Radioplay ‘Moonliner’ from ‘Menuju(H)’

Pada bulan Januari 2013 lalu, seorang teman saya, penyiar di radio Prambors FM Makassar, menawarkan untuk membuat versi radioplay dari salah satu cerpen saya untuk menyambut Valentine 2013. Cerpen yang dimaksud adalah ‘Moonliner’ dari kumpulan cerpen ‘Menuju(H)’.

menuju(h)_cover

Siapa tau ada yang lupa, ini sampul buku ‘Menuju(h) yang saya tulis bersama 6 penulis muda lain 🙂

Akhirnya, tepat pada 14 Februari 2013 lalu, radioplay itu disiarkan di radio tersebut dan mendapat banyak respons positif dari pendengar. Bahkan, radioplay itu sempat diputar ulang dua minggu berikutnya! Now, thanks to SoundCloud, radioplay itu bisa kita dengarkan lagi.

Tinggal klik link berikut ini: https://soundcloud.com/pradana-mahir/moonliner

Nah… selamat terbuai oleh kisah cinta Safir dan Regina dalam radioplay ‘Moonliner’! 🙂

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Ini adalah penampakan bus ‘moonliner’ yang menjadi inspirasi cerita (taken from http://www.simmentalzeitung.ch )

MP

Advertisements

Lengkap Bertuju(H)!

Pada hari Sabtu, 26 Januari 2013, geng penulis buku kompilasi cerita Menuju(H) kembali mengadakan talkshow. Kali ini di Toko Buku Gramedia Istana Plaza, Bandung.

Ini adalah talkshow pertama ketujuh penulis lengkap. Selama ini promo buku tersebut memang belum pernah komplit karena salah seorang penulisnya tinggal di luar negeri. Siapa lagi kalau bukan… saya sendiri! :p

Tapi, di Istana Plaza waktu itu, kebersamaan benar-benar terasa, dan hari menjadi semakin spesial karena segenap karyawan toko buku bela-belain bikin flashmob diiringi lagu Gangnam Style demi menyambut kami. Thanks banget, guys, seluruh kru Gramedia Istana Plaza! 🙂

Anyway, seminggu setelah talkshow tersebut, saya harus kembali ke Swiss untuk melanjutkan kuliah. Tapi, hari tersebut benar-benar hari yang menyenangkan. Bahkan bisa menjadi salah satu cerita di Menuju(H) juga, hehehe.

Akhirnya geng Menuju(H) komplit!

ImageImage

*foto-foto dari website-nya Dea, http://www.salamatahari.com

 

Enam Plus Satu di Sepuluh, Sebelas, Dua Belas

10/11/12.

Di tanggal cantik yang juga diperingati masyarakat Indonesia sebagai Hari Pahlawan ini, buku kumpulan cerita ‘Menuju(H)’ akhirnya launching juga. Tempatnya di kafe buku 7-Heaven yang cozy bin gaul di Bandung. Pada hari Minggu yang (tadinya) cerah itu, para pecinta buku dan penggemar kata berkumpul di tempat tersebut untuk berbagi cerita dengan ketujuh penulis Menujuh.

Keenam teman saya, Aan Syafrani, Iru Irawan, Sundea, Theoresia Rumthe, Maradilla Syachridar dan Valiant Budi, semuanya hadir di tempat itu sejak jam 3 sore. Sayangnya, karena masih di Swiss, saya tidak bisa hadir. Sebagai jalan keluar untuk menyelipkan sedikit kehadiran saya, akhirnya teman-teman berencana mengadakan semacam video call dengan Skype. Dengan begitu kehadiran saya bisa dilihat di kamera komputer yang ditampilkan di sebuah layar putih, lengkap dengan suara yang keluar dari speaker.

(photo by Wulandari Setiawan – GagasMedia)

Jadi, saya bisa merasakan kehadiran saya di antara pengunjung yang setia memadati acara launching buku tersebut. Sayang, konon pada sore hari, Bandung tiba-tiba diguyur hujan lebat sehingga sambungan saya melalui Skype pun harus diakhiri. Meski demikian, setelah hujan berhenti, acara launching pun dilanjutkan lagi dan diakhiri dengan book-signing oleh para penulis. Tentunya, saya tidak bisa ikut book-signing karena tidak hadir di sana.

