ariestanty (@windyariestanty) mengajak saya bertemu untuk membahas naskah novel saya yang masuk ke redaksi mereka. Mereka merasa naskah saya itu potensial untuk diterbitkan, tetapi dengan beberapa perbaikan. Mereka berdua mengajukan pilihan, apakah saya ingin menarik naskah tersebut untuk direvisi sebelum diajukan lagi ke penerbit ataukah langsung saja dicemplungkan ke metode market test mereka, yang dikenal juga dengan nama ‘first reader’.

Bagi saya, saat itu, saya seolah diberi tantangan, seperti halnya karakter Neo yang diajukan dua pilihan berupa pil merah atau pil biru oleh Morpheus di film The Matrix. Seperti yang dilakukan Neo, saya tidak sabar ingin melihat kenyataan sebenarnya seorang penulis dalam memperjuangkan naskah novelnya. Maka, saya nekat memperbolehkan mereka mengetes naskah yang masih sangat mentah itu ke kelompok ‘first reader’ yang beranggotakan sepuluh orang. Jika di-break down lagi, kesepuluhnya terdiri dari lima orang reviewer naskah khusus remaja, dan lima orang reviewer naskah dewasa.

Beberapa bulan kemudian, saya menerima sebuah kabar baik. Naskah saya yang berjudul sementara ‘Diana’ itu disukai oleh para first readers, sehingga memenuhi syarat untuk diterbitkan. Tentu saja, saya girang sekali. Salah satu impian saya terwujud. Namun, yang lebih menyenangkan lagi, bukan hanya saya yang waktu itu mewujudkan impian dengan diberi kesempatan menerbitkan novel pertama di GagasMedia. Dua penulis muda lain yang seingat saya ditelurkan oleh para first reader ketika itu adalah Prisca Primasari (@priscaprimasari) dan Morra Quatro (@miss_morra).

Pada akhirnya, di bulan November 2011, novel pertama saya yang diberi judul Here, After pun terbit. Nyaris seangkatan dengan novelnya Prisca (Eclair) dan Morra (Forgiven). Resminya saya menjadi penulis GagasMedia ternyata membawa banyak keuntungan, salah satu di antaranya, saya bisa mengenal rekan-rekan lain sesama penulis muda yang rata-rata berusia tidak jauh berbeda dengan saya. Selain Prisca, Morra, Christian dan Windy yang juga penulis, lambat laun saya menjadi kenal dan berkorespondensi dengan Valiant Budi (@vabyo), Sefryana Khairil (@sefryanakhairil), Winna Efendi (@winnaefendi), dan banyak lagi.

Keuntungan berkenalan dengan para penulis ini banyak banget. You see, semuanya adalah penulis yang mulai dari bawah, dan tidak lebih dari your-next-door-neighbours yang bekerja keras mewujudkan mimpi mereka. Mereka menulis karena passion, tanpa ada tendensi dan pretensi apa-apa. Saya pun mempelajari suatu hal, bahwa untuk menjaga mimpi kita tetap hidup, kita harus banyak-banyak bergaul dengan orang-orang yang mempunyai mimpi yang sama. Dengan membicarakan seputar mimpi kita dengan sesama pemimpi, kita akan memperoleh motivasi lebih untuk mewujudkan mimpi kita. Apalagi jika teman kita sudah berhasil merealisasikan mimpi-mimpi lainnya.

Thanks to GagasMedia juga, petualangan baru saya dimulai. Saya jadi rajin berkeliling ke berbagai toko buku di berbagai kota sepanjang tahun 2010 sampai pertengahan 2011 untuk mempromosikan Here, After. Hasilnya terbilang manis, sampai sekarang, Here, After sudah dicetak sebanyak lima kali. Tentunya bukan prestasi yang buruk untuk ukuran novel debut. Puncaknya, ketika komunitas pembaca Goodreads Indonesia (@bacaituseru) mengadakan semacam award untuk memilih buku-buku favorit mereka sepanjang tahun 2010-2011, saya bagaikan terbang ke langit ketujuh begitu mengetahui Here, After masuk lima besar Buku Fiksi Terbaik, bersaing dengan karya-karya dari nama-nama besar seperti Dewi Lestari dan Asma Nadia. Kesempatan itu mungkin hanya terjadi sekali seumur hidup bagi saya!

Sampai di sini, semua kenangan saya bersama GagasMedia terbilang manis. Namun, saya lupa bilang di awal bahwa sebenarnya, kenangan saya bersama GagasMedia itu… bittersweet. Sebagian besar sih sweet, tapi ada beberapa juga yang bitter. Yah, seperti halnya lika-liku kehidupan itu sendiri.

Di beberapa bulan awal setelah Here, After terbit sebagai novel debut saya, Christian sebagai editor fiksi GagasMedia sempat mengingatkan, bahwa ada semacam sindrom yang menimpa sebagian besar penulis debutan. Jika karya debutnya terbilang sukses, maka tekanan pada dirinya untuk berkarya akan semakin besar lagi. Christian malah sering meledek saya dengan sebutan ‘Milli Vanili’, mengacu pada nama sebuah grup musik yang populer di akhir 1980-an, tapi pada akhirnya menghilang tak berbekas. Ia tidak ingin saya berakhir menjadi one-hit wonder seperti Milli Vanili.

Pada awalnya, saya cuek saja. Namun, ternyata, apa yang dikatakannya make sense. Saya tidak menulis naskah novel apapun selama dua tahun lebih, boro-boro nerbitin novel. Saya memang sempat menyumbangkan cerita-cerita pendek untuk project buku Menujuh (2012) dan Dongeng Patah Hati (2013), tapi entah kenapa, menulis suatu cerita dengan frame sebesar novel mendadak jadi sulit bagi saya.

Jika boleh beralasan, pindahnya saya ke Swiss sejak pertengahan 2011 untuk melanjutkan kuliah adalah salah satu penyebab. Saya menjadi sibuk dengan tugas-tugas kuliah, dan di waktu senggang saya menyempatkan diri untuk travelling baik ke kota-kota lain di Swiss maupun kota-kota di negara lain.
Namun, saya bukannya tidak menulis sama sekali. Sedikit demi sedikit, saya mencoba menulis cerita-cerita travelling saya sekaligus merangkai semuanya menjadi sebuah cerita novel. Akhirnya, naskah itu pun jadi di bulan Juni 2012 (fiuh), dan saya beri working titleDream Together’. Dengan bantuan beberapa orang teman di Indonesia, naskah itu pun masuk ke meja redaksi GagasMedia. Dalam waktu sekitar dua setengah bulan, Dream Together disetujui untuk terbit. Saya pun senang sekali. Akhirnya saya bisa mematahkan ‘kutukan Milli Vanili’. 😀

Lantas, kenapa bitter? Karena… yah, karena sekarang sudah memasuki Juli 2013 dan naskah tersebut belum juga diterbitkan. Naskah tersebut sebenarnya sudah di-finalized dan bahkan sudah memperoleh judul resmi (judulnya berubah menjadi Rhapsody). Bukan masalah telatnya jadwal terbit yang sering mengusik saya, bahkan saya akan sangat senang jika novel saya kelak terbit tepat di saat saya sudah kembali ke Indonesia, agar saya bisa kembali aktif mempromosikannya. Saya cuma sering merasa tidak sabar jika melihat rekan-rekan penulis lain sudah merilis karya-karya baru mereka. Bahkan, sudah banyak juga penulis-penulis baru yang merilis karya-karya mereka di Gagas. Meskipun jauh di Eropa, semua perkembangan itu saya ikuti dari info-info yang berseliweran di Facebook, Twitter, bahkan website GagasMedia. Lama-lama, saya sedikit merasa malu karena sekarang saya tertinggal sangat jauh di belakang penulis-penulis lain. Saya pun dibuat bertanya-tanya, dua tahun terakhir saya ngapain aja, sih?

On second thought, saya menyadari, bahwa seperti halnya hubungan antar-manusia, hubungan saya dan GagasMedia toh merupakan sebuah long-term commitment. Penerbit tidak hanya ada pada saat kita ingin menerbitkan buku, tapi juga memotivasi kita untuk berkarya lagi. Itulah yang saya dapatkan dari GagasMedia. Pada akhirnya, saya disadarkan untuk tidak cepat puas, karena berkarya sebaiknya tidak berhenti di satu titik saja. Saya pun akhirnya bisa move-on dari kenangan manis Here, After, dan diberi pelajaran berani menempuh berbagai tantangan untuk menelurkan karya-karya berikutnya. Satu naskah lain pasca-Rhapsody pun sudah masuk dapur GagasMedia, lho, hehehe. Working title-nya ‘Distorsi’, dan sudah disetujui untuk terbit. :p

Ah, memang tidak salah jika banyak penulis yang bilang, berhati-hatilah dalam memilih penerbit. Dalam kasus saya, saya cukup beruntung pernah memilih GagasMedia.