Namun bagaimanapun juga, it was a great day! Cukup menyenangkan rasanya bisa terlibat di launching buku sendiri meskipun terpisah jarak ribuan kilometer.

Ah, spirit menujuh memang luar biasa. Kini, hari demi hari saya serasa tidak berhenti bercerita.

MP

Launching Menujuh, Bandung, 10.11.12

Datang ya, ke launching buku kumpulan cerita ‘Menuju(H)’ ini! Penyelenggaraannya akan diadakan di tempat yang mengusung nama hampir mirip: Seven Heaven (ada ‘tujuh’-nya juga, hehehe).

Semua penulis, plus sang ilustrator akan hadir di acara tersebut. Sayang, berhubung saya masih di Swiss, saya tidak akan bisa hadir secara fisik. Meski demikian, ada rencana untuk menghadirkan saya lewat Skype. I’m so excited!

Catat tanggalnya, 10 November 2012 (10 – 11 – 12)!

An Exciting Experience with ‘Menujuh’

Sebenarnya saya berniat untuk tidak akan pernah memberi rating kepada karya-karya saya sendiri. Penilaian adalah sepenuhnya hak pembaca, begitu prinsip saya. Meski demikian, khusus buku ‘Menujuh’ ini, ada enam penulis selain saya yang menampilkan cerita dan gaya menulis masing-masing, sehingga saya merasa perlu memberi penilaian pribadi juga.

‘Menujuh’ bukan hanya tentang menulis. Buku ini terlahir dari sebuah proses kreatif yang dikawal secara bersama-sama oleh ketujuh penulis. Dari pemilihan konsep penulisan, pemberian nama judul, pemilihan ilustrator, sampai pemilihan konsep promosi adalah hasil musyawarah bersama. Terlibat menjadi seperdelapan bagian buku ini (tujuh penulis plus Lala Bohang sebagai ilustrator) merupakan pengalaman yang menyenangkan dan tak terlupakan!

Konsep awal membuat suatu kumpulan cerita dilemparkan pertama kali oleh Dilla (Maradilla Syachridar) melalui sebuah celetukan iseng di pertemuan pada suatu sore hari di kota Bandung. Saya langsung menyambut baik usulan tersebut, yang langsung dilontarkan lagi oleh Dilla kepada Theo (Theoresia Rumthe alias Perempuan Sore) dan Dea (Salamatahari). Ide pun lalu dimatangkan di Warung Ngebul milik Valiant Budi (Vabyo), yang pada akhirnya diajak pula on board. Pada akhirnya, kami pun menentukan bahwa penulis yang terlibat harus genap tujuh orang… eh ganjil maksudnya. Setelah itu, kami tinggal mencari dua penulis lagi untuk mengisi slot tersisa.

Dilla (lagi-lagi), mengusulkan agar kedua slot penulis itu diisi oleh pribadi-pribadi nyentrik dengan gaya tulisan unik. Akhirnya diajaklah Iru Irawan dan Aan Syafrani, dua orang teman baik yang langsung menyambut baik ajakan tersebut.

Lalu, akhirnya setelah melewati brainstorming dan diskusi kreatif yang berlangsung mulus tanpa pro dan kontra, akhirnya dipilihlah benang merah yang akan mengikat ketujuh konsep cerita yang berbeda-beda: yaitu nama-nama hari!

Senin: Aan Syafrani

Saya pribadi merasa cerita Aan sebagai pembuka memberi sesuatu yang fresh. Ceritanya yang kocak dan ‘anak-muda-banget’ menunjukkan potensinya yang selama ini terasah sebagai editor (sekaligus scout) naskah-naskah komedi. Meskipun mengaku baru pertama kali menulis naskah fiksi, namun Aan patut memperoleh apresiasi tinggi atas kedua cerpennya: ‘Seninku Selingkuh’ dan ‘Seninmu Kuselingi’.