Dan pada akhirnya… satu-satunya yang terasa bitter adalah, saya tidak bisa berada di sisi GagasMedia ketika mereka sedang bersuka-cita merayakan usia satu dasawarsa.

Whatever it takes, mudah-mudahan usia ke-10 ini terasa sweet buat GagasMedia dan teman-teman yang berada dalam naungan keluarga besarnya.

Peluk hangat dari Swiss. See you guys soon! 🙂

@maheeer

Oleh-Oleh dari Budapest

How’s life?

Kalau pertanyaan itu diajukan kepada saya, tentu saja saya akan menjawab ‘life’s good’. Yah, dengan kuliah saya di Swiss yang memasuki tahun ke-dua, tentunya tidak semua berjalan baik-baik saja. Namun, jawaban ‘life’s good’ adalah jawaban terbaik yang bisa saya berikan, daripada harus bercerita panjang lebar tentang stress pasca ujian dan tidak enaknya menanti kepastian kapan lulus.

Maka, saya mau bercerita sedikit tentang travelling terakhir saya. Pada akhir Mei lalu, saya mengambil one week breakaway pasca ujian dan di tengah-tengah master thesis yang menunggu untuk diselesaikan. Kota tujuan saya adalah Budapest, ibukota Hungaria.

Jujur, sebelum ke sana, saya tidak tahu banyak tentang Budapest. Saya hanya dengar cerita beberapa teman yang berasal dari Hungaria, atau teman-teman Indonesia yang pernah berkunjung ke kota tersebut. Secara umum, saya hanya tahu bahwa Budapest berasal dari nama ‘Buda’ dan ‘Pest’. Keduanya merupakan daerah yang dipisahkan oleh Sungai Donau (Danube). Sungai ini merupakan salah satu yang terbesar di Eropa, juga mengalir melewati beberapa Negara, antara lain, Austria, Jerman, Republik Ceko dan Slovakia.

Setelah sight-seeing mengunjungi berbagai landmark terkenal seperti Charles Bridge yang melintasi Sungai Donau dan menghubungkan Buda dan pest, atau hiking ke atas bukit Cittadella dan menikmati makanan khas Hungaria di pasar tradisional mereka, hati saya tertambat pada satu karakteristik Budapest. Kota ini terkenal dengan toko-toko buku bekasnya, yang dikenal dengan istilah ‘antikuarium’.

Pada awalnya, saya hanya iseng berkunjung ke salah satu antikuarium terbesar yang saya lewati. Beberapa review di website traveller membuat saya penasaran bagaimana masyarakat Budapest mengatur toko-toko buku bekas mereka. Dalam hati saya, ‘ah, paling sama saja dengan Kwitang dulu atau Palasari di Bandung’. Ternyata saya salah. Antikuarium di Budapest terkenal dengan penataan ruangan yang rapi dan buku-buku yang meskipun tua, namun terawat baik.

Yang paling membuat saya tercengang adalah… harganya! Sebagian besar buku yang terjual tentu saja buku-buku dalam bahasa Magyar (bahasa Hungaria), tapi ternyata banyak juga buku dalam bahasa Inggris. Sebagai pecinta novel, saya langsung mengincar beberapa judul yang menarik perhatian saya. Namun ketika iseng menanyakan harga, saya dibuat kaget bukan kepalang.

Bukan karena mahal, melainkan karena… murahnya yang keterlaluan! Bayangkan, novel Night Train to Lisbon yang merupakan salah satu novel popular di Eropa, dijual dengan harga 1000 Forint saja (jika dikonversi ke Euro, sekitar 3 Euro). Murah banget! Padahal, novel tersebut baru saja diterbitkan ulang untuk menyambut perilisan film adaptasinya yang dibintangi Jeremy Irons.