Selasa: Theoresia Rumthe

Theo adalah figur yang menarik. Terkenal sebagai penyiar radio di Bandung, Theo punya sisi lain di dunia internet. Blognya, http://perempuansore.blogspot.com, memiliki banyak penggemar setia di mana-mana. Di buku ‘Menujuh’ ini, kami semua memercayai Theo sebagai pimpinan project, yang sekaligus unjuk gigi dengan dua cerpennya, ‘Hari Ketika Hujan Mati’ dan ‘Sebelum Hari Ketika Hujan Mati’.

Rabu: Iru Irawan

Saya sudah mengenal Iru sejak SD, dan selama ini ia dikenal sebagai pemain keyboard band indie Hollywood Nobody dan tukang bermain kata-kata yang kadang melankolis di Twitter. Ternyata Iru jago juga merangkai cerita di ‘Haru Biru Kelabu’ dan ‘Baru Hari Rabu’.

Kamis: Valiant Budi

Selama ini saya mengagumi Vabyo sebagai pembuat cerita dengan alur misterius. Ketika mengajaknya bergabung ke project ini, kami sempat mengira ia akan menolak karena saat itu ia lagi sibuk-sibuknya mempromosikan Warung Ngebul-nya dan buku nonfiksi kerennya, ‘Kedai 1001 Mimpi’. Namun, ternyata ia kembali menghipnotis kita di dua cerita unik, ‘Kamis, Puk-Puk’ dan ‘Simak! Kup-Kup’.

Jumat: Mahir Pradana

Ada gap waktu yang cukup lama bagi saya untuk menyelesaikan kedua cerita di sini. ‘Follow Friday’ saya selesaikan di pertengahan 2011, sebelum berangkat ke Swiss untuk kuliah. Cerita kedua, ‘Moonliner’, saya selesaikan di Swiss setelah memperoleh ilham pada saat pelaksanaan karnaval Fasnacht, Maret 2012. Semoga kalian suka.

Sabtu: Sundea (Salamatahari)

‘Ke Mana Sabtu Pergi?’ dan ‘Ke Sana Sabtu Pergi’ adalah dua cerita yang memang ‘Dea banget’. Sebelumnya, saya mengenalnya lewat tulisan-tulisannya yang unik dan enjoyable di http://www.salamatahari.com . Cara menulis Dea yang ‘one of a kind‘ memberi warna tersendiri di buku rangkaian kisah tujuh hari ini.

Minggu: Maradilla Syachridar

Hari terakhir adalah harinya Dilla, teman sekaligus juga penulis muda yang (lagi-lagi) saya kagumi. Saya sempat mengira ia akan bermain-main dengan genre yang cukup absurd, seperti yang ia tunjukkan di novel-novelnya terdahulu. Ternyata, Dilla muncul dengan sentuhan manis di dua cerita bertema ‘battle of sexes‘, ‘Solo Stranger’ dan ‘Solo Stalker’.

Last but not least, lima bintang saya berikan bukan hanya karena saya ikut terlibat, melainkan karena proses penyusunan buku ini merupakan salah satu pengalaman tak terlupakan dalam hidup saya. 🙂

p.s: Menujuh sudah bisa didapatkan di toko-toko buku terdekat di kota Anda 🙂

MP

Menuju(H): Ketika Para Penulis Memaknai Hari-Hari Mereka

Untuk memuaskan dahaga para pembaca saya yang budiman, well you know, karena banyak yang penasaran kapan saya nerbitin buku lagi. Then here it is, one of my new upcoming books.

Judulnya ‘Menuju(h)’. Buku ini merupakan hasil kolaborasi saya dengan enam orang penulis muda lainnya. Formatnya adalah kumpulan cerita. Totalnya ada empat belas cerita, dengan masing-masing penulis menyumbangkan dua cerita.

Sebagai teaser, Menuju(h) sedikit berbeda format dengan buku kumpulan cerita biasa. Di buku ini, setiap penulis mengembangkan kedua ceritanya dari satu hari dalam seminggu. Siapa sajakah penulis yang terlibat?

Ini dia daftarnya:

– Aan Syafrani

– Theoresia Rumthe

– Iru Irawan

– Valiant Budi

– Mahir Pradana (me!)

– Sundea

– Maradilla Syachridar

Penasaran siapa mendapat hari apa? Then get it on your bookstores near you!

P.S: Remember, this is just one of the upcoming books written by me! 🙂