Mendengar betapa murahnya harga tersebut, naluri shopping saya terpancing. Total, enam buah novel menarik perhatian saya. Pada akhirnya, saya merogoh kocek untuk membawa pulang keenam buku yang masih dalam kondisi terawat. Keenam novel itu adalah:

ImageDan siapa yang menyangka jumlah uang yang saya habiskan hanya 6.600 Forint alias sekitar 22 Euro saja! Jumlah segitu biasanya hanya bisa membeli maksimal dua buah novel berbahasa Inggris di toko-toko buku biasa.

Kini, setiap saya menghabiskan waktu membaca buku-buku tersebut, saya akan teringat pesona antikuarium Budapest dengan rak-raknya yang penuh dengan ide-ide para penulis zaman dulu, dan telah tertuang dalam bentuk ribuan buku.

MP

10 Books That Changed My Life

Everyone would love to hear about other people’s top-ten about anything. Let me share you the top-10 books that ‘changed my life’. Tepatnya, 5 buku asing dan 5 buku lokal (Indonesia).

BOOKS THAT CHANGED MY LIFE

1. Jomblo (Adhitya Mulya)

http://www.goodreads.com/book/show/3029362-jomblo

You can whine around about how cheesy this book is and how its male jokes undermine your feminine side. Tapi, buku ini adalah buku pertama yang memancing ketertarikan saya terhadap pengarang Indonesia. Hype-nya juga pas, saya membacanya pada saat saya kuliah, dan di kota Bandung, kota yang menjadi setting cerita ini. Friendship, love, trust, semua menjadi inti cerita sederhana yang di-packaging dengan baik oleh karya Adhitya Mulya ini. Dan satu lagi, saya suka banget penggunaan footnote-nya yang nyeleneh itu. Sangat kreatif!

2. Puing (novel kolaborasi)

http://www.goodreads.com/book/show/1516366.Puing

Tidak banyak yang tahu tentang buku ini. Setahu saya, buku ini memang terbitan indie, hasil kolaborasi beberapa blogger (pak Bondan Winarno termasuk salah satu penulisnya, lho!). Berkisah tentang prahara kehidupan dan pertanyaan tentang adakah kehidupan setelah mati, novel ini menganut teknik multiple stories, yaitu beberapa cerita lepas yang terhubung pada ending-nya. Bisa ditebak, dengan teknik bercerita seperti itu, buku ini adalah salah satu buku yang mengilhami saya menulis novel pertama saya, Here, After.

3. Pintu Terlarang (Sekar Ayu Asmara)

http://www.goodreads.com/book/show/1557017.Pintu_Terlarang

Confession time: kadar book-lover saya tidaklah terlalu tinggi sehingga bisa membuat saya mengidolakan novel ini sebelum menonton filmnya. Faktanya, saya menonton dan mengagumi filmnya dulu sebelum membaca bukunya. Ternyata, luar biasa. Cerita novelnya ternyata sangat berbeda dengan skrip filmnya. Saya suka banget dengan cara menulis Sekar Ayu Asmara yang dark dan penuh misteri. Jika suatu hari saya menulis cerita misteri, maka saya harus belajar banyak kepadanya.

4. 9 dari Nadira (Leila S. Chudori)

http://www.goodreads.com/book/show/7049082-9-dari-nadira

Ini adalah buku Indonesia pertama yang membuat saya –literally– menangis karena terenyuh membacanya. Sembilan cerita pendek ini dibungkus dalam suatu frame besar kisah keluarga sang tokoh utama bernama Nadira. Ceritanya sangat dekat dengan keseharian kita, karena bercerita tentang keluarga, cinta, dan harapan. Namun yang membuat saya kagum adalah cara Leila S. Chudori dalam memilih kata demi kata yang bisa membuat suasana hati pembacanya campur-aduk. Tidak heran kalau pada akhirnya, para pembaca selalu meminta lebih dari cerita Nadira.

5. Manjali dan Cakrabirawa (Ayu Utami)

http://www.goodreads.com/book/show/8567054-manjali-dan-cakrabirawa

Orang-orang bilang, ini adalah karya Ayu Utami yang paling lemah ceritanya, terutama jika dibandingkan dengan dwilogi ‘Saman’ dan ‘Larung’. Namun, saya punya pendapat sendiri. Kisah cinta segitiga yang berbalut petualangan memecahkan misteri berbau mistis dan etnik merupakan hal baru bagi saya. buku ini menawarkan segalanya. Saya tidak bisa berhenti membacanya.

6. High Fidelity (Nick Hornby)

http://www.goodreads.com/book/show/285092.High_Fidelity

Buku inilah yang menyadarkan saya bahwa cerita tentang cowok yang patah hati ternyata menjadi sangat menarik, terutama jika dibahas dari sudut pandang dan dibumbui segala macam gimmick yang ‘cowok banget’. Novel ini dibuat berbeda dengan segala elemen pop culture yang menjadi selera Hornby sendiri, yaitu film, lagu-lagu rock alternatif, dan tentu saja: football alias sepakbola. Nick Hornby adalah penulis novel yang berangkat dari profesi kritikus lagu dan film, serta jurnalis sepakbola. Berhubung saya sendiri tegrila-gila dengan ketiga hal itu, maka tidak salah jika pada akhirnya saya menganggap Hornby sebagai salah satu panutan, sampai sekarang. Dan entah sampai kapan.

7. The Alchemist (Paulo Coelho)

http://www.goodreads.com/book/show/865.The_Alchemist

Siapa sih yang nggak suka sama buku yang melegenda ini? Membaca cerita dongeng filosofis karangan Paulo Coelho ini serasa mendengarkan petuah bijak dari seorang kakek tua yang arif. Buku ini mengajarkan kita untuk selalu memandang dunia dengan positif, serta selalu percaya pada kekuatan impian kita. If you really want something, the universe will conspire to help you. Itulah petuah bijak yang akan selalu saya ingat. Dan sepertinya, banyak yang sepakat dengan saya.

8. The Headless Ghost (R.L. Stine, Goosebumps Series)

http://www.goodreads.com/book/show/125623.The_Headless_Ghost

Sedikit bernostalgia, inilah buku yang sukses mengubah saya dari seorang pembaca cerita bergambar (komik) menjadi pembaca rangkaian kata demi kata dalam bentuk novel. Penulis Amerika R.L. Stine berhasil membius saya, yang waktu itu masih duduk di bangku SMP, untuk mengikuti cerita horor Goosebumps-nya. Khusus seri no.37, yaitu ‘The Headless Ghost’ alias ‘Misteri Hantu Tanpa Kepala’, adalah seri yang paling langka dan sulit ditemukan dimana-mana. Saya sendiri waktu itu membelinya di sebuah toko buku di Denpasar, Bali.

9. The Kite Runner (Khaled Hosseini)

http://www.goodreads.com/book/show/77203.The_Kite_Runner

Buku yang menyadarkan saya bahwa sebuah tragedi, jika ditulis dengan baik, dapat menjadi sebuah kisah yang sangat indah. Buku yang konon, ditulis oleh Khaled Hosseini berdasarkan masa kecilnya di Afganistan ini bukan hanya sangat menyentuh, tapi juga membuat saya tidak cukup membacanya hanya sekali. Penggambaran ceritanya sangat halus, namun di beberapa titik sangat menyayat, sehingga tidak sadar kita akan menitikkan air mata.

10. Invisible Monsters (Chuck Palahniuk)

http://www.goodreads.com/book/show/22290.Invisible_Monsters

Saya mengagumi… bukan, saya menyembah Chuck Palahniuk karena warna tulisannya berbeda dengan penulis manapun di dunia ini. Fight Club adalah karyanya yang pertama mengguncang dunia literatur dengan temanya yang kontroversial dan penulisannya yang nyeleneh. Namun, bagi saya pribadi, ‘Invisible Monsters’—lah yang sangat berpengaruh. Bagaimana tidak? Buku ini mendobrak semua aturan konvensional: tema yang (masih) kontroversial, berbagai twist yang bikin terkejut, serta yang paling utama: plot yang sengaja dibuat tidak beraturan. Dimulai dari ending, serta perkenalan tokoh dan background cerita sengaja diletakkan di tengah-tengah. Namun, itulah seni yang membuat ‘Invisible Monsters’ menjadi sebuah cult yang berbeda dari karya-karya lain.

Now, it’s your turn! Tell me, what are the books that changed your life